Anda di halaman 1dari 27

ADENOMIOSIS

Yusi Rizky N
1610211051
Definisi
 Adenomiosis disebut jg dg endometriosis interna,
merupakan kelainan jinak uterus yang ditandai oleh
adanya komponen epitel dan stroma jaringan
endometrium fungsional di miometrium.
 Bird et al. mengemukakan definisi adenomiosis
sebagai invasi jinak jaringan endometrium ke dalam
lapisan miometrium yang menyebabkan
pembesaran uterus difus dengan gambaran
mikroskopis kelenjar dan stroma endometrium
ektopik non neoplastik dikelilingi oleh jaringan
miometrium hipertrofik dan hiperplastik.

 J Obstet Gynecol Ind Vol. 56, No. 5


Epidemiologi
 Prevalensi adenomiosis sangat bervariasi, dari 5 hingga 70%
 70% wanita dengan diagnosis adenomiosis adalah
premenopause

 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC385915
2/
Klasifikasi
 Siegler & Camilien mengelompokkan adenomiosis
berdasarkan kedalaman penetrasi ke dalam miometrium,
yaitu:
· Derajat 1, mengenai 1/3 miometrium (Adenomiosis
superfisial)
· Derajat 2, mengenai 2/3 miometrium
· Derajat 3, mengenai seluruh miometrium (Deep adenomyosis)
 Selanjutnya adenomiosis juga dibagi berdasarkan jumlah
pulau-pulau endometrium pada pemeriksaan histologi
menjadi ringan (1-3), sedang (4-9) & berat (>10).
Risk Factors
 Usia
70 hingga 80% wanita pada dekade keempat dan kelima
 Multipara
Kehamilan dapat memfasilitasi pembentukan adenomiosis  karena
sifat invasif trofoblas pada ekstensi miometrium, jaringan
adenomiosis mungkin memiliki rasio reseptor estrogen yang lebih
tinggi dan lingkungan hormonal kehamilan dapat mendukung
perkembangannya.
 Merokok
 Prior Uterine Surgery
- Curettage
Levgur et al. dan Parazzini et al. melaporkan bahwa pasien yang
telah menjalani terminasi kehamilan melalui kuretase menunjukkan
tingkat adenomiosis yang lebih tinggi daripada wanita yg tidak
mengalami terminasi kehamilan
 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3859152/
 Ectopic pregnancy
 Depression and antidepressant use
 riwayat hiperplasia endometrium, riwayat abortus
spontan, dan polimenore.
Symptoms
 Symptoms of adenomyosis typically include menorrhagia, pelvic
pain and dysmenorrhea

 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3859152/
 Menorrhagia mungkin akibat dari peningkatan dan
vaskularisasi abnormal dari lapisan endometrium.
 Dismenore diduga disebabkan oleh peningkatan produksi
prostaglandin ditemukan dalam jaringan adenomyotic
dibandingkan dengan miometrium normal (Koike, 1992).
 10 persen mengeluhkan dispareunia.

 (Levgur, 2000; Nishida, 2001; Sammour, 2002)


 Perdarahan banyak berhubungan dengan kedalaman penetrasi
dari kelenjar adenomiosis ke dalam miometrium dan densitas
pada gambaran histologis dari kelenjar adenomiosis di dalam
miometirum. ( McCausland )
Diagnosis
 Diagnosis biasanya didasarkan pada temuan histologis spesimen
bedah  Pemeriksaan gold standart untuk mendiagnosis
Adenomyosis: Pemeriksaan Histologi  Dapat menentukan
keparahan penyakit dan memperlihatkan organ-organ yang
terlibat.
 Adanya riwayat menorragia & dismenorea pada wanita multipara
dengan pembesaran uterus yang difus seperti hamil dengan usia
kehamilan 12 minggu dapat dicurigai sebagai adenomiosis
 Dilanjutkan dengan pemeriksaan pencitraan berupa USG
transvaginal, transabdominal, dan MRI
 kriteria MRI yang paling spesifik untuk adenomiosis yaitu adanya
daerah miometrium dengan intensitas yang tinggi dan penebalan
junctional zone >12 mm.4
 Kriteria diagnostik dengan USG transabdominal yaitu :
uterus yang membesar berbentuk globuler, uterus normal
tanpa adanya fibroid, daerah kistik di miometrium dan
echogenik yang menurun di miometrium. Bazot dkk 2011
 Kriteria diagnostik dengan USG transvaginal untuk
adenomiosis yaitu : tekstur miometrium yang
heterogen/distorsi, echotekstur miometrium yang abnormal
dengan batas yang tidak tegas, stria linier miometrium dan
kista miometrium.
 Biasanya USG transabdominal dikombinasikan dengan USG
transvaginal yang menghasilkan kemampuan diagnostik yang
lebih baik.
Komplikasi
 Komplikasi infertilitas, keguguran, hamil (jarang)
 Prognosis Adenomiosis tidak ada resiko yang mengarah ke
keganasan. Dan karena kondisinya berkaitan dengan kadar
esterogen, maka keadaan menopause dapat menyebabkan
kesembuhan alami, dimana tindakan histerektomi dapat
dilakukan apabila keluhan sangat mengganggu dan
mengancam.
Polip Endometrium
Definisi
 Tumor jinak pada dinding endometrium yang merupakan
pertumbuhan aktif stroma dan kelenjar endometrium secara
fokal, terutama pada daerah fundus atau korpus uteri. Polip
ini dapat tumbuh tunggal ataupun ganda dengan diameter
atau ukuran yang bervariasi mulai dari milimeter hingga
sentimeter.
Etiologi dan Faktor Risiko

