Anda di halaman 1dari 53

PERDARAHAN SALURAN CERNA

By
HARDY
PERDARAHAN SALURAN CERNA DIBAGI ATAS :

1. PERDARAHAN SALURAN MAKANAN BAGIAN ATAS (PSMBA)

2. PERDARAHAN SALURAN MAKANAN BAGIAN BAWAH


(PSMBB)

BATAS SCBA DAN SCBB : LIGAMENTUM TREITZ


GAMBARAN KLINIS :
1. HEMATEMESIS : MUNTAH DARAH MERAH KEHITAMAN
2. MELENA : B.A.B HITAM SPT TER, LENGKET BERCAMPUR
DGN DARAH TUA
3. HEMATOCHEZIA : DARAH SEGAR KELUAR MELALUI
REKTUM
4. PERDARAHAN TERSELUBUNG : WARNA KOTORAN NORMAL
PD PEMERIKSAAN BENZIDIN MENGANDUNG DARAH
5. ANEMIA
6. GANGGUAN HEMODINAMIK
ETIOLOGI
 VARICES ESOFAGUS : 50 – 60 %,
 GASTRITIS HAEMORRHAGIC : 25 – 30 %
 TUKAK DUODENUM : 10 – 15 %
 LESI MALLORY-WEISS
 KEGANASAN SAL MKN BAG ATAS
 DIVERTICULITIS SAL MKN BAG ATAS
 HEMOFILIA
VARISES ESOFAGUS :
DILATASI PEMBULUH DARAH PADA SALURAN ESOFAGUS

 SERING PADA PENDERITA SIROSIS HEPATIS

ENDOSCOPY
SINDROMA MALLORY – WEISS :
LUKA ROBEK (LECET) PADA BAGIAN BAWAH ESOFAGUS DAN BAGIAN ATAS
LAMBUNG (CARDIA/ GASTROESOFAGEAL JUNCTION ) AKIBAT MUNTAH
ATAU CEGUKAN YANG SANGAT KUAT

 SERING PADA PECANDU ALKOHOL


 OBAT2 GOLONGAN NSAID
TUKAK LAMBUNG TUKAK DUODENUM
PROSEDUR DIAGNOSA
ANAMNESA
KELUHAN :
 MUNTAH DARAH
 EPIGASTRIC PAIN YG ADA HUB DGN MAKANAN
 RIWAYAT MINUM ALKOHOL, JAMU, OBAT ULSEROGENIK (NSAID)
 RIWAYAT PENY. HATI
PEMERIKSAAN FISIK
 PERIKSA STATUS HEMODINAMIK/ EVALUASI BANYAKNYA
KEHILANGAN DARAH  SYOK ATAU TIDAK
 CARI TANDA-TANDA PENY HATI KRONIS
 NYERI TEKAN DI EPIGASTRIUM / KIRI ATAS
 COLOK DUBUR (RECTAL TOUCHER)
LABORATORIUM
 HEMATOLOGI : Hb, LEUKOSIT, ERITRO-SIT, THROMBOSIT, SEL
DARAH, FAAL PEMBEKUAN
 BIOKIMIA DARAH :
− FAAL HATI: SGOT,SGPT,BILIRUBUN, ELEKTROFORESE
PROTEIN, ALK FOSFATA-SE, CHOLESTEROL
− FAAL GINJAL: UREA, CREATININ
− GULA DARAH
ENDOSKOPI
 DILAKUKAN DLM WAKTU 24 JAM SETELAH HEMODINAMIK
STABIL & AIR KURASAN WARNA MERAH MUDA
 CARI SUMBER PERDARAHAN ;
− VARICES ESOFAGUS
− BUKAN DARI VARICES ESOFAGUS
PENATALAKSANAAN
TANPA SYOK
 PERDARAHAN < 500 CC  OBSERVASI
 PERDARAHAN 500 – 1000 CC  IVFD LARUTAN
KRISTALOID (RL)
 PERDARAHAN MASIF (> 1000 CC, Hb < 8 gr%) 
TRANSFUSI DARAH

