Anda di halaman 1dari 33

F.25.

0 GANGGUAN SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK

AFRILIA CHAERUNNISA
111 2018 2118
Supervisor : dr. A. Suheyra Syauki M. Kes, Sp. KJ

Mahasiswa Program Profesi Dokter


RSKD Dadi
F.25.0 GANGGUAN SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK

IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. E
No. RM : 00 85 11
Umur : 33 Tahun ( 01-07-1986)
Alamat : Pinrang
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan :-
Tanggal Pemeriksa : 7 Oktober 2019
RIWAYAT PSIKIATRI
Diperoleh dari catatan medis, autoanamnesis, dan
alloanamnesis dari :
Nama : Ny. Riska
Umur : 50 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan : Guru
Alamat : jl. Bontobila no. 17 makassar
Hubungan dengan pasien : Guru pengajar/ Mama angkat
LAPORAN PSIKIATRI
Keluhan utama:
Gelisah

Riwayat Gangguan Sekarang:


Seorang pasien diantar masuk ke UGD RSKD Dadi untuk kelima kali
oleh mama angkatnya dengan keluhan gelisah yang dialami sejak 1 bulan
terakhir dan memberat sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien
marah-marah, bicara sendiri, bicara terus-menerus, ketawa sendiri, kadang
berteriak sendiri dan sering mondar - mandir. Pasien jarang makan, jarang
mandi dan sulit untuk tidur. Pasien juga meyakini kalau mama angkatnya akan
meninggal dan dirinya juga akan meninggal dalam waktu dekat dan meyakini
bahwa terkena sihir sejak tahun 2018.
Awal perubahan perilaku pasien sejak tahun 2006, Saat itu kedua orang tua
pasien meninggal sehingga pasien sangat sedih tidak dapat makan, menangis terus-
menerus, mengurung diri dan mendengar suara-suara bisikan kemudian dibawa ke
RSKD Dadi oleh tantenya, setelah keluar pasien memutuskan untuk masuk islam ditahun
yang sama tetapi di tentang oleh keluarga lalu pasien diusir oleh tantenya dari rumah
sehingga pasien tinggal di dikost dan bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai
HRD tetapi karena pasien gelisah dan menganggu sekitar maka diberhentikan dari
tempat bekerja dan di bawa ke RSKD Dadi tahun 2008. Setelah keluar pasien tinggal
di masjid dan bertemu dengan mama angkatnya di suatu pengajian di masjid raya,
mama angkatnya berniat untuk tinggal bersama tetapi suami tidak setuju maka beliau
menyewakan kost pada pasien dan membayarkan uang kuliah pasien untuk melanjutkan
pendidikan di UIN jurusan Agama Islam. Pada tahun 2015 saat pasien semester 2
pasien kambuh kembali 2x dalam tahun itu dan di bawa ke RSKD Dadi kembali maka
pasien berhenti kuliah. setelah rutin control dan minum obat teratur membaik kembali,
tetapi saat 2019 pasien diputuskan oleh pacarnya karena mama angkat merasa tidak
setuju dengan hubungan mereka sehingga pasien menolak minum obat selama 4 bulan,
kemudian muncul kembali gejala dimana pasien mendengar suara-suara bisikan yang
ada hamper setiap hari mengatakan bahwa pasien akan mati karena sihir, saat itu
pasien sering mendatangi Mama angkatnya setiap saat karena mama angkat merasa
terganggu sehingga di bawa ke RSKD Dadi.
Riwayat persalinan dan keadaan saat lahir tidak
diketahui karena orangtua pasien sudah meninggal. Riwayat
pendidikan terakhir adalah SMA karena pasien kuliah tetapi
tidak selesai. Pergaulan dengan teman-teman baik, saat sekolah
pasien termasuk anak yang cerdas.
Pasien adalah anak ke-1 dari 2 bersaudara, adiknya
perempuan saat ini tinggal bersama tantenya. Hubungan dengan
keluarga buruk dimana kedua orang tua sejak kecil seringkali
berkelahi sejak kecil karena masalah ekonomi hampir setiap hari
pasien dan adiknya melihat orangtuanya saling memukul dan
berkelahi maka pasien terkadang di ungsikan dirumah tantenya.
Dan sejak masuk islam keluarga sudah tidak menganggap pasien
ada. Hingga pasien memutuskan untuk tinggal sendiri pasien
belum menikah. Menurut keterangan pasien adiknya yang tinggal
bersama tantenya memiliki penyakit kejiwaan yang serupa yaitu
sering bicara dan berteriak sendiri.
Hendaya Disfungsi:
Hendaya Sosial : Terganggu
Hendaya Pekerjaan : Terganggu
Hendaya waktu senggang : Terganggu

