Anda di halaman 1dari 52

 Rinitis akut merupakan infeksi saluran napas atas terutama

hidung, umumnya disebabkan oleh virus.


 Penyebab tersering adalah rhinovirus, RSV, virus influenza,
virus parainfluenza, dan adenovirus.
 Hidung buntu
 Sekret hidung
 Bersin
 Demam
Penularan melalui inhalasi
aerosol, deposisi droplet, kontak
tangan yang mengandung
sekret

Respon imun terhadap infeksi


virus

Mukosa hidung mengalami vasodilatasi


dan peningkatan permeabilitas kapiler :
hidung tersumbat dan sekret hidung

Stimulasi kolinergik : peningkatan


sekresi kelenjar mukosa dan
bersin
 Selaput lendir kering, merah, dan bengkak, yang
menyebabkan sumbatan pada hidung dan sulit bernafas;
kondisi ini segera diikuti oleh serous atau pengeluaran mucus
serous
 Tidak ada terapi spesifik untuk rhinitis akut, selain istirahat
dan pemberian obat-obat simtomatik, seperti analgetika,
antipiretika dan obat dekongestan.
 Rinitis kronis adalah adalah suatu
peradangan kronis pada membran
mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang
berulang, karena alergi atau karena rinitis
vasomotor.
 Rinitis kronis dibagi dalam beberapa
macam yaitu rinitis hipertrofi, rinitis sika dan
rinitis spesifik (rinitis atrofi, rinitis difteri, rinitis
jamur, rinitis tuberkulosa, rinitis sifilis,
rinoskleroma, myasis hidung).
 Hipertrofi: perubahan mukosa hidung
pada konka inferior yang mengalami
hipertrofi karena proses inflamasi kronis
yang disebabkan oleh infeksi bakteri
primer atau sekunder. Dapat juga karena
lanjutan dari rinitis alergi atau vasomotor.
 Sumbatan hidung atau gejalan diluar
hidung seperti mulut kering, nyeri kepala,
dan gangguan tidur
 Sekret biasanya banyak dan mukopurulen
 Konka hipertrofi, permukaan berbenjol –
benjol
 Pasase udara dalam rongga hidung
sempit
 Sekret mukopurulen di antara konka
inferior dan septum serta di dasar rongga
hidung
 Simptomatis,: untuk mengurangi sumbatan
hidung akibat hipertrofi konka dapat
dilakukan kaustik konka dengan zat kimia
(nitras argenti atau trikloroasetat) atau
dengan elektrokauter
 Konkoplasti
 Bila perlu konkotomi parsial
 Etiologi
Biasanya ditemukan pada orang tua dan
pada orang yang bekerja dilingkungan
yang berdebu, panas, kering,. Juga pada
pasien dengan anemia,peminum alkohol
dan gizi buruk.
 Mukosa hidung kering
 Krusta biasanya sedikit atau tidak ada
 Adanya rasa iritasi atau rasa kering di
hidung
 Kadang – kadang disertai dengan
epistaksis
 Pengobatan tergantung dengan
penyebabnya. Dapat diberikan obat cuci
hidung.
RINITIS ALERGI
DEFINISI
• Penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensititasi
dengan alergen yang sama setelah dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan
alergen spesifik tersebut (Von pirquet)

• Kelainan pada hidung dengan gejala bersin – bersin, rinore,


rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar
alergen yang diperantarai oleh IgE (WHO)
1. Alergen inhalan
2. Alergen ingestan
3. Alergen injektan
4. Alergen kontaktan
Berdasarkan sifat berlangsungnya

• Intermiten (kadang-kadang)
• Persisten (menetap)

Berdasarkan tingkatan

• Ringan
• Sedang-berat
Serangan bersin berulang
Rinore encer & banyak
Hidung tersumbat
Hidung dan mata gatal kadang
disertai lakrimasi
Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali
dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi
/ reaksi alergi.

Reaksi alergi terdiri dari 2 fase:


- Fase cepat  berlangsung sejak kontak sampai 1 jam
- Fase lambat  berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8jam
setelah pemaparan dan dapat berlangsung selama 24-48
jam
Kontak pertama dengan alergen (tahap sensitisasi)

Makrofag / monosit berperan sebagai APC , menangkap alergen yg


menempel di permukaan mukosa hidung

Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen peptida dan bergabung


dengan HLA II

Membentuk MHC II yang kemudian dipresentasi pada sel Th 0

Kemudian APC melepaskan sitokon seperti IL-1

mengaktifkan Th 0 menjadi Th1 dan Th2

Th2 melepaskan berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5 dan IL-13)

IL 4 dan IL 13 diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B

Limfosit B menjadi aktif, memproduksi IgE


IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di
permukaan sel mastosit atau basofil

