Anda di halaman 1dari 27

KERAJAAN CIREBON

 Kesultanan Cirebon berdiri pada abad ke-15 dan 16 Masehi.


 Kesultanan Cirebon berlokasi di pantai utara pulau Jawa yang
menjadi perbatasan antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.
 dalam sejarah Kabupaten Cirebon dikatakan bahwa Cirebon
memisahkan diri dari Pajajaran terjadi pada Tahun 1482 Masehi
dengan titi mangsa Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra
Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887
Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi.
 ASAL USUL CIREBON
 Pangeran Cakrabuana (1430 – 1479) merupakan keturunan
dari kerajaan Pajajaran. Ia adalah putera pertama dari Sri Baduga Maharaja
Prabu Siliwangi dan istri pertamanya yang bernama Subanglarang (puteri
Ki Gedeng Tapa). Raden Walangsungsang(pangeran Cakra Buana) memiliki
dua orang saudara kandung, yaitu Nyai Rara Santang dan Raden Kian
Santang.
 Namun karena ia memeluk agama Islam yang diturunkan oleh ibunya,
posisi sebagai putra mahkota akhirnya digantikan oleh adiknya, Prabu
Surawisesa (anak laki-laki dari prabu Siliwangi dan Istri keduanya yang
bernama Nyai Cantring Manikmayang).
 Ini dikarenakan pada saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Kerajaan
Pajajaran adalah Sunda Wiwitan(agama leluhur sunda).
 Pangeran Walangsungsang akhirnya membuat sebuah pedukuhan di daerah
Kebon Pesisir, mendirikan Kuta Kosod (susunan tembok bata merah tanpa
spasi) membuat Dalem Agung Pakungwati serta membentuk pemerintahan
di Cirebon pada tahun 1430 M.
PENINGGALAN KERAJAAN CIRBON
KERAJAAN BANTEN
 Pada sekitar abad ke 16 berdirilah kerajaan Islam di Tatar Pasundan
tepatnya di propinsi Banten Indonesia.
 Wilayah kerajaannya meliputi sebelah barat dari pantai Jawa sampai
ke Lampung. Kesultanan Demak sangat berperan aktif dalam
penyebaran Islam di tanah Jawa.
 Pada masa kejayaan pemerintahan Banten ini datanglah penjajah
dari negara Eropa sambil menanamkan pengaruh buruknya.
KERAJAAN KALIMANTAN
 1. Kerajaan Banjar (Banjarmasin)
 Letak Kerajaan
 Kerajaan Banjarmasin terletak di daerah Kalimantan Selatan, pusatnya
di daerah hulu Sungai Nagara di Amuntai. Diperkirakan Kerajaan
Banjar berdiri pada pertengahan abad ke-16.

