Anda di halaman 1dari 26

Pityriasis versicolor

Pembimbing : dr. Andri Catur J., Sp. KK

Oleh : Lilly Nurfitria Ramadhani (201520401011131)


SMF LAB KULIT DAN KELAMIN RSUD JOMBANG
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG - FAKULTAS KEDOKTERAN - 2016
DEFINISI
• Sebuah infeksi kronis ringan dari kulit yang
disebabkan oleh jamur Malassezia, dan
ditandai dengan discrete atau confluent,
bersisik, berubah warna atau depigmentasi,
terutama pada bagian tubuh atas (Hay and
ashbee, 2010), meliputi badan dan kadang-
kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha,
lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala yang berambut (Budimulja U, 2011)
EPIDEMIOLOGI
• Dari data rawat jalan di Poliklinik Sub Bagian
Jamur Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS.
dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari
2001 sampai Desember 2005 didapatkan 80
kasus dermatofita yang disertai dengan
pitiriasis versikolor terdiri dari 61 orang laki-
laki dan 19 orang perempuan (Rayendra,
2006).
• Data epidemiologi lainnya dalam kurun waktu
antara 2003-2005 pada RSUD Dr. Soetomo,
didapatkan kasus baru mikosis superfisialis
didivisi mikologi URJ penyakit kulit dan
kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun
2003 sebesar 12,7%, tahun 2004 sebesar 14,1
%, dan tahun 2005 sebesar 13,3% dengan
kasus yang paling banyak dijumpai ialah
pityriasis versicolor (Hidayati et al, 2009).
ETIOLOGI
PATOGENESIS
Pemeriksaan Penunjang

Lampu Wood Mikroskopis langsung


• Tampak gambaran bercak • Kerokan + KOH 10-20% 
dengan warna kuning spagetti meat ball
keemasan
Pytiriasis Alba
- Pada anak usia 3-16 th
- Lokasi tersering ialah
daerah wajah : dagu,
mulut, pipi, dahi
- Pemeriksaan mikroskop
elektron : penurunan
jumlah serta
berkurangnya ukuran
melanosom
- Mikroskopis langsung
dengan KOH : tidak ada
spagetti meatball
aperence
Vitiligo
• Dapat mengenai daerah
yang mengandung
melanosit selain kulit
seperti mata dan
rambut
• Histologi dengan
pewarnaan hematoxilin
eosin  sel melanosit
tidak ada
• Tanpa skuama
• Awitan terbanyak
sebelum 20 th
• Tidak gatal saat
berkeringat
Morbus Hansen Tipe
tuberculoid
- Hipoestesi pada
daerah lesi
- Zhielnielsen (+)
- Woods lamp : tidak
kuning keemasan
- Tidak gatal saat
berkeringat
TERAPI
1.Menghilangkan faktor-faktor predisposisi
2. Pengobatan : menyeluruh, tekun dan teratur, obat topical atau sistemik

a. Obat topikal (digunakan bila lesi tidak terlalu luas)


- Mikonazole cream 2%, dioleskan sehari 2 kali selama 3-4 minggu
- Solusio natrium thiosulfate 25 % dioleskan sehari 2 kali selama 2 minggu (kurang
dianjurkan oleh karena dapat mengakibatkan iritasi, berbau tidak enak dan tidak
boleh untuk daerah wajah dan leher)
- Krim tretinoin 0.05 % - 1 % untuk lesi hiperpigmentasi dioleskan sehari 2
kaliselama 2 minggu
- Shampo ketokonazol 1-2% diolekan pada lesi selama 10-15 menit sebelum mandi,
seminggu 2 kali selama 2-4 minggu
- Larutan propylene glycol 50% dalam air dioleskan seluruh tubuh sehari 2 kali
selama 2 minggu. Merupakan sediaan yang murah, efektif, kosmetik bagus,
memberikan hasil bagus dan sangat kecil efek iritasi kulitnya.

