Anda di halaman 1dari 56

1

Diatur Dalam SA 200


TUJUAN KESELURUHAN AUDITOR INDEPENDEN
DAN PELAKSANAAN SUATU AUDIT
BERDASARKAN STANDAR AUDIT
AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN
Tujuan suatu audit adalah untuk meningkatkan derajat kepercayaan
pemakai laporan keuangan yang dituju. Hal ini dicapai melalui
pernyataan suatu opini oleh auditor.
Laporan keuangan yang diaudit adalah milik entitas, yang disusun
oleh manajemen entitas dengan pengawasan dari pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola (those charged with
governance/TCWG) entitas.
Penyusunan laporan keuangan oleh manajemen memerlukan :
• Identifikasi kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, dalam
konteks peraturan perundang-undangan yang relevan
• Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan kerangka tersebut
• Pencantuman deskripsi yang memadai mengenai kerangka
tersebut di dalam laporan keuangan .
TUJUAN KESELURUHAN AUDITOR

• Memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan


keuangan sebagai suatu keseluruhan bebas dari salah saji
material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan, dan oleh karena itu memungkinkan auditor untuk
menyatakan opini atas apakah laporan keuangan disusun, dalam
semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku; dan
• Menerbitkan laporan tentang laporan keuangan dan
mengomunikasikannya berdasarkan temuan auditor.
TUJUAN KESELURUHAN AUDITOR (lanjutan)

• Dalam semua kasus ketika keyakinan memadai tidak dapat


diperoleh dan opini wajar dengan pengecualian dalam laporan
auditor tidak memadai dalam kondisi yang bertujuan untuk
melaporkan kepada pemakai laporan keuangan yang dituju, SA
menuntut auditor untuk tidak menyatakan opini atau untuk
menarik (mengundurkan) diri dari perikatan, jika penarikan diri
dimungkinkan berdasarkan peraturan perundan-undangan yang
berlaku.
KERANGKA PELAPORAN KEUANGAN
YANG BERLAKU

• Kerangka pelaporan keuangan yang diterapkan oleh manajemen


dan, jika relevan, pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola
dalam penyusunan laporan keuangan, yang dapat diterima dari
sudut pandang sifat entitas tersebut dan tujuan laporan
keuangan, atau yang disyaratkan oleh peraturan perundang-
undangan.
KETENTUAN

Ketentuan Etika yang Berkaitan dengan Audit atas Laporan


Keuangan
Auditor harus mematuhi ketentuan etika yang relevan, (termasuk
ketentuan yang terkait dengan independensi) yang berkaitan
dengan perikatan audit atas laporan keuangan.

Skeptisisme Profesional
Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan
skeptisisme profesional mengingat adanya kondisi yang mungkin
menyebabkan terjadinya salah saji material atas laporan
keuangan.
KETENTUAN (lanjutan)

Pertimbangan Profesional
Auditor harus menggunakan pertimbangan profesional dalam
merencanakan dan melaksanakan audit atas laporan keuangan.

Bukti Audit yang Cukup dan Tepat serta Risiko Audit


Untuk memperoleh keyakinan memadai, auditor harus
memeroleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk mengurangi
risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima dan dengan
demikian memungkinkan auditor untuk menarik kesimpulan
memadai yang mendasari opini auditor.
KETENTUAN (lanjutan)

• Pelaksanaan Audit Berdasarkan SA


– Mematuhi SA yang Relevan dengan audit
• Auditor harus mematuhi semua SA yang relevan dengan audit. Suatu SA
relevan dengan audit bila SA tersebut berlaku dan terdapat kondisi yang yang
dibahas oleh SA tersebut.
• Auditor harus memiliki suatu pemahaman terhadap seluruh isi dari suatu SA,
termasuk materi penerapan dan penjelasan lain, untuk memahami tujuannya
dan menerapkan ketentuan SA tersebut dengan tepat.
• Auditor tidak diperkenankan untuk mencantumkan kepatuhan terhadap SA di
dalam laporan auditor kecuali auditor telah mematuhi ketentuan SA ini dan
semua SA lainnya yang relevan dengan audit.
KETENTUAN (lanjutan) :

• Pelaksanaan Audit Berdasarkan SA (lanjutan)


– Tujuan yang Dinyatakan Dalam Setiap SA
Untuk mencapai tujuan auditor secara keseluruhan, auditor harus
menggunakan tujuan yang dinyatakan di SA yang relevan di dalam
merencanakan dan melaksanakan audit, dengan memperhatikan
keterkaitan dengan SA lain.
– Kepatuhan terhadap Ketentuan yang Relevan
Dalam melaksanakan audit, auditor harus mematuhi setiap ketentuan
dalam SA, kecuali :
• Keseluruhan SA tidak relevan
• ketentuan yang ada tidak relevan karena tergantung pada suatu kondisi dan kondisi
tersebut tidak ada.
KETENTUAN (lanjutan) :

• Pelaksanaan Audit Berdasarkan SA (lanjutan)


Dalam kondisi yang jarang terjadi, auditor boleh memutuskan perlunya
untuk menyimpang dari suatu ketentuan yang relevandalam suatu SA.
Dalam kondisi seperti itu, auditor harus melakukan prosedur audit
alternatif untuk mencapai tujuan tujuan dari ketentuan tersebut.
Kebutuhan auditor untuk menyimpang dari ketentuan yang relevan
diharapkan hanya terjadi ketika suatu prosedur audit tertentu yang harus
dilakukan tidak akan efektif untuk mencapai tujuan dari ketentuan
tersebut.
–Kegagalan dalam Mencapai Tujuan
Jika suatu tujuan dalam Sayang relevan tidak tercapai, auditor harus mengevaluasi
apakah hal ini menghalangi auditor dalam mencapai tujuan auditor secara
keseluruhan dan menuntut auditor, berdasarkan SA, untuk mengubah opini auditor
atau menarik diri dari perikatan.
11

PERSETUJUAN ATAS SYARAT-SYARAT


PERIKATAN AUDIT

Diatur Dalam SA210


TUJUAN
Tujuan auditor adalah untuk menerima atau melanjutkan perikatan
audit hanya bila basis yang melandasi pelaksanaan audit telah
disepakati, melalui:

• Penetapan apakah terdapat prakondisi untuk suatu audit


• Penegasan bahwa ada pemahaman yang sama tentang ketentuan
perikatan audit antara auditor, manajemen, dan jika relevan,
pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola entitas.
PRAKONDISI UNTUK SUATU AUDIT
Dalam rangka penentuan apakah terdapat prakondisi suatu audit, auditor
harus :
• Menentukan apakah kerangka pelaporan keuangan yang akan
diterapkan dalam penyususnan laporan keuangan dapat diterima, dan
• Memperoleh persetujuan dari manajemen bahwa manajemen
mengakui dan memahami tanggung jawabnya :
– Untuk menyusun laporan keuangan sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku, termasuk jika relevan, penyajian
wajar laporan tersebut;
– Untuk menetapkan pengendalian internal tertentu yang menurut
manajemen diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari salah saji material, baik karena kecurangan
maupunkesalahan; dan
PRAKONDISI UNTUK SUATU AUDIT (lanjutan)
Dalam rangka penentuan apakah terdapat prakondisi suatu audit, auditor
harus : (lanjutan)
• Memberikan auditor:
– Akses ke semua informasi yang dianggap relevan
– Informasi tambahan yang diminta oleh auditor
– Akses tidak terbatas ke personel dalam entitas yang dipandang
perlu
• Pembatasan atas Ruang Lingkup Sebelum Penerimaan Perikatan
Audit
Jika manajemen atau pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola
menetapkan suatu pembatasan terhadap ruang lingkup pekerjaan
auditor yang harus dicantumkan dalam surat perikatan audit.
PRAKONDISI UNTUK SUATU AUDIT (lanjutan)
• Faktor-faktor lain yang Mempengaruhi Penerimaan Perikatan
Audit
Jika prakondisi untuk suatu audit tidak ada, auditor harus
membahas hal tersebut dengan manajemen.
Kecuali jika suatu audit diwajibkan oleh peraturan perundang-
undangan, auditor tidak boleh menerima perikatan audit :
1. Jika auditor telah menentukan bahwa kerangka pelaporan
keuangan yang diterapkan dalam penyusunan laporan
keuangan tidak dapat diterima; atau
2. Jika persetujuan manajemen belum diperoleh.
PERSETUJUAN ATAS KETENTUAN
PERIKATAN AUDIT
• Auditor harus menyepakati ketentuan perikatan audit dengan
manajemen atau pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, jika
relevan.
• Ketentuan yang disepakati harus dicatat dalam surat perikatan audit
atau bentuk kesepakatan tertulis lain yang tepat dan harus mencakup:
– Tujuan dan ruang lingkup audit atas laporan keuangan
– Tanggung jawab auditor
– Tanggung jawab manajemen
– Identifikasi kerangka pelaporan keuangan yang diterpkan dalam
penyusunan laporan keuangan; dan
– Pengacuan ke bentuk dan isi laporan yang akan dikeluarkan oleh
auditor dan suatu pernyataan bahwa dalam keadaan tertentu
terdapat kemungkinan laporan yang dikeluarkan berbeda bentuk dan
isinya dengan yang diharapkan.
17

DOKUMENTASI AUDIT

Diatur Dalam SA230


RUANG LINGKUP, SIFAT DAN
TUJUAN DOKUMENTASI AUDIT

• Sifat dan Tujuan Dokumentasi Audit


Dokumentasi audit yang memenuhi Ketentuan SA ini dan
Ketentuan dokumentasi spesifik lain sebagaimana tercantum
dalam SA lain yang relevan memberikan :
– Bukti sebagai dasar bagi auditor untuk menarik suatu
kesimpulan tentang pencapaian tujuan keseluruhan auditor,
dan
– Bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai
dengan SA dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sifat dan Tujuan Dokumentasi Audit (lanjutan)
• Dokumentasi audit juga berfungsi untuk memenuhi tujuan
tambahan berikut ini:
– Membantu tim perikatan untuk merencanakan dan melaksanakan audit.
– Membantu anggota tim perikatan yang bertanggung jawab dalam
supervisi untuk mengarahkan dan mensupervisi proses audit, serta
menunaikan tanggung jawab penelaahan sebagaimana diatur dalam SA
220.
– Memungkinkan tim perikatan untuk mempertanggungjawabkan
pekerjaan mereka.
– Menyimpan catatan atas hal-hal signifikan yang berkelanjutan untuk
audit di masa yang akan datang.
– Memungkinkan dilaksanakannya penelaahan dan inspeksi atas
pengendalian mutu sesuai dengan SPM 1 atau Ketentuan setara lainnya.
– Memungkinkan dilaksanakannya inspeksi eksternal sesuai dengan
peraturan perundang-undangan atau Ketentuan lain yang berlaku.
TUJUAN & KETENTUAN
Tujuan auditor untuk menyusun dokumentasi adalah memberikan:
a) Catatan yang cukup dan tepat sebagai dasar untuk laporan
auditor, dan
b) Bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai
dengan SA dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penyiapan Dokumentasi Audit Tepat Waktu


Auditor harus menyiapkan dokumentasi audit secara tepat waktu.
KETENTUAN
Pendokumentasian Prosedur-prosedur Audit yang Dilaksanakan
dan Bukti Audit yang Diperoleh
Bentuk, Isi dan Luas Dokumentasi Audit
Auditor harus menyusun dokumentasi audit yang memadai
sehingga memungkinkan seorang auditor yang berpengalaman,
yang tidak memiliki keterkaitan sebelumnya dengan audit
tersebut, memahami :
– Sifat, waktu, dan luas prosedur audit yang telah dilaksanakan dan
kepatuhan terhadap SA serta peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
– Hasil prosedur audit yang dilaksanakan, dan bukti audit yang diperoleh;
dan
– Hal-hal signifikan yang timbul selama proses audit, kesimpulan-
kesimpulan yang ditarik, dan pertimbangan profesional signifikan yang
dibuat untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan tersebut.
KETENTUAN (lanjutan)
Bentuk, Isi dan Luas Dokumentasi Audit (lanjutan)

Auditor harus mendokumentasikan pembahasan atas hal-hal signifikan dengan


manajemen, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, dan pihak lain,
termasuk sifat hal-hal signifikan tersebut, serta kapan dan dengan siapa
pembahasan tersebut dilakukan.

Hal-hal yang Terjadi setelah Tanggal Laporan Auditor

Jika, dalam kondisi eksepsional, auditor melakukan prosedur audit baru atau
tambahan, atau menarik kesimpulan baru setelah tanggal laporan auditor, maka
auditor harus mendokumentasikan hal-hal berikut ini:
– Kondisi yang dihadapi tersebut;
– Prosedur audit baru atau tambahan yang dilakukan, bukti audit yang diperoleh, dan
kesimpulan yang ditarik, serta pengaruhnya terhadap laporan auditor; dan
– Kapan dan oleh siapa perubahan atas dokumentasi audit dilakukan dan ditelaah
KETENTUAN (lanjutan)
Penyusunan Folder Audit Final

Auditor harus menyusun dokumentasi audit dalam sebuah folder


audit dan melengkapi proses administratif yang diperlukan secara
tepat waktu setelah tanggal laporan audit.

Setelah penyusunan folder audit final selesai dilakukan, auditor


tidak boleh menghapus atau membuang dokumentasi audit
apapun sebelum masa penyimpanan yang disyaratkan berakhir.
24

Diatur Dalam SA 240


TANGGUNG JAWAB AUDITOR TERKAIT
DENGAN DENGAN KECURANGAN DALAM
SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN
KARAKTERISTIK KECURANGAN

• Salah saji dalam laporan keuangan dapat timbul karena


kecurangan atau kesalahan;

• Auditor berkepentingan terhadap kecurangan yang


menyebabkan salah saji material dalam laporan keuangan;

• Auditor tidak membuat penentuan secara hukum mengenai


apakah kecurangan benar-benar terjadi;

25
KECURANGAN?

• Suatu tindakan yang disengaja oleh satu individu


atau lebih dalam manajemen, pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, karyawan
atau pihak ketiga, yang melibatkan penggunaan
tipu muslihat untuk memperoleh suatu
keuntungan secara tidak adil atau melanggar
hukum.
Faktor Risiko Kecurangan

• INSENTIF ATAU TEKANAN, baik dari dalam atau luar entitas untuk
mencapai target laba atau hasil keuangan, termasuk konsekuensinya jika
gagal, atau dorongan gaya hidup yang melebihi kemampuan.
• PELUANG untuk melakukan kecurangan mungkin ada jika individu
percaya bahwa pengendalian internal dapat diabaikan.
• ALASAN PEMBENARAN yang dikemukakan individu atas tindakan
kecurangan, baik melalui karakter, perilaku, serangkaian etika yang
memungkinkan melakukan tindakan tidak jujur baik sadar dan sengaja,
atau karena pengaruh tekanan lingkungan yang besar.
Jenis-Jenis Kecurangan

Pelaporan keuangan Penyalahgunaan aset

• Kesalahan penyajian yang Pencurian aset entitas:


sengaja • Oleh karyawan dalam
• Penghilangan suatu jumlah jumlah relatif kecil dan
atau pengungkapan dalam tidak material, atau
laporan keuangan untuk • Melibatkan manajemen
memengaruhi persepsi yang biasanya lebih sulit
para pengguna laporan terdeteksi karena lebih
keuangan dapat menyembunyikan
penyalahgunaan atau
menutupinya
Cara Kecurangan Dalam Laporan Keuangan

• Manipulasi, pemalsuan (termasuk peniruan), atau pengubahan catatan


akuntansi atau dokumentasi pendukung yang menjadi dasar
penyusunan laporan keuangan.

• Pernyataan salah, atau penghilangan secara sengaja peristiwa, transaksi,


atau informasi signifikan lainnya dalam laporan keuangan.

• Penerapan salah yang disengaja atas prinsip akuntansi yang berkaitan


dengan jumlah, klasifikasi, penyajian atau pengungkapan.
Penyebab Kecurangan dalam Laporan Keuangan
• Usaha manajemen untuk mengelola laba untuk tujuan mengelabuhi
para pengguna laporan keuangan dengan memengaruhi persepsi
pengguna terhadap kinerja dan profitabilitas entitas.
• Pengelolaan laba dapat dimulai dari tindakan-tindakan kecil atau
penyesuaian asumsi tidak tepat dan perubahan pertimbangan
manajemen, yang ditambah dengan adanya tekanan dan insentif dapat
menyebabkan peningkatan tindakan sehingga mencapai tahap
terjadinya kecurangan.
• Tekanan:
– Maksimalisasi kompensasi kinerja atau mencapai harapan pasar
– Menggelembungkan laba agar mendapatkan pembiayaan bank
– Mengurangi laba untuk minimalisasi pajak
Teknik Pengabaian Pengendalian Oleh Manajemen Dalam
Kecurangan Laporan Keuangan

• Mencatat jurnal fiktif, terutama menjelang akhir periode akuntansi


untuk memanipulasi hasil operasi atau untuk mencapai tujuan lainnya.
• Menyesuaikan asumsi secara tidak tepat dan mengubah pertimbangan
yang telah digunakan untuk mengestimasi saldo akun.
• Menghilangkan, atau mengakui lebih dahulu atau menunda pengakuan
dalam laporan keuangan atas peristiwa transaksi yang telah terjadi
selama periode pelaporan.
• Menyembunyikan, atau tidak mengungkapkan, fakta yang dapat
memengaruhi suatu jumlah yang tercatat dalam laporan keuangan.
• Menggunakan transaksi yang kompleks yang disusun untuk menyajikan
posisi keuangan atau kinerja keuangan yang salah.
• Mengubah catatan dan ketentuan yang terkait dengan transaksi
signifikan dan tidak biasa.
Penyalahgunaan Aset
• Menggelapkan penerimaan, sebagi contoh: menyalahgunakan penagihan
piutang usaha atau mengalihkan penerimaan yang berkaitan dengan akun yang
telah dihapus ke rekening pribadi.
• Mencuri aset fisik atau kekayaan intelektual, sebagai contoh, mencuri
persediaan untuk kepentingan pribadi atau untuk dijual, mencuri barang sisa
untuk dijual kembali, berkolusi dengan pesaing dengan mengungkapkan data
teknologi entitas untuk mendapatkan uang.
• Menyebabkan entitas membayar barang dan jasa yang tidak pernah diterima,
misal: pembayaran kepada pemasok fiktif, uang suap yang dibayar oleh
pemasok kepada staf pembelian sebagai balas jasa karena telah meninggikan
harga, pembayaran kepada karyawan fiktif.
• Menggunakan aset entitas untuk kepentingan pribadi, contoh, menggunakan
aset entitas untuk jaminan pinjaman pribadi atau pinjaman pihak berelasi.
Catatan atau Dokumen Palsu

• Penyalahgunaan aset kadangkala disertai dengan catatan atau


dokumen palsu untuk menyembunyikan fakta bahwa aset
tersebut telah hilang atau telah dijaminkan tanpa otoritas
semestinya.
TANGGUNG JAWAB UNTUK PENCEGAHAN DAN
PENDETEKSIAN KECURANGAN
• Tanggungjawab utama pencegahan dan pendeteksian
kecurangan berada pada pihak yang bertanggung jawab atas
tata kelola entitas dan manajemen;

• Tanggungjawab auditor adalah memperoleh keyakinan


memadai apakah laporan keuangan secara keseluruhan beban
dari salah saji material yang disebabkan oleh kecurangan atau
kesalahan.

34
TANGGUNG JAWAB UNTUK PENCEGAHAN DAN
PENDETEKSIAN KECURANGAN
• Tanggung jawab utama untuk pencegahan dan pendeteksian kecurangan
berada pada dua pihak yaitu yang bertanggung jawab atas tata kelola entitas
dan manajemen.
• Penting bahwa manajemen, dengan pengawasan oleh pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, menekankan pencegahan kecurangan,
yang dapat mengurangi peluang terjadinya kecurangan, dan pencegahan
kecurangan (fraud deterrence), yang dapat membujuk individu-individu agar
tidak melakukan kecurangan karena kemungkinan akan terdeteksi dan
terkena hukuman.
• Pengawasan oleh pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola meliputi
pertimbangan tentang potensi pengesampingan pengendalian atau
pengaruh tidak patut atas proses pelaporan keuangan, seperti usaha
manajemen untuk mengelola laba dengan tujuan untuk mempengaruhi
persepsi analis kinerja dan profitabilitas entitas. Termasuk penegakan oleh
TCWG untuk menciptakan budaya jujur dan perilaku etis.

35
TANGGUNG JAWAB AUDITOR

• Auditor yang melaksanakan audit berdasarkan SA bertanggung


jawab untuk memperoleh keyakinan memadai apakah laporan
keuangan secara keseluruhan bebas dari salah saji material,
yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.
• Karena keterbatasan bawaan suatu audit, maka selalu ada risiko
yang tidak terhindarkan bahwa beberapa salah saji material
dalam laporan keuangan mungkin tidak akan terdeteksi,
walaupun audit telah direncanakan dan dilaksanakan dengan
baik berdasarkan SA;

36
KETENTUAN

• Skeptisisme Profesional;
• Diskusi di Antara Tim Perikatan;
• Prosedur Penilaian Risiko dan Aktivitas Terkait;
• Identifikasi dan Penilaian Risiko Salah Saji Material Akibat
Kecurangan;
• Respons terhadap Hasil Penilaian Risiko Salah Saji Material
sebagai Akibat Kecurangan;
• Evaluasi Terhadap Bukti Audit;
• Auditor Tidak Dapat Melanjutkan Perikatan;
• Representasi Tertulis;

37
KETENTUAN (lanjutan)

• Komunikasi kepada Manajemen dan Pihak yang Bertanggung


Jawab atas Tata Kelola;
• Komunikasi kepada Otoritas Pengatur dan Penegak Hukum;
• Dokumentasi

38
Kegagalan Auditor Dalam Mendeteksi Fraud
• Tertinggal :
– Pengetahuan kurang memadai, bukan itikad buruk
• Ceroboh:
– Pengetahuan memadai, tahu membedakan mana yang
boleh/dilarang secara profesional, namun cara kerja ceroboh
• Pasrah:
– Secara profesional terampil, tetapi kurang nyali, tidak asserttive
• Terkecoh:
– Pengetahuan audit dan kode etik memadai, tidak ceroboh. Klien lihai
dan selalu satu-dua langkah di depan
• Tuna etika:
– Cerdik, mengabaikan kode etik yang dianggap sebagai penghalang
berbisnis. Sering bernasib baik tidak kepergok karena lincah.
40

Diatur Dalam SA 250


PERTIMBANGAN ATAS PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN DALAM AUDIT ATAS
LAPORAN KEUANGAN
DAMPAK PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

• Ketentuan dalam beberapa peraturan perundang-undangan


berdampak langsung terhadap laporan keuangan yang
menentukan jumlah dan pengungkapan yang dilaporkan
dalam laporan keuangan suatu entitas.

41
PENDAHULUAN – TANGGUNG JAWAB
UNTUK MEMATUHI PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
• Tanggung jawab manajemen, dengan pengawasan dari pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola, adalah memastikan
bahwa operasi entitas dijalankan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
• Auditor bertanggung jawab untuk memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan, secara keseluruhan, bebas
dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kecurangan
maupun kesalahan;
• Auditor tidak bertanggung jawab untuk mencegah dan tidak
dapat diharapkan untuk mendeteksi ketidakpatuhan terhadap
semua peraturan perundang-undangan.

42
TUJUAN

• Tujuan auditor adalah:


– Untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat terkait dengan
kepatuhan terhadap ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
yang pada umumnya berdampak langsung dalam menentukan jumlah
dan pengungkapan material dalam laporan keuangan;
– Untuk melaksanakan prosedur audit tertentu untuk membantu
mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan lain yang dapat berdampak material terhadap
laporan keuangan; dan
– Untuk merespons adanya ketidakpatuhan atau dugaan ketidakpatuhan
peraturan perundang-undangan yang diidentifikasi selama
pelaksanaan audit secara tepat.

43
DEFINISI

Ketidakpatuhan

Tindakan penghilangan atau tindakan kejahatan oleh entitas,


disengaja atau tidak disengaja, yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan seperti itu
mencakup transaksi yang dicatat oleh, atau dengan nama entitas,
atau atas namanya, oleh pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola, manajemen, atau karyawan. Ketidakpatuhan tidak termasuk
kesalