Anda di halaman 1dari 33

Fakultas Kesehatan Masyarakat

UIN Sumatera Utara Medan

KEPEMIMPINAN DAN
BERFIKIR SISTEM
KESEHATAN MASYARAKAT

By. MARLINA ELFA LUBIS, M.Kes

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


PERTEMUAN

07

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


4. Operational Axiom

Menjelaskan tentang pencapaian kinerja


operasional suatu sistem.

Menurut aksioma ini, ketika menilai/melihat


kinerja operasional suatu sistem, maka harus
dilihat secara natural.

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


Terdiri dari 7 prinsip yaitu :
1) Dynamic equilibrium
2) Relaxation time
3) Basins of stability
4) Self-organization
5) Homeostatis dan Homeorhesis
6) Suboptimization
7) Redundancy.

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


1. Prinsip Dynamic
Equilibrium

Prinsip ini menyatakan bahwa jika sistem


berinteraksi dengan lingkungan dari luar maka
akan terjadi reaksi dari sistem tersebut
kemudian secara berangsur akan mengalami
keseimbangan (kembali ke titik awal).

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


Misalnya sebuah sistem pelayanan radiologi
di RS yang mengalami gangguan pada alat
pembaca hasil exposure secara digital akan
mengalami ketidakstabilan (dalam bentuk
pelayanan menjadi lama).
Lamanya pelayanan akan terjadi selama alat
tersebut diperbaiki atau menggunakan backup
alat lain.
Setelah alat diperbaiki, maka sistem pelayanan
kembali ke titik semula (waktu pelayanan
menjadi normal).
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Sistem 1 Sistem 2
(Awal) (tidak
stabil)

Sistem kembali ke keseimbangan semula

Gambar: Sistem Akan Kembali Ke Titik Awal


Ketika Bereaksi
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
2. Prinsip Relaxation Time

Prinsip ini menyatakan bahwa sistem akan


memiliki waktu memperbaiki diri (relaxation
time) jika waktu yang dibutuhkan untuk
kembali menjadi stabil lebih pendek
dibandingkan rata-rata waktu datangnya
gangguan terhadap sistem.

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


T2

Sistem 1 Sistem 2
(Awal) (tidak
stabil)

T1

Sistem kembali ke keseimbangan semula

Gambar : Sistem Akan Kembali Ke Titik Awal


Ketika Bereaksi
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Prinsip relaxation time digunakan dalam
menganalisis sistem antrian di pelayanan.
Misalnya: pada pendafataran pasien BPJS
Kesehatan di RSUD, jika rata-rata waktu
melayani pendaftaran pasien BPJS adalah 15
menit (T1) dan rata-rata jeda waktu
kedatangan antar pasien BPJS Kesehatan ke
bagian pendaftaran adalah 10 menit (T2)
maka sistem akan mengalami ketidakstabilan
(berbentuk antrian pasien yang panjang)
karena T1 < T2.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Namun jika rata-rata waktu kedatangan
pasien adalah 30 menit, maka sistem
pendaftaran tidak akan mengalami antrian
karena T1 > T2.

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


3. Prinsip Basins of
Stability

Prinsip ini menyatakan bahwa setiap sistem


memiliki sarana/wadah untuk menampung
kondisi stabilitas, yakni sistem akan
melakukan evaluasi untuk mengantisipasi
timbulnya gangguan.
Salah satu cara untuk menghindari
ketidakstabilan misalnya dengan menjaga agar
proses terjadi secara berurutan.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Misalnya pada antrian pasien pendaftaran terjadi komplain
terhadap lamanya waktu tunggu pelayanan.

Saat sistem pendaftaran sedang stabil (tidak ada pasien yang


mengantri) manajer pelayanan akan mengevaluasi
permasalahan waktu tunggu yang lama.

Ternyata diperoleh akar masalahnya adalah antrian yang


tidak sesuai nomor urut sehingga pasien yang seharusnya
dilayani sesuai nomor uurutnya diambil alih antrian
pelayanannya oleh pasien lain.

Berdasarkan hal tersebut manajer pelayanan memutuskan


untuk menjaga agar antrian pelayanan sesuai dengan urutan
yang datang pertama atau First Serve First Order (FSFO).

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


4. Prinsip Self-organization
Prinsip ini menyatakan bahwa setiap sistem
mampu mengorganisasikan dirinya (yaitu
menentukan struktur dan performanya
sendiri).
Atas dasar hal tersebut, seringkali terjadi
praktisi sistem (orang yang mendesain sistem
atau orang yang bekerja dengan sistem)
mengalami kesulitan untuk memodifikasi
sistem karena ada “kekuatan” self-
organization.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Misalnya pemerintah dan BPJS Kesehatan ingin agar
sistem pembayaran iuran Jaminan Kesehatan
Nasional oleh peserta mandiri berjalan dengan
lancar, sehingga berbagai intervensi dan metode
digunakan agar mereka mau membayar tepat waktu.
Namun upaya ini ternyata sulit, karena sistem sosial
yang ada pada masyarakat telah terbentuk dengan
kuat, misalnya kebiasaan masyarakat yang tidak
peduli dengan risiko sakit yang dihadapinya atau
keyakinan bahwa sakit ada di tangan Yang Maha
Kuasa sehingga pasrah saja dan tidak perlu
membayar iuran BPJS Kesehatan.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
5. Prinsip Homeostatis
dan Homeorhesis

Prinsip ini menyatakan bahwa sistem akan


membentuk sistem pertahanan di dalam yang
tidak terlihat secara kasat mata oleh manusia.
Sistem pertahanan tersebut ada dua bentuk
yaitu hoemostatis (yang sifatnya tidak
dipengaruhi oleh lingkungan sekitar) dan
homeorhesis (yang sifatnya dipengaruhi oleh
lingkungan sekitar).
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Prinsip homeostatis terjadi di dalam sistem dan
tidak berhubungan dengan lingkungan sehingga
prinsip ini menjelaskan kepada kita kenapa suatu
sistem terlihat stabil atau tidak mengalami
perubahan, padahal di dalamnya sedang terjadi
perubahan.

Misalnya: pada manusia yang terlihat sehat-sehat


saja, padahal sistem dalam tubuhnya sedang
menyesuaikan diri dengan gaya hidupnya yang tidak
sehat, seperti sistem tubuh manusia sedang “mati-
matian” menahan serangan asap rokok yang
mengandung zat nikotin dan racun lainnya.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Prinsip homeorhesis berbeda dengan homeostatis
karena pengaruh faktor-faktor di luar lingkungan
sehingga perubahan yang terjadi pada sistem bersifat
dinamis.
Prinsip homeorhesis pada manusia akan tampak
nyata pada sistem perilaku seseorang sesuai dengan
teori Stimulus Respon (S-R).
Perilaku seseorang merupakan stimulus terhadap
respon yang timbul di sekitarnya, sehingga misalnya
Anda akan ikut melakukan pemeriksaan dini kanker
serviks jika teman atau orangtua Anda juga
memeriksakan dirinya.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
6. Prinsip Suboptimization

Prinsip ini menerangkan bahwa sistem tidak akan


mencapai hasil yang optimal meskipun susbsistem
yang ada di bawahnya telah mencapai titik optimal.

Misalnya pada sistem pelayanan rawat inap di


rumah sakit masih sering terjadi keluhan pasien,
meskipun kepala pelayanan sudah meyakini bahwa
SDM telah terlatih, sarana sudah memadai, anggaran
cukup, standar prosedur telah lengkap, dan proses
berjalan lancar.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
7. Prinsip Redundancy
Setiap sistem membutuhkan sumberdaya untuk
mencapai tujuannya.
Prinsip ini menerangkan bahwa sistem yang memiliki
duplikasi (redundancy) sumberdaya atau “energi
cadangan” agar bisa berjalan dengan baik.
Misalnya sebuah program kesehatan yang baik harus
dibuat dengan beberapa opsi misalnya Plan A, Plan B,
bahkan Plan C.
Diharapkan dengan adanya redundancy, program
tetap berjalan ketika rencana yang sudah disiapkan
gagal.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
5. Viability Axiom
Untuk menjamin agar suatu sistem berjalan
dengan baik, maka paramater-parameter
kunci pada sistem tesebut harus dikendalikan.
Aksioma ini terdiri dari 5 prinsip yaitu:
1) Requisite variety
2) Requisite hierarchy
3) Feedback
4) Circular causality
5) Recursion.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
1. Prinsip requisite variety

Setiap sistem memiliki elemen-elemen yang


disebut dengan Input-Proses-Output.
Output dari sistem dapat bervariasi
tergantung bagaimana interaksi antara Input
dan Proses.
Pada sistem terbuka (manusia), variasi dari
ouput sistem tidak terbatas.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Perilaku manusia tidak dapat ditentukan
hanya 1, 2, atau 3 saja tetapi tidak terbatas
sehingga lebih sulit bagi praktisi sistem untuk
memahami perilaku orang dibanding
mesin/alat.
Keinginan manusia juga tidak bisa dibatasi
dengan variasi yang terbatas.
Variabilitas yang terhingga ini bisa
menimbulkan dampak negatif jika tidak
menyesuaikan dengan kemampuan sistem.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Ada 2 cara untuk menghindari efek
negatif ini yaitu dengan:
a. Menentukan batas-batas sistem. Untuk mengatasi
keinginan manusia yang tidak terbatas, maka
diterapkan alokasi/budget dana seperti plafon kartu
kredit.
b. Membuat kebijakan atau peraturan. Untuk
mengatasi dampak negatif akibat perilaku manusia
yang tidak terbatas jumlahnya maka dibuat aturan
atau kebijakan, misalnya untuk membatasi perilaku
tidak aman (unsafe act) saat bekerja di ketinggian
maka dibuat tata tertib atau standar prosedurnya.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Pada sistem tertutup atau sistem yang dibuat
oleh manusia, output sistem dapat ditentukan
atau dibatasi sesuai dengan keinginan.

Misalnya untuk menghindari ketidak


nyamanan pada ruang pendaftaran, maka
sistem pelayanan pendaftaran bisa dirancang
dengan membatasi pasien hingga 100 orang
per hari.

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


2. Prinsip requisite hierarchy

Kadang suatu sistem berjalan tanpa ada


kebijakan yang mengatur atau membatasi out
put sistem.

Untuk mengatasi hal ini, prinsip requisite


hierarchy menyatakan bahwa pengaturan
output sistem akan dijalankan secara alamiah
berdasarkan prinsip hirarki pada sistem.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Perilaku subsistem yang berada level rendah
akan mengikuti perilaku yang diterapkan oleh
sistem di atasnya.
Implikasi dari prinsip ini adalah keteladanan
pemimpin akan menentukan perilaku orang-
orang di bawahnya.
Misalnya perilaku unsafe act akan dijalankan
oleh pekerja jika manajemen perusahaan
memiliki komitmen yang tinggi terhadap K3.

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


3. Prinsip feedback
Untuk mencapai kinerja sistem yang optimal maka
dibutuhkan umpan balik (feedback) bagi sistem
tersebut.
Feedback (baik pada sistem terbuka dan tertutup)
digunakan sebagai kontrol terhadap perilaku sistem
sehingga dapat menangkal gangguan yang tidak
diharapkan.
Prinsip feedback digunakan sebagai dasar dalam
sibernetika. Monitoring dan Evaluasi (Monev) pada
suatu program kesehatan merupakan contoh prinsip
feedback.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
PROCES OUT
INPUT
S PUT

FEEDBACK

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


4. Prinsip circular
causality

Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap sistem


akan memberikan dampak kepada sistem
lainnya.
Sistem A akan berdampak pada sistem B.
Sistem B akan berdampak pada sistem C.
Sistem C akan berdampak pada sistem A dan
seterusnya.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Permasalahan yang terjadi pada Jaminan
Kesehatan merupakan contoh circular
causality.
Rendahnya kualitas pelayanan menyebabkan
peserta JKN mandiri (yang membayar iuran
secara mandiri atau tidak ditanggung
pemerintah) merasa dirugikan sehingga tidak
ada kemauan untuk membayar

Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan


5. Prinsip
recursion
Prinsip ini menerangkan bahwa karakteristik
sistem atau regulasi sistem pada level teratas
dipengaruhi oleh karakteristik dan regulasi
sistem level di bawahnya.
Prinsip ini merupakan pendekatan bottom-up
pada sistem.
Karakteristik pelayanan sebuah Rumah Sakit
ditentukan oleh karakteristik pelayanan dari
unit-unit pelayanan yang ada.
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat – FKM UIN SU Medan