Anda di halaman 1dari 26

I MADE SUKARJA

Man ODTW Alam - K1 2


AKTIVITAS DAN KONDISI LAUT
 MANDI DAN BERENANG
 SURVING
 TERDAMPAR
 GIGITAN/TUSUKAN
 LUKA/CEDERA
TENGGELAM
 Tenggelam (drawning) adalah kematian yang
disebabkan oleh aspirasi cairan ke dalam pernapasan.
 Hampir tenggelam (near drowning) adalah keadaan
gangguan fisiologi tubuh akibat tenggelam tetapi tidak
terjadi kematian (Onyekwelu, 2008).
Penyebab

 Menurut Levin (1993),


a. Terganggunya kemampuan fisik
b. Ketidakmampuan akibat hipotermia, syok, cedera,
atau kelelahan
c. Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika
berenang
Kondisi Umum dan Faktor
Resiko Pada Kejadian Korban
Tenggelam
a. Pria lebih beresiko
b. Kurang pengawasan terhadap anak
c. Tidak memakai pelampung
d. Kondisi air melebihi kemampuan perenang,
e. Ditenggelamkan dengan paksa oleh orang lain dengan
tujuan membunuh,kekerasan atau permainan di luar
batas.
Klasifikasi Tenggelam

a. Berdasarkan Kondisi Paru-Paru Korban


1) Typical Drawning : cairan masuk ke dalam saluran
pernapasan korban
2) Atypical Drawning
a) Dry Drowning
 hanya sedikit bahkan tidak ada cairan yang masuk ke
dalam saluran pernapasan.
LANJUT…
b) Immersion Syndrom
 Terjadi terutama pada anak-anak yang tiba-tiba
terjun ke dalamair dingin ( suhu < 20°C ) yang
menyebabkan terpicunya reflex vagal
c) Submersion of the Unconscious
 Sering terjadi pada korban yang menderita epilepsy
atau penyakit jantung.
d) Delayed Dead
 korban masih hidup setelah lebih dari 24 jam setelah
diselamatkan dari suatu episode tenggelam.
Berdasarkan Kondisi Kejadian
1) Tenggelam (Drowning)
- Korban meneguk air dalam jumlah yang banyak
sehingga air masuk ke dalam saluran pernapasan dan
saluran nafas atas tepatnya bagian apiglotis akan
mengalami spasme
2) Hampir Tenggelam (Near Drowning)
 Suatu keadaan dimana penderita masih bernafas dan
membatukkan air keluar.
Biomekanika Kegawatdaruratan
Pada Korban Tenggelam
a. Perubahan Pada Paru-Paru
 Aspirasi paru terjadi pada sekitar 90%
 Emboli udara
 Pneumothorak
 Barotrauma telinga
Perubahan Pada Kardiovaskuler

 Bradikardi dapat timbul karena refleks fisiologis saat


berenang di air dingin atau karena hipoksia.
 Perubahan pada fungsi kardiovaskuler yang terjadi
pada hampir tenggelam sebagian besar akibat
perubahan tekanan parsial oksigen arterial (PaO2) dan
gangguan keseimbangan asam-basa
Perubahan Pada Susunan Saraf
Pusat
 Iskemi otak dapat berlanjut akibat hipotensi, hipoksia,
reperfusi dan peningkatan tekanan intra kranial akibat
edema erebral.
 Penurunan kesadaran terjadi 2 – 3 menit setelah apnoe
dan hipoksia.
 Kerusakan otak irreversibel mulai terjadi 4 – 10 menit
setelah anoksia
Perubahan Pada Ginjal

 Dapat terjadi albuminuria, hemoglobonuria, oliguria


dan anuria.
 Kerusakan ginjal progresif akan mengakibatkan tubular
nekrosis akut akibat terjadinya hipoksia berat, asidosis
laktat dan perubahan aliran darah ke ginjal.
Perubahan Cairan dan Elektrolit

 Air yang tertelan, aspirasi paru, cairan intravena yang


diberikan selama resusitasi dapat menimbulkan perubahan
keadaan cairan dan elektrolit.
 Aspirasi air laut dapat menimbulkan perubahan elektrolit
dan perubahan cairan karena tingginya kadar Na dan
Osmolaritasnya.
 Hipernatremia dan hipovolemia dapat terjadi setelah
aspirasi air laut yang banyak.
Manifestasi Klinik
a. Koma
b. Peningkatan edema paru
c. Kolaps sirkulasi
d. Hipoksemia
e. Asidosis
f. Timbulnya hiperkapnia
Komplikasi

a. Ensefalopati Hipoksik
b. Tenggelam sekunder
c. Pneumonia aspirasi
d. Fibrosis interstisial pulmoner
e. Disritmia ventricular
f. Gagal Ginjal
g. Infeksi
Penanganan Pertama Pada
Korban Tenggelam
1. Prinsip pertolongan di air :
a. Raih ( dengan atau tanpa alat ).
b. Lempar ( alat apung ).
c. Dayung ( atau menggunakan perahu mendekati
penderita ).
d. Renang ( upaya terakhir harus terlatih dan
menggunakan alat apung ).
Penanganan Korban

a. Pindahkan penderita secepat mungkin dari air dengan


cara teraman.
b.Bila ada kecurigaan cedera spinal satu penolong
mempertahankan posisi kepala, leher dan tulang
punggung dalam satu garis lurus.
 c. Buka jalan nafas penderita, periksa nafas.
d. Upayakan wajah penderita menghadap ke atas.
e. Sampai di darat atau perahu lakukan penilaian dini dan
RJP bila perlu.
f. Berikan oksigen bila ada sesuai protokol.
g. Jagalah kehangatan tubuh penderita, ganti pakaian basah
dan selimuti.
h. Lakukan pemeriksaan fisik, rawat cedera yang ada.
i. Segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Pingsan/shock
 Cardiac output yg berkurang diikuti dg penurunan
pengiriman oksigen ke jaringan.
 Penyebab:
 Kegagalan jantung sebagai pompa
 Penurunan volume sirkulasi
 Penurunan tahanan perifer (hipotensi)
 Gejala:
 Pucat dan dingin, keringat dingin, kelemahan otot, haus,
mulut kering, takikardia tapi lemah, takipneu, apatis
 Tindakan
 Posisi berbaring kaki ditinggikan, selimutkan, kalau tidak
sadar perbaiki jalan nafas.
Sengatan Matahari

 Paparan suhu tinggi dalam jangka lama.


 Terjadi pelepasan suhu tubuh disertai air dan elektrolit.
 Gejala:
 Kulit merah dan melepuh, Lidah dan mukosa kering
 Kehabisan tenaga dan gelisah, sakit kepala, mual dan
keram otot perut, nafas dan nadi cepat, bahkan bisa
kolaps.
 Tindakan
 Pindahkan dari paparan panas
 Berikan cairan yg mengandung garam
 Istirahatkan, Kulit yg lepuh bersihkan dg NaCl
Paparan Dingin
 Terpaparnya tubuh oleh benda basah atau suhu yg terlalu
dingin
 Kehilangan panas yg cepat
 Efek: gangguan sirkulasi dan metabolisme.
 Tindakan:
 Jauhkan dari sumber dingin
 Lakukan penghangatan dg air hangat (38-40 o C)
 Anjurkan pasien menggerakan extremitas
 IV line
 Bantuan oksigen
GIGITAN BINATANG LAUT
EFEK GIGITAN
 Lokal
 Luka, bengkak, kemerahan, lepuh, nekrosis
 General
 Nyeri kepala, keram perut, diare, mual m unath, kolpas
 Spesifik sistemik efek
 Tergantung jenis bisa binatang
Binatang laut (ubur-ubur)
 Tusukan sel berduri (nematokista)
 Gejala
 Nyeri + panas, kemerahan,
 Syok, mual-mual + muntah, diare, keram perut,
kelumpuhan otot
 Penanganan:
 Rendam luka dg air hangat, rawat luka tusukan, obat
simptomatik
IKAN PARI
 Gejala:
 Nyeri lokal hebat, mual, kelemahan, diare, berkeringat,
sinkop, kejang
 Tindakan
 Cuci bersih air sabun hangat (30-60 mnt) dan singkirkan
durinya.
 Amoniak
 Analgesik
BULU BABI
 Gejala:
 Nyeri lokal, kemerahan, bengkak, rasa terbakar, terasa
lumpuh sesaat.
 Tindakan
 Singkirkan duri
 Cuci dg air hangat
 Analgesik