DENGAN SYOK
 PENDERITA TELENTANG TANPA BANTAL DGN KEPALA
MIRING  O2 5 l/mnt, PASANG KATETER (FOWLEY) UTK
MONITOR URINE
 IVFD RL 1000 CC DLM 1 JAM
 BILA SYOK TETAP, BERI PLASMA EXPANDER 
TRANSFUSI. JMLH TRANSFUSI TERGANTUNG RESPON
HEMODINAMIK (CVP BAIK, DIURESIS CUKUP, Ht > 30 %)
KUMBAH LAMBUNG
PASANG NGT  KURAS LAMBUNG DGN AIR ES 150 CC TIAP
2, 4, 6 JAM.
AIR KURASAN MERAH TUA  ENDOSKOPI SAL MAKANAN
BAG ATAS

A. PERDARAHAN MINIMAL,TERUS MENERUS, UMUR 70 THN,


TERDAPAT KELAINAN EKG  KURAS LAMBUNG
DITERUSKAN DGN AIR ES + ADRENALIN (2 AMP PER 150 CC)
B. PERDARAHAN MINIMAL,TERUS MENERUS, UMUR 70 THN,
EKG NORMAL INFUS VASOPRESIN
C. PERDARAHAN MASIF,USIA TUA, EKG ABNORMAL, DGN
KEMUNGKINAN PERDARAHAN VARICES ESOFAGUS 
TAMPONADE DGN : SANGSTAKEN BLACKEMORE
TUBE

D. PENILAIAN KEGAWATAN;
TK I : UTK MENCAPAI Hb 8 gr %, Ht > 30 %  TRANSFUSI 8
KANTONG DLM 8 JAM
TK II :  DLM 24 JAM
TK III :  DLM 48 JAM
PENATALAKSANAAN PADA VARICES ESOFAGUS
1. INFUS VASOPRESIN
0,2 u/mnt  10 UNIT DLM 500 CC DEXTROSA 5 %, 20 tetes/mnt
DLM 8 JAM
2. PERDARAHAN MASIF/TIDAK BERHENTI
 PASANG SANGSTAKEN BLACKMORE TUBE SELAMA 24 JAM
3. PERDARAHAN MSH BERLANGSUNG, DILAKUKAN :
 SKLEROTERAPI
 OPERASI
- LIGASI VARICES
- TRANSEKSI ESOFAGUS + DEVASKULARISASI PROX
LAMBUNG
PERDARAHAN PADA TUKAK/ ULKUS
ENDOSKOPI UTK TENTUKAN TEMPAT / SUMBER PERDARAHAN:
 LAMBUNG
 DUODENUM

PERDARAHAN TDK AKTIF


 DIET CAIR  DIET SARING  DIET LUNAK  DIET BIASA
 ANTASIDA; AlMg(OH) 30-120 cc/jam, PERTAHANKAN pH minimal
4,5
 OBAT ANTAGONIS RESEPTOR H2; CIMETIDIN 200-400 mg/jam iv
ATAU RANITIDIN 50 mg/jam iv
 SUKRALFAT; 2 g/6 jam
 SEDASI; MINOR TRANQUILIZER
PERDARAHAN AKTIF
 SUNTIKAN PER ENDOSKOPI
− ETANOL 0,1-2 cc SEKITAR ULKUS
− ADRENALIN 1/10.000, 3-20 x 0,5 cc
− LAR HS-E (Hypertonic Saline Epinephrine); ADRENALIN
0,1 % dlm NaCl 15 %
 CRYOPRECIPITATE 10 cc + 5 cc TROMBIN
 KOLAGEN MIKROKRISTAL 1 gr dlm 15 cc AIR
 HEATER PROBE; 140-150 C
 HEMOCLIPS
 DIATERMI (ELEKTROKOAGULASI)
PEMBEDAHAN PADA TUKAK/ ULKUS
 PERDARAHAN > 1500 cc/8 jam
 PERDARAHAN > 24 jam
 PERDARAHAN ULANG POST Th/ NON BEDAH
 USIA > 60 THN
 SYOK TDK TERATASI WALAU TELAH DIBERI 8 UNIT DARAH
 TRANSFUSI 2 UNIT/8 jam, TEK DARAH NORMAL TAPI Ht < 30 %
PEMBEDAHAN DILAKUKAN PD GASTER, DUODENUM, &
LANGSUNG MENGIKAT SUMBER PERDARAHAN
PENATALAKSANAAN SINDROMA MALLORY WEISS
 DAPAT SEMBUH SENDIRI DALAM WAKTU 7 – 10 HARI
 PERBANYAK MINUM AIR PUTIH.
 HINDARI PENGGUNAAN ASPIRIN ATAU OBAT-OBATAN
GOLONGAN ANTIINFLAMASI NONSTEROID.
 HINDARI KONSUMSI ALKOHOL.
 OBAT2 GOLONGAN : H2 RESEPTOR ANTAGONIS, ANTASIDA,
PPI
 HENTIKAN PERDARAHAN MELALUI ENDOSKOPI
 OPERASI
SENGSTAKEN BLAKEMORE

