Anda di halaman 1dari 47

BELLS PALSY

FAJAR SEKTI RELIYANA


PEMBIMBING

DR. DR. DODIK TUGASWORO SPS (K)


DEFINISI

• Bells palsy (BP) = paralisis nervus fascialis idiopatik


• kelumpuhan nervus fascialis perifer yang tidak diketahui
penyebabnya.
• pertama kali dijelaskan Sir Charles Bell, dokter dari Skotlandia.
• merupakan penyebab paralisis fasial yang paling sering di dunia
ANATOMI DAN FISIOLOGI
EPIDEMIOLOGI
• Insiden 11 - 40 per 100.000 orang setiap tahun.
• Prevalensinya laki-laki dan perempuan sama
• insiden puncak pada dekade keempat kehidupan.
• Bell´s palsy familial 14%
• Risiko kekambuhan sekitar 10%.
• Tidak ada bukti definitif mengenai geografi atau perbedaan
demografi dalam kejadian BP.
ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

1. Teori Iskemik Vaskuler


2. Teori Infeksi Virus
3. Teori Herediter
4. Teori Imunologi
GEJALA KLINIS
GEJALA KLINIS
Gangguan Gangguan Hiposekresi
Letak Lesi Kelainan motoric Hiposekresi saliva
pengecapan pendengaran lakrimalis
Pons-meatus akustikus
+ + + tuli/hiperakusis + +
internus

Meatus akustikus internus- +


+ + + +
ganglion genikulatum Hiperakusis

Ganglion genikulatum-N. +
+ + + -
Stapedius Hiperakusis

N.stapedius-chorda tympani + + + + -

Chorda tympani + + - + -

Infra chorda tympani-sekitar


+ - - - -
foramen stilomastoideus
DIAGNOSA
a. Anamnesa
b. Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan motorik: inspeksi wajah yaitu kerutan dahi, kedipan mata,
lipatan nasolabial, dan sudut mulut serata beberapa gerakan volunter
dan involunter reflektorik
• Pemeriksaan vasomotor misalnya lakrimasi
• Pemeriksaan sensorik (cita rasa) kecap lidah
c. Elektromiografi
GRADING BELLS PALSY

• Ugo fish score


0% Asimetris komplit, tidak ada gerakan volunteer

30% Simetris : jelek. Kesembuhan yang ada cenderung ke asimetris


komplit daripada simetris normal

70% Simetris : cukup. Kesembuhan parsial yang cenderung ke arah


normal

100% Simetris : normal/komplit


DIAGNOSA BANDING
• Penyakit lyme
• infeksi tb mastoid
• Syndrom Ramsay Hunt
• Tumor kelenjar parotid
• Sarcoidosis
• Fraktur tulang temporal
• Neuroma akustik
• Lesi pontine
TERAPI: MEDIKA MENTOSA

1. Kortikosteroid
2. Anti virus
FISIOTERAPI
INJEKSI BOTULINUM
PEMBEDAHAN
A. Prodedur Statis:
• ketika kerusakan sudah terjadi dan tegak.
• membantu pasien ketika sekuel sudah permanen
• mencoba untuk meningkatkan hilangnya fungsi.
• Cotoh: facelifts, flap otot untuk hasil kosmetik, gold-weight
untuk penutupan mata, sling muscle untuk mengangkat mulut-
sudut.
B. Prosedur dinamis,
• mencegah imobilitas dan kontraktur.
• menggunakan cangkok saraf crossfacial dengan nervus
sural di antara kedua sisi saraf wajah.
• Dilakukan di awal perjalanan penyakit,
• dilakukan lebih awal setelah onset daripada yang statis
PERAWATAN MATA
• Air mata pengganti: mengganti air mata yang kurang atau tidak ada.
• Lubrikan digunakan saat sedang tidur.
• Kaca mata atau pelindung; melindungi mata dari jejas dan
mengurangi kekeringan → menurunkan jumlah udara kontak langsung
dengan kornea.
• Teknik pembedahan daerah mata
KOMPLIKASI
Kontraktur otot wajah.