b. Obat sistemik (digunakan bila lesi luas, resisten terhadap obat topikal, sering
kambuh)
- Ketoconazole : dosis anak: 3,3-6,6 mg/ kgBB/ hari; dosis dewasa: 200 mg/hari.
Diberikan sehari sekali sesudah sarapan selama 10 hari (Ervianti et al, 2005).
Laporan Kasus
Identitas
• Nama : Sdr. A B
• TTL : 17 Maret 1984
• Agama : Islam
• Alamat : Kedung Boto, Podoroto, Kesamben
• Pendidikan : SI
• Pekerjaan : Swasta (bag. Juru Hitung di penggadaian)
• No. RM : 16-53-61
• Keluhan utama : Bercak putih di lengan bawah
kanan dan kiri
• Riwayat penyakit sekarang :
– Muncul bercak putih sejak 6 bulan yll,
– berawal dari tangan kanan
– bersifat kumat-kumatan
– semakin banyak
– Tersebar hanya pada lengan bawah tangan kanan dan
kiri
– Bila berkeringat muncul bercak merah di sekitar bercak
putih dan terasa gatal
– Pasien menggunakan sabun mandi yang mengandung
sulfur
– Pasien tidak dalam kondisi mengkonsumsi obat-obatan
jenis imunosupresan baik topikal maupun sitemik.
• Riwayat penyakit dahulu: Pasien baru
pertama kali sakit seperti ini, riwayat diabetes
melitus disangkal.
• Riwayat penyakit keluarga : Ayah menderita
sakit yang sama (bercak putih di badan),
namun belum mendapat pengobatan. Riwayat
diabetes melitus (tidak ditanyakan).
• Riwayat Sosial :
– Lingkungan rumah: tidak ditanyakan
– Higinitas diri & anggota keluarga lainnya: tidak
ditanyakan
Pemeriksaan Generalis
• Keadaan umum : Baik
• Kesadaran : Compos mentis

Status Dermatologis (Pemeriksaan Lokalis)


