Anda di halaman 1dari 26

Teori Kalibrasi Massa 1

TEORI
KALIBRASI MASSA

By: Yusuf Umardani, ST, M.Eng.


LPPT UGM
Teori Kalibrasi Massa 2

I. KONSEP MASSA (ANAK TIMBANGAN)

1.1 Massa
Massa didefinisikan sebagai sifat materi suatu
benda/objek yang menyatakan banyaknya zat yang
terkandung dalam benda tersebut. Massa suatu
benda tidak bergantung pada temperatur, volume
atau pun lokasi dimana benda tersebut berada.
Teori Kalibrasi Massa 3

1.2 Massa Sebenarnya (True Mass)


Massa sebenarnya (true mass) adalah massa yang
diturunkan dari rumus Newton yaitu :
F=m.a

Dimana : F = gaya, yang merupakan besaran


vektor (Newton)
m = massa, yang merupakan besaran skalar
(Kg)
a = percepatan, merupakan besaran
vektor (Kgm/s2)
Teori Kalibrasi Massa 4

1.3 Nilai Timbang


Nilai timbang adalah nilai yang didapat dari hasil
penimbangan, dimana pengaruh gaya Bouyancy (gaya
apung) diabaikan. Dalam proses penimbangan yang
dilakukan di udara atau fluida lainnya, maka hubungan
antara nilai timbang dan massa (m) dinyatakan dengan
rumus :
pa
1- pt
W=m.
pa
1-
ps
dimana : W = nilai timbang

m = massa

pa = densitas fluida

pt = densitas benda

ps = densitas anak timbangan standar


Teori Kalibrasi Massa 5

1.4 Massa Konvensional


Oleh karena sebagian besar pengukuran massa dilakukan di
ruang berudara dan ditempat yang relatif dekat dengan
permukaan laut serta temperatur sekitar 200C, maka massa
yang diukur adalah massa semu. Untuk menyederhanakan
proses pengukuran massa, baik untuk kepentingan pabrik
timbangan/anak timbangan maupun para “metrologist”
maka timbulah istilah “massa konvensional”.
Massa konvensional adalah nilai timbang yang
distandarkan pada kondisi standar yaitu :
Densitas udara = 1,2 kg/m3
Densitas anak timbangan = 8000 kg/m3 (jika terbuat dari
Stainless Steel) dan temperatur pengukuran = 200C .
Sehingga massa konvensional dinyatakan sebagai :
Teori Kalibrasi Massa 6

3
mc = m . pt – 1,2 kg/m
( 1 - 1,2 ) pt
8000

pt – 1,2 kg/m3
=m.
0,999850 . pt

1.5 Satuan Massa


Menurut sistem satuan internasional (SI), satuan massa
adalah kilogram dengan simbol (kg).
Satuan-satuan massa di luar sistem SI yaitu :
1.Grain = 64, 79891 mg
2.Pound = 453, 59237 g
3.Troy Pound = 373, 2417216 g
Teori Kalibrasi Massa 7

1.6 Turunan Besaran Massa


Pentingnya pengukuran massa yang teliti, karena dari
besaran massa dapat diturunkan menjadi besaran-besaran
lainnya sebagai berikut :
Teori Kalibrasi Massa 8

1.7 Berat
Dalam bidang metrologi dibedakan antara istilah massa dan
berat. Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu benda yang
massanya (m) adalah :
F=m.g
Dimana : F = gaya gravitasi (N)
m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
Berat benda tersebut = F . Jadi berat adalah merupakan
besaran gaya dan bukan besaran massa. Sehingga berat
benda tersebut dapat nyatakan dengan :
W=F=m.g
Dimana : W = berat benda (N)
Teori Kalibrasi Massa 9

Jadi berat tidak sama dengan massa. Oleh karena berat


bergantung pada nilai gravitasi (g) yang nilainya bervariasi
pada tiap lokasi, maka dengan kata lain berat bergantung
pada lokasi/tempat.

