Anda di halaman 1dari 6

Kritik Biografi ( Biographic Criticism)

Sejak masa Renaissance, telah ada ketertarikan khusus terhadap kehidupan


pribadi dari para seniman dan arsitek, dan suatu perhatian terhadap hubungan
dari peristiwa-peristiwa hidup mereka dengan kegiatan produktif mereka
dalam menciptakan karya-karya seni dan arsitektur.

Kritisasi biografis dalam bidang arsitektur relatif sedikti jumlahnya. Barangkali


ini disebabkan karena arsitek cenderung lebih kurang verbal ketimbang para
penyair, dan oleh karenanya terbilang kurang dalam meninggalkan catatan
harian, surat atau jurnal. Kalaupun ada, maka kritik biografis dalam arsitektur
cenderung akan muncul pada ulasan sejarah, ketimbang dalam media surat
kabar atau dalam studi yang sifatnya evaluatif. Catatan dari pekerjaan Frank
Lloyd Wright misalnya, mengkombinasikan berbagai peristiwa dalam kehidupan
personalnya dan karyakaryanya.
Kritik Biografi ( Biographic Criticism)

Seperti halnya metode kritik deskriptif lainnya, kritik biografis sangatlah


berguna dalam menyediakan informasi tambahan terhadap pada pengamat,
sehingga bisa mendapatkan pengalaman yang lebih kaya dari keberadaan suatu
karya arsitektural. Blok Froebel-nya Frank Lloyd Wright, karir lain Le
Corbusier sebagai pelukis, ataupun hubungan Eero Sarinen’s dengan ayahnya
yang juga arsitek, adalah informasi-informasi signifikan yang memungkinkan
pengamat untuk dapat lebih memahami keberadaan suatu objek arsitektural
yang diciptakan oleh para arsitek ini.

Jika kita mengetahui bahwa seorang arsitek memiliki reaksi yang mendalam
terhadap peristiwa-peristiwa ertentu dalam kehidupannya, maka kita bisa
melihat bangunan rancangannya dan melihat apakah dia benar-benar
dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Kita dapat mempelajari bagaimana sang
arsitek mengatur fantasinya, bagaimana dia terinspirasi dan menetralisir konflik
dan memanfaatkan itu menghadirkan suatu karya yang artistik.
Kritik Biografi ( Biographic Criticism)
Memilah dan merangkai pola-pola pengaruh masa lampau terhadap tindakan-
tindakan sesudahnya atau saat sekarang adalah merupakan teknik dari biografi
yang mengasumsikan kepastian dari suatu karya seni.

Dalam bentuknya yang pertama, sudut pandang ini disebut dengan istilah
“personal history”, di mana nilai-nilai yang dipelajari pada masa muda atau
peristiwa-peristiwa spesifik selama perkembangan personal, seperti halnya
blok-blok Froebel bagi Frank Lloyd Wright, akan dilihat sebagai hal yang
mempengaruhi karya-karya seseorang dalam masa hidupnya sesudah itu.
Menurut Charles Jencks (1973), karya Mies van der Rohe, menunjukkan bukti
adanya dampak dari pengalaman masa kecil yang Bersangkutan.

Pendekatan lain dari biografi adalah kompendium fakta-fakta tentang


peristiwa-peristiwa dalam suatu kehidupan. Dalam bentuknya yang paling
murni, kritik biografis tidak mengijinkan adanya pengambilan kesimpulan.
Pola-pola tidak dikedepankan. Tindakan-tindakan tidak diinterpretasikan.
Sebaliknya, fakta-fakta dipaparkan secara apa adanya.
Kritik Biografi ( Biographic Criticism)
Biografi bisa juga di kemas dalam bentuk pola-pola pengaruh yang ringan.
Ketimbang dilihat sebagai produk yang jelas dari relasi sebab dan akibat,
sang arsitek bisa saja dilihat sebagai seorang rekonsiliator (perbuatan
menyelesaikan perbedaan) dari beragam kekuatan yang ada di dunianya.
Arsitek bukanlah produk, tapi seorang pengubah (transformer), sebuah
mekanisme – bahkan suatu mekanisme yang tanpa disengaja, yang
mengakibatkan sejarah berbuah.

Pendekatan ke-empat pada dasarnya mirip dengan metode kriitik advokatif,


di mana sang kritikus memanfaatkan adanya metafora untuk memberikan
interpretasi tentang seorang arsitek dan perannya. Dalam hal ini terdapat
sebuah elemen pengkomposisian, pengaturan fakta-fakta untuk mendukung
metafora yang digunakan. David Gebhard (1971), misalnya, menyebut
kontribusi Rudolph Schindler sebagai suatu rekonsiliasi, mengawinkan
berbagai gerakan yang berbeda dalam arsitektur abad ke-20 – baik yang
“tinggi” maupun “rendah”, dalam sebuah amalgamasi yang menunjukkan
ciri suatu masa di mana kesadaran yang ada hanyalah bersifat parsial (at the
moment we are only partially aware).
Kritik Biografi ( Biographic Criticism)

Pada akhirnya, seperti pada kritik impresionis, biografi seorang arsitek dapat
menjadi semacam wahana bagi sang kritikus (penulis biografi) untuk
menciptakan suatu karya sastra atau literatur yang mandiri. Fakta-fakta
diabaikan, dan sang arsitek ditransformasikan. Ayn Rand (1968), katanya,
menggunakan cerita hidup seorang Frank Lloyd Wright, untuk membuat
suatu karya novel pribadinya. Begitu juga dengan karya film biografi Ken
Russel yang menceritakan tentang komposer Gustav Mahier. Foto-foto
Gertrude Stein dari sejumlah pelukis, penulis dan lain-lain, walaupun tidak
terlalu berciri biografis, mewakili suatu keadaan ekstrim yang
memungkinkan dalam biografi yang impresionistik.

Sekalipun dalam banyak contoh, kritik bografi bersifat seakan-akan objektif


dan reportif, perlu dicatat bahwa metode kritik ini bisa menjadi sangat
imajinatif dan sangat manipulatif seperti kritik interpretatif. Adanya
penggunaan metafor, sudut pandang spesifik dan pengabaian hal-hal tertentu
adalah hal-hal yang mengindikasikan hal tersebut.