Anda di halaman 1dari 22

SIKAP PERAWAT YANG

MENFASILITASI
KOMUNIKASI
TERAPEUTIK

FIKI WIJAYANTI, M.Kep


komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk
membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan
belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain

Komunikasi terapeutik juga merupakan salah satu instrumen bagi seorang perawat
dalam menjalankan perannya sebagai komunikator. Peran perawat sebagai
communicator akan tampak bila perawat bertindak sebagai mediator antara klien
dengan anggota tim kesehatan lainnya. Peran ini berkaitan erat dengan keberadaan
perawat mendampingi klien sebagai pemberi asuhan keperawatan selama 24 jam.
Prinsip Komunikasi Terapeutik
komunikasi terapeutik dalam keperawatan mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Melihat permasalahan dari sudut pandang pasien
Untuk dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi pasien, perawat harus
memandang masalah tersebu dari sudut pandang klien. Perawat hendaknya
mendengarkan secara aktif dan sabar apa yang dikomunikasikan oleh pasien, sehingga
perawat menyimak keseluruhan masalah dan dapat merumuskan diagnosa yang sesuai
dengan masalah klien dengan baik. Karna diagnose yang salah, bukannya
memperbaiki, malah akan bisa merusak pasien.

2. Tidak mudah dipengaruhi masa lalu pasien dan masalalu perawat sendiri
Seseorang tidak akan mampu berbuat yang terbaik saat ini, jika dia masih dihantui oleh
penyesalan masa lalunya. Perawat yang memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan
dalam hidupnya, akan sulit untuk dapat membantu pasien, sebelum dia sendiri
menyelesaikan masalah pribadinya tersebut.
3. Empati bukan simpati
dengan sikap empati, perawat akan mampu merasakan dan memikirkan masalah yang
dialami pasien dari sudut pandang klien. Namun perawat tidak larut dalam masalah tersebut,
sehingga dapat melihat masalah secara objektif dan dapat memberikan alternatif pemecahan
masalah.

4. Menerima apa adanya


Penerimaan yang tulus dari perawat akan membuat pasien merasa aman dan nyaman,
sehingga hubungan terapeutik dapat berjalan dengan baik. Perawat hendaknya tidak
memberikan penilaian atau kritik terhadap pasien, karna itu menunjukkan bahwa perawat
tidak menerima pasien apa adanya.
Sikap Dalam Komunikasi
Menurut Egan ; menyampaikan sikap komunikasi merupakan sesuatu apa yang
harus dilakukan dalam komunikasi baik secara verbal m/p non verbal.

Sikap secara fisik


1. Sikap berhadapan
Bentuk sikap dimana sesorg lgs bertatap muka atau berhdp lgs dgn anak (
Komunikator siap utk berkomunikasi).

2. Sikap mempertahankan kontak


Bertujuan menghargai klien dan mengatakan
adanya keinginan untuk tetap berkomunikasi dgn cara selalu
memperhatikan apa yg diinformasikan atau disampaikandgn tidak
melakukan kegiatan yg dapat mengalihkan perhatian dgn lainnya.
3. Sikap membungkuk kearah pasien
Menunjukkan keinginan utk mengatakan atau mendengar
sesuatu dgn cara membungkuk sedikit kearah klien.

4.Sikap terbuka
Bentuk sikap dgn memberikan posisi kaki tidak melipat,tangan
menunjukkan keterbukaan

5. Sikap tetap relaks


Menunjukkan adanya keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dlm
memberi respons pada klien selama komunikasi.
Sikap Komunikasi Terapeutik dalam dimensi respon
1. Sikap kesejatian
Menghindari membuka diri yg terlalu dini sampai dgn
anak menunjukkan kesiapan utk berespon positif
terhadap keterbukaan, sikap kepercayaan kita pada anak.

2. Sikap empati
Bentuk sikap dgn cara menempatkan diri kita pada posisi
anak dan org tua.
3. Sikap hormat
Bentuk sikap yang menunjukkan adanya suatu kepedulian/perhatian, rasa suka dan menghargai
klien.
contoh : senyum pada saat yg tepat, melakukan jabat tangan atau sentuhan yang lembut dgn
seizin komunikan.

4. Sikap Konkret
Bentuk sikap dengan menggunakan terminologi yg spesifik dan bukan abstrak pada saat kom dgn
klien ,
contoh : gambar, mainan, dll.
STATUS HUBUNGAN
PERAWAT :
PEMBERI ALTERNATIF INFORMASI DAN ALTERNATIF PEMECAHAN
MASALAH

KLIEN :
MENERIMA INFORMASI DAN MEMBUTUHKAN BANTUAN

Hbngan Terapeutik Perawat Klien Sri Endang Windiarti, SKp, Ners


Tehnik Komunikasi Terapeutik
Mendengar Aktif
• Konsentrasi aktif dan persepsi terhadap pesan orang lain yang menggunakan semua
indra.