Contoh :
Sebuah benda yang massanya (m) dibawa jauh keangkasa
luar, maka nilai g mendekati 0. Dan berdasarkan rumus di
atas berat benda tersebut mendekati 0. Sedangkan
massanya tetap (m). Dalam kehidupan sehari-hari orang
sering menganggap massa = berat. Karena kebanyakan
manusia hidup pada permukaan bumi, sehingga nilai (g)
dianggap konstan.
Teori Kalibrasi Massa 10

II. STANDAR MASSA

Hingga kini perwujudan standar massa belum dapat


direalisasikan dalam bentuk konstanta alam. Pada tahun
1790, standar massa absolut didefinisikan sebagai massa 1
liter air murni pada temperatur 4 0C. Sedangkan untuk
keperluan praktis maka pada 1799 digunakan silinder yang
terbuat dari platinum yang massanya sama dengan massa 1
liter air murni pada temperatur 40C. Dan sejak tahun 1889
standar massa didefinisikan sebagai massa kilogram
prototip internasional yang berupa silinder terbuat dari 90%
pt dan 10% Ir dengan ukuran tinggi dan diameternya
masing-masing 39 mm serta densitasnya 21,5 g/cm3.
Teori Kalibrasi Massa 11

Sampai saat ini standar tersebut disimpan di BIPM (Bureu


Internasional des Poids et Measures) Sevres dekat kota
Paris. Sedangkan untuk standar massa di atas 1 kg dan di
bawah 1 kg adalah berupa anak timbangan (weights) yang
klasifikasinya dibuat oleh OIML ( Organisasi Internasional
Metrologi Legal) terdiri dari kelas E,F dan M.
Ketelitian pengukuran massa dapat dilihat pada grafik di
bawah ini :
Teori Kalibrasi Massa 12
TOLERANSI ANAK TIMBANGAN STANDAR
Menurut OIML : R 111 1994
Teori Kalibrasi Massa 13

III. DISEMINASI STANDAR MASSA


Teori Kalibrasi Massa 14

Contoh metoda diseminasi standar massa

Standar-standar massa yang akan ditentukan nilai massanya


adalah sebagai berikut :

1. Standar massa 500g = 500a


2. Standar massa 500g = 500b
3. Standar massa 200g = 200a
4. Standar massa 200g = 200b
5. Standar massa 100g = 100a
6. Standar massa 100g = 100b

Standar massa tersebut di atas diturunkan dari standar massa 1 kg


yang telah diketahui nilai massanya.
Teori Kalibrasi Massa 15

Prosedur penimbangan dilakukan sebagai berikut :

1. 1 kg – (500 a + 500 b) =x
2. (500 a) – (500 b) =y
3. (500 a) – (200 a + 200 b + 100 a) =r
4. (200 a) – (200 b) =s
5. (200 a) – (100 a + 100 b) =t
6. (100 a) – (100 b) =u

dimana : x, y, r, s, t, u adalah penunjukkan hasil masing-masing


penimbangan.
Teori Kalibrasi Massa 16

Nilai massa tiap standar dapat dihitung sebagai berikut :

1. 500 a = 1 kg – x + y
2
2. 500 b = 500 a – y

3. 200 a = 2 (500 a) – 2 r + 2 s + t – u
5
4. 200 b = 200 a – s

5. 100 a = 200 a – t + u
2
6. 100 b = 100 a – u
Teori Kalibrasi Massa 17

IV. PENGUKURAN MASSA

Manusia tidak memiliki organ yang dapat secara langsung


mendeteksi besarnya massa suatu benda. Akan tetapi massa
ditentukan dengan mengukur gaya gravitasi yang bekrja pada
benda tersebut. Dengan membandingkan gaya gravitasi benda
yang massanya belum diketahui terhadap gaya gravitasi benda
standar yang massanya telah diketahui, maka kita dapat
menghitung nilai massa benda yang belum diketahui tersebut.
Untuk mengukur massa suatu benda diperlukan alat ukur yang
disebut timbangan.
Berbagai macam timbangan yang digunakan untuk mengukur
massa dari yang sangat sederhana hingga timbangan yang
canggih dengan sistem komputer. Dalam memilih timbangan
yang digunakan, tergantung pada ketelitian pengukuran yang
kita inginkan.
Teori Kalibrasi Massa 18

Pada prinsipnya timbangan-timbangan presisi yang sering


digunakan untuk mengukur massa yaitu :

1. Timbangan sama lengan (Double Pan)


2. Timbangan “Single Pan“
3. Timbangan Elektronik
Teori Kalibrasi Massa 19

V. METODE PENGUKURANMASSA

Pada prinsipnya metode pengukuran massa dibagi atas :


