Anda di halaman 1dari 75

“PENGARUH PEMBERIAN KACANG

MERAH (Phaseolus vulgaris L.) TERHADAP


PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA
MENCIT (Mus musculus)”

Hasil Penelitian
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran
Disusun Oleh:
Qoidil Qoimil Chaecar
110 2014 0048

Pembimbing:
dr. Hj. Dahlia, MARS, DPDK
dr. Abdul Mubdi A.

Penguji :
dr. Aryanti R Bamahry, M.Kes., Sp.GK
dr. Sri Wahyu, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
BAB I
Pendahuluan
LATAR BELAKANG

Diabetes Melitus (DM) adalah salah satu penyakit metabolik


yang ditandai adanya peningkatan konsentrasi glukosa darah
(Hiperglikemia) yang diakibatkan gangguan sekresi insulin,
gangguan kerja insulin atau keduanya. Seseorang dikatakan
menderita diabetes melitus secara klinis apabila terdapat gejala
diabetes melitus, yaitu banyak makan, banyak minum, sering
kencing dan berat badan turun serta didapatkan hasil pemeriksaan
kadar glukosa darah saat puasa > 126mg/dl atau 2 jam setelah
minum larutan glukosa 75 gram, kadar glukosa darahnya> 200
mg/dl.
Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus tipe 2 di beberapa
negara berkembang sebagai akibat peningkatan kemakmuran
semakin banyak disoroti. Berbagai penelitian epidemiologi
menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insiden
dan prevalensi diabetes melitus tipe 2 di berbagai penjuru dunia.
LATAR BELAKANG

Di Indonesia WHO memprediksi kenaikan jumlah


pasien menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 20303. Diet
memegang peranan penting dalam manajemen diabetes
melitus. Sebelum ditemukan terapi dengan insulin, diet
adalah penanganan utama penyakit ini, termasuk
konsumsi obat tradisional yang berasal dari tanaman.4
Sejak jaman dahulu, jauh sebelum pelayanan kesehatan
dengan obat-obatan modern dikenal masyarakat, bangsa
Indonesia telah mengenal dan memanfaatkan tumbuhan
berkhasiat obat sebagai salah satu upaya untuk
menanggulangi masalah kesehatan.
LATAR BELAKANG

Indonesia memiliki 30.000 jenis tumbuhan dan 7.000


diantaranya ditengarai memiliki khasiat sebagai obat. Pada
tingkat pencegahan yang paling baik adalah dengan
mempromosikan pola hidup sehat di kalangan masyarakat,
sedangkan upaya menjaga kondisi kesehatan pada
penderita adalah dengan mengoptimalkan aneka jenis
makanan yang relatif rendah glukosa diantaranya adalah
kacang merah.
LATAR BELAKANG

Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) merupakan sumber


serat yang baik, dimana setiap 100 g kacang merah kering
menyediakan serat sekitar 4 g , yang terdiri atas serat larut dan
juga serat tidak larut. Serat larut secara signifikan menurunkan
gula darah,karena serat larut dapat menurunkan respon glikemik
pangan secara bermakna. Kacang merah, sebagaimana kacang
polong lainnya, mengandung beberapa komponen zat inhibitor
seperti asam fitat, tannin, tripsin inhibitor, dan oligosakarida.
Asam fitat tergolong zat anti gizi karena ia membentuk ikatan
kompleks dengan zat besi atau mineral lain, seperti seng (zinc),
magnesium, dan kalsium, menjadi bentuk yang tidak larut dan
sulit diserap tubuh. Zat inhibitor pada kacang merah ternyata
dapat memperlambat pencernaan karbohidrat di dalam usus
halus, sehingga Indeks Glikemik pangan akan turun.7
RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah pengaruh
pemberian kacang merah
(Phaseolus vulgaris L.) dapat
menurunkan kadar glukosa
darah pada Mencit
(mus musculus) ?
TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui pengaruh pemberian kacang merah


(Phaseolus vulgaris L.) terhadap penurunan kadar glukosa UMUM
darah pada Mencit (Mus musculus).

1. Mengetahui kadar gula darah sebelum pemberian kacang merah (Phaseolus


vulgaris L.) pada mencit DM (Kelompok perlakuan)
2. Mengetahui kadar gula darah setelah pemberian kacang merah (Phaseolus
vulgaris L.) pada mencit DM (Kelompok perlakuan)
3. Membandingkan kadar gula darah sebelum dan sesudah pemberian kacang
merah (Phaseolus vulgaris L.) pada mencit DM (Kelompok perlakuan)
4. Mengetahui kadar gula darah sebelum pemberian plasebo pada mencit DM
(Kelompok kontrol)
5. Mengetahui kadar gula darah sesudah pemberian plasebo pada mencit DM
(Kelompok kontrol)
KHUSUS
6. Membandingkan kadar gula darah sebelum dan sesudah pemberian plasebo
pada mencit DM (Kelompok kontrol)
7. Membandingkan perubahan kadar glukosa darah pada mencit kelompok
kontrol dan perlakuan
8. Mengetahui pengaruh pemberian kacang merah (Phaseolus vulgaris L.)
terhadap perubahan kadar glukosa darah mencit DM
MANFAAT PENELITIAN

 Memberikan informasi bagi ilmu pengetahuan mengenai


manfaat kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) dalam
menurunkan kadar glukosa darah mencit sehinga dapat
menambah informasi ilmu dibidang kesehatan dan berbagai
bidang ilmu lainnya.
 Memberikan informasi untuk mengembangkan pemanfaatan
kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) dalam pelayanan
kesehatan.
 Memberikan informasi bagi masyarakat mengenai manfaat
kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) sebagai tanaman obat
dalam menurunkan kadar glukosa darah.
 Memberikan informasi yang dapat menjadi dasar untuk
penelitian lebih lanjut tentang kacang merah (Phaseolus
vulgaris L.) terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit
(Mus musculus).
BAB II
Tinjauan Pustaka
HIPERGLIKEMIA