• Sifat efloresensi : Multiple makula
hipopigmentasi dengan batas tegas, dengan
bentuk lesi papuler, Skuama tipis halus (+)
• Lokasi: Et regio antebrachii dextra, sinistra .
FOTO PASIEN
• Diagnosis : Pityriasis versicolor
• Diagnosis Banding : Pitiriasis Alba, Vitiligo, MH
tipe tuberkuloid
• Planning Terapi :
– Topikal :Mikonazole cream 2%, dioleskan sehari 2
kali selama 3-4 minggu
– Sistemik : Ketokonazole 200 mg, 1 x sehari
(setelah sarapan) selama 10 hari
• Monitoring : Datang kembali ke dokter apabila
keluhan gatal tidak kunjung reda dan dirasa
sangat mengganggu, serta mengevaluasi hasil
pengobatan.
• Edukasi
– Menjelaskan diagnosis penyakit dan rencana
pengobatan yang akan dilakukan
– Obat diminum sesuai anjuran atau dosis
– Menjelaskan faktor predisposisi dari penyakit
– Menjelaskan prognosis (kekambuhan tinggi, bercak
hipopigmentasi residual yang menetap dalam
beberapa bulan) dan komplikasi dari penyakit.
• Prognosis
– Dubia ad bonam
Pembahasan
• Hal ini didukung oleh beberapa alasan, yaitu :
tampaknya gambaran klinis yang khas sesuai
dengan buku pedoman diagnosis dan terapi
BAG/SMF ilmu penyakit kulit dan kelamin.
Gambaran klinis dan khas dalam buku
tersebut yang sesuai dengan gejala klinis
pasien ialah : gatal bila berkeringat, lokasi lesi
pada lengan bawah, bentuk lesi papuler
dengan skuama tipis, dan warna lesi putih
• Faktor genetik ini pasien dapatkan dari
ayahnya, ayah dari pasien ini mengeluhkan
keluhan yang sama berupa bercak putih yang
tak kunjung hilang. Beberapa penelitian
mengaitkan faktor genetik dan pityriasis
versicolor. Hafez dkk, melakukan studi
prospektif dengan 300 pasien pityriasis
versicolor dengan riwayat keluarga yang
positif sebesar 39%, terutama pada kerabat
keturunan pertama. Penelitian lainnya yaitu
penelitian Terragni dkk. Penelitian ini
dilakukan dalam jangka waktu 10 tahun, dan
pada anak-anak yang berpartisipasi dalam
• Indonesia pun termasuk salah satu faktor
predisposisi pityriasis versicolor, hal ini
dikarenakan Indonesia merupakan negara
dengan iklim tropis dimana kelembapan dan
suhu tinggi pun meningkatkan prevalensi dari
pityriasis versicolor.
• Pada kasus ini diagnosis penyakit ditegakan atas dasar :
gambaran klinis yang khas, pemeriksaan sediaan langsung
kerokan kulit dengan KOH 20%, pemeriksaan flourosensi
lesi kulit dengan lampu wood. Gambaran klinis khas yang
ditemukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah
mampu menegakan diagnosis, sedangkan pemeriksaan
sediaan langsung kerokan kulit dengan KOH 20%,
pemeriksaan flourosensi lesi kulit dengan lampu wood
bersifat sebagai pengkonfirmasi atau berperan dalam
penepisan diferential diagnose. Hal ini sesuai dengan yang
di tuliskan oleh Janik M P dan Hefernan M P dalam buku
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine edisi ke 7
pada section infeksi jamur : candidiasis dan tinea (pitiriasis)
versikolor. Sumber lain yang juga sependapat dengan hal
tersebut ialah artikel dengan judul tinea versicolor dari
American Academy of Dermatology pada website resmi
mereka.
Pada kasus ini terapi medikamentosa yang
diberikan adalah antifungi topical maupun
sistemik. Dalam buku pedoman diagnosis dan
terapi BAG/SMF ilmu penyakit kulit dan
kelamin, Ervianti E, Suyoso S, Rosita C
menuliskan bahwa terapi sistemik dapat
digunakan bila sering kambuh sedangkan terapi
topikal digunakan bila lesi tidak terlalu luas.
Untuk obat topical diberikan mikonazole cream
2%, dioleskan sehari 2 kali selama 3-4 minggu,
sedangkan obat sistemiknya diberikan
ketokonazole 200 mg, 1 x sehari (setelah
sarapan) selama 10 hari.
Kesimpulan
• Penyakit kulit karena infeksi jamur secara umum dapat terbagi atas
dua bentuk, bentuk superfisial dan bentuk yang dalam (deep
mycosis). Bentuk superfiasial terbagi atas golongan dermatofitosis
yang disebabkan oleh jamur dermatofita (antara lain: Tinea kapitis,
tinea korporis, tinea unguium, tinea cruris, tinea fasialis, tinea
barbae, tinea manus, tinea pedis) dan yang kedua golongan non
dermatofitosis (pitiriasis versikolor, piedra, tinea nigra palmaris,
kandidiasis). Perbedaan antara dermatofitosis dan non
dermatofitosis adalah pada dermatofitosis melibatkan zat tanduk
(keratin) pada stratum korneum epidermis, rambut dan kuku yang
disebabkan oleh dermatofit. Sedangkan non dermatofitosis
disebabkan oleh jenis jamur yang tidak dapat mengeluarkan zat
yang dapat mencerna keratin kulit tetapi hanya menyerang lapisan
kulit yang paling luar (Boel T, 2003).
• Biasanya tidak ada keluhan (asimtomatis), tetapi dapat dijumpai
gatal pada keluhan pasien. Pasien yang menderita PV biasanya
mengeluhkan bercak pigmentasi dengan alasan kosmetik. Predileksi
pitiriasis vesikolor yaitu pada tubuh bagian atas, lengan atas, leher,
abdomen, aksila, inguinal, paha, genitalia (Wolff , 2008)
• Diagnosa ditegakkan dengan gejala klinis, penemuan klinis berupa
makula, berbatas tegas, bulat atau oval dengan ukuran yang
bervarisasi. Mikroskopi langsung, Pemeriksaan dengan Wood's
Lamp. Karena koloni jamur ini pada permukaan kulit, maka
pengobatan topikal sangat efektif. Ketokonazol termasuk kelas
antijamur imidazoles. Ketokonazol bekerja dengan memperlambat
pertumbuhan jamur yang menyebabkan infeksi. Prognosis baik bila
pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten.
Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif
dengan pemeriksaan lampu wood dan sediaan langsung negative
(Ervianti et ql, 2009).