1. Metode Sederhana
Metode ini jarang digunakan dalam bidang
metrologi/kalibrasi massa. Metode ini menggunakan
timbangan sama lengan, dimana massa benda yang diukur,
disetimbangkan oleh massa standar.
2. Metode pembacaan langsung (Direct Reading)
Metode ini menggunakan timbangan “ Single Pan” yang
langsung menunjukkan dalam suatu massa. Dimana benda
yang akan diukur diletakkan pada “Pan” dan langsung
ditunjukkan nilai massanya, metode ini lebih banyak
digunakan dalam bidang perdagangan seperti di toko-toko
dimana tidak diperlukan ketelitian yang tinggi.
Teori Kalibrasi Massa 20

3. Metode Substitusi (Metoda Borda)


Metoda substistusi biasanya digunakan pada timbangan
sama lengan atau timbangan “ Single Pan”. Prinsipnya
adalah perbandingan suatu massa yang belum diketahui
dengan massa standar dan massa sensitif/massa koreksi
yang telah diketahui. Metode ini terbagi atas substitusi
tunggal dan substitusi ganda.

3.1 Substitusi Tunggal


Pada metode ini digunakan massa pembanding
(standar) yang nilai massanya relatif sama dengan
massa yang akan diukur. Sehingga perbedaan massa ke
dua dapat diamati (dibaca) pada skala timbangan.
Benda yang akan diukur massanya diletakkan pada
“Pan” dan penunjukkan timbangan dibaca (01).
Teori Kalibrasi Massa 21

Kemudian benda tersebut diganti dengan massa standar


dan penunjukkan timbangan dibaca (02). Massa
sensitif ditambahkan dan penunjukkan timbangan
dibaca (03). Maka massa benda yang diukur dapat
dihitung menurut rumus :
Mt = ms + pa (vt – vs) + ct-pa . vct (01 – 02)
(03 – 02)
dimana : mt = massa benda
ms = massa standar
pa = densitas udara
vt = volume benda
vs = volume standar
ct = massa sensitif / koreksi
vct = volume massa sensitif/koreksi
Teori Kalibrasi Massa 22

3.2 Substitusi Ganda


Pada metode substitusi ganda, diamati juga perubahan
titik 0 akibat terjadinya “Drift” pada timbangan .
Keuntungan substitusi ganda ini bahwa kesalahan titik
0 ( Drift ) dapat dihindarkan. Pengukuran dengan
metoda substitusi ganda sama seperti pada substitusi
tunggal hanya dilanjutkan dengan menukar massa
standar dengan massa benda yang diukur dan
kemudian penunjukan timbangan dibaca (04).
Sehingga massa yang diukur dihitung menurut rumus :
mt = ms + pa (vt-vs) + (ct-pa.vct) (01-02-03+04)
(03-02) 2
Teori Kalibrasi Massa 23
4. Metoda Transposisi (Metoda Gauss)
Metoda ini biasanya digunakan pada timbangan sama
lengan. Kedua posisi massa benda dan massa standar
dipertukarkan untuk menghindarkan efek ketidak samaan
panjang lengan.

4.1 Metoda Transposisi Tunggal


Metoda yang massanya akan diukur diletakan pada
salah satu “pan”. Sedangkan massa standar diletakan
pada “pan” lainnya. Kemudian penunjukan timbangan
dibaca (10). Sekarang kedua massa dipertukarkan
posisinya dan penunjukan timbangan dibaca (02).
Massa sensitif ditambahkan pada “pan” yang lebih
ringan dan penunjukan timbangan dibaca (03). Maka
massa benda yang diukur dapat dihitung dengan
rumus: mt = ms + pa (vt-vs) + (ct-pa.vct) (01-02)
03-02 2
Teori Kalibrasi Massa 24

4.2 Metoda Transposisi Ganda


Sama seperti pada metoda transposisi tunggal, hanya
dilanjutkan dengan menukar kembali posisi kedua massa
yang dibandingkan dan kemudian penunjukan timbangan
dibaca (04). Sehingga masa benda dapat dihitung menurut
rumus :

mt = ms + pa (vt-vs) + (ct-pa.vct) (01-02-03+04)


03-02 4
Teori Kalibrasi Massa 25

VI. SUMBER-SUMBER KESALAHAN PENGUKURAN

Setiap proses pengukuran tidak terlepas dari kesalahan,


sehingga nilai sebenarnya (True value) dari suatu
pengukuran tidak akan pernah didapat. Oleh karena itu
setiap pengukuran harus diusahakan agar hasil pengukuran
mendekati nilai sebenarnya. Demikian pula dalam
mengukur besaran massa, dimana kesalahan datang dari
berbagai sumber seperti terlihat pada gambar dibawah ini :
Teori Kalibrasi Massa 26