Hiperglikemia didefinisikan sebagai kadar glukosa serum puasa yang lebih


tinggi dari 110 mg/dl. Mempertahankan kadar glukosa darah puasa normal
bergantung pada produksi glukosa hepar, ambilan glukosa jaringan perifer,
dan hormon yang mengatur metabolisme glukosa. Manifestasi klinis
hiperglikemia jika telah berkembang secara penuh dapat mengakibatkan
gangguan metabolisme berupa hilangnya toleransi terhadap karbohidrat.
Pasien dengan kelainan toleransi glukosa (gangguan glukosa puasa dan
gangguan toleransi glukosa) dapat beresiko mengalami komplikasi metabolik
diabetes.1
Diabetes melitus adalah gangguan endokrin yang paling banyak dijumpai.
Gejala-gejala akut diabetes mellitus disebabkan oleh efek insulin yang tidak
adekuat karena insulin adalah satu-satunya hormon yang dapat menurunkan
kadar glukosa darah. Salah satu gambaran diabetes melitus yang paling
menonjol adalah peningkatan kadar glukosa darah atau hiperglikemia.3
HIPERGLIKEMIA

Epidemiologi
Negara berkembang seperti Indonesia menempati urutan ke 4
jumlah penderita diabetes melitus di dunia setelah India, Cina dan
Amerika Serikat.Pada tahun 2013, proporsi penduduk Indonesia yang
berusia ≥15 tahun dengan diabetes melitus adalah 6,9 persen.
Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI
Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%), dan
Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis
dokter atau berdasarkan gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah
(3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa
Tenggara Timur (3,3%Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil
Riskesdas (2007) dari 24417 responden berusia > 15 tahun , 10,2%
mengalami toleransi glukosa tergangggu (kadar glukosa 140-200
mg/dl setelah puasa selama 4 jam diberikan beban glukosa sebanyak
75 gram).9
HIPERGLIKEMIA

Klasifikasi
Klasifikasi terbaru tahun 2013 oleh American Diabetes Association lebih
menekankan penggolongan berdasarkan penyebab dan proses
penyakit. Ada 4 jenis diabetes melitus berdasarkan klasifikasi terbaru,
yaitu : 10
1. Diabetes melitus tipe 1: IDDM (Insulin Dependent Diabetes melitus)
Ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pancreas, kombinasi faktor
genetik imunologi dan mungkin pula lingkungan (virus)
diperkirakan turut menimbulkan distraksi sel beta
2. Diabetes melitus tipe 2: NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes
melitus) disebabkan oleh resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin
3. Diabetes tipe spesifik lain Misalnya: gangguan genetik pada fungsi
sel beta, gangguan genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas
dan yang dipicu oleh obat atau bahan kimia
4. Gestasional Diabetes mellitus
HIPERGLIKEMIA

Faktor Risiko
Resiko – resiko bagi seseorang yang kemungkinan menderita diabetes melitus
bila ditemukan kondisi-kondisi berikut ini :11
1. Riwayat kedua orangtua yang mengidap diabetes mellitus
2. Riwayat salah satu orang tua atau saudara kandung terkena penyakit
diabetes mellitus
3. Riwayat salah satu anggota keluarga (nenek, kakek, paman, bibi, sepupu)
mengidap penyakit diabetes mellitus
4. Seorang yang gemuk / obesitas (> 20 % BB ideal) atau indeks masa tubuh
(IMT) > 27 kg/m2
5. Umur diatas 40 tahun dengan faktor yang disebutkan diatas
6. Seseorang dengan tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg)
7. Seseorang dengan kelainan profil lipid darah (dislipidema) yaitu kolesterol
HDL < 35 mg/dl, dan / atau trigliserida > 250 mg/dl
8. Seseorang yang sebelumnya dinyatakan sebagai toleransi glukosa
terganggu (TGT) atau gula darah puasa (terganggu) (GDPT)
9. Wanita yang sebelumnya mengalami diabetes kehamilan
10. Wanita yang melahirkan bayi > 4.000 gr
11. Semua wanita hamil 24 – 28 minggu
HIPERGLIKEMIA
HIPERGLIKEMIA

Manifestasi Klinis
A. Gejala dan tanda awal
 Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah
 Banyak kencing (poliuria)
 Banyak minum (polidipsia)
 Banyak makan (polifagia)
B. Gejala Kronis
 Gangguan penglihatan
 Gangguan saraf tepi / kesemutan
 Keputihan pada wanita
 Gatal-gatal / bisul
 Rasa tebal di kulit kaki
HIPERGLIKEMIA

Diagnosis dan Pemeriksaan


Langkah-langkah untuk menegakkan diagnosa
diabetes melitus adalah :
A. Didahului dengan adanya keluhan-keluhan khas
yang dirasakan dan dilanjutkan dengan
pemeriksaan glukosa darah.
B. Pemeriksaan glukosa darah menunjukkan hasil :
pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥ 200
mg/dl (sudah cukup menegakkan diagnosis)
pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl
(patokan diagnosis diabetes mellitus).12
HIPERGLIKEMIA
HIPERGLIKEMIA

Komplikasi
 Komplikasi akut : Diabetes Ketoasidosis, Koma
Hiperosmolar Non Ketotik, Hipoglikemia
 Komplikasi kronis :
A. Mikrovaskular :
Penyakit ginjal, Penyakit mata, Neuropati
B. Makrovaskular :
Penyakit jantung koroner, Pembuluh darah kaki
(Gangren), Sumbatan pembuluh darah ke otak
HIPERGLIKEMIA

Penatalaksanaan
A. Edukasi
B. Terapi diet :
- Memberikan semua unsur makanan esensial (misal :
vitamin dan mineral)
- Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
- Memenuhi kebutuhan energi
- Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya
- Menurunkan porsi makan pada penderita diabetes melitus
C. Latihan Jasmani
D. Intervensi Farmakologis : Obat–obatan golongan
sulfonilurea, Biguanid, Insulin
KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.)

Morfologi

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Leguminoseae
Sub Famili : Papilionoideae
Genus : Phaseolus
Spesies : Phaseolus vulgaris L.
KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.)

Tanaman kacang merah tergolong dalam tanaman semak merambat


yang membutuhkan penyangga ketika tumbuh. Kacang merah
tumbuh dengan memiliki tinggi sekitar 3,5 m hingga 4,5
m. Sedangkan buahnya berbentuk polong serta memanjang. Dalam
satu polong umumnya terdapat 2 hingga 3 biji kacang
merah. Bentuk biji kacang merah memiliki ukuran lebih besar
dibanding biji kacang hijau ataupun kacang panjang dengan kulit biji
berwarna merah tua atau merah bata. Jika kulit biji dikupas, maka
akan terlihat biji kacang yang berwarna putih.
Daun kacang merah agak kasar dan tipe polongnya lebih pipih dari
pada kacang panjang. Dengan aroma polong yang agak langu,
ukuran polongnya pendek sekitar 12 cm, ada yang lurus atau
bengkok dengan warna beraneka macam, bentuknya ada yang pipih
dan ada yang gilig.16
KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.)

