Anda di halaman 1dari 40

MANAJEMEN PENYAKIT BERBASIS

WILAYAH PERUNTUKAN : PESISIR

WILAYAH ADAT BOMBERAI

Oleh: Natalia P. Adimuntja


1.Wilayah Adat Bomberai
2.Wilayah Pesisir
3.Masalah kesehatan di wilayah pesisir
4.Menganalisis manajemen kesehatan (wilayah) pesisir
5.Manajemen faktor risiko kesehatan di wilayah pesisir
6.Peran profesi kesehatan dan partisipasi masyarakat
• Kota sorong - Sorong Selatan
• Maybrat -Tambrauw
• Manokwari - Raja Ampat
• Bintuni -Manokwari
Selatan
• Pegunungan Arfak
Budaya Wilayah Adat Bomberai
a) Budaya Arfak-Manikion,
b) Budaya Raja Ampat,
c) Budaya Toror,
d) Budaya Ogit Inansawatar, budaya Onim-Fatagar, dan
Budaya Etna Arguni.
Topografi wilayah : Pesisir

• Wilayah pesisir  wilayah pertemuan antara daratan


dan laut.
• ke arah darat meliputi bagian daratan yang masih
dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut,
angin laut dan intrusi garam.
• ke arah laut mencakup bagian laut yang masih
dipengaruhi oleh proses alami yang ada di darat seperti
sedimentasi dan aliran air tawar serta daerah yang
dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan.
WILAYAH PESISIR

• Ekosistem yang mudah terkena dampak


kegiatan manusia  pembangunan secara
langsung maupun tidak langsung berdampak
merugikan terhadap ekosistem perairan
pesisir (Dahuri, Rais, Ginting dan Sitepu,
1996).
WILAYAH PESISIR

• Kondisilaut yang demikian luas dengan sumber daya laut


yang berlimpah seharusnya mampu membawa masyarakat
pesisir hidup makmur dan sejahtera, namun sebaliknya
masyarakat pesisir kurang berkembang dan terus dalam
posisi marjinal (Satria,2015:1 dalam Ari atu dewi, 2018:173).
• Masalah kesehatan di wilayah pesisir juga kompleks 
lingkungan (terkait dengan limbah & kepadatan penduduk),
perilaku dan sosial-ekonomi.
1) Lingkungan (trekait limbah dan kepadatan penduduk)
• Masalah kesehatan lingkungan yang paling utama di daerah pesisir yaitu
bahwa adanya pembuangan air limbah rumah tangga ke sungai-sungai. Hal
ini menyebabkan tercemarnya air sungai dan air laut di daerah pesisir,
sehingga diduga menyebabkan gangguan lingkungan seperti mengganggu
jaring makanan pada ekosistem sungai dan pesisir. Tercemarnya
lingkungan pesisir dengan limbah rumah tangga. Hal ini bisa terjadi karena
berdasarkan hasil observasi awal, terlihat banyaknya limbah rumah tangga
seperti sisa air cucian, kotoran hewan, kotoran manusia dan lainnya di air
sungai, tanah, perairan pesisir dan daerah perumahan. Beberapa bakteri
yang bisa menjadi indikator pencemaran yaitu kelompok bakteri Koliform.
• Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Hal ini menyebabkan daya
dukung lingkungan terhadap kehidupan masyarakat menjadi berkurang,
seperti ketersediaan air bersih, udara berkualitas, dan lainnya. Padatnya
penduduk juga menyebabkan penularan penyakit berbasis lingkungan
lebih cepat dan luas.
2) Determinan perilaku
• Rendahnya perilaku masyarakat terkait dengan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) berdasarkan pada indikator output yaitu:
a) Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana
sanitasi dasar (jamban).
b) Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan
makanan yang aman di rumah tangga.
c) Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu
komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, Puskesmas, pasar,
terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan),
sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.
d) Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
e) Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.
3) Determinan sosial-ekonomi.
Salah satu indikator dalam determinan sosial yaitu tingkat
pendapatan. Tingkat pendapatan menentukan pada tinggi rendahnya
tingkat kemiskinan. Tingginya jumlah keluarga miskin. Kemiskinan
juga menjadi salah satu masalah di daerah pesisir. Beberapa
kepustakaan menyebutkan bahwa penilaian status kesehatan
masyarakat salah satunya dinilai dari tingkat pendapatan. Hal ini
disebabkan karena dengan tingginya tingkat pendapatan maka akses
terhadap layanan kesehatan yang prima akan mudah diperoleh. Selain
itu, tingginya pendapatan dapat membuat masyarakat memodifikasi
lingkungan rumah dan sekitarnya (termasuk jamban dan sumur)
sehingga sesuai dengan syarat yang ditentukan.
• Determinan sosial-ekonomi kesehatan merupakan kondisi-kondisi sosial
dan ekonomi yang melatari kehidupan seorang, yang mempengaruhi
kesehatan. Cabang epidemiologi yang mempelajari hal ini yaitu
epidemiologi sosial.
• Epidemiologi sosial mempelajari karakteristik spesifik dari kondisi-kondisi
sosial dan mekanisme dari kondisi-kondisi sosial itu dalam mempengaruhi
kesehatan. Epidemiologi sosial mempelajari peran variabel di tingkat
individu, misalnya, gender, umur, pendidikan, pekerjaan, kelas sosial, status
sosial, posisi dalam hirarki sosial. Selain itu, epidemiologi sosial juga
mempelajari peran variabel-variabel sosial, seperti kondisi kerja,
pendapatan absolut wilayah, distribusi pendapatan, kesenjangan
pendapatan, perumahan, ketersediaan pangan, isolasi sosial, kebijakan
kesehatan tentang penyediaan pelayanan kesehatan (misalnya, akses
universal terhadap pelayanan kesehatan), dan pembiayaan pelayanan
kesehatan (Murti, 2010 dalam Sumampouw, 2015:11).
WILAYAH PESISIR

• terumbu karang (coral reefs), hutan mangrove,


Ekosistem padang lamun (sea grass), pantai berpasir
alami (sandy beach), formasi pes-caprea, formasi
baringtonia, estuaria, laguna dan delta

• tambak, sawah pasang surut, kawasan


Ekosistem
pariwisata, kawasan industri, kawasan
buatan (man
agroindustri dan kawasan pemukiman (Dahuri,
made)
Rais, Ginting dan Sitepu, 2004).
WILAYAH PESISIR
Sumber daya alam yang Sedangkan sumber daya
dapat pulih alam yang tidak dapat pulih
Sumber daya perikanan
(plankton, benthos, ikan, minyak dan gas alam, bijih
molusca, crustacea, mamalia besi, pasir, timah, bauksit dan
laut), rumput laut (seaweed), mineral serta bahan tambang
padang lamun, hutan lainnya (Dahuri, Rais, Ginting
mangrove dan terumbu dan Sitepu, 2004).
karang
KOTA SORONG
Dengan luas wilayah daratan dan perairannya sebesar 1.105 Km , sebagian besar
wilayah Kota Sorong merupakan daerah perbukitan.
Penyakit endemis
• Dibutuhkan upaya assessment derajat kesehatan
masyarakat wilayah pesisir yang merupakan wilayah
yang secara administratif jauh pusat kota
memungkinkan terjadinya masalah kesehatan
disebabkan oleh akses dan sarana prasarana tidak
memadai terutama daerah pesisir yang dipisahkan dari
gugusan pulau-pulau kecil.
Permasalahan Spesifik lokal, pada dasarnya
ditentukan oleh

• Berbagai variabel seperti iklim , topografi, serta kondisi


lingkungan spesifik lain.
• Variabel Sosial seperti budaya termasuk perilaku didalamnya.
• Ekosistem dan habitat binatang penular penyakit (yang biasa
berhubungan dengan variabel topografi, iklim dan kondisi
lingkungan setempat).
Langkah-langkah Manajemen Penyakit
Menular Berbasis Wilayah
• Tentukan wilayah administratif, apakah wilayah Puskesmas atau wilayah Kabupaten/Kota
atau Provinsi.
• Tentukan setiap wilayah Kabupaten/Kota, tentukan prioritas penyakit menular atau faktor
risiko berkenaan yang hendak dikendalikan.
• Modelling  Baik faktor risiko maupun penyakit menular hendaknya digambarkan dalam
sebuah model kejadian penyakit atau paradigma dengan mengacu kepada teori simpul dan
dapat dimodifikasi.
• Model gambaran kejadian (Patogenesis) penyakit menular dideskripsikan ke dalam model
manajemen untuk masing-masing simpul dengan rangkaian kegiatan untuk masing-masing
simpul.
Langkah-langkah Manajemen Penyakit
Menular Berbasis Wilayah
• Model teori simpul advance dapat pula dikembangkan ke dalam model manajemen malaria
di wilayah pertambakan.
• Model gambaran kejadian penyakit menular beserta prioritas penanggulangan pada tiap
simpul kemudian diterjemahkan ke dalam proses perencanaan dan pembiayaan terpadu.
• Pelaksanaan dan monitoring pengendalian penyakit menular.
• Audit manajemen penyakit menular berbasis wilayah.
Contoh Manajemen Penyakit ISPA
Berbasis Wilayah
• Pendekatan Manajemen Pemberantasan Penyakit Menular Berbasis Wilayah
 menanggulangi secara komprehensif faktor-faktor yang berhubungan
dengan ksakitan dan kematian balita dan penanganan kasus yang dilakukan
secara terpadu dengan mitra kerja terkait yang didukung oleh surveilans
yang baik serta tercemin dalam perencanaan dan penganggaran kesehatan
secara terpadu.
• Tatalaksana Kasus dan Pengobatan
• Pengendalian Faktor Risiko
Teori Simpul ISPA
• Simpul 1  sumber penyebab bakteri, virus, atau polutan udara (berasal dari
lingkungan rumah, dari penderita ISPA, dr aktivitas manusia yg mempengaruhi
lingkungan ; memasak, merokok, obat nyamuk; atau aktivitas luar rumah
manusia ; emisi kendaraan, emisi pabrik, gas buang dari tempat sampah atau
kanang ternank yg mempengaruhi kualitas udara
• Simpul 2  percikan air liur (droplet) dr penderita, bisa dg kontak langsung
• Simpul 3  droplet yg mengandung mikroorganime jika tersembur dalam jarak <
1m di udara akan masuk melalui mata, mulut, hidung tenggorokan atau faring yg
akan menyerang sistem pernapasan manusia
• Simpul 4  reaksi atas agen yg masuk  peradangan dg gejala panas, demam,
tenggorokan sakit, nyeri telan, piel, da batuk. Jika masuk lebih dalam ,
menyerang paru dan menimbulkan nana dan cairan yg memenuhi alveoli
sehingga terjadi seask napas krn kesulitan penyerapan oksigen (ISPA
Pneumonia), jika infeksi menyeluruh bisa berujung kemarian
• Simpul 5  Iklim ; curah hujan rendah daerah kering, topografi wilayah ; pesisir
atau perbukitan
Manajemen Kasus ISPA
• Salah satu penyebab tingginya angka kematian yg disebabkan oleh pneumonia 
tdk tertanganinya penderita secara maksimal, hal ini disebabkan karena hanya
sebagian kecil saja kasus yg terlaporkan dan tertangani dengan baik.
• Cakupan penemuan pneumonia pada balita ... Target nasional...
Manajemen Kasus ISPA
Surveilans Sentinel Pneumonia
a. Mengetahui gambaran kejadian pneumonia dalam distribusi epid (WTO)
b. Mengetahui jumlah kematian, angka fatalitas kasus (CFR) pneumonia usia 0 –
59 bulan (Balita) dan > 5 tahun
c. Tersedianya data dan infromasi FR unuk kewaspadaan adanya sinyal epid
pandemi influensa
d. Terpantaunya pelaksanaan program ISPA
Manajemen faktor risiko
• Mengurangi faktor risiko seperti polusi udara ambien, polusi udara dalam rumah
terutama pada penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak, kondisi
ventilasi rumah yg tidak memenuhi syarat, kepadatan hunian maupun kepadatan
penduduk, status gizi yg rendah, dan penyakit campak

• Advokasi dan sosialisasi, penemuan dan tatalaksana pneumonia balita,


ketersediaan logistik, supervisi, pencatatan dan pelaporan, kemitraan dan jejaring,
pengembangan program, autopsi verbal, serta monitoring dan evaluasi
Faktor Risiko
• Usia  balita dan anak berada pada masa sistem kekebalan tubuh belum stabil
• Status gizi  mempengaruhi kekebalan tubuh manusia
• ASI Eksklusif  mempengaruhi kekebalan tubuh manusia
• Status Imunisasi  melindungi bayi dan anak dari penyakit dengan memberikan
kekebalan
Faktor Risiko Lingkungan Fisik Rumah
• Luas ventilasi  ventilasi kurang menyebabkan kurangya cahaya, pergerakan
udara, dan suhu yg rendah, agent penyebab ISPA dpt berkembangbiak
• Jenis lantai berisiko jika lantai yg lembab
• Jenis dinding  celahh-celah pada dinding dapat menjadi tempat
berkembangbiakan agen penyebab ISPA
• Kepadatan hunian  kontak antar penderita lebih cepat
• Suhu dan kelembapan  suhu optimal berkisar 18-20 derajat C dan kelembapan
ruangan 40-70%. Suhu yang tinggi menyebabkan kelembaban yang tinggi akibat
hasil respirasi penghuni rumah.
• Pencemaran udara  rumah yg memasak dg bahan bakar kayu atau minyak
tanah akan menghasilkan polutan udara yg lebih tinggi; penggunaan obat
nyamuk, dan anggota keluarga yg merokok
Faktor Risiko Lingkungan Fisik Luar Rumah
• Suhu dan kelembapan  suhu udara yg rendah dan kelembapan udara yg tinggi
menjadi berkembangbiakan mikroorganisme penyebab ISPA
• Pencemaran udara ambien  polutan dari penggunaan kendaraan bermotor,
aktivitas pabrik atau industri, memelihara ternah di sekitar tempat tinggal, sampai
aktivitas pembuangan sampah ; sulfur dlm bahan bakar menyebabkan gangguan
sistem perpasan, peradangan hebat terjadi pada paparan yg lama; keberadaan
kandang ternak dan TPA juga menjadi sumber pencemar udara, di sekitar TPA
banyak ditemukan mikroba ISPA Streptococcus, Staphylococus, dll
• Kelembaban udara dipengaruhi oleh suhu udara, tekanan udara, jumlah vegetasi,
pergerakan angin, dan keberadaan air. Mijen merupakan wilayah perbukitan
dengan jumlah vegetasi yang lebih banyak dibandingkan di Bandarharjo. Dengan
tersedianya vegetasi dalam jumlah banyak dapat menurunkan suhu disekitarnya.
Penurunan suhu udara menyebabkan defisit tekanan uap menurun, sehingga
kapasitas udara dalam menampung uap air menurun, sehingga menyebabkan
peningkatan kelembaban udara. Sedangkan Bandarharjo adalah wilayah pesisir
yang dekat dengan laut sehingga keberadaan air di Bandarharjo lebih banyak
dibandingkan dengan Mijen. Fluktuasi kandungan uap air di udara lebih besar
pada lapisan udara dekat permukaan dan semakin kecil dengan bertambahnya
ketinggian. Hal ini terjadi karena uap air bersumber dari permukaan dan proses
kondensasi juga berlangsung pada permukaan.
FR Lingkungan Sosial Ekonomi
• Kepadatan penduduk  jarak antar rumah yg terlalu dekat menyebabkan
penularan ISPA menjadi lebih mudah ; pencemaran udara meningkat dr aktivitas
menggunakan kayu bakar, merokok, membakar sampah, emisi kendaraan, hingga
mempengaruhi suhu dan kelembapan
• Jenis pekerjaan  bekerja di tempat yg mengandung banyak pencemaran udara
(pabrik, jalan raya) lebih berisiko terkena ISPA
• Kemiskinan  penduduk miskin cenderung tinggal di rumah yg tdk memenuhi
syarat
Hubungannya dengan wilayah pesisir
• Kurangnya vegetasi di wilayah pesisir dapat mempercepat terjadinya peningkatan
suhu karena karbondioksida sebagai gas yang memicu peningkatan suhu udara
tidak dapat diserap oleh tumbuhan, terutama pada siang hari. Sedangkan hal ini
berbeda pada malam hari.
• Gangguan pernafasan mungkin memburuk oleh pemanasan yang diakibatkan
peningkatan pada frekuensi smog event (ground level ozon) dan polusi udara partikulat.
Sinar matahari dan suhu tinggi, dikombinasikan dengan polutan lain seperti nitrogen
oksida dan senyawa organik yang mudah menguap, dapat menyebabkan ground level ozon
meningkat. Ground level ozon dapat merusak jaringan paru, dan sangat berbahaya bagi
penderita asma dan penyakit pernpasan lainnya. Selain itu, dengan terhisapnya polutan
dengan konsentrasi tinggi akan berdampak terhadap penurunan kemampuan makrofag
dalam membunuh bakteri, sehingga makrofag tidak bisa dimobilisir ke area-area
terjadinya infeksi saluran nafas. Banyaknya jumlah patogen ISPA yang di bawa
olehpolutan di udara luar dapatmeningkatkan risiko terjadinya ISPA. Hal ini didukung oleh
Chew yang menyebutkan bahwa kejadian infeksi pernapasan di pengaruhi oleh suhu tinggi
karenasalah satu virus penyebab ISPA yaitu RSV (Respiratory Synctycial Virus) banyak
ditemukan pada saat suhu tinggi dengan rata-rata27,7 oC.14


• Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut. Perairan
pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan yang meliputi perairan sejauh 12 mil
laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau,
estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau dan laguna, sedangkan pantai adalah sebuah
bentuk geografis yang terdiri dari pasir dan terdapat di daerah pesisir laut.Beberapa aspek
kesehatan yang menjadi masalah diwilayah pesisir adalah kesehatan lingkungan,
kesehatan bayi dan balita serta kesehatan maternitas dan KB. Kesehatan lingkungan
diantaranya meliputi perumahan, sumber air, sampah, pembuangan tinja dan air limbah.
Kesehatan bayi dan balita meliputi status gizi dan imunisasi, serta kesehatan maternitas
dan KB.Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik
kesehatan masyarakat pesisir di Kelurahan Pohe Kec. Hulonthalangi Kota Gorontalo.
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu metode penelitian
yang dilakukan dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran tentang objek
penelitian.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Kepala Keluarga di Kelurahan Pohe
yang berjumlah sekitar 670 KK. Semua populasi diambil menjadi sampel.
Manajemen Penanggulangan
• Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)