Faktor Stressor Psikososial:


Diputuskan oleh pacarnya
Riwayat Gangguan Sebelumnya
Riwayat penyakit dahulu :
Penyakit Infeksi (-)
Kejang (-)
Trauma (-)
Riwayat penggunaan NAPZA :
Merokok (-)
Alkohol (-)
Obat - obatan (-)
Riwayat gangguan psikiatrik sebelumnya:
Awal perubahan perilaku pasien sejak tahun 2006, Saat itu pasien meninggal orang
tuanya kedua orang tuanya dan dirawat oleh tantenya sehingga pasien menjadi stress
tidak makan dan berbicara lalu dibawa ke RSKD untuk pertama kali. Tahun 2018
dibawa kembali karena gelisah dan tahun 2015 dibawa sebanyak 2x dalam setahun.
Kemudian pasien rutin control sampai 2019 tetapi sudah 4 bulan pasien tidak minum
obat
Riwayat Kehidupan Pribadi
Riwayat Prenatal dan Perinatal
Tidak diketahui
Riwayat Masa Kanak Awal (1 – 3 tahun)
Tidak diketahui
Riwayat Masa Kanak Pertengahan ( 4 – 11 tahun )
Pasien seringkali melihat kedua orangtuanya bertengkar
Riwayat Masa Kanak Akhir (usia 12 – 14 tahun)
Pasien seringkali melihat kedua orangtuanya bertengkar dan saling menyakiti
satu sama lain. Di sekolah pasien termasuk anak yang cerdas selalu rangking 1
dikelas tetapi diantar jemput dan dilarang bergaul oleh tantenya.
Riwayat Masa Remaja (Usia 15-18 tahun)
Pasien seringkali bertengkar dengan adik dan mamanya, sampai pasien
pernah berniat mencelakai mama dan bapak kandungnya. Tetapi prestasi di
sekolah baik.
• Riwayat Pendidikan
Pasien menyelesaikan jenjang pendidikan SMA kemudian dibantu mama
angkat untuk melanjutkan di UIN jurusan PAI tetapi hanya dijalani sampai semester 2
• Riwayat Pekerjaan
Pasien merupakan HRD di salah satu tempat tetapi di pecat karena
gangguan jiwanya
• Riwayat Pernikahan
Belum menikah
• Riwayat Agama
Pasien sebelumnya saat tinggal bersama keluarga beragama Buddha,
keluarga pasien adalah penganut yang taat. Setelah kedua orangtua meninggal
dan pasien masuk di RSKD Dadi pasien memutuskan untuk masuk islam tahun 2006
dengan keinginan sendiri tanpa paksaan karena menurutnya mendatangkan
ketenangan, pasien lalu diusir oleh tantenya kemudian tinggal di mesjid dan
dibimbing oleh yang saat ini mama angkatnya dalam beribadah pasien rutin
mengikuti kajian.
Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien anak ke 2 dari 2 bersaudara (♀,♀) pasien tinggal bersama mama
angkat
• Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga
Ada riwayat keluarga dengan penyakit dan keluhan yang sama
(saudara perempuan pasien)
• Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien tinggal bersama mama angkatnya
• Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya
Pasien menyadari dirinya sakit dan rajin minum obat agar
dijemput kembali oleh mama angkatnya.
PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGI
Status Internus
Keadaan umum pasien tampak baik, gizi cukup, kesadaran composmentis,
tekanan darah 130/70mmHg, nadi 80kali/menit, frekuensi pernapasan 20
kali/menit, suhu tubuh 36.5’C, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus,
jantung dan paru-paru dalam batas normal, abdomen dalam batas normal,
ekstremitas atas dan bawah tidak ada kelainan.
Status Neurologi
Gejala rangsang selaput otak : kaku kuduk (-), kernig’s sign (-) (-), pupil bulat
dan isokor 2.5mm/2.5mm, refleks cahaya (+)/(+). Fungsi motorik dan sensorik
keempat ekstremitas dalam batas normal, dan tidak ditemukan refleks
patologis.
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
(TANGGAL 05/10/2019 - RUANG KENANGA RSKD DADI)
Deskripsi Umum
Penampilan : Seorang perempuan usia 33 tahun wajah sesuai umur bermata
sipit bermata sipit memakai jilbab bermotif menggunakan baju berwarna pink
muda lengan panjang, perawakan sedang dan penampilan cukup perawatan
baik.
Kesadaran :
Kuantitas : Compos Mentis (E4M6V5)
Kualitas : Berubah
Perilaku dan aktifitas psikomotor : Banyak bicara
Pembicaraan : Spontan, lancar, intonasi cepat
Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif
Keadaan afektif
Mood : Eutimik
Afek : luas
Empati : serasi