Ekologi dan Penyebaran


 Di Indonesia, daerah yang banyak ditanami kacang
jogo adalah Lembang (Bandung), Pacet (Cipanas),
Kota Batu (Malang), dan Pulau Lombok.
 Temperatur yang dibutuhkan kacang merah untuk
tumbuh adalah sekitar 16oC hingga 27oC dengan curah
hujan antara 900 mm hingga 1.500 mm per
tahunnya. Namun dapat pula tumbuh pada curah
hujan antara 500 mm hingga 600 mm tetapi dalam
satu musim penanaman. Kacang merah akan tumbuh
dengan baik pada lahan yang memiliki pH antara 6.0
hingga 6.8 dengan sistem drainase yang baik.17
KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.)

Kandungan dan Khasiat


Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) merupakan sumber serat yang baik,
dimana setiap 100 gr kacang merah kering menyediakan serat sekitar 4 gr ,
yang terdiri atas serat larut dan juga serat tidak larut. Serat larut secara
signifikan menurunkan gula darah,karena serat larut dapat menurunkan
respon glikemik pangan secara bermakna. Kacang merah, sebagaimana
kacang polong lainnya, mengandung beberapa komponen zat inhibitor
seperti asam fitat, tannin, tripsin inhibitor, dan oligosakarida. Asam fitat
tergolong zat anti gizi karena ia membentuk ikatan kompleks dengan zat
besi atau mineral lain, seperti seng (zinc), magnesium, dan kalsium,
menjadi bentuk yang tidak larut dan sulit diserap tubuh. Zat inhibitor pada
kacang merah ternyata dapat memperlambat pencernaan karbohidrat di
dalam usus halus, sehingga Indeks Glikemik pangan akan turun.7
KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.)

Asam Fitat Dan Tannin


Asam fitat merupakan merupakan asam lemak jenuh yang terdapat
pada biji-bijian seperti padi, jagung, kedelai, dan kacang - kacangan.
karena tidak memiliki enzim fitase sehingga menjadi bentuk yang
tidak larut. Asam fitat akan keluar bersama kotoran dan tidak diserap
ke dalam tubuh.33
Senyawa polifenolik sering juga disebut dengan tannin merupakan
agen pereduksi yang kuat dan banyak terkandung didalam tanaman
pangan.34 Senyawa ini dapat membentuk kompleks dengan protein
sehingga menurunkan daya cerna protein dan mutu protein. Polifenol
juga dapat menghambat aktivitas enzim pencernaan sehingga dapat
menurunkan daya cerna pati.35 Zat Anti gizi seperti tannin dan Asam
fitat ini banyak dikandung oleh jenis kacang – kacangan, salah satunya
kacang merah.36
ALOKSAN

Definisi Dan Struktur Kimia


Aloksan adalah suatu substrat yang secara
struktural adalah derivat pirimidin sederhana.
Aloksan diperkenalkan sebagai hidrasi aloksan
pada larutan encer. Nama aloksan diperoleh dari
penggabungan kata allantoin dan oksalurea
(asam oksalurik).
Rumus kimia aloksan adalah C4H2N2O4.Aloksan
adalah senyawa kimia tidak stabil dan senyawa
hidrofilik. Waktu paruh aloksan pada pH 7,4 dan
suhu 37o C adalah 1,5 menit.37
ALOKSAN

Pengaruh Aloksan terhadap Kerusakan Sel Beta Pankreas.


Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi diabetes
pada binatang percobaan. Pemberian aloksan adalah cara yang cepat untuk
menghasilkan kondisi diabetik eksperimental (hiperglikemik) pada binatang
percobaan. Aloksan dapat diberikan secara intravena, intraperitoneal, atau
subkutan pada binatang percobaan.Aloksan dapat menyebabkan Diabetes
Melitus tergantung insulin pada binatang tersebut (aloksan diabetes) dengan
karakteristik mirip dengan Diabetes Melitus tipe 1 pada manusia.Aloksan
bereaksi dengan merusak substansi esensial di dalam sel beta pankreas
sehingga menyebabkan berkurangnya granula-granula pembawa insulin di
dalam sel beta pankreas.Aloksan meningkatkan pelepasan insulin dan protein
dari sel beta pankreas tetapi tidak berpengaruh pada sekresi glukagon. Efek
ini spesifik untuk sel beta pankreas sehingga aloksan dengan konsentrasi
tinggi tidak berpengaruh terhadap jaringan lain.37
KERANGKA TEORI
KERANGKA KONSEP
HIPOTESIS PENELITIAN

 Hipotesis nol (H 0) :
- Tidak Terdapat penurunan kadar gula darah pada
mencit setelah diberikan kacang merah
 Hipotesis alternatif (Ha) :
- Pemberian Kacang merah pada mencit efektif
terhadap penurunan kadar gula darah
BAB III
Metodologi
Penelitian
DESAIN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian true


experimental pre and post control dengan
menggunakan hewan coba (probandus). Hewan coba
yang digunakan adalah mencit (Mus musculus) untuk
mengetahui efek pemberian Kacang merah (Phaseolus
Vulgaris L.) terhadap penurunan kadar gula darah pada
mencit yang diberi air minum glukosa 20% dalam 50 ml
air dan Induksi aloksan sehingga menjadi hiperglikemia.
WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Seluruh rangkaian penelitian akan dilakukan pada bulan Agustus-Oktober


2017 di Laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi, Universitas Muslim
Indonesia Jl. Urip Sumohardjo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan

POPULASI PENELITIAN

Hewan uji yang dipakai adalah 32 ekor mencit (Mus musculus) dengan
berat badan ± 20-40 gr usia ± 2-3 bulan. Hewan uji berasal dari
Laboratorium Farmasi Universitas Muslim Indonesia yang dipelihara
dan dikembang biakkan.
VARIABEL PENELITIAN

 Variabel Independen :
Variabel ini berupa jus kacang merah (Phaseolus Vulgaris L.).
 Variabel Dependen :
Variabel ini berupa kadar glukosa darah mencit sebelum dan setelah
pemberian jus kacang merah.