 Sumber Sejarah
 Hikayat Banjar dan kronik Banjarmasin, menceritakan tentang
kehidupan di Kerajaan Banjar.
 Negarakertagama, menceritakan mengenai hubungan Kerajaan Daha
sebagai kerajaan sebelum Kerajaan Banjar dengan Majapahit.
 Kehidupan Politik
 Berikut ini adalah raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Banjar.
 Sultan Suryanullah atau Raden Samudra (1520-1546 M) merupakan
raja Banjar pertama, pada masa pemerintahannya ia meluaskan kekuasaan
Kerajaan Banjar sampai ke Sambas, Batanglawi, Sukadana, Kotawaringin,
Sampit, Madawi, dan Sambangan.
 Sultan Rahmatullah (1546-1570 M) adalah anak tertua Sultan Suryanullah,
pada masa pemerintahan Sultan ini, Sultan Rahmatullah masih membayar upeti
kepada Demak yang pada saat itu sudah menjadi Kerajaan Pajang.
 Sultan Hidayatullah (1570-1595 M) adalah anak Sultan Rahmatullah, pada
masa pemerintahannya didampingi oleh Patih Kiai Anggadipa.
 Sultan Mahrum Panembahan dan Sultan Mustain Billah (1595-1641
M) pada masa pemerintahannya, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Amuntai.
Nama Sultan Mustain sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan disekitarnya. Sultan
Mahrum mempunyai 50.000 prajurit, sehingga dengan kekuatannya tersebut,
Kerajaan Banjar dapat membendung pengaruh Mataram dan dapat menguasai
kerajaan-kerajaan yang ada di Kalimantan Tenggara. Akibat terbunuhnya
pengusaha Belanda (Gillis Michielse-Zoon), pada tanggal 7 Juni 1906 terjadi
perselisihan antara Kerajaan Banjar dan Belanda. Belanda menyerang Banjar dan
Sultan Mustain memindahkan pusat kerajaan ke Kayu Tangi.
 Sultan Adam (1825-1857 M) pada masa pemerintahannya
terjadi perselisihan baik kalangan intern kerajaan maupun dengan
pihak Belanda dan Inggris. Sejak Sultan Adam wafat, Belanda selalu
mencampuri urusan kerajaan. Pergantian kekuasaan banyak
ditentukan oleh Belanda. Hal tersebut menimbulkan pertentangan
antara anggota keluarga kerajaan serta keresahan diantara para
tokoh dan masyarakat Banjar sehingga timbullah berbagai
perlawanan terhadap Belanda. Antara tahun 1859-1863 merupakan
puncak perjuangan Banjar. Dari perlawanan tersebut muncul
tokoh-tokoh perlawanan seperti Pangeran Antasari, Pangeran
Demang Leman, dan Haji Nasrun.
 erajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura
 Letak Kerajaan
 Letak Kerajaan Kutai Kartanegara di daerah Tenggarong, Kalimantan
Timur. Pada awalnya kerajaan ini adalah kerajaan Hindu yang
diperkirakan berdiri pada abad ke-14 dan pada abad ke-16 berganti
bercorak Islam.

 Sumber Sejarah
 Hikayat Kutai, menceritakan tentang riwayat Kerajaan Kutai
Kartanegara ing Martadipura.
 Negarakertagama, dalam kitab ini disebutkan hubungan antara
Majapahit dan Kutai Kartanegara.
 Kehidupan Politik
 Berikut raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Kutai
Kartanegara ing Martadipura.
 Raja Mahkota (1525-1600 M).
 Sultan Aji Muhammad Muslihuddin (1739-1782 M).
 Sultan Aji Muhammad Slehuddin (1782-1845 M).
 Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1854-1899 M).
 Kerajaan Pontianak
 Letak Kerajaan
 Letak Kerajaan Pontianak terletak di Pontianak Timur, Kota
Pontianak, Kalimantan Barat.

 Kehidupan Politik
 Syarif Abdurrahman Alqadrie (1771-1808 M) merupakan
pendiri kerajaan Pontianak yang didirikan pada tahun 1771. Syarif
Abdurrahman Alqadrie adalah putra Sayid Habib Husein Alqadrie
(pendakwah dan Hadramaut). Habib Husein adalah tokoh yang sangat
dihormati di Kalimantan Barat khususnya di Sukadana. Setelah
meninggal ketokohan beliauditurunkan kepada Syarif Abdurrahman
Alqadrie. Bersama dengan masyarakat yang menjunjungnya, Syarif
Abdurrahman berpindah ke suatu tempat yang kemudian disebut
Pontianak. Di Pontianak inilah Syarif Abdurrahman Alqadrie
mendirikan keraton dan masjid agung.
 Syarif Kasim Alqadrie (1808-1891 M) pengangkatannya tidak terlepas dari campur
tangan Belanda. Sebelum meninggal Syarif Abdurrahman telah menetapkan anaknya
(Syarif Usman) sebagai penerusnya. Syarif Kasim diangkat dengan kesepakatan bahwa ia
hanya menjabat selama 10 tahun. Namun Kenyataannya Syarif Kasim berkuasa sampai
meninggal. Pada masa kekuasaannya Syarif Kasim mengizinkan Belanda untuk mendirikan
Benteng Marianne's Oord di Pontianak (Benteng ini sering disebut juga Benteng du Bus).
 Syarif Usman Alqadrie (1819-1855 M) pada masa pemerintahannya ia meneruskan
pembangunan Masjid Jami dan memulai pembangunan Istana Kadriah pada tahun 1855.
 Syarif Hamid Alqadrie (1855-1872 M) pada masa pemerintahannya wilayah Kerajaan
Pontianak menjadi berkurang. Bagian Barat Sungai Kapuas sebagai pusat pemerintahan
dan perdagangan Belanda diperluas. Hal tersebut merupakan upaya Belanda untuk
mengecilkan peran sultan.
 Syarif Yusuf Alqadrie (1872-1895 M) ia lebih dikenal sebagai penyebar agama Islam
daripada sebagai raja.
 Syarif Muhammad Alqadrie (1895-1944 M) pada masa pemerintahannya terjadi
perubahan yang sangat mendasar yaitu dihapuskannya syariat Islam dan diganti dengan
hukum pidana dan perdata. Perubahan tersebut merupakan hasil campur tangan Belanda
terhadap urusan kerajaan. Pakaian kebesaran Eropa mulai diresmikan di samping pakaian
Melayu. Kekuasaan Syarif Muhammad merupakan peralihan dari kekuasaan Belanda
kepada Jepang. Pada masa pemerintahan Syarif Muhammad terjadi peristiwa Mandor,
yaitu Syarif Muhammad dituduh bersekutu dengan Belanda dan dijatuhi hukuman mati
beserta dengan kerabat dan tokoh masyarakat Pontianak. Peristiwa tersebut terjadi pada
tanggal. 28 Juni 1944.
KERAJAAN ISLAM DI SULAWESI