KUMBAH LAMBUNG
PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH
PERDARAHAN SAL MAKANAN DI BAWAH DUODENUM
PENYEBAB;
1. TIPUS ABDOMINALIS
2. MEGACOLON TOXIC
3. PERADANGAN USUS
4. TUMOR
5. PENYAKIT VASCULER
6. DIVERTIKULOSIS
GEJALA KLINIS

 BAB BERDARAH (MERAH, KEHITAMAN)

 PERDARAHAN MASIF ATAU SEDIKIT

 DIARE DISERTAI LENDIR (+/-)

 NYERI PERUT, KEJANG PERUT

 GEJALA AKUT ABDOMEN (+/-)


LABORATORIUM

 DARAH LENGKAP : TANDA2 ANEMIA

LEUKOCYTOSIS  KOLITIS ULCERATIF

LEUKOPENI TIFOID

 WKT PERDARAHAN, PEMBEKUAN

 FAAL HATI, GINJAL

 GOL DARAH
TIPUS ABDOMINALIS
 PENYEBAB : SALMONELLA TIFI/PARATIFI

 MALAISE, FEBRIS, NYERI PERUT, SPLENOMEGALI, LEUKOPENI

 UTK TJD PERDARAHAN  FEBRIS > 2 MGG

 PERDARAHAN DIRAWAT KONSERVATIF

 PD PERDARAHAN MASIF  ANGIOGRAFI

 TANPA ANGIOGRAFI, PERDARAHAN MASIF  LAKUKAN


HEMIKOLEKTOMI KANAN KRN SUMBER PERDARAHAN BISA DARI
ILEUM TERMINAL, CAECUM, KOLON ASCENDEN, APENDIK
TOXIC MEGACOLON

PERADANGAN KOLON FULMINANT AKUT  SELURUH KOLON


TRANSVERSUM

GAMBARAN KLINIS

 TAKIKARDI

 LEMAH

 PERUT GEMBUNG

 FEBRIS

 DEFANCE MUSCULARE
LABORATORIUM
 DARAH LENGKAP
 FAAL HATI/ GINJAL

RADIOLOGI
 FOTO POLOS ABDOMEN : KOLON TRANSVERSUM > 8 cm
 BARIUM ENEMA
 COLONOSCOPY
PENATALAKSANAAN

 PEMBEDAHAN

− TOTAL KOLEKTOMI DGN ILEUSTOMI + MUKOUS FISTEL

− PROCTOKOLEKTOMI + ILEUSTOMI
KOLITIS ULSERATIFA
PERADANGAN MUKOSA & SUBMUKOSA DARI REKTUM DAN KOLON
ADA 2 JENIS :
1. KOLITIS ULSERATIFA NON SPESIFIK
- PENYEBAB TIDAK DIKETAHUI
- KOLONOSKOPI; ERITEMA YG DIFUS DAN RINGAN
PENATALAKSANAAN : KONSERVATIF
2. KOLITIS ULSEROSA
- PERADANGAN DIFUS + ULSERASI DI REKTUM MELUAS
KESELURUH KOLON
- DIAGNOSTIK; Ba ENEMA ATAU KOLONOSKOPI + BIOPSI
PENATALAKSANAAN
 KONSERVATIF
 OPERATIF (TOTAL KOLEKTOMI)
GEJALA KLINIS
 Diare yang disertai darah, lendir, atau nanah
 Nyeri atau kram perut.
 Sering ingin buang air besar, tapi tinja
cenderung tidak bisa keluar
 Mudah lelah
 Nyeri pada rektum
 Penurunan berat badan
 Demam