TEKNIK SAMPEL

Sampel penelitian diperoleh secara total sampling atau


menggunakan seluruh populasi sebagai sampel penelitian.
SAMPEL DAN KRITERIA PENELITIAN

Sampel penelitian adalah 32 ekor mencit (Mus musculus) dengan berat badan ± 20 - 40
gr usia ± 2-3 bulan. Hewan uji berasal dari Laboratorium Farmasi Universitas Muslim
Indonesia yang dipelihara dan dikembang biakkan.
Kriteria Inklusi
1. Mencit jantan dengan berat 20-40 gram yang dipelihara di laboratorium
2. Mencit jantan umur 2-3 bulan
3. Mencit dengan kadar gula darah puasa <126mg/dl sebelum induksi aloksan dan >126
mg/dl setelah induksi aloksan
4. Mencit Bebas penyakit
Kriteria Eksklusi
1. Mencit yang mati
2. Mencit yang mengalami penurunan berat badan
3. Mencit dengan kadar gula darah normal
4. Mencit mengalami Inflamasi
5. Mencit sakit
JUMLAH SAMPEL

Jumlah sampel minimal ditentukan menggunakan rumus Frederer :


(k-1) (n-1) ≥ 15
Keterangan :
k = jumlah kelompok
n = jumlah sampel tiap kelompok dalam penelitian ini
(k-1) (n-1) ≥ 15
(2-1) (n-1) ≥ 15
1(n-1) ≥ 15
n ≥ 16
n = 16
Jumlah Total Sampel : n x k = 16 x 2 = 32
DEFENISI OPERASIONAL DAN KRITERIA OBJEKTIF

 Kacang Merah : Pemberian Kacang Merah (Phaseolus Vulgaris


L.) yang diperoleh dengan cara dibuat jus dengan takaran
setiap 100 g kacang merah disetarakan dengan 500 ml air.
Diberikan secara personde lambung, dengan dosis untuk
kelompok perlakuan, yakni 0,26 ml/Mencit.

 Mencit : Mencit jantan (Mus musculus) yang berumur antara


2-3 bulan, dengan berat badan antara 20-40 gram.

 GDP : Kadar glukosa darah puasa adalah kadar hasil


pemeriksaan glukosa darah mencit setelah dipuasakan selama
6 jam dengan menggunakan glukometer. Darah didapat dari
pengambilan darah di pembuluh darah ekor mencit.
PERHITUNGAN DOSIS ALOKSAN UNTUK INDUKSI HIPERGLIKEMIA

Dosis Aloksan:

Dosis aloksan pada tikus = 120 mg/kgBB


Pada tikus 200 g = (200 g/ 1000 g) x 120 mg/kgBB = 24 mg/tikus 200g
dari tikus 200 g ke mencit 20 g = 0,14
Pada mencit 20 g =24 mg x 0,14 = 3,36 mg/ mencit 20 g
Untuk 1 kg BB mencit =1000/20 x 3,36 mg = 168 mg/kgBB mencit
Rata-rata BB mencit = 20 g
Dosis aloksan untuk mencit 20 g = (20 g/ 20 g) x 3,36 = 3,36
mg/mencit
volume maksimal dosis intraperitoneal mencit: 0,1 ml = 3,36 mg/0,1 ml
= 33,6 mg/ml
ALUR PENELITIAN

Pembagian kelompok mencit


yang akan diberi perlakuan

Kelompok I : Kelompok II:


16 ekor mencit 16 ekor mencit

32 ekor mencit dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I dan II (Masing – masing
Hari ke-1 kelompok berjumlah 16 ekor mencit). Kemudian setiap kelompok diadaptasikan dan
diberi minum serta pakan standar.

Pengukuran kadar glukosa darah masing-masing mencit, untuk memastikan kadar


Hari ke-6
glukosa darah mencit normal. Sebelumnya mencit dipuasakan selama enam jam

Induksi hiperglikemia dengan pemberian larutan


Hari ke-7 glukosa 20% dalam air minum 50 ml/per hari
selama satu minggu + Induksi Aloksan 3,36
mg/ml/20grBB mencit
Cont. ALUR PENELITIAN

Pengukuran kadar glukosa darah masing-masing mencit,


Hari ke-10 untuk memastikan mencit kini sudah dalam keadaan
hiperglikemia
Sebelum pengukuran, mencit dipuasakan selama enam jam

Kelompok I (Hiperglikemia) : Kelompok II (Hiperglikemia) :


Hari ke-10
Pemberian plasebo (NaCl Pemberian jus kacang merah
sampai hari
fisiologis 0,5 ml/mencit/hari) + 0,26ml/mencit/hari) + Pemberian
ke-24
Pemberian pakan standar pakan standar

Mencit dipuasakan 6 jam

Pengukuran kadar glukosa darah puasa


Hari ke-24
mencit setelah perlakuan

Pengolahan data, evaluasi dan pembuatan


laporan
INSTRUMEN PENELITIAN

Alat :
Kandang mencit, Sonde lambung, Timbangan, Strip
+ Glukometer Easy Touch, Spoit, Handschoen,
Blender + Tapis Teh, Nipple Drinker, Silet, Gelas
Beker 250 ml, Botol, Silet, Sekam, Tempat Seukuran
tubuh mencit.
Bahan :
Mencit jantan dengan usia 2 bulan BB 30 gr (32
ekor), Kacang Merah, Aquadest, Larutan glukosa 20
%, Alkohol 96 %, Pakan Mencit Standar, Air Minum,
Aloksan.
PENGUMPULAN DATA

Penelitian ini menggunakan mencit sebanyak 32 ekor yang


diadaptasikan selama seminggu di Laboratorium Farmasi
Universitas Muslim Indonesia dengan dikandangkan secara
memadai pada suhu lingkungan normal dengan siklus 12
jam siang dan 12 jam malam dan diberikan pakan standar
serta minum secara ad libitum. Masing-masing mencit
diambil sampel darah dari vena ekor dengan membuat
perlukaan, dan diukur kadar glukosa darahnya dengan
menggunakan glukometer untuk memastikan semua mencit
memiliki kadar glukosa darah normal sebelum diberi
perlakuan. Kadar glukosa darah puasa normal pada mencit
dalam rentang antara 126 mg/dl.20
PENGUMPULAN DATA

