Anda di halaman 1dari 30

KERATITIS NUMULARIS

Rezy Pysesia Alfani 1840312716


Septriani Aryetti 1840312679
Kaharudin 1840312770

Dr. Havriza Vitresia, SpM(K)


PENDAHULUAN
Keratitis merupakan suatu
peradangan pada kornea
yang disebabkan oleh
bakteri, virus, dan jamur

Diklasifikasikan
berdasarkan lapis kornea
yang terkena

Mata merah, rasa silau,


terasa ada yang mengganjal.
Faktor risiko terjadinya keratitis:

-Perawatan lensa kontak yang buruk


-Herpes genital atau infeksi virus lain
-Kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain,
-Higienis dan nutrisi yang tidak baik
Klasifikasi berdasarkan lokasi yang terkena dari kornea:
1 Keratitis superfisialis
- keratitis epitelial
- keratitis subepitelial
- keratitis stromal
2 Keratitis profunda
Di Indonesia kekeruhan kornea masih
merupakan masalah kesehatan mata sebab
kelainan ini menempati urutan kedua penyebab
kebutaan dan bila terlambat didiagnosis atau
diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan
kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan
parut yang luas.
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA

 Diameter
 Vertikal 10-11mm
 Horizontal 11-12mm
 Tebal 0,6-1mm terdiri

 Indeks bias 1,375


 Kekutan pembiasan 80%

 Struktur kornea uniform,


avaskuler dan diturgesens
ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA
 Epitel gepeng berlapis tanpa
tanduk.
 Bersifat fat soluble substance.
 Ujung saraf kornea berakhir di
epitel
 Daya regenerasi cukup besar
 Tebalnya 50um
 Sebagai barrier
 Epitel berasal dari ektoderm
permukaan.
ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA

 Terdiri dari kolagen


 Tidak bisa regenerasi.
ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA
 Paling tebal
 Bersifat water soluble substance.
 Terdiri atas jaringan kolagen dan
terdapat keratosit.
 Stroma bersifat higroskopis
 Terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama
yang kadang-kadang sampai 15
bulan.
ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA

 Tipis, kenyal, kuat dan bening


 Tebal 40um
 Barrier infeksi
ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA
 Mengatur cairan didalam stroma
kornea
 Tidak mempunyai daya
regenerasi
 Berasal dari mesotalium
 Berlapis satu bentuk heksagonal
besar 20-40um.
 Endotel melekat pada mebran
descemet melalui hemi desmosom
dan zonula okluden.
KERATITIS

Keratitis adalah suatu kondisi dimana kornea bagian depan


mata mengalami inflamasi.
ETIOLOGI
 Bakteri
 Virus
 Jamur
 Kekeringan kornea
 Pajanan cahaya yang terlalu terang
 Benda asing
 Reaksi alergi
 Kekurangan vitamin A
 Penggunaan lensa kontak yang kurang baik.
STADIUM PERJALANAN KERATITIS
 Stadium infiltrasi.
 Stadium regresi.

 Stadium sikatrik.
PATOFISIOLOGI

 Peradangan -> sel dalam stroma sebagai makrofag -> disusul setelahnya injeksi
perikornea -> infiltrat -> kerusakan epitel kornea -> ulkus
 Peradangan yang hebat -> toksin dari kornea dapat menyebar ke iris dan badan
siliar -> iris dan Badan siliar meradang -> kekeruhan COA -> hipopion.
KLASIFIKASI KERATITIS

Keratitis Superfisial Keratitis Profunda


1. Keratitis epitelial Keratitis interstisial
a. Keratitis punctata Keratitis sklerotikans
superfisialis Keratitis disiformis
b. Herpes simpleks
c. Herpes zoster
2. Keratitis subepitelial
a. Keratitis numularis
b. Keratitis disiformis
3. Keratitis stromal
a. Keratitis neuroparalitik
b. Keratitis et lagoftalmus
KERATITIS NUMULARIS
 Keratitis numularis disebut juga keratitis
sawahica atau keratitis punctata tropica.
 Keratitis numularis diduga diakibatkan oleh
virus. Pada kornea terdapat infiltrat bulat-bulat
subepitelial dan di tengahnya lebih jernih, seperti
halo. Tes fluoresinnya (-).
ETIOLOGI & PATOGENESIS
 Keratitis Numularis biasanya diakibatkan oleh
virus. Diduga virus yang masuk ke dalam epitel
kornea melalui luka setelah trauma.