Fungsi Intelektual (Kognitif)


Taraf pendidikan Pengetahuan umum dan kecerdasan pasien sesuai dengan
tingkat pendidikannya yakni lulusan SMA
Orientasi
Waktu : baik
Tempat : Baik
Orang : Baik

Daya ingat
Jangka panjang : Baik
Jangka pendek : Baik
Jangka segera : Baik

Konsentrasi dan Perhatian : baik


Pikiran abstrak : baik (pasien menganggap panjang
tangan adalah pencuri)
Bakat Kreatif : Pasien pandai menjahit
Kemampuan menolong diri sendiri : Baik
Gangguan Persepsi dan Pengalaman Diri
Halusinasi :
- Visual : Tidak ada
- Auditorik : Riwayat halusinasi sebelumnya pasien sering mendengar
suara-suara bisikan perempuan mengatakan bahwa dirinya akan mati.
- Ilusi : Tidak ada
- Depersonalisasi : Tidak ada
- Derealisasi : Tidak ada
Proses Berfikir
Produktivitas : membanjir
Kontuinitas : Cukup relevan
Hendaya berbahasa : Tidak ada

Isi pikiran
Preokupasi :-
Gangguan isi pikir :
waham persekutorik: : riwayat waham pasien meyakini ide dalam pikiranya
bahwa ada yang sengaja menyihir dirinya dan mama angkatnya karena telah
pindah agama dan meyakini dirinya dan mama angkatnya akan meninggal
dalam waktu dekat
Pengendalian Impuls : Baik selama wawancara
Daya Nilai dan Tilikan
Normal Sosial : Tidak Terganggu
Uji Daya Nilai : Tidak Terganggu
Penilaian Realitas : Tidak Terganggu
Tilikan : Derajat VI (Menyadari penyakitnya dan menyalahkan
orang lain)
Taraf Dapat Dipercaya
Dapat dipercaya
IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Seorang pasien perempuan diantar masuk ke UGD RSKD Dadi untuk
kelima kali oleh mama angkatnya dengan keluhan gelisah yang dialami sejak
1 bulan terakhir dan memberat sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit.
Pasien marah-marah, bicara sendiri, bicara terus-menerus, ketawa sendiri,
kadang berteriak sendiri dan sering mondar - mandir. Pasien jarang makan,
jarang mandi dan sulit untuk tidur. Pasien juga meyakini kalau mama
angkatnya akan meninggal dan dirinya juga akan meninggal dalam waktu
dekat dan meyakini bahwa terkena sihir sejak tahun 2018
Awal perubahan perilaku pasien sejak tahun 2006, Saat itu kedua orang tua
pasien meninggal sehingga pasien sangat sedih tidak dapat makan, menangis terus-
menerus, mengurung diri dan mendengar suara-suara bisikan kemudian dibawa ke
RSKD Dadi oleh tantenya, setelah keluar pasien memutuskan untuk masuk islam ditahun
yang sama tetapi di tentang oleh keluarga lalu pasien diusir oleh tantenya dari rumah
sehingga pasien tinggal di dikost dan bekerja di salah satu perusahaan swasta
sebagai HRD tetapi karena pasien gelisah dan menganggu sekitar maka
diberhentikan dari tempat bekerja dan di bawa ke RSKD Dadi tahun 2008. Setelah
keluar pasien tinggal di masjid dan bertemu dengan mama angkatnya di suatu
pengajian di masjid raya, pasien untuk melanjutkan pendidikan di UIN jurusan Agama
