Anda di halaman 1dari 14

Kelompok 5

Ni Kadek Ani Jumariati


(1707532004)
Distribusi
Pendapatan dan
Ni Luh Rosa Aprilianti
(1707532015) Kemiskinan

Ni Komang Megi Megayani


(1707532032)
Indeks dan Perkembangan Distribusi Pendapatan

Para ekonom pada umumnya membedakan dua ukuran pokok distribusi


pendapatan, yang keduanya digunakan untuk tujuan analisis da
kuantitatif tentang keadilan ditribusi pendapatan. Kedua ukuran tersebut
adalah distribusi ukuran, yakni besar atau kecilnya bagian pendapatan
yang diterima masing-masing orang dan distribusi “fungsional” atau
distribusi kepemilikan faktor-faktor produksi.

Distribusi Pendapatan Ukuran

Distribusi pendapatan perorangan (personal distribution of income)


atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income)
merupakan ukuran yang paling sering digunakan oleh para ekonom.
Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah pendapatan yang
diterima oleh setiap individu atau rumah tangga.
 Tiga alat ukur tingkat ketimpangan pendapatan dengan bantuan distribusi ukuran

1.Rasio Kutnezs
2. Kurva Lorenz

Rasio yang sering disebut Metode lainnya yang lazim


dipakai untuk menganalisis
sebagai rasio Kutnezs inilah statistic pendapatan
(dinamai berdasarkan nama perorangan adalah dengan
pemenang Nobel Simon menggunakan kurva Lorenz
Kutnezs), yang sering dipakai (Lorenz Curve). Kurva
sebagai ukuran tingkat Lorenz menunjukkan
ketimpangan antara dua hubungan kuantitatif aktual
kelompok ekstrim, yaitu antara persentase penerima
kelompok yang sangat miskin pendapatan dengan
dan kelompok yang sangat persentase pendapatan total
kaya di satu Negara. yang benar-benar mereka
terima selama, misalnya,
satu tahun.
3. Koefisien Gini dan Ukuran
Ketimpangan Agregat

Perangkat yang terakhir dan


sangat mudah digunakan untuk
mengukur derajat ketimpangan
pendapatan relative di satu
Negara, adalah dengan
menghitung rasio bidang yang
terletak di antara garis diagonal
dan kurva Lorenz dibagi dengan
luas separuh segi empat di mana
kurva Lorenz tersebut berada.
Koefisien Gini adalah ukuran
ketimpangan agregat yang
angkanya berkisar antara nol
(pemerataan sempurna) hingga
satu (ketimpangan sempurna).
Distribusi Fungsional

Ukuran distribusi pendapatan kedua


yang lazim digunakan adalah distribusi
pendapatan fungsional atau pangsa
distribusi pendapatan per faktor
ekonomi. Ukuran ini berfokus pada
bagian dari pendapatan nasional total
yang diterima oleh masing-masing
factor produksi (tanah, tenaga kerja,
dan modal). Teori distribusi
pendapatan fungsional ini pada
dasarnya mempersoalkan persentase
pendapatan tenaga kerja secara
keselruhan dan membandingkan
dengan persentase pendapatan total
yang dibagikan dalam bentuk sewa,
bunga, dan laba (masing-masing
merupakan perolehan dari tanah, modal
uang, dan modal fisik).
Perkembangan indeks ketimpangan

Tabel 5.2: Koefisien Gini pengeluaran di Tabel 5.3: Persentase Pendapatan yang diterima Oleh Berbagai Kelompok
Indonesia, 1964/65-1976 Penduduk di Indonesia, Rasio Kutnezs dan Gini Rasio,2002-2007.

Pengeluaran Konsumsi Per Kapita Kelompok penduduk 2002 2003 2004 2005 2006 2007
Keterangan Data Susenas
1964-65a 1967b 1970 1976 40% Terendah 20,92 20,57 20,80 18,81 19,75 19,10
Perkotaan 40% Menengah 38,89 37,10 37,13 38,10 38,10 36,11
Jawa 0,313 0,323 0,386 0,386
Luar Jawa 0,403 t.a. 0,332 0,329 20% terkaya 42,19 42,33 42,07 42,15 42,15 44,79
Indonesia 0,356 t.a. 0,341 0,377 Rasio Kutnezs 0,50 0,49 0,49 0,42 0,47 0,43

Pedesaan Gini Rasio 0,33 0,32 0,32 0,36 0,33 0,37


Jawa 0,336 0,294 0,312 0,302
Luar jawa 0,349 t.a. 0,313 0,313
Indonesia 0,358 t.a. 0,318 0,354
Kebijakan Distribusi Pendapatan
1. Perbaikan Distribusi Pendapatan Fungsional
Hal ini dilakukan melalui serangkaian kebijakan yang khusus dirancang untuk
mengubah harga-harga relatif faktor produksi. Kebijaksanaan ini dapat berupa upah
buruh
2. dan bunga
Perbaikan modal
Distribusi Ukuran Melalui Redistribusi Progresif Kepemilikan Aset
Hal ini akan sangat tergantung pada distribusi kepemilikan aset di antara berbagai
kelompok masyarakat, terutama modal fisik dan tanah, modal finansial seperti saham dan
obligasi, serta sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan kesehatan yang lebih
baik.
3. Pengurangan Distribusi Ukuran Golongan Atas Melalui Pajak Mubazir yang Progresif
Satu contoh yang diterapkan di Indonesia adalah pajak penghasilan perorangan dan
badan yang mempunyai sifat progresif. Sayangnya, banyak kebijaksanaan progresif
berubah menjadi pajak yang regresif dalam pelaksanaannya. Kelompok masyarakat
rendah dan menengah menanggung beban pajak yang lebih besar dibandingkan
kelompok berpenghasilan
4. Pembayaran tinggi.
Transfer Secara Langsung dan Penyediaan Berbagai Barang dan Jasa Publik
Transfer langsung dilaksanakan melalui BLT (bantuan langsung tunai) kepada orang
miskin yang berhak menerima. Penyediaan barang dan jasa publik dilaksanakan melalui
beras murah untuk orang miskin (raskin), penyediaan asuransi kesehatan bagi golongan
miskin (jamkesmas).
Kemiskinan dalam Aspek Data
dan Kebijakan