Tiap mencit yang telah ditimbang berat badannya dan dipastikan kadar glukosa darahnya
normal diberikan pakan standar dan diberikan air minum berupa larutan glukosa 20% sebanyak
50 ml untuk menginduksi kondisi hiperglikemia selama satu minggu. Untuk memberikan efek
destruksi sel β pankreas yang lebih efektif agar mencit mengalami Hiperglikemia yang lebih
cepat maka mencit di induksikan dengan Aloksan 33,6 mg/ml grBB mencit. Kadar glukosa darah
kembali diukur satu minggu paska penginduksian glukosa dan Aloksan untuk memastikan
mencit sudah dalam keadaan hiperglikemia. Sebelum diukur kadar glukosa darah, mencit
dipuasakan selama enam jam .Mencit dengan hiperglikemia dibagi menjadi dua kelompok
secara acak sederhana lalu dikandangkan per kelompok .Masing-masing kelompok terdiri dari 16
mencit. Kemudian dari tiap kelompok diberikan perlakuan sebagai berikut:

a. Kelompok I : Diberikan pakan dan minum standar serta plasebo (larutan garam fisiologis 0,9%
sebanyak 0,5 ml/mencit/hari) secara sonde lambung satu kali sehari selama 2 minggu.

b. Kelompok II : Diberikan pakan dan minum standar serta diberikan jus kacang merah (sebanyak
0,26 ml/mencit/hari) secara sonde lambung dengan pemberian dua kali sehari yaitu pada pagi
dan sore hari selama 2 minggu.

Pengukuran glukosa darah kembali dilakukan setelah perlakuan. Masing-masing mencit


dipuasakan selama enam jam sebelum dilakukan pengukuran kadar glukosa darah .Selama masa
tenggang mencit diberikan pakan dan minum standar.
PENGOLAHAN DATA

Pengolahan data dengan statistik, data yang diperoleh adalah berupa kadar
glukosa darah mencit yang diperiksa .Normalitas data diuji dengan uji Saphiro-
Wilks. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 24.00 for windows
.True confidences uji ini adalah 95%, sehingga jika p < 0,05 maka dapat
disimpulkan terdapat perbedaan bermakna.

ETIKA PENELITIAN

A. Menyertakan surat izin penelitian kepada pihak Fakultas Kedokteran


Universitas Muslim Indonesia.
B. Menyertakan surat izin dari fakultas kedokteran dan pembimbing kepada
laboratorium/tempat yang akan di gunakan untuk meneliti.
BAB IV
Gambaran Lokasi
Penelitian
LOKASI PENELITIAN

Menggunakan
Laboratorium
Farmakologi
LOKASI PENELITIAN

Laboratorium Farmakologi memiliki satu orang kepala laboratorium,


beberapa orang asisten serta satu orang laboran khusus.. Laboratorium
Farmakologi di lantai 4 berfungsi sebagai sarana pembelajaran materi
untuk mahasiswa Fakultas Farmasi UMI, juga sebagai tempat untuk
menyiapkan dan mengolah bahan penelitian, khususnya yang akan
diberikan pada hewan coba. Laboratorium Farmakologi di lantai 5,
merupakan tempat pemeliharaan hewan coba para peneliti. Hewan
dilantai tersebut diawasi oleh staf dan teknisi laboratorium ketika
peneliti tidak ada. Tugasnya membantu untuk memberi makan dan
minum ketika persediaan habis, mengganti sekam dan membantu
mengembalikan hewan coba keluar dari kandangnya. Pada laboratorium
lantai 5 tempat diberikannya perlakuan pada hewan coba, seperti proses
induksi oral, serta pengambilan dan pengukuran sampel darah hewan
coba.
BAB V
Hasil dan
Pembahasan
KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN

Tabel 5.1 Kadar Glukosa Darah Mencit Kelompok Kontrol Sebelum Pemberian Aloksan

No Sampel Kadar Glukosa Darah (mg/dL) Keterangan Nilai Normal (mg/dL)


1 45 mg/dl Hipoglikemia 50-126 mg/dL
2 120 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
3 83 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
4 89 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
5 55 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
6 52 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
7 83 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
8 117 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
9 102 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
10 130 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
11 88 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
12 89 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
13 118 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
14 88 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
15 55 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
16 50 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
Rerata 85,25 mg/dl
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017
KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN

Tabel 5.2 Kadar Glukosa Darah Mencit Kelompok Perlakuan Sebelum Pemberian Aloksan

No Sampel Kadar Glukosa Darah (mg/dL) Keterangan Nilai Normal (mg/dL)

1 106 mg/dl Normal 50-126 mg/dL


2 80 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
3 123 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
4 125 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
5 118 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
6 44 mg/dl Hipoglikemia 50-126 mg/dL
7 84 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
8 86 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
9 91 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
10 108 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
11 110 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
12 84 mg/ dl Normal 50-126 mg/dL
13 90 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
14 111 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
15 97 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
16 91 mg/dl Normal 50-126 mg/dL
Rerata 96,75 mg/dl
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017
KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN

Tabel 5.3 Kadar Glukosa Darah Mencit Kelompok Kontrol Setelah Pemberian Aloksan
No Sampel Kadar Glukosa Darah (mg/dL) Keterangan Nilai Normal (mg/dL)
1 198 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
2 133 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
3 162 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
4 152 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
5 184 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
6 400 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
7 128 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
8 127 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
9 142 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
10 254 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
11 171 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
12 128 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
13 131 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
14 238 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
15 174 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
16 177 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017
KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN

Tabel 5.4 Kadar Glukosa Darah Mencit Kelompok Perlakuan Setelah Pemberian Aloksan

No Sampel Kadar Glukosa Darah (mg/dL) Keterangan Nilai Normal (mg/dL)


1 180 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
2 191 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
3 135 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
4 130 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
5 177 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
6 201 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
7 131 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
8 369 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
9 193 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
10 186 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
11 171 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
12 211 mg/ dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
13 193 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
14 136 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
15 190 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
16 129 mg/dl Hiperglikemia 50-126 mg/dL
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017
DATA KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT

Tabel. 5.5 Kadar Glukosa Darah Mencit Kelompok Kontrol Setelah Pemberian Plasebo
Hari ke-24 setelah Pemberian Plasebo
No Sampel Hari ke-10 setelah Pemberian Aloksan
tanpa pemberian Jus Kacang Merah
1 198 mg/dl 89 mg/dl
2 133 mg/dl 156 mg/dl
3 162 mg/dl 120 mg/dl
4 152 mg/dl 172 mg/dl
5 184 mg/dl 133 mg/dl
6 400 mg/dl 117 mg/dl
7 128 mg/dl 131 mg/dl
8 127 mg/dl 192 mg/dl
9 142 mg/dl 183 mg/dl
10 254 mg/dl 222 mg/dl
11 171 mg/dl 128 mg/dl
12 128 mg/dl 132 mg/dl
13 131 mg/dl 123 mg/dl
14 238 mg/dl 184 mg/dl
15 174 mg/dl 145 mg/dl
16 177 mg/dl 105 mg/dl
Rerata 181,1 mg/dl 145,75 mg/dl
∆ Rerata ↓35.35 mg/dl
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017
DATA KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT

Data pada Tabel 5.5 menunjukkan bahwa rata-rata


kadar glukosa darah hewan coba pada kelompok
kontrol setelah pemberian aloksan didapatkan sebesar
181,1 mg/dL. Pada hari ke-24, dapat dilihat kadar
glukosa darah mencit pada kelompok kontrol yang
hanya diberikan Na CMC (tanpa pemberian jus kacang
merah) terjadi penurunan kadar glukosa darah sebesar
35,35 mg/dl dari pengukuran sebelum pemberian Na
CMC sehingga rerata kadar gula darah mencit pada
kelompok kontrol yaitu 145,75 mg/dl.
DATA KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT

Tabel. 5.6 Kadar Glukosa Darah Mencit Kelompok Perlakuan Setelah Pemberian Jus Kacang Merah

Hari ke-24 setelah Pemberian Jus Kacang


No Sampel Hari ke-10 setelah Pemberian Aloksan
Merah
1 180 mg/dl 183 mg/dl
2 191 mg/dl 121 mg/dl
3 135 mg/dl 103 mg/dl
4 130 mg/dl 124 mg/dl
5 177 mg/dl 143 mg/dl
6 201 mg/dl 42 mg/dl
7 131 mg/dl 113 mg/dl
8 369 mg/dl 125 mg/dl
9 193 mg/dl 74 mg/dl
10 186 mg/dl 123 mg/dl
11 171 mg/dl 59 mg/dl
12 211 mg/ dl 89 mg/ dl
13 193 mg/dl 111 mg/dl
14 136 mg/dl 117 mg/dl
15 190 mg/dl 114 mg/dl
16 129 mg/dl 31 mg/dl
Rerata 182,68 mg/dl 104,5 mg/dl
∆ Rerata ↓78,18 mg/dl
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017
DATA KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT

Data pada Tabel 5.6 menunjukkan bahwa rata-rata


kadar glukosa darah hewan coba pada kelompok
perlakuan setelah pemberian aloksan didapatkan
sebesar 182,68 mg/dL. Pada hari ke-24, dapat dilihat
kadar glukosa darah mencit pada kelompok perlakuan
yang diberikan pemberian jus kacang merah terjadi
penurunan kadar glukosa darah sebesar 78,18 mg/dl dari
pengukuran sebelum pemberian jus kacang merah
sehingga rerata kadar Gula darah mencit pada kelompok
perlakuan yaitu 104,5 mg/dl.
DATA KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT

Perbandingan Kadar Glukosa Darah (mg/dL)


200
181.1 182.68
180

160
145.75
140

120
104.5
100

80

60

40

20

0 Kontrol Perlakuan
Hari Ke-10 181.1 182.68
Hari Ke-24 145.75 104.5
UJI NORMALITAS DATA

Tabel 5.7 Uji Normalitas Data dengan metode Shapiro-Wilk

Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan


Data
Pada Hari- Pada Hari- Pada Hari- Pada Hari-
Perlakuan Pada Hari-1 Pada Hari-1
10 24 10 24
Nilai p 0,158 0,000 0,507 0,170 0,000 0,320
Keterangan Normal Tidak Normal Normal Tidak Normal
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017

Pada Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa ada beberapa nilai Sig. dari data
yang telah dimasukkan lebih dari nilai signifikan (p>0,05) dan ada yang
kurang dari nilai signifikan (p<0,05). Syarat untuk data dikatakan
berdistribusi normal adalah p>0,05. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa
data tersebut tidak berdistribusi normal
PERBANDINGAN ANTAR KELOMPOK

Tabel 5.8 Pengolahan Data dengan Uji Friedman

Glukosa Darah Mencit


Kelompok Hari 1 Hari 10 Hari 24 Nilai p
mean±SD mean±SD mean±SD
Kontrol 85.25±27.60 181.19±69.79 145.75±35.94 0.000*
Perlakuan 97.65±20.24 182.69±57.25 104.50±38.27 0.000*
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017

Berdasarkan data pada Tabel 5.8 hasil uji Friedman tingkat kepercayaan
95 % yang dilakukan di program SPSS 24 didapatkan selisih kadar glukosa
darah dari tiga kelompok berbeda secara signifikan. Perbedaan yang
signifikan ini bermakna adanya potensi Jus Kacang Merah (Phaseolus
vulgaris L.) dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit. Sehingga
dikatakan perbedaan dari kadar glukosa pada hari pertama, kesepuluh dan
ke dua puluh empat bermakna baik pada kelompok kontrol maupun
perlakuan.
PERBANDINGAN ANTAR KELOMPOK

Tabel 5.9 Pengolahan Data dengan Uji Wilcoxon

Kelompok Pre Post Nilai p


Hari 1 Hari 10 0.000*
Kontrol
Hari 10 Hari 24 0.070*
Hari 1 Hari 10 0.000*
Perlakuan
Hari 10 Hari 24 0.001*
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017

Berdasarkan data pada Tabel 5.9 hasil uji Wilcoxon yang dilakukan di
program SPSS 24 didapatkan selisih kadar glukosa darah mencit pada
kelompok perlakuan dengan nilai signifikansi 0,000 menunjukkan bahwa
pada kelompok perlakuan terjadi penurunan kadar glukosa darah yang
bermakna (p<0,05). Hal ini berarti kadar glukosa darah kelompok perlakuan
berbeda dengan kelompok kontrol. Perbedaan yang signifikan ini bermakna
adanya potensi jus kacang merah dalam menurunkan kadar glukosa darah
pada mencit.
PERBANDINGAN ANTAR KELOMPOK