Mendengar Pasif
• Kegiatan mendengar dengan kegiatan non verbal untuk klien. Misalnya “uh huuh”,
‘mmhumm”, “yeah”.

Penerimaan
• Mendukung &menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan
ketertarikan dan tidak menilai. Bukan berarti setuju tapi sedia mendengar

Klarifikasi atau Validasi


• Menanyakan pd klien apa yg tidak dimengerti terhadap situasi yang ada.

Focusing
• Kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area diskusi sehingga
percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti
10
Lanjutan...
Observasi
• Kegiatan mengamati klien, kegiatan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga klien
tidak menjadi malu atau marah.
Menawarkan Informasi
• Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih
lanjut.
Diam (memelihara ketenangan)
• Tujuan mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa
bidan bersedia untuk menunggu respon.
Assertive
• Kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan
perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain.
Menyimpulkan
• Membawa poin2 penting dari diskusi untuk meningkatkan pemahaman
• Memberi kesempatan untuk mengklarifikasi komunikasi agar sama dengan ide
dalam pikiran
11
Giving Recognation (memberi Pengakuan/Penghargaan)
• Memberi penghargaan merupakan tehnik untuk memberikan pengakuan dan menandakan
kesadaran). Misalnya, Bidan : “Saya melihat anda sudah bisa memakai baju dengan rapi hari ini”,
“Saya melihat anda tampak segar dan bersih hari ini”.

Offering Self (Menawarkan diri)


• Menyediakan diri tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan. Misalnya,
Bidan : “Aku akan duduk menemanimu selama 15 menit.”

Offering General Leads (Memberi Petunjuk Umum)


• Mendukung klien untuk meneruskan (Misalnya: “Dan kemudian?”, “Teruskan…”.

Giving broad opening (memberi pertanyaan terbuka)


• Memberikan inisiatif pada klien, mendorong klien untuk menyeleksi topik yang akan
dibicarakan. Misalnya : “Darimana anda akan mulai?”Apa yang anda pikirkan pagi ini?”.

Placing the time in time (menempatkan urutan/waktu)


• Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dengan
kejadian lain). Misalnya : “Hal itu terjadi sebelum atau sesudah?…Apa yang terjadi
sebelumnya?”.
12
Lanjutan...
Giving Recognation (memberi Pengakuan/Penghargaan)
• Memberi penghargaan merupakan tehnik untuk memberikan pengakuan dan menandakan
kesadaran). Misalnya, Bidan : “Saya melihat anda sudah bisa memakai baju dengan rapi
hari ini”, “Saya melihat anda tampak segar dan bersih hari ini”.

Offering Self (Menawarkan diri)


• Menyediakan diri tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan .
Misalnya, Bidan : “Aku akan duduk menemanimu selama 15 menit.”

Offering General Leads (Memberi Petunjuk Umum)


• Mendukung klien untuk meneruskan Misalnya: “Dan kemudian?”, “Teruskan…”.
Giving broad opening (memberi pertanyaan terbuka)
• Memberikan inisiatif pada klien, mendorong klien untuk menyeleksi topik yang
akan dibicarakan. Misalnya : “Darimana anda akan mulai?”Apa yang anda
pikirkan pagi ini?”.
Placing the time in time (menempatkan urutan/waktu)
• Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian
dengan kejadian lain Misalnya : “Hal itu terjadi sebelum atau sesudah?…Apa
yang terjadi sebelumnya?”. 13
Usaha mempertahankan kestabilan yg
dinamis antara perawat & klien
Terapis mengerti apa yang dirasakan oleh
pasien dapat menimbulkan kepuasan
tersendiri oleh pasien

Keyakinan & kepercayaan pasien dapat


momotivasi pasien untuk sembuh karena
pasien tidak ragu-ragu krn dipenuhi sikap
penerimaan, konsistensi, empati, dan
penghargaan positif dari terapis

