Anda di halaman 1dari 26

Apotek Plus

Cabang Tamalanrea
Peresentation by:
Mahasiswa PKPA UNHAS gelombang II tahun 2018
APOTEK

Apotek adalah sarana pelayanan


kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh Apoteker
PENDIRIAN APOTEK DAN TATACARA PERIZINIAN
Dalam pendirian sebuah apotek maka diperlukan beberapa persyaratan untuk mendapat legalitas dari pemerintah.

BAGAIMANA
LEGALITAS
SEBUAH
APOTEK?
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2017
Tentang Apotek
Sebuah apotek wajib memiliki perizinan dari pemerintah (menteri) berupa SIA yang berlaku selama 5 tahun (BAB III).
Tatacara pengurusan SIA: Apabila Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota dalam

SIA 1. fotokopi STRA dengan


menunjukan STRA asli SIA menerbitkan SIA melebihi
jangka waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (6),
2. fotokopi Kartu Tanda
Apoteker pemohon dapat
Penduduk (KTP)
menyelenggarakan Apotek
3. fotokopi Nomor Pokok Dinyatakan memenuhi persyaratan, Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota menerbitkan SIA dengan dengan menggunakan BAP
Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis Wajib Pajak Apoteker tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Dinas
kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM, Kepala Dinas sebagai pengganti SIA
dengan menggunakan Formulir 1 4. fotokopi peta lokasi dan Kesehatan Kabupaten/Kota, dan Organisasi Profesi
dengan menggunakan Formulir 4
denah bangunan
5. daftar prasarana, sarana,
dan peralatan. Jika tidak memenuhi persyaratan maka Pemerintah
ditandatangani oleh Apoteker disertai dengan
Daerah Kabupaten/Kota harus mengeluarkan surat
kelengkapan dokumen administratif penundaan paling lama dalam waktu 12 (dua belas)
hari kerja dengan menggunakan Formulir 5.

Tim pemeriksa melibatkan


unsur dinas kesehatan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menugaskan kabupaten/kota yang terdiri Tehadap permohonan yang dinyatakan belum
tim pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan
setempat terhadap kesiapan Apotek dengan atas: memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (7), pemohon dapat melengkapi persyaratan
menggunakan Formulir 2 paling lambat dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat
a. tenaga kefarmasian; dan penundaan diterima.

b. tenaga lainnya yang


menangani bidang sarana
tim pemeriksa harus melaporkan hasil dan prasarana. Apabila pemohon tidak dapat memenuhi
kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud
pemeriksaan setempat yang dilengkapi Berita
Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah pada ayat (8), maka Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penolakan
Daerah Kabupaten/Kota dengan menggunakan dengan menggunakan Formulir 6
Formulir 3

Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6), maka penerbitannya bersama dengan penerbitan SIPA untuk Apoteker pemegang SIA.
Masa berlaku SIA mengikuti masa berlaku SIPA
Standar Pelayanan Kefarmasian
Merupakan tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman
bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan
pelayanan kefarmasian.

Dalam pelaksanaan pekerjaan kefarmasian, apotek


memberikan pelayanan langsung serta bertanggung jawab
kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek

Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bertujuan untuk:

Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek
meliputi standar:
Peningkatan
mutu 1. Pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan,
Patient safety
dan Bahan Medis Habis
Pakai
2. Pelayanan farmasi klinik
Menjamin
(Pasal 2)
kepastian
hukum bagi
tenaga
kefarmasian
MANAJEMEN
(Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai)
Pengelolaan Sediaan Farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai meliputi tahapan berikut:

Pencatatan
perencanaan Pengadaan Penerimaan Penyimpanan Pendistribusian Pemusnahan Pengendalian dan
pelaporan.
PERENCANAAN
Dalam membuat perencanaan
pengadaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai perlu diperhatikan pola
penyakit, pola konsumsi, budaya
dan kemampuan masyarakat