 Penyebab utama polip endometrium belum diketahui secara


pasti  teori hormonal dan faktor genetik
 Faktor risiko yang berperan dalam penyakit ini : usia,
hipertensi, obesitas, dan penggunaan tamoxifen (obat anti-
estrogen).
Epidemiologi
 Prevalensi dari polip endometrium meningkat seiring dengan
bertambahnya usia.
 Polip ini sering dijumpai pada wanita berusia 29-59 tahun
dengan prevalensi terbanyak pada pasien berumur di atas 50
tahun atau pada wanita postmenapause.
 Prevalensi ini meningkat 30- 60% pada wanita dengan
riwayat penggunaan tamoxifen.
Patogenesis dan Patofisiologi

 Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti polip endometrium


 Diduga merupakan penyakit multifaktorial.
 Dipercayai bahwa polip merupakan sebuah tumor tunggal atau
ganda yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel
neoplastik tunggal.
 Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom, khususnya
pada kromosom 6 dan 12.
 Kromosom tersebut memiliki peranan penting dalam pengaturan
proliferasi sel-sel somatik, pertumbuhan berlebih sel
endometrium dan pembentukan polip.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di
samping faktor predisposisi genetik, adalah usia, hormonal
(estrogen-progesteron), hipertensi, dan obesitas.
Manifestasi klinis
 Perdarahan abnormal uterus  Perdarahan di luar siklus
yang nonspesifik menjadi gejala utama dari polip
endometrium.
 Nyeri perut , nyeri pelvik, atau dismenore  Nyeri timbul
karena gangguan reaksi peradangan, infeksi, bekrosis, ataupun
torsi polip endometrium bertangkai.
 Infertil  menghambat fungsi ostium dan mempengaruhi
migrasi sperma, atau efek biokimia polip pada implantasi atau
perkembangan embrio
 Dismenore dapat terjadi sebagai efek penyempitan kanalis
servikalis oleh tangkai polip endometrium
Diagnosis

 Apabila tangkai polip endometrium cukup panjang


sehingga memungkinkan ujung polip mengalami protursi
keluar ostium serviks, maka hal ini dapat memudahkan
klinisi untuk menegakkan diagnosis. Berikut beberapa
alat dan cara untuk mendiagnosis polip endometrium.
USG
 Ultrasonografi transvaginal
 Pada ultrasonografi transvaginal (TVUS), polip endometrium
biasanya muncul sebagai lesi hyperechoic/ echogenic dengan
kontur reguler dalam lumen uterus
 polip mungkin muncul sebagai penebalan endometrium
nonspesifik atau massa fokal di dalam rongga endometrium.
Biopsi
 Pada pemeriksaan biopsi jaringan dapat ditemukan gambaran
histopatologi seperti bentuk kelenjar yang tidak beraturan,
tangkai fibrovaskular atau stroma berserat dengan penebalan
dinding pembuluh darah, dan terkadang dapat ditemukan
metaplastis epitel skuamosa
Histeroskopi dengan dipandu Biopsi

 Histeroskopi dengan dipandu biopsi adalah gold standar


dalam diagnosis polip endometrium.
 Keuntungan utama dari histeroskopi adalah kemampuan
untuk memvisualisasikan dan menghapus polip bersamaan.
Diagnostik histeroskopi sendiri hanya memungkinkan
penilaian subjektif dari ukuran, lokasi, dan sifat fisik lesi
Histereskopi dengan kesan Polip Endometrium
Prognosis

 Polip endometrium merupakan tumor jinak. Polip juga dapat


berkembang menjadi prakanker atau kanker.
 Sebagian besar polip mempunyai susunan histopatologik
berupa hiperplasia kistik.
 Sekitar 0,5% dari polip endometrium mengandung sel-sel
adenokarsinoma, dimana sel-sel ini akan berkembang menjadi
sel-sel kanker.
 Polip dapat meningkatkan resiko keguguran pada wanita yang
sedang menjalani perawatan fertilisasi in vitro. Jika
pertumbuhan polip dekat dengan saluran telur, maka akan
menjadi penyulit untuk hamil.
 AAGL Practice Report : Practice Guidelines for The
Diagnosis and Management of Endomethrial Polyps.
 http://www.nfog.org/files/guidelines/NFOG_Guideline_
NOR_160419%20Endometrial%20polyp%20NO%20merge
d.pdf