Islam. Pada tahun 2015 saat pasien semester 2 pasien kambuh kembali 2x dalam
tahun itu dan di bawa ke RSKD Dadi kembali maka pasien berhenti kuliah. setelah
rutin control dan minum obat teratur membaik kembali, tetapi saat 2019 pasien
kambuh
Riwayat persalinan dan keadaan saat lahir tidak diketahui karena
orangtua pasien sudah meninggal. Riwayat pendidikan terakhir adalah SMA
karena pasien kuliah tetapi tidak selesai. Pergaulan dengan teman-teman baik,
saat sekolah pasien termasuk anak yang cerdas.

Pasien adalah anak ke-1 dari 2 bersaudara, adiknya perempuan saat


ini tinggal bersama tantenya. Hubungan dengan keluarga buruk dimana kedua
orang tua sejak kecil seringkali berkelahi sejak kecil karena masalah ekonomi
hampir setiap hari pasien dan adiknya melihat orangtuanya saling memukul
dan berkelahi maka pasien terkadang di ungsikan dirumah tantenya. Dan
sejak masuk islam keluarga sudah tidak menganggap pasien ada. Hingga
pasien memutuskan untuk tinggal sendiri pasien belum menikah. Menurut
keterangan pasien adiknya yang tinggal bersama tantenya memiliki penyakit
kejiwaan yang serupa yaitu sering bicara dan berteriak sendiri.
EVALUASI MULTIAKSIAL (Sesuai PPDGJ-III)
Aksis I:
Berdasarkan Autoanamnesis dan pemeriksaan status mental
didapatkan gejala klinis yang bermakna yaitu perilaku mengamuk, mondar-
mandir di dalam rumah, disertai berteriak-teriak tanpa sebab yang jelas.
Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) pada pasien , keluarga, dan
masyarakat sekitar serta terdapat hendaya (disability) pada fungsi psikososial,
pekerjaan, dang penggunaan waktu senggang sehingga dapat disimpulkan
bahwa pasien menderita Gangguan Jiwa.
Pada pemeriksaan status mental juga ditemukan adanya hendaya berat,
dimana pasien menyangkal keadaannya yang sakit dan butuh pertolongan, hendaya
berat dalam fungsi mental berupa ketidakmampuan membina relasi dengan orang
lain syang membuat pasien tidak mampu lagi bekerja, sehingga didiagnosis
Gangguan Jiwa Psikotik.
Pada pemeriksaan status internus dan neurologis tidak ditemukan adanya
kelainan sehingga kemungkinan adanya gangguan mental organic dapat disingkirkan
dan berdasarkan PPDGJ-III didiagnosis Gangguan Jiwa Psikotik Non Organik.
Dari autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan adanya gejala
adanya afek yang meningkat dan dikombinasi dengan iritabilitas yang meningkat dan
ide yang membanjir, yag muncul bersamaan dengan adanya waham presekutorik
yang sama-sama menonjol dengan perlangsungan gejala lebih dari satu bulan sama-
sama menonjol yang muncul secara bersamaan definitive adanya skizofrenia dan
gangguan afektif sehingga berdasarkan PPDGJ III dapat digolongkan ke Gangguan
Skizoafektif tipe Manik (F25.0).
Pasien didiagnosis banding dengan:

• Mania dengan Gejala Psikotik (F30.2): harga diri yang membumbungdan


gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran
iritabilitas dan kecurigaan. Waham dan halusinasi sesuai dengan afek
tersebut. Yang muncul secara tidak bersamaan.
• Skizofrenia F20.0 : pada umumnya disertai dengan fek yang tidak wajar
atau tumpul
Aksis II
Ciri kepribadian tidak khas
Aksis III
Tidak ditemukan kelainan
Aksis IV
Diputuskan oleh pacarnya akibatnya pasien tidak mau minum obat
Aksis V
GAF Scale saat ini : 70-61(Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum masih baik)
DAFTAR MASALAH
Organobiologik
Tidak ditemukan kelainan fisik bermakna karena terdapat ketidakseimbangan
neurotransmitter maka memerlukan psikofarmakoterapi
Psikologi
Ditemukan adanya masalah psikologi sehingga pasien memerlukan psikoterapi
Sosiologik
Ditemukan adanya hendaya dalam waktu senggang maka membutuhkan
sosioterapi
Psikofarmakoterapi
• Haloperidol 5 mg, 1 tab/8jam/oral
• Trihexilphenidyl 2 mg, 1tab/12j/oral
• Carbamazepin 200 mg 1 tab/12 j/oral

Psikoterapi Suportif
Ventilasi: Memberikan kesempatan kepada pasien untuk
menceritakan keluhan dan isi hati serta perasaan sehingga pasien
merasa lega.
Konseling: Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien
agar memahami penyakitnya, bagaimana cara menghadapinya,
manfaat pengobatan, cara pengobatan, efek samping yang
mungkin timbul selama pengobatan. Memberikan dukungan
kepada pasien serta memotivasi agar minum obat secara teratur.
1. Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada pasien, keluarga pasien dan orang
disekitarnya tentang gangguan yang dialami pasien sehingga mereka
dapat menerima dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk
membantu proses pemulihan pasien
PROGNOSIS
Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
I. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien serta perkembangan
penyakitnya. Selain itu menilai efektivitas terapi dan kemungkinan efek
samping yang mungkin terjadi.
DISKUSI
Dari Alloanamnesis Ny. E didapatkan adanya gejala klinis berupa pasien selalu gelisah dan
berbicara sendiri. Pasien mengeluhkan sering mendengar bisikan bahwa pasien akan mati
dalam waktu dekat disertai pasien tidak berhenti berbicara dan irritable. Berdasarkan
gejala dapat diagnosis skizoafektif tipe mania harus ada perubahan suasana perasaan
harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan suasana perasaan yang tak begitu
mencolok dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang meningkat. Dalam episode
yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi dua gejala skizofrenia yang
khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia).
Tatalaksana untuk pasien diatas adalah dengan melakukan pemberian anti
psikotik generasi satu ( Anti Psikosis Tipikal ) berupa Haloperidol dosis 5 mg 1x1 dan tetapi
apabila pasien mulai mengeluhkan timbulnya efek samping obat dapat bantu dengan
pemberian THP (Trihexyphenidil dosis 2 mg 1x1) dan untuk terapi anti mania diberikan
Carbamazepin 200 mg.
Pasien juga bisa diberikan Family therapy dengan mengedukasi keluarga pasien
untuk tidak mengekang serta menekan pasien dan selalu memberi dukungan kepada pasien
untuk meningkatkan kepercayaan diri sekaligus mengontrol kepatuhan pasien dalam minum
obat untuk keberhasilan terapi.
Terima Kasih