Dikenal beberapa metode dalam perencanaan diantaranya yaitu:


pareto, justn in time dan konsumsi. Hal tersebut menjadi acuan yang
dilakukan oleh apotek plus tamalanrea dalam menentukan obat-obat
yang akan dipesan
PENGADAAN
Untuk pengadaan di apotek
plus ada dua yaitu langsung
Untuk menjamin kualitas Pelayanan pada PBF dan pada apotek
Kefarmasian maka pengadaan
plus pusat (dropping).Yang
Sediaan Farmasi harus melalui jalur
resmi sesuai ketentuan peraturan berasal dari PBF: obat bebas,
perundang-undangan bebas terbatas, obat keras,
obat yang mengandung
prekursor, obat psikotropika,
susu dan alat kesehatan
meliputi PBF MBS, AMS,
Enseval, AAM, Pentavalent,
merapi, BSP dan citra persada
(alkes).
PENERIMAAN
Penerimaan merupakan kegiatan Pemeriksaan kesesuaian SP
untuk menjamin kesesuaian jenis dgn faktur, kondisi barang,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu Narkotik-psikotropik-
penyerahan dan harga yang tertera prekursor hanya dapat
dalam surat pesanan dengan diterima oleh apoteker/
kondisi fisik yang diterima. asisten apoteker dilengkapi
dgn SIPA/SIKA dan stempel
apotek. faktur yang diterima
di TTD oleh karyawan yang
menerima
PENYIMPANAN
penyimpanan
dilakukan dengan
Pengeluaran Obat
memperhatikan
memakai sistem FEFO
bentuk sediaan dan (First Expire First Out)
kelas terapi Obat dan FIFO (First In First
serta disusun secara Out)
alfabetis penyimpanan obat
tidak dipergunakan
untuk penyimpanan
barang lainnya yang
menyebabkan
kontaminasi atau
sesuai jenisnya
Semua Obat/bahan
Obat harus disimpan
pada kondisi yang
sesuaI
PENDISTRIBUSIAN
Pelayanan ini merupakan upaya dalam menangani gejala penyakit tanpa
konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Sehingga dilakukan oleh tenaga
kefarmasian (apoteker atau asisten apoteker).
PELAYANAN NON RESEP/SWAMEDIKASI Lebih dari 60% dari masyarakat melakukan swamedikasi dan 80% di
antaranya mengandalkan obat modern.

PELAYANAN RESEP
Merupakan pelayanan terhadap permintaan tertulis dokter (resep) yang
sebelumnya dilakukan proses skrining (administrasi dan klinis) keabsahan
resep. Dalam penyerahannya dilakukan pemberian informasi dan edukasi
terhadap pasien

DROPING

Merupakan sistem pendistribusian dari satu apotek ke apotek lain (cabang


plus) yang terdokumentasikan dalam buku droping dan sistem komputer.
PEMUSNAHAN
Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung narkotika
atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Obat kadaluwarsa atau rusak harus Pemusnahan Obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh
dimusnahkan sesuai dengan jenis dan Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat
bentuk sediaan izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan berita
acara pemusnahan menggunakan Formulir 1 sebagaimana terlampir