Sehingga kedua sel tsb menjadi aktif


(PROSES SENSITISASI, menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi)

Bila mukosa yg sudah tersensitisasi terpapar dengan alergen yg sama

Kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik

Terjadi degranulasi sel matosit dan basofil

Terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk terutama histamin,


selain itu; PGD2, Leukotrien, bradikinin, PAF dan berbagai sitokin (IL3,
IL4, IL5, IL6, GM-CSF)

REAKSI ALERGI FASE CEPAT (RAFC)


Histamin

Merangsang Hipersekresi sel goblet Permeabilitas Vasodilata


reseptor dan kelenjar mukosa kapiler meningkat si sinusoid
H1 pada ujung saraf
vidianus di mukosa
hidung
Hidung
Rasa gatal dan rhinorrea
tersumbat
bersin

Gejala berlanjut dan mencapai puncak


REAKSI ALERGI FASE
6-8 LAMBAT
jam (RAFL)

Ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi (eosinofil,


limfosit, neutrofil, basofil, dan mastofit di mukosa hidung, serta
peningkatan sitokin seperti IL3, IL4, IL5 dan GM-CSF dan ICAM 1 pada
sekret hidung)

Gejala hipereaktif dan hiperresponsif hidung (peranan eosinofil)


Rinoskopi anterior
 Mukosa edema, basah, warna pucat/livid, sekret
encer yang banyak.
 Pada gejala persisten, mukosa inferior tampak
hipertrofi.

Gejala spesifik lain pada anak :


› Allergic shiner
› Allergic salute
› Allergic crease
› Facies adenoid
› Cobblestone appearance
› Geographic tongue
 Invitro : Hitung eosinofil, IgE total, Sitologi hidung, IgE
spesifik dengan RAST atau ELISA
 Invivo :
› SET (Skin end point titration/SET)
› IPDFT (intracutaneus provocative dilutional food
test)
› ‘Challenge test’
Menghindari kontak dengan alergen penyebabnya

Medikamentosa
• AH1
• Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa sebagai
dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin
• Kortikosteroid topikal (beklometason, budesonid, flunisolid, flutikason,
triamsinolon)
• Preparat antikolinergik topikal : ipratropium bromida
• Antileukotrien, anti IgE

Operatif

Imunoterapi
RINITIS VASOMOTOR
• Suatu keadaan idiopatik yang
didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi,
Definisi eosinofilia, perubahan hormonal dan
pajanan obat

• Rinitis vasomotor disebut juga :


vasomotor catarrh, vasomotor rinorrhea,
nasal vasomotor instability, non-allergic
perennial rhinitis
Serabut Simpatis hidung

Asal : korda spinalis Th 1-2

menginervasi pemb darah mukosa dan sebagian


kelenjar

Melepas ko-transmitter noradrenalin dan neuropeptida Y

Yang menyebabkan vasokonstriksi dan penurunan sekresi


hidung
Serabut Parasimpatis

Asal : nukleus salivatori superior menuju ganglion


sfenopalatina membentuk n. Vidianus

menginervasi PD mukosa dan kelenjar eksokrin

Pada rangsangan akan terjadi pelepasan ko-transmitter


asetilkolin dan vasoaktif intestinal peptida

Menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan sekresi


hidung

Kongesti hidung
Disfungsi Hidung

Peningkatan rangsangan serat


saraf serabut C di hidung
Peningkatan pelepasan
neuropeptida : subtances P dan
calcintonin gene related protein

Peningkatan permeabilitas
vaskular dan sekresi kelenjar

Hiperreaktifitas hidung
Kadar NO yang tinggi dan persisten di lapisan epitel hidung

Menyebabkan terjadinya kerusakan atau nekrosis epitel

Sehingga rangsangan nonspesifik berinteraksi langsung ke


lapisan subepitel

Terjadi peningkatan reaktivitas serabut trigeminal dan


recruitment refleks vaskular dan kelenjar mukosa hidung
Merupakan komplikasi jangka panjang dari trauma hidung
melalui mekanisme neurogenik dan atau neuropeptida
 Hidung tersumbat, bergantian, kiri dan kanan
 Rinore mukus / serous kadang agak banyak
 Bersin
 Tidak terdapat rasa gatal di mata
 Gejala memburuk pada pagi
 Rinoskopi anterior :
› gambaran khas edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau
merah tua, tetapi dapat pula pucat
› Permukaan konka berbenjol benjol atau dapat pula licin
› Sekret mukoid sedikit

 Pemeriksaan Laboratorium
› Eosinofil pada sekret hidung sedikit
› Tes kulit biasanya negatif
› Kadar IgE spesifik tidak meningkat
 Menghindari stimulus/faktor pencetus
 Pengobatan Simtomatis
› Obat dekongestan oral,
› Cuci hidung dengan larutan garam fisiologis
› Kauterisasi konka hipertrofi dgn larutan AgNO3 25% atau
triklr asetat pekat
› Kortikosteroid topikal 100-200 mikrogram
› Antikolinergik topikal (ipatropium bromida)  rinore berat
 Operasi : bedah beku, elektrokauter, atau konkotomi
parsial konka inferior
 Neuroktomi nervus vidianus
Rinitis Alergi Rinitis Vasomotor
Definisi Penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi Suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensititasi tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia,
dengan alergen yang sama setelah dilepaskannya suatu perubahan hormonal dan pajanan obat
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan
alergen spesifik tersebut

Etiologi Reaksi alergi Ag-Ab terhadap rangsangan spesifik. Reaksi neovaskuler terhadap beberapa
rangsang mekanis atau kimia, juga factor
psikologis.

Gejala
-gatal dan bersin + -
-gatal di mata + -
-sekret hidung Serous, banyak dan encer Mukoid dan sedikit
-hidung tersumbat Menetap/bergantian Bergantian kanan kiri
Tanda
-konka Pucat/livid Merah gelap
Pemeriksaan penunjang
-IgE darah Meningkat Normal
-eosinofil darah Meningkat Normal
-tes kulit + -
EPISTAKSIS
Definisi
• Perdarahan dari hidung, seringkali merupakan gejala atau
manifestasi penyakit lain
Kelainan lokal : Kelainan sistemik :

• trauma • peny. kardiovaskular


• kelainan p.darah • kelainan darah
• infeksi lokal • infeksi sistemik
• benda asing • perubahan tekanan
• tumor atmosfer
• pengaruh udara • kelainan hormonal
lingkungan • kelainan kongenital
Epistaksis Anterior Epistaksis Posterior

pleksus Kiesselbach atau a. Sfenopalatina &


dari a.etmoidalis anterior a.etmoidalis posterior

perdarahan tidak begitu Perdarahan biasanya


hebat, sering berhenti hebat & jarang berhenti
spontan spontan

sering terjadi pada anak biasanya pada orang tua


Perbaiki keadaan umum

Cari sumber perdarahan

Hentikan perdarahan

Cari faktor penyebab untuk mencegah perdahan


berulang
Pasien diperiksan dalam posisi
duduk, biarkan darah mengalir
Alat yg diperlukan untuk keluar dari hidung sehinga bisa
dimonitor. Jika keadaannya
pemeriksaan : headlamp, lemah, posisi setengah duduk
spekulum hidung, alat atau berbaring , kepala
penghisap. ditinggikn. Jgn sampai darh
mengalir ke saluran nafas
bawah.

Pasien anak duduk


dipangku, badan dan
tangan dipeluk, kepala
dipegangi agar tegak dan
tidak bergerak-gerak.
Sumber perdarahan dicari untuk membersihkan
hidung dari darah dan bekuan darah dengan
bantuan alat penghisap.

Kemudian dipasang tampon sementara (kapas


dibasahi adrenalin 1/5000-1/10.000 dan pantocain
atau lidocain 2% dimasukkan ke rongga hidung
untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi
nyeri saat dilakukan tindakan selanjutnya.

Tampon dibiarkan 10-15 menit. Setelah terjadi


vasokonstriksi biasanya dapat dilihat apakah
perdarahan berasal dari bagian anterior atau
posterior hidung.
Perdarahan Perdarahan
Anterior Posterior
•Menekan hidung •Tampon posterior
luar selama 10-15 yang disebut
menit tampon Bellocq
•Perdarahan
dikaustik AgNO3
25-30%
•Tampon Anterior
 Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari epistaksis sendiri
atau sebagai akibat usaha penanggulangan epistaksis.
 Sebagai akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi syok dan
anemia. Turunnya tekanan darah mendadak dapat menimbulkan
iskemia serebri, insufisiensi koroner dan infark miokard, sehingga dapat
menyebabkan kematian. Dalam hal ini pemberian infus atau transfusi
darah harus dilakukan secepatnya.
 Pemasangan tampon dapat menyebabkan sinusitis, otitis media dan
bahkan septikemia. Oleh karena itu antibiotik haruslah selalu diberikan
pada setiap pemasangan tampon hidung, dan setelah 2-3 hari tampon
harus dicabut, meskipun akan dipasang tampon baru, bila masih ada
perdarahan.
 Selain itu dapat juga terjadi hemotimpanum, sebagai akibat
mengalirnya darah melalui tuba Eustachius, dan air mata yang
berdarah (bloody tears), sebagai akbat mengalirnya darah secara
retrograde melalui duktus nasolakrimalis.
 Laserasi palatum mole dan sudut bibir terjadi pada pemasangan
tampon posterior, disebabkan oleh benang yang keluar melalui mulut
terlalu ketat dilakatkan di pipi.