Pasien harus merasakan kepekaan,


perhatian, dan kepedulian terapis terhadap
pasien sebagai individu.
14
Berikut ini adalah beberapa macam karakteristik dari komunikasi terapeutik.
1.Ikhlas (Genuiness)
Keikhlasan adalah karakteristik pertama yang bisa terlihat dari proses komunikasi teraupeutik.
Seorang perawat harus mampu menunjukkan sikap keikhlasan yang bisa dirasakan oleh pasien,
sehingga komunikasi yang dilakukan memiliki makna. Ini merupakan modal awal dalam menjalin
komunikasi kepada klien. Keikhlasan juga bisa mencegah timbulnya hambatan-hambatan
komunikasi tertentu.
2. Kehangatan
Suasana hangat dan permisif merupakan karakteristik yang bisa terlihat dari terjalinnya suatu
komunikasi terapeutik. Klien memiliki kebebasan untuk mengungkapkan cerita dan pendapatnya
tanpa ada batasan-batasan tertentu. Hal ini merupakan sesuatu yang menjadikan komunikasi ini
bisa menjadi salah satu bagian dari “terapi” untuk mendorong kesembuhan klien.
4.Jujur
Karakteristik lain yang bisa muncul yaitu nilai kejujuran dalam komunikasi tersebut. Kejujuran,
sebagaimana dijelaskan pada poin tentang empati memiliki makna yang menarik, karena seorang
perawat harus bisa membangun kejujuran di dalamnya. Tentu saja ini juga memungkinkan sikap
terbuka dari klien, yang membuat tujuan dari komunikasi terapeutik ini tercapai. Apalagi di
15
dalamnya juga melibatkan sistem komunikasi interpersonal.
5.Altruistik
Selain jujur, perawat juga harus bisa menerapkan altruisme di dalam komunikasi terapeutik.
Sifat altruisme adalah kepuasan ketika menolong orang lain. Pemahaman ini tentu menjadi
dasar, bahwa pada dasarnya komunikasi terapeutik bisa dilakukan apabila ada rasa puas dari
perawat manakala ia bisa menolong pasien.
6.Menggunakan etika
Etika komunikasi merupakan bagian yang juga penting dari komunikasi terapeutik. Ini menjadi
sebuah karakteristik yang khas dari tipe komunikasi. Memperhatikan etika dalam
berkomunikasi bisa menjadi strategi yang tepat untuk membina hubungan saling percaya. Tentu
saja ini merupakan salah satu hal yang bisa menjadi modal awal untuk berkomunikasi dengan
klien.
7.Bertanggung jawab
Selain menggunakan etika, sikap bertanggung jawab juga menjadi karakteristik komunikasi yang
sifatnya terapeutik. Ada tujuan yang ingin dicapai dari komunikasi ini, sehingga tanggung jawab
menjadi unsur yang penting. Ini bisa membangun cara berkomunikasi dengan baik. Tentu saja
ini berarti segala macam pesan yang akan disampaikan menjadi sebuah tanggung jawab
tersendiri, baik pesan yang disampaikan oleh perawat kepada klien atau pun sebaliknya.
16
TAHAPAN
HUBUNGAN TERAPEUTIK

• Tahap Prainteraksi
• Tahap Orientasi
• Tahap Kerja
• Tahap Terminasi

Hbngan Terapeutik Perawat Klien Sri Endang Windiarti, SKp, Ners


a. Tahap Persiapan (Prainteraksi)
Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan
klien (Christina, dkk, 2002). Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan
mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini perawat juga mencari
informasi tentang klien.

Tugas perawat pada tahap ini antara lain:


1. Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan. Sebelum berinteraksi dengan
klien, perawat perlu mengkaji perasaannya sendiri
2. Menganalisis kekuatan dan kelemanhan sendiri. Kegiatan ini sangat penting dilakukan
agar perawat mampu mengatasi kelemahannya secara maksimal pada saat
berinteraksi dengan klien.
3. Mengumpulkan data tentang klien. Kegiatan ini juga sangat penting karena dengan
mengetahui informasi tentang klien perawat bisa memahami klien.
4. Merencanakan pertemuan yang pertama dengan klien. Perawat perlu merencanakan
pertemuan pertama dengan klien.

18
b. Tahap Perkenalan
Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak
dengan klien (Christina, dkk, 2002).Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan
dirinya terlebih dahulu kepada klien. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah
bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka
dirinya.
Tugas perawat pada tahap ini antara lain:
1. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan, dan komunikasi terbuka.
2. Merumuskan kontrak pada klien
Kontrak ini sangat penting untuk menjamin kelangsungan sebuah interaksi.
3. Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien. Pada tahap ini
perawat mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
4. Merumuskan tujuan dengan klien. Perawat perlu merumuskan tujuan interaksi bersama
klien karena tanpa keterlibatan klien

19
Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi
terapeutik. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi
masalah yang dihadapi klien.Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam
mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya.Perawat juga dituntut untuk
mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam
respons verbal maupun nonverbal klien.
Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap
kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Melalui active listening, perawat
membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi, bagaimana cara mengatasi
masalahnya, dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih.

20
Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien.Tahap ini dibagi
dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir
Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawatklien, setelah terminasi sementara,
perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. Sedangkan
Terminasi/ tahap akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara
keseluruhan.
Tugas perawat pada tahap ini antara lain:
1. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan. Evaluasi ini juga disebut
evaluasi objektif. Dalam mengevaluasi, perawat tidak boleh terkesan menguji kemampuan klien,
akan tetapi sebaiknya terkesan sekedar mengulang atau menyimpulkan.
2. Melakukan evaluasi subjektif. Evaluasi subjektif dilakukan dengan menanyakan perasaan klien
setelah berinteraksi dengan perawat.
3. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan
4. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya. Kontrak ini penting dibuat 21agar terdapat
kesepakatan antara perawat dan klien untuk pertemuan berikutnya.
22