Tabel 6. Pengolahan Data dengan Uji Mann Whitney


Perubahan
Kelompok Hari 1 – Hari 10 Hari 10 – Hari 24
mean±SD mean±SD
Plasebo 95.38±83.56 35.48±79.57
Kacang Merah 85.94±67.28 78.19±64.54
Nilai p 0.665* 0.029*
Sumber: Data Primer Agustus-Oktober 2017

Dari tabel diatas, hasil Uji Mann Whitney yang dilakukan pada
program SPSS 24 for Windows pada Tabel 6. menunjukkan nilai rata-
rata kadar glukosa darah darah mencit kelompok yang diberikan jus
kacang merah lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hal ini
menandakan kadar glukosa darah kelompok kontrol dan perlakuan
berbeda karena (p<0,05).
PEMBAHASAN

Data yang tersedia pada Tabel 5.5 menunjukkan bahwa tikus yang
diberikan Na CMC pada hari ke-24 terjadi penurunan kadar glukosa, dengan
rata-rata 35,35 mg/dl. Penurunan kadar glukosa darah ini diduga sebagai
akibat penghentian induksi aloksan sehingga tidak ada masukan yang
berubah. Hal ini menunjukkan bahwa hanya dengan penghentian induksi
aloksan tidak dapat menurunkan kadar glukosa darah secara efektif, selain itu
pemberian Na CMC pada mencit kelompok kontrol tampaknya hanya sedikit
memberikan efek penurunan glukosa darah dibandingkan mencit pada
kelompok perlakuan dengan pemberian jus kacang merah.
Data pada Tabel 5.6 memperlihatkan mencit pada kelompok perlakuan,
yakni diberikan jus kacang merah pada hari ke-24 tampaknya terjadi
penurunan kadar glukosa darah yang cukup bermakna dengan rata-rata 78,18
mg/dl. Penurunan ini terjadi karena salah satu senyawa aktif yang
terkandung dalam jus kacang merah. Kecenderungan penurunan daya
absorbsi glukosa kemungkinan karena kacang merah mengandung serat yang
tinggi sehingga menghambat absorbsi glukosa kedalam usus halus. Jus
kacang merah pada penelitian ini mempunyai viskositas tertinggi dan sifat
viskus dari serat tersebut dapat menghambat absorbsi glukosa ke dalam usus
halus.
PEMBAHASAN

Dalam keadaan normal, kadar gula dalam darah saat berpuasa berkisar
antara 80 mg%-120 mg%, sedangkan satu jam sesudah makan akan mencapai
170 mg%, dan dua jam sesudah makan akan turun hingga mencapai 140
mg%. Di dalam darah kita didapati zat gula. Gula ini gunanya untuk dibakar
agar mendapatkan kalori atau energi. Sebagian gula yang ada dalam darah
adalah hasil penyerapan dari usus dan sebagian lagi dari hasil pemecahan
simpanan energi dalam jaringan. Gula yang ada di usus bisa berasal dari gula
yang kita makan atau bisa juga hasil pemecahan zat tepung yang kita makan
dari nasi, ubi, jagung, kentang, roti, dan lain-lain.
Pada Tabel 6. dengan uji Mann Whitney, dapat dilihat bahwa
perbandingan kedua sampel setelah masing-masing perlakuan menunjukkan
penurunan kadar glukosa darah mencit kelompok jus kacang merah lebih
rendah daripada penurunan kadar glukosa darah pada kelompok kontrol
(p=0,029). Perbedaan ini semakin membenarkan potensi jus kacang merah
dalam menurunkan kadar glukosa darah
PEMBAHASAN

Dengan demikian, melihat hasil pada Tabel 5.9 menunjukkan penurunan


kadar glukosa darah kelompok perlakuan atau dengan jus kacang merah
lebih bermakna (p<0,05). Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan
bahwa ada pengaruh jus kacang merah dalam menurunkan kadar glukosa
darah, yang berarti hasil penelitian ini telah terbukti sesuai dengan hipotesis
(Ha). Namun, penulis menyadari dalam penelitian ini masih membutuhkan
banyak tinjauan pustaka, arahan para ahli dan keterampilan dalam
melakukan penelitian.

Hal ini sesuai dengan penelitian Dewi Nurul Cahyani dan Fitri Lestari
(2015) mengenai penggunaan Kombinasi Jus Kacang Panjang dan Jus Tomat
sebagai Antihiperglikemia dalam menurunkan kadar glukosa darah sehingga
merupakan usaha dalam mencegah komplikasi yang diakibatkan oleh
peningkatan kadar glukosa darah itu sendiri.
BATASAN PENELITIAN

1. Jus kacang merah dapat menurunkan kadar glukoa


darah pada mencit, namun belum dapat dipastikan
dapat dijadikan sebagai pengobatan pada keluhan
hiperglikemia ataupun Diabetes mellitus.
2. Durasi penelitian yang kurang lama
BAB VI
Kesimpulan dan
Saran
KESIMPULAN

1. Rerata kadar gula darah sebelum pemberian kacang merah


(Phaseolus vulgaris L.) pada mencit DM (Kelompok perlakuan)
didapatkan 182,68 mg/dl dalam hal ini kadar glukosa meningkat
melebihi dari nilai normal (hiperglikemia).
2. Rerata kadar gula darah setelah pemberian kacang merah
(Phaseolus vulgaris L.) pada mencit DM (Kelompok perlakuan)
didapatkan 104,5 mg/dl dalam hal ini kadar glukosa dalam batas
normal.
3. Rerata perbandingan kadar gula darah sebelum dan setelah
pemberian kacang merah merah (Phaseolus vulgaris L.) pada
mencit DM (Kelompok perlakuan) didapatkan 78.18 mg/dl.
4. Rerata kadar gula darah sebelum pemberian plasebo pada mencit
DM (Kelompok kontrol) didapatkan 181,1 mg/dl dalam hal ini kadar
glukosa meningkat melebihi dari nilai normal (hiperglikemia)
KESIMPULAN