Kolitis ulseratif :
peradangan kronis yang terjadi pada usus besar (kolon) dan
rektum.
 Terdapat tukak atau luka di dinding usus besar sehingga
menyebabkan tinja bercampur dengan darah.
PENYAKIT CHRON
PENYAKIT GRANULOMATOUS PADA KOLON
 JARANG SEBABKAN PERDARAHAN
 KHAS ADANYA FISTEL PERIANAL ATAU PERIREKTAL
 Ba ENEMA, KOLONOSKOPI  PERADANGAN YG TDK TERATUR,
BIOPSI MENENTUKAN
 KLINIS; ADANYA MANIFESTASI EKSTRA KOLON ( ERITEMA
NODOSUM, SPONDILITIS, POLIARTRITIS)
 TINDAKAN; KONSERVATIF, BILA GAGAL  OPERASI (RESEKSI
DARI BAGIAN USUS YANG TERKENA)
Penyakit Crohn /radang usus GEJALA KLINIS
(Inflammatory Bowel Disease)  Diare terus-menerus
= regional enteritis, dan chronic  BAB berdarah
granulomatous ileocolitis.  Ingin segera buang air besar
 Kram dan sakit perut
 Sering merasa BAB tidak tuntas
 Sembelit (dapat menyebabkan gangguan
usus)
 Demam
 Kehilangan selera makan.

 Dapat terjadi setiap bagian saluran pencernaan mulai dari mulut hingga ke
anus.
 Lebih sering pada bagian akhir usus kecil (ileum) atau usus besar (colon)
TUMOR KOLON/ REKTUM
JINAK : POLIP
GANAS : CARCINOMA
GEJALA KLINIS
 BAB berdarah atau bahkan pendarahan di anus
 Perubahan tekstur kepadatan feses, baik bertambah keras hingga
akhirnya menjadi konstipasi ataupun bertambah cair (diare)
 Menurunnya berat badan
 Tubuh terasa lelah
 Nyeri atau kram pada bagian perut
 Perut kembung
 Meningkatnya frekuensi buang air besar atau diare
 Konstipasi
 Nafsu makan menurun.
PEMERIKSAAN PENUNJANG :
 ENDOSKOPI (COLONOSKOPI)
 Ba ENEMA DOUBLE CONTRAS
PENATALAKSANAAN :

 POLIP

POLIPEKTOMI MELALUI ENDOSKOPI ATAU OPERATIF

 PD POLIPOSIS KOLI  TOTAL KOLEKTOMI + KOLOSTOMI

 Ca KOLON & REKTUM; BILA KONSERVATIF GAGAL 


RESEKSI SEGMENTAL KOLON PROKSIMAL, KOLOSTOMI +
MUKOUS FISTEL
DIVERTIKULOSIS / DIVERTIKULITIS KOLI
KELAINAN DINDING KOLON PADA REKTOSIGMOID DLM BTK DIVERTIKEL
(KANTONG) YG MULTIPLE
 DIVERTIKULUM BIASANYA TIDAK MENYEBABKAN GEJALA APAPUN
 DAPAT TERKENA INFEKSI DAN MENYEBABKAN KOMPLIKASI SEPERTI
PENDARAHAN REKTUM DAN DIVERTIKULITIS.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Ba ENEMA
- KOLONOSKOPI

PENATALAKSANAAN :
 KONSERVATIF : INTRA ARTERIAL INFUS VASOPRESIN 0,2-0,5 U/mnt
SELAMA 6-12 JAM
 OPERATIF; RESEKSI SEGMENTAL KOLON + PROKSIMAL KOLOSTOMI
GAMBARAN RADIOLOGI DIVERTIKULOSIS
HAEMORROID/ PILE
( AMBEIEN / WASIR )
Anatomi anorektal
Vaskular ada 2 plexus
1. Haemorroidalis superior : bermuara ke v. mesenterika inferior, v.
portal hepatika
2. Haemorroidalis inferior : bermuara ke v. pudenda, v. cava inferior
- Scr normal plexus ini pd sebgn orang dapat mengalami pelebaran
(venektase) terutama pd jam 7, 3 dan 11
- Haemorroid : merupakan venektase dr plexus H. superior dan
plexus H. inferior
- Venektase H. superior : haemorroid interna
- Venektase H. inferior : haemorroid eksterna
Haemorroid eksternus
1. Letaknya distal dr linea pectinea
2. Diliputi oleh kulit biasa