Di Sulawesi Selatan pada awal mulanya berdiri beberapa kerajaan
seperti Gowa, Tallo, Luwu, Bone, dan Soppeng. Kemudian
Kerajaan Soppeng, Wajo, dan Bone memilih bergabung menjadi
satu dengan nama Tellum Pacceu, sedangkan Kerajaan Gowa dan
Tallo bersatu menjadi satu dengan nama Kerajaan Makassar.
 Kerajaan Gowa dan Tallo bersatu dibawah pimpinan raja Gowa
yaitu Daeng Manrabba. Setelah menganut agama Islam Daeng
Manraba bergelar Sultan Alauddin, sedangkan raja Tallo yaitu
Karaeng Mattoaya bergelar Sultan Abdullah menjadi Mangkubumi.
Bersatunya Kerajaan Gowa dan Tallo tersebut bersamaan dengan
tersebarnya agama Islam ke Sulawesi Selatan.
 Letak Geografis
 Letak Kerajaan Makassar sangat strategis yaitu berada di jalur lintas pelayaran
antara Malaka dan Maluku Dengan letak yang strategis tersebut menarik
minat banyak pedagang untuk singgah di Pelabuhan Sombaopu.

 b. Kehidupan Politik
 Perkembangan Kerajaan Makassar ini tidak terlepas dari peranan raja-raja
yang memerintah. Berikut adalah raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan
Makassar.

 [1]. Sultan Alauddin (1591-1639 M)


 Sultan Alauddin merupakan Raja Makassar yang pertama yang memeluk
agama Islam. Pada saat Sultan Alauddin memerintah, Kerajaan Makassar mulai
terjun dalam dunia pelayaran dan perdagangan (dunia maritim). Dengan
perkembangannya itu menjadikan kesejahteraan rakyat Makassar meningkat.

 [2]. Sultan Muhammad Said (1639-1653 M)


 Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Said, perkembangan
Makassar maju pesat sebagai bandar transit. Bahkan Sultan Muhammad
Said juga pernah mengirimkan pasukan ke Maluku untuk membantu
rakyat Maluku berperang melawan Belanda.

 [3]. Sultan Hasanuddin (1653-1669 M)


 Tahukah anda, siapa raja Kerajaan Makassar yang mendapat julukan Ayam
Jantan dari Timur? Mengapa Belanda memberi julukan Ayam Jantan dari
Timur? Sultan Hasanuddin adalah putra Sultan Muhammad Said. Pada
Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin Makassar mencapai masa
kejayaan. Makassar hampir menguasai seluruh wilayah Sulawesi Selatan
tidak hanya itu ia juga memperluas wilayah kekuasaannya ke Nusa
Tenggara (Sumbawa dan sebagian Flores).
PENINGGALAN
KERAJAAN GOWA
TALO