Fenomena crocodiles tears/refleks gustatolakrimal/sindroma


Bogorad’s

Sinkinesis

Tidak dapat menutup mata pada sisi yang sakit,

Hemifacial spasm

Neuralgia genikulatum
PROGNOSA
• Bell's palsy sembuh secara spontan pada 71% pasien.
• lebih dari 10% pasien Bell's palsy tidak pulih setelah
pengobatan steroid konservatif.
• tergantung pada tingkat keparahan facial palsy: ringan
atau lumpuh sedang cenderung sembuh secara
spontan,
• sedangkan kelumpuhan berat sering gagal pulih
PRINSIP DASAR NEURORESTORASI PASCA CEDERA SARAF

4 prinsip penting melakukan upaya neurorestorasi :


a. Keterbatasan regenerasi neuron (limited regeneration)
b. Tidak instan, melainkan melalui proses pembelajaran ulang
(relearning)
c. Kapasitas reservasi otak/ saraf yang kurang memadai (insufficient
reverse);
d. Lifelong reinforcement; perlu terus dilatih dan diasah seumur hidup.
RESPON JARINGAN SARAF PERIFER TERHADAP CEDERA

1. Neuropraxia

• bentuk ringan cedera saraf.

• ada sedikit atau tidak ada kerusakan struktural

• Gejala bersifat sementara

• Tidak ada hilangnya atau robeknya elemen saraf, sedikit atau tidak ada
perubahan histologis terlihat.

• reversibel, kecuali iskemia berkepanjangan kurang lebih 8 jam.

• Pemulihan biasanya dalam minggu atau bulan.


2. Axonotmesis

• Terdapat gangguan lengkap dari Akon saraf dan selubung myelin,


tetapi struktur mesenchymal termasuk pada perineurium dan
epineurium dapat sebagian utuh.

• sebagian besar pada cedera saraf perifer diwakili oleh jenis cedera
ini.

• Prognosis untuk axonotmesis tergantung pada tingkat cedera,


dengan meningkatnya keparahan terkait hasil yang lebih buruk.
3. Neurotmesis

• Neurotmesis terjadi ketika saraf, bersama dengan stroma


sekitarnya, menjadi sepenuhnya terputus.

• Tidak ada pemulihan spontan dan bahkan setelah operasi.

• Jenis cedera ini hanya terlihat dalam trauma besar.


IDENTITAS PENDERITA
• Nama : Nn. M

• Umur : 19 tahun

• Jenis Kelamin : Wanita

• Kawin/tidak kawin : tidak kawin

• Pendidikan : SMA (sedang kuliah)

• Pekerjaan : mahasiswi

• Alamat : Semarang

• Tanggal berobat : 5 September 2018

• Tanggal kontrol : 12 September 2018

• No CM : C710359
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Autoanamnesis 5 September 2018

• Keluhan Utama : lumpuh separuh wajah kanan

• Onset : + 2 bulan SMRS

• Lokasi : separuh wajah sebelah kanan

• Kualitas : dahi kanan tidak dapat dikerutkan, mata kanan tidak dapat
menutup, bibir merot ke kiri

• Kuantitas : aktivitas sehari-hari mandiri


KRONOLOGIS

•  2 bulan SMRS saat bangun tidur pasien mengeluh wajah merot ke kiri, alis mata
kanan tidak dapat diangkat, mata kanan tidak dapat menutup sempurna, air mata
nerocos dari mata kanan, telinga berdenging disangkal, nyeri belakang telinga (-),
lidah terasa hambar disangkal, ketika berkumur air keluar dari sisi kanan, ketika
makan, makanan mengumpul di sisi kanan, demam (-), kelemahan anggota gerak (-),
sulit menelan (-), nyeri kepala (-), muntah (-) pelo(-), tersedak saat makan atau minum
(-)
• Faktor yang memperberat : -

• Faktor yang memperingan : -

• Gejala penyerta :-

2. Riwayat penyakit dahulu

 Riwayat trauma kepala disangkal

 Riwayat demam sebelumnya

 Riwayat DM disangkal
3. Riwayat penyakit keluarga

• Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini.

4. Riwayat sosial ekonomi dan pribadi

• Penderita seorang mahasiswi. Ibu sudah meninggal. Tinggal bersama


nenek. Biaya pengobatan ditanggung BPJS.

• Kesan : sosial ekonomi cukup


STATUS INTERNUS
• Kepala : mesosefal

• Mata : kongjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,

• Leher : simetris, pembesaran kelenjar limfe (-), JVP tidak meningkat

• Dada

- Jantung : bunyi jantung I, II normal; bising (-), gallop (-)

- Paru : sonor, suara dasar : vesikuler, suara tambahan : ronkhi -/-, wheezing -/-

• Perut : supel, bising usus (+) normal, hepar/lien tidak teraba

• Ekstremitas: edema (-), turgor cukup


STATUS NEUROLOGIS
• Kesadaran : GCS E4 M6 V5 = 15

• Kepala : mesosefal, nyeri tekan (-), simetris (+)