Ada 3 bentuk yg sering dijumpai


a. Haemorroid biasa
b. Bentuk trombosis atau benjolan haemorroid yg terjepit
c. Bentuk skin tags

Haemorroid internus
1. Letaknya proksimal dr linea pectinea
2. Diliputi oleh lapisan epitel mukosa
3. Oleh Miles : pd posisi litotomi paling banyak dijumpai pd jam 3, 7 dan 11 (three
primary haemorrhoidal areas)
Penyebab

1. Primary haemorroid : idiopatik

2. Secondary haemorroid : merupakan komplikasi dr peny lain :

- Cirrhosis hepatis : pengerasan jaringan hati shgg tjd hipertensi


portal

- Adanya trombus pd v. porta

- Ca rekti
Predisposisi

1. Faktor herediter : kelemahan / tipis dr dinding vena tsb

2. Gangguan hormonal : terutam ok ketidakseimbangan hormon


estrogen dan progesteron

3. Tekanan intra abdominal yg meninggi & bersifat kronis mis : BAB yg


mengedan ok konstipasi, batuk yg kronis, ascites, tekanan yg
meninggi pd rongga pelvik pd wanita hamil, penderita BPH
4. Sehubungan dgn pekerjaan : tu org yg byk berdiri mis : polisi, guru,
dokter bedah, duduk lama, angkat berat

5. Radang : vitalitas di daerah anus berkurang

6. Kelemahan dari otot2 dan fascia di daerah anus


Gejala klinis

1. BAB campur darah merah segar, tdk bercampur dgn feces


melainkan berada pd permukaan feces, kadang2 darah dapat
menetes

2. Dapat teraba benjolan pd wkt BAB atau sesudah BAB

3. Pruritus ani : daerah anus senantiasa gatal

4. Adanya anal discharge : cairan yg berkumpul disekitar anus


sehingga menimbulkan plak pada pakaian dalam

5. Anemia : terutama pd wanita hamil


Stadium Haemorroid

 Grade I : di daerah dubur/anus tdk dijumpai benjolan, keluhan


hanya BAB campur darah

 Grade II : benjolan keluar pd waktu BAB, selesai BAB dpt msk


sendiri

 Grade III : benjolan keluar pd wkt BAB, selesai BAB harus direposisi
dgn jari-jari tangan

 Grade IV : benjolan sama sekali tdk dpt dimskkan kembali


Pemeriksaan

1. Penderita dalam posisi litotomi

2. Inspeksi daerah perianal

3. Colok dubur / rektal toucher /DRE (digital rectal axamination)

4. Anuskopi : dpt melihat warna selaput lendir yg merah meradang,


perdarahan, banyaknya benjolan, letaknya, besarnya
Diagnosa banding

- Polip

- Fissura ani

- Proktitis

- Abses

- Neoplasma
Penatalaksanaan

Sangat tergantung pd grade penyakit

- Grade I & II dapat diterapi secara konservatif

- Grade III & IV harus melalui tindakan pembedahan dgn melakukan


pengangkatan haemorroidnya (haemorroidektomi)

- Pada grade IV ok telah terjadi tromboflebitis sebelum dilakukan


operasi harus terlebih dahulu diturunkan menjadi grade III dgn
tindakan tertentu
Pengobatan konservatif

1. Pengaturan diet : banyak mengkonsumsi makanan berserat

2. BAB secara teratur setiap pagi

3. Harus banyak minum

4. Medikamentosa

− sistemik : obat2 yg bekerja sbg plebodinamik mis : flavonoid

(Ardium)

− lokal : suppositoria terutama yg dapat menciutkan permukaan


mukosa mis : bismuth, laxansia, obat2 yg mengandung anastesi
lokal, kortikosteroid
Tindakan khusus

1. Melakukan skleroterapi : phenol 5%, sodium morrhuate, menyuntikkan


bahan kimia. Sklerosis pd daerah submukosa sdh banyak ditinggalkan

2. Rubber ligation band / Barron’s Gun : mengikat pangkal benjolan sehingga


terjadi nekrosis & mutilasi / lepas sendiri

3. Cryo surgery : mendinginkan benjolan pd suhu dan wkt tertentu sehingga


akan mengalami nekrosis

4. Laser surgery

5. Stapler

6. HAL (Haemorroid Arteri Ligation)