Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU

DENGAN GANGGUAN SISTEM


REPRODUKSI

By: Kelompok 3
Kesehatan Reproduksi

Kesehatan Reproduksi menurut WHO adalah suatu


keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya
bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek
yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi
serta prosesnya.
Depkes RI (2000) Kesehatan Reproduksi adalah suatu
keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik,
mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat,
fungsi serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan
reproduksi bukannya kondisi yang bebas dari penyakit
melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki
kehidupan seksual yang aman dan memuaskan sebelum
dan sesudah menikah.
Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi
dalam Siklus Kehidupan

1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir

2. Keluarga Berencana

3. Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran


Reproduksi (ISR), termasuk PMS HIV/AIDS
4. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi
aborsi

5. Kesehatan Reproduksi Remaja

6. Pencegahan dan penanggulangan Infertilitas

7. Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis

8. Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain


missalnya kanker serviks, mutilasi genetalia,
fistula dll.
Permaslahan kesehatan reproduksi adalah
suatu keadaan yang abnormal, mencakup fisik,
mental, sosial, yang berkaitan dengan alat
fungsi, serta proses reproduksi yang pemikiran
kesehatan reproduksi bukan kondisi yang
terbebas dari penyakit melainkan bagaimana
seseorang dapat memiliki kehidupan sex yang
aman dan memuaskan sebelum dan sesudah
menikah ( Depkes RI, 2000)

Permasalahan Kesehatan Reproduksi


Empat golongan faktor yang dapat berdampak
buruk bagi kesehatan reproduksi:

Faktor Sosial-ekonomi Dan Demografi

Faktor Budaya Dan Lingkungan

Faktor Psikologis

Faktor Biologis
ASUHAN KEPERAWATAN

Gangguan Haid

Gangguan
Peradangan Uterus
GANGGUAN HAID

MENORRHARGIA

OLIGOMENORRARGIA
Perdarahan lebih
banyak atau lebih DISMINOREA
lama (< 8 hari)1 Siklus lebih panjang >
35 hari
Nyeri haid
Pengkajian

Selain mengkaji riwayat penggunaan kontrasepsi seksual


obsetri mestruasi secara terinci perawat harus mengali
persepsi wanita tentang kondisinnya , pengaruh etnik dan
budaya, penglaman dengan tenaga kesehatan lain, gaya
hidup dan pola koping ( lihat pertimbangan budaya )
jumlah nyeri yang dialami dan efeknya pada aktivitas
sehari-sehari , obat-obatan dirumah , dan resep untuk
meredakan rasa tidak nyaman , dicatat. Suatu gejala, yang
memuat rincinan catatan gejala emosi , perilaku , fisik, diet
pola latihan dan pola istirahat , merupakan alat diagnostik
yang bermanfaat.
1. Ketidakefektifan Koping
2. Defisiensi Pengetahuan
3. Gangguan Citra Tubuh
4. Harga Diri Rendah Situasional.
5. Nyeri Akut

Diagnosa Keperawatan
INTERVENSI

Diagnosa 1: Ketidakefektifan Koping


Diagnosa 2: Defisiensi Pengetahuan
Anjurkan pasien untuk
mengidentifikasi gambaran Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
perubahan peran yang realitis. bagaimana hal ini berhubungan dengan
Gunakan pendekatan tenang dan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat
meyakinkan Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
Hindari pengambilan keputusan muncul pada penyakit, dengan cara yang
pada saat pasien berada dalam stres tepat.
berat. Gambarkan proses penyakit, dengan cara
Berikan informasi actual yang yang benar.
terkait dengan diagnosis, terapi dan Sediakan informasi pada pasien tentang
prognosis. kondisi, dengan cara yang tepat.
Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi dimasa yang akan datang dan atau
proses pengontrolan penyakit.
Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.
Diagnosa 3: Gangguan citra tubuh
Diagnosa 4: Harga diri rendah situasional
Kaji secara verbal dan non verbal
respon klien terhadap tubuhnya. Tunjukkan rasa percaya diri terhadap
Monitor frekuensi mengkritik kemampuan pasien untuk mengatasi situasi.
dirinya. Dorong pasien mengidentifikasi kekuatan
Jelaskan tentang pengobatan, dirinya.
perawatan, kemajuan dan prognosis Dukung peningkata tanggung jawab diri,
penyakit. jika diperlukan.
Dorong klien mengungkapkan Ajarkan keterampilan perilaku yang positif
perasaanya. melalui bermain peran, model peran,
diskusi.
Buat statemen positif terhadap pasien.
Diagnosa 5: Nyeri akut

Lakukan pengakjian nyeri secara komprehensif termasuk


lokasi, krakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi.
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalamn nyeri pasien.
Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
Tingkatkan istirahat.
Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri.
Implementasi dapat dilaksanakan sesuai
dengan intervensi setiap diagnosa yang
IMPLEMENTASI diangkat dengan memperhatikan
kemampuan pasien dalam mentolerir
tindakan yang akan dilakukan.
GANGGUAN PERADANGAN UTERUS

Adenemiosi Uteri Adenomiosis secra klinis lebih banyak


persamaanya dengan mioma uteri. Adenomiosis
lebih sering ditemukan pada multipara dalam
masa prenoupose, sedangkan endrometrosis
terdapat pada wanita yan lebih muda dan yang
umumnya infertile.

Endometriosis Endometriosis adalah suatu kedaan dimana


jaringan endometrium yang masih berfungsi
terdapat diluar kavum uteri.
Pengkajian
Selain mengkaji riwayat penggunaan kontrasepsi seksual obsetri mestruasi
secara terinci perawat harus mengali persepsi wanita tentang kondisinnya ,
pengaruh etnik dan budaya, penglaman dengan tenaga kesehatan lain, gaya
hidup dan pola koping ( lihat pertimbangan budaya ) jumlah nyeri yang
dialami dan efeknya pada aktivitas sehari-sehari , obat-obatan dirumah , dan
resep untuk meredakan rasa tidak nyaman , dicatat. Suatu gejala, yang
memuat rincinan catatan gejala emosi , perilaku , fisik, diet pola latihan dan
pola istirahat , merupakan alat diagnostik yang bermanfaat.
1. Nyeri Akut

2. Defisiensi Pengetahuan

3. Gangguan citra tubuh

4. Ansietas

Diagnosa keperawatan
INTERVENSI
Diagnosa 2: Defisiensi
Diagnosa 1: Nyeri Akut Pengetahuan

1) Lakukan pengakjian nyeri 1) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan


secara komprehensif termasuk bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi
lokasi, krakteristik, durasi, dan fisiologi, dengan cara yang tepat
frekuensi, kualitas dan faktor 2) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul
presipitasi. pada penyakit, dengan cara yang tepat.
2) Observasi reaksi nonverbal dari 3) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang
ketidaknyamanan. benar.
3) Gunakan teknik komunikasi 4) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi,
terapeutik untuk mengetahui dengan cara yang tepat.
pengalamn nyeri pasien. 5) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin
4) Evaluasi pengalaman nyeri diperlukan untuk mencegah komplikasi dimasa
masa lampau. yang akan datang dan atau proses pengontrolan
5) Tingkatkan istirahat. penyakit.
6) Monitor penerimaan pasien 6) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.
tentang manajemen nyeri
Diagnosa 3: Gangguan citra Diagnosa 4: Ansietas
tubuh

1) Gunakan pendekatan yang menenangkan.


2) Menyatakan dengan jelas harapan terhadap
1) Kaji secara verbal dan pelaku pasien.
non verbal respon klien 3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang
terhadap tubuhnya. yang dirasakan selama prosedur.
2) Monitor frekuensi 4) Pahami prespektif pasien terhadap situasi
mengkritik dirinya. stres.
3) Jelaskan tentang 5) Dengarkan dengan penuh perhatian.
pengobatan, perawatan, 6) Identifikasi tingkat kecemasan.
kemajuan dan prognosis 7) Bantu pasien mengenal situasi yang
penyakit. menimbulkan kecemasan.
4) Dorong klien 8) Dorong pasien untuk menungkapkan
mengungkapkan perasan, ketakutan, dan persepsi.
perasaanya. 9) Intruksikan pasien menggunakan tehnik
relaksasi.
Implementasi dapat dilaksanakan
sesuai dengan intervensi setiap
diagnosa yang diangkat dengan
memperhatikan kemampuan pasien
dalam mentolerir tindakan yang akan
dilakukan.

IMPLEMENTASI