Mata : pupil bulat isokor, Ø 3 mm / 3 mm, refleks cahaya +/+,


lagopthamus

• Leher : kaku kuduk (-)

• Nervi kraniales : parese N VII dextra perifer


• Motorik Superior Inferior

• Gerak : +/+ +/+

• Kekuatan : 555/555 555/555

• Tonus : N/N N/N

• Trofi : E/E E/E

• R.Fisiologis : ++/++ ++/++

• R.Patologis : -/- -/-

• Klonus : -/-

• Sensibilitas : dalam batas normal

• Vegetatif : dalam batas normal


EMG

Pemeriksaan NCS N. Fascialis bilateral

• N. Facialis nasalis kanan : tidak muncul gelombang

• N. Facialis nasalis kiri : latensi dbn, latensi dbn

• N. Facialis okuli kanan : latensi dbn, latensi dbn

• N. Facialis oculi kiri : latensi dbn, latensi dbn

• N. Facialis oris kanan : latensi dbn, latensi dbn

• N Facialis oris kiri : latensi dbn, latensi dbn


Blink Reflek

• Stimulus kiri: R1 dan R2 ipsilateral latensi dbn, R2 kontralateral


latensi relatif dbn, amplitudo R2 ipsilateral dbn

• Stimukus kanan: R1 dan R2 ipsilateral muncul latensi memanjang,


R2 kontralateral dbn, amplitudo R2 ipsi lateral rendah

• Kesan : mendukung lesi N. VII sisi kanan


DIAGNOSIS

I. Diagnosis Klinis :
- Parese N VII dextra perifer
- hiperlakrimasi
- lagothalmus
• Diagnosis Topis : N VII dextra perifer
• Diagnosis Etiologis : bells palsy (idiopatik)
RENCANA AWAL
• Terapi : vitamin B1B6B12 1 tab/8 jam
• Program : konsul rehabilitasi medik
• Konsul mata
• Edukasi:
- tentang penyakit, tata laksana dan prognnosa penyakit yang diderita,
pemeriksaan lanjutan yang akan dilakukan dan penatalaksanaan
selanjutnya
- Perawatan mata
CATATAN PERKEMBANGAN
12 SEPTEMBER 2018 (KONTROL 1)
S : air mata nrocos berkurang
O : KU : sakit sedang, GCS E4M6V4 = 15
• TD 110/80 mmHg, HR 84 x/menit, SpO2: 99%
• RR 18x/menit, t 36,5°C

• Kepala : mesosefal, nyeri tekan (-), simetris (+)

• Mata : pupil bulat isokor, Ø 3 mm / 3 mm, refleks cahaya +/+, lagophalmos

• Nervi kraniales : parese N VII dextra perifer

• Leher : kaku kuduk (-)


• Motorik Superior Inferior

• Gerak : +/+ +/+

• Kekuatan : 555/555 555/555

• Tonus : N/N N/N

• Trofi : E/E E/E

• R.Fisiologis : ++/++ ++/++

• R.Patologis : -/- -/-

• Klonus : -/-

• Sensibilitas : dalam batas normal

• Vegetatif : dalam batas normal


UGO FISH SCORE
Kesimetrisan wajah Presentase Faktor Nilai

Saat istirahat 70 20 14

Mengerutkan dahi 0 10 0

Menutup mata 30 30 9

Tersenyum 0 30 0

Bersiul 30 10 3

Total 26
DIAGNOSA
• Diagnosis Klinis :
- Parese N VII dextra perifer
- Crorodile tears
- Lagopthalmus
• Diagnosis Topis : N VII dextra perifer
• Diagnosis Etiologis : bells palsy (idiopatic)
TERAPI
• Vitamin B1B6B12 1 tab/8 jam (po)
• Artificial tears 3x1 gtt ODS
• Program RM:
- Infrared wajah kanan (3x seminggu)
- Gentle massage wajah kanan
- Latihan penguatan otot wajah depan cermin
- Tutup mata kanan saat tidur dan mandi
• Edukasi:
- menjelaskan tentang pentingnya latihan di rumah dan fisioterapi
DAFTAR MASALAH

NO MASALAH AKTIF TANGGAL MASALAH TANGGAL


PASIF
1 Parese N VII dextra perifer →4 5-9-2018

2 hiperlakrimasi →4 5-9-2018

3. lagopthalmos→4 5-9-2018

4. Bells Palsy →4 5-9-2018

5
DECISION MAKING
BAGAN ALUR
TERIMA KASIH MOHON ARAHAN