Resep yang telah disimpan melebihi


jangka waktu 5 (lima) tahun dapat
dimusnahkan
Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan oleh sekurang-
kurangnya petugas lain di Apotek dengan cara dibakar atau cara
pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan Resep
menggunakan Formulir 2 sebagaimana terlampir dan selanjutnya
Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi
dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.
dan Bahan Medis Habis Pakai yang tidak dapat
digunakan harus dilaksanakan dengan cara
yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan
PENGENDALIAN Pengendalian persediaan diapotek
plus dilakukan menggunakan kartu
Pengendalian dilakukan untuk stok untuk sediaan psikotropika,
mempertahankan jenis dan jumlah dan prekursor dengan cara manual
persediaan sesuai kebutuhan dan untuk pengendalian obat-obat
pelayanan. lain (obat bebas, bebas terbatas dan
obat keras) menggunakan
elektronik atau sistem
Informasi dalam kartu stok NARKOTIKA- terkomputerisasi. Kartu stok
PSIKOTROPIKA-PREKURSOR sekurang-
kurangnya memuat:
sekurang- kurangnya memuat nama
a. Nama Obat/Bahan Obat, bentuk sediaan, Obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah
dan kekuatan Obat; pemasukan, jumlah pengeluaran
b. Jumlah persediaan
c. Tanggal, nomor dokumen, dan sumber
dan sisa persediaan.
penerimaan;
d. Jumlah yang diterima;
e. Tanggal, nomor dokumen, dan tujuan
penyerahan/penggunaan;
f. Jumlah yang diserahkan/digunakan;
g. Nomor bets dan kedaluwarsa setiap
penerimaan atau penyerahan/penggunaan;
dan h. Paraf atau identitas petugas yang
ditunjuk.
PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal
dan eksternal.
Pelaporan internal merupakan
pelaporan yang digunakan untuk
kebutuhan manajemen Apotek, meliputi
Pencatatan dilakukan pada setiap
proses pengelolaan barang meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya.
pengadaan (surat pesanan, faktur), Pelaporan eksternal merupakan
penyimpanan (kartu stok), pelaporan yang dibuat untuk memenuhi
penyerahan (nota atau struk kewajiban sesuai dengan ketentuan
penjualan) dan pencatatan lainnya peraturan perundangundangan, meliputi
disesuaikan dengan kebutuhan. pelaporan narkotika, psikotropika dan
Pencatatan dapat dilakukan pelaporan lainnya.
dikomputer (barang keluar dan
masuk) dan juga dapat secara
manual (buku defecta, buku
dropping).
PELAYANAN FARMASI KLINIK
Pengelolaan Sediaan Farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai meliputi tahapan berikut:

Skrining Dispensing PIO Konseling Home care PTO MESO


SKRINING

farmasetik

klinis
administrasi
• nama pasien, umur, • bentuk dan • ketepatan indikasi
jenis kelamin dan kekuatan sediaan; dan dosis Obat;
berat badan; • stabilitas; dan • aturan, cara dan
• nama dokter, • kompatibilitas lama penggunaan
nomor Surat Izin (ketercampuran Obat;
Praktik (SIP), Obat). • duplikasi dan/atau
alamat, nomor polifarmasi;
telepon dan paraf; • reaksi Obat yang
dan tidak diinginkan
• tanggal penulisan (alergi, efek
Resep. samping Obat,
manifestasi klinis
lain);
• kontra indikasi; dan
• interaksi.
DISPENSING
Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi Obat

Menyiapkan Obat sesuai dengan permintaan Resep, Melakukan


peracikan Obat bila diperlukan, Memberikan etiket, emasukkan Obat ke
dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk Obat yang berbeda untuk
menjaga mutu Obat dan menghindari penggunaan yang salah

Dalam penyerahan obat dilakukan pemberian informasi cara penggunaan


Obat dan hal-hal yang terkait dengan Obat antara lain manfaat Obat,
makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping,
cara penyimpanan Obat dan lain-lain
PIO
Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh Apoteker dalam pemberian informasi
mengenai Obat, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti
terbaik dalam segala aspek penggunaan Obat kepada profesi
kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai
Obat termasuk Obat Resep, Obat bebas dan herbal

KONSELING
Proses interaktif antara Apoteker dengan pasien/keluarga
untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran
dan kepatuhan.
Kriterianya meliputi:
Pasien kategori khusus, indeks terapi sempit, tingkat
kepatuhan rendah, polifarmasi dll
HOME CARE 1. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan
dengan pengobatan

2. Identifikasi kepatuhan pasien

3. Pendampingan pengelolaan Obat dan/atau alat kesehatan di rumah

4. Konsultasi masalah Obat atau kesehatan secara umum

5. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan Obat


berdasarkan catatan pengobatan pasien

6. Dokumentasi pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di rumah


PTO
Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien
mendapatkan terapi Obat yang efektif dan terjangkau
dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek
samping.

MESO
Pada kegiatan ini dilakukan pemantauan setiap respon
terhadap Obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang
terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia
untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau
memodifikasi fungsi fisiologis.
Lampiran Dokumentasi
pelayanan farmasi klinik
Lembar swamedikasi
Lembar PMR
Lembar Skirining
resep
TUGAS KEGIATAN
APOTEK
KESIMPULAN

Pengelolaan sediaan farmasi di Apotek plus


tamalanrea telah memenuhi ketentuan yang
telah diatur mulai dari penerimaan hingga
pemusnahan serta pelayanan farmasi kliniknya