5. Rerata kadar gula darah setelah pemberian kacang merah


(Phaseolus vulgaris L.) pada mencit DM (Kelompok perlakuan)
didapatkan 145,75 mg/dl dalam hal ini kadar glukosa meningkat
melebihi dari nilai normal (hiperglikemia)
6. Rerata perbandingan kadar gula darah sebelum dan setelah
pemberian plasebo pada mencit DM (Kelompok kontrol)
didapatkan 35,35 mg/dl.
7. Perubahan kadar glukosa darah pada mencit kelompok kontrol dan
perlakuan didapatkan bahwa kelompok perlakuan memiliki
perubahan yang signifikan dengan nilai dengan batas normal
sedangkan pada kelompok kontrol melebihi nilai batas normal.
8. Ada pengaruh pemberian kacang merah (Phaseolus vulgaris L.)
dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit (Mus musculus).
SARAN

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui senyawa


aktif yang lebih spesifik yang berperan sebagai inhibitor absorbsi
glukosa dan mekanisme inhibisinya.
2. Perlu dilakukan uji toksisitas kacang merah dan mengetahui batas
aman ketika dikonsumsi sebagai obat.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang histopatologi hewan
coba, untuk mengetahui pengaruh glukosa terhadap fungsi organ
tertentu.
4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji coba langsung
(Clinical trial ) kepada manusia.
DAFTAR PUSTAKA
1.Schteingart,E. David. 2015. Pankreas : Metabolisme glukosa dan Diabetes Mellitus. Patofisiologi Konsep Klinis Proses –
Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC. Hal. 1259
2.Robert Berkow , Andrew J. Fletcher. 2000. The Merck Manual Jilid 2. Edisi 16. Jakarta :Binarupa Aksara.
3.Soegondo, Sidartawan, Dyah Purnamasari. Sindrom Metabolik. Dalam: Sudoyo, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
V. Jakarta; Interna Publishing; 2010.
4.Subroto, A. Ramuan Herbal untuk Diabetes Melitus. Jakarta; Penebar Swadaya; 2010
5.Kertia, Nyoman, Heribertus Gunadi, Deshinta Putri Mulya. 2013. Penggunaan Obat Herbal Dalam Praktek Klinis.
Yogyakarta: Tim Kedokteran Herbal Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
6.Saifudin, Azis, Viesa Rahayu, Hilwan Yuda Teruna. Standarisasi Bahan Obat Alam. Yogyakarta; Graha Ilmu; 2011.
7.Astawan, Made. Sehat dengan Hidangan Kacang dan Biji-bijian. Jakarta: Penebar Swadaya; 2009.
8.Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta; Buku Kedokteran EGC; 2012.
9.http://www.depkes.go.id/article/view/414/tahun-2030-prevalensi-diabetes-melitus-di-indonesia-mencapai-213-juta-
orang.html
10.ADA. 2013. All About Diabetes .http://diabetes.diabetesjournals.org/
11.Karyadi ,Elvina .2002 Kiat Mengatasi Penyakit Diabetes, Hipercolesterolemia, Stroke. Jakarta : PT Inti Sari Mediatama.
12.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3.Jakarta :Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI
13.Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah 2 Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung :Yayasan IAIP
14.Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Ed 8. Vol 2.Jakarta : EGC
15.Brunner & Suddarth. 2002. Buku ajar keperawatan medical bedah, Edisi 8. Jakarta: EGC
16.Tuso Wiyono, Teknik Budidaya Tanaman Kacang Merah, Laporan Praktek Lapangan, Universitas Tadulako, Palu, 2012.
17.Yuwono, Setyo Sudarminto. 2015. Phaseolus Vulgaris L. Universitas Brawijaya, Malang.
18.http://www.edubio.info/2014/11/asam-fitat.html
19.Aprilia, Fitri Intan. 2015. Pengaruh pemberian kacang panjang (Vigna Unguiculata) terhadap kadar glukosa darah mencit
(Mus Musculus) yang diinduksi Aloksan. Universitas Syiah Kuala,Banda Aceh.
20.Rachael G. Normal Rat Blood Glucose Level.c2010 [cited 2010 May 5]. Available from: http://www.ehow.com.
21.Dahlan, Sopiyudin. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika; 2009.
22.Dahlan, Sopiyudin. Langkah-langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokterandan Kesehatan. Jakarta:
SagungSeto; 2008.
23.Rimbawan. Indeks glikemik pangan ‘cara mudah memilih pangan yang menyehatkan’. Jakarta: Penebar Swadaya; 2004.
24.Smith JL, Gropper SS. Dietary fiber : advance nutrition and human metabolism. Los Angeles: Wadsworth; 1995.
25.Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen. Sehat dengan pangan indeks glikemik rendah. Bogor: Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian; 2007.
26.Murray RK, Granner D K, dan Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta: EGC; 2009.
27.Iqbal, Achmad dkk.,2015. Manfaat tanamana kacang merah dalam menurunkan kadar glukosa darah. Fakultas
kedokteran universitas negeri lampung.vol 4. No. 9 hal. 151
28.James J, Colin B, dan Helen S. Prinsip-prinsip sains untuk keperawatan. Jakarta: Erlangga; 2008.
29.Djojodibroto R, Darmanto. Respirology medicine. Jakarta: EGC; 2007.
30.Cummings JH. Metabolism of dietary fiber in the large intestine. Dalam: Cummings JH, editor. The role of dietary fiber
in enternal nutrition. Illinois: Abbot International Ltd; 1989.
31.Rimbawan, Siagian A. 2004. Indeks Glikemik Pangan. Jakarta: Penebar Swadaya.
32.Noor Z, Marsono Y, Astuti M. 2002. Hypoglycemic Properties, Mechanical mode of action Soybean constituents. Proc.
Int. Confernce on Innovations in Food Processing Technology and Engineering. Bangkok, Thailand, Dec,11-13,2002.
33.Greiner R, Koenietzny U, Jany KID. 1993. Purification and characterization of two phytates from E. coli Biochem Bioph
303 (1) : 107-113.
34.Thompson LU, Yoon JH, Jenkins DJA, Wolever TMS, Jenkins A.L. 1984. Relationship between Pholypheno intake and
blood glucose response of normal and diabetic Individuals.
35.Deshpande SS. Salunke DK. 1982. Interactions of tannin acid and catechin with legume starches. J.Food Sci. 47:2080-
2081.
36.Almasyhuri dkk. 1990. Kandungan Asam fitat dan tannin dalam kacang-kacangan yang dibuat tempe. Puslitbang Gizi
IPB. Hal. 67
36.Rahayu, Rani. 2015. Pengaruh Ekstrak Bunga Rosela (Hibiscus Sabdariffa) Terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit
Diabetes. Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang. Hal. 6
Terima Kasih