 Replikasi virus pada sel epitel diikuti penyebaran


toksin pada stroma kornea sehingga
menimbulkan kekeruhan atau infiltrat berbentuk
bulat seperti mata uang.
MANIESTASI KLINIS

 Tanda-tanda radang tidak


jelas
 Terdapat infiltrat bulat-
bulat subepitelial di
kornea, dimana tengahnya
lebih jernih, disebut halo
(diduga terjadi karena
resorpsi dari infiltrat yang
dimulai di tengah).
 Keratitis ini kalau
sembuh meninggalkan
sikatrik yang ringan.
DIAGNOSIS KERATITIS NUMULARIS
ANAMNESIS PEMERIKSAAN
 silau, OFTALMOLOGI
 nyeri,  slit lamp : terlihat infiltrat yang
bulat dan tepinya berbatas
 mata berair dan kotor,
tegas
 lesi di kornea
 uji fluoresein: negatif
 penglihatan berkurang

PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
 Pemeriksaan kerokan
kornea
 Kultur bakteri
 Polymerase chain reaction
(PCR)
TATALAKSANA
 Penatalaksanaan non-medikamentosa:
 Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk
melepaskannya
 Jangan memegang atau menggosok-gosok mata
yang meradang
 Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci
tangan sesering mungkin dan mengeringkannya
dengan handuk atau kain yang bersih
 Menghindari asap rokok, karena dengan asap
rokok dapat memperpanjang proses penyembuhan
luka
Penatalaksanaan medikamentosa:
 sesuai dengan etiologinya
 antibiotik spectrum luas untuk infeksi sekunder

 analgetik bila terdapat indikasi

 antiviral topikal berupa salep asiklovir 3% tiap 4 jam.

 asiklovir oral juga memiliki efektifitas yang sama


dengan antiviral topikal dan tidak memiliki efek
toksik terhadap mata. Dosis oral asiklovir 5 x 400 mg
diberikan selama 10 hari atau 6 x 400 mg selama 7
hari.
KOMPLIKASI
 Endophtalmitis
 Kebutaan

 Gangguan refraksi

 Jaringan parut permanent

 Ulkus kornea

 Perforasi kornea

 Glaukoma sekunder
PROGNOSIS
 Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani
dengan tepat dan jika tidak diobati dengan baik dapat
menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks dan
dapat mengakibatkan hilang penglihatan selamanya.

 Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor,


tergantung dari:
- Virulensi organisme
- Luas dan lokasi keratitis
- Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen
- Penyulit/penyakit lain yang dialami pasien
- Kepatuhan pasien dalam pengobatan
KESIMPULAN
 Keratitis adalah peradangan pada kornea yang
ditandai dengan adanya infiltrat di lapisan
kornea.
 Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan
lokasinya, yaitu superfisial, interstisial dan
profunda.
 Keratitis superfisial adalah radang kornea yang
mengenai lapisan epitel dan membran bowman.
 Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun
dewasa. Keratitis dapat memberikan gejala mata
merah, rasa silau, epifora, nyeri, kelilipan, dan
penglihatan menjadi sedikit kabur.
Prognosis pada setiap kasus tergantung
pada beberapa faktor, termasuk luasnya dan
kedalaman lapisan kornea yang terlibat, ada
atau tidak nya perluasan ke jaringan orbita lain,
status kesehatan pasien, virulensi patogen, ada
atau tidaknya vaskularisasi dan deposit kolagen
pada jaringan tersebut.
TERIMA KASIH