Yang dimaksud dengan kemiskinan di sini adalah


penduduk miskin, yakni penduduk yang tidak
mampu mendapatkan sumber daya yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka hidup di
bawah tingkat pendapatan riil minimun tertentu –
atau dibawah “garis kemiskinan internasional”.

“Kekurangan pendapatan total” atau jurag kemiskinan


Mengukur Kemiskinan Absolut total (total poverty gap = TPG) dari kaum miskin
didefinisikan sebagai:
Kemiskinan absolut dapat diukur dengan angka, atau 𝐻
“hitungan per kepala (headcount)”,H, untuk mengetahui TPG = ෍ 𝑌𝑝 − 𝑌𝑖
seberapa banyak orang yang penghasilannya berada 𝑖=1
dibawah garis kemiskinan absolut, Yp. Ketika hitungan Jika dihitung atas dasar per kapita, kekurangan
pendapatan rata-rata, atau jurang kemiskinan rata-
per kepala tersebut dianggap sebagai bagian dari
ratanya, (average poverty gap) adalah:
populasi total, N, kita memperoleh indeks per kepala 𝐴𝑃𝐺 = 𝑇𝑃𝐺/𝐻
(headcount index), H/N.
Mengukur Kemiskinan Absolut

Ukuran kekurangan pendapatan dalam hubungannya


dengan garis kemiskinan, dapat menggunakan jurang
kemiskinan yang dinormalisasikan (normalized
poverty gap =NPG) = APG/Yp sebagai ukuran
kekurangan pendapatan Indeks kemiskinan yang terkenal adalah indeks Sen dan
bentuk tertentu dari Indeks Poster-Grer-Thornbeck
(FGT) yang sering disebut sebagai kelas Pαdari ukuran
kemiskinan.Pα dapat ditulis sbb:

σ𝐻
𝑖=1(𝑌𝑝− 𝑌𝑖 )

𝑃∝ = 1Τ𝑁
𝑌𝑝
Cakupan Kemiskinan Absolut

Tabel A. profil kemiskinan di Indonesia Maret 2019

Dari Tabel A dinyatakan bahwa persentase penduduk


miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41%, menurun 0,25%
poin terhadap September 2018 dan menurun 0,41% poin
terhadap Maret 2018. Jumlah penduduk miskin pada
Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang, menurun 0,53 juta
orang terhadap September 2018 dan menurun 0,80 juta
orang pada Maret 2018. Perentase penduduk miskin di
daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 6,89%,
turun menjadi 6,69% pada Maret 2019.
Cakupan Kemiskinan Absolut

Tabel C. komoditi yang memberi pengaruh besar


Tabel B. komposisi garis kemiskinan Maret 2019 terhadap garis kemiskinan Maret 2018-Maret 2019
Karakteristik Ekonomi Kelompok Masyarakat Miskin

Sebagian besar kelompok penduduk miskin bertempat tinggal di daerah-daerah


pedesaan, sebagian besar dari pengeluaran pemerintah justru lebih tercurah ke
daerah-daerah perkotaan dan berbagai sektor ekonominya. Pada umumnya buruh-
buruh pertanian tidak memiliki tanah sendiri. Mereka disebut sebagai petani gurem,
yang merupakan golongan termiskin dari kelompok tani. Ada 3 faktor penyebab utama
sektor pertanian merupakan pusat kemiskinan di Indonesia yaitu:

1. Tingkat produktivitas yang rendah disebabkan karena jumlah pekerja di sektor tersebut
terlalu banyak

2. Daya saing petani antar komoditas pertanian terhadap komoditas industri semakin lemah.

3. Tingkat diversifikasi usaha di sektor pertanian ke jenis-jenis komoditas bukan bahan makanan
yang memiliki prospek pasar dan harga yang lebih baik masih sangat terbatas.
Pertumbuhan dan Kemiskinan

Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan


Pertama, kemiskinan yang meluas menciptakan kondisi yang membuat kaum
miskin tidak mempunyai akses terhadap pinjaman kredit dan tidak mampu
membiayai pendidikan anaknya
a. Tingkat pertumbuhan output
b. Tingkat upah neto
c. Distribusi pendapatan Kedua, akal sehat yang didukung dengan banyaknya data empiris terbaru
d. Kesempatan kerja
e. Tingkat inflasi
f. Pajak dan subsidi Ketiga, pendapatan yang rendah dan standar hidup yang buruk yang dialami
g. Investasi oleh golongan miskin
h. Alokasi kualitas sumber daya
alam
i. Kondisi fisik dan alam suatu Keempat, peningkatan tingkat pendapatan golongan miskin akan mendorong
wilayah kenaikan permintaan produk kebutuhan rumah tangga buatan lokal
j. Etos kerja dan motivasi kerja
k. Ketersediaan fasilitas umum
l. Bencana alam dan Kelima , penurunan kemiskinan secara massal dapat menstimulasi ekspansi
peperangan ekonomi yang lebih sehat karena merupakan insentif materi dan psikologis
yang kuat bagi meluasnya partisipasi publik dalam proses pembangunan.
SEKIAN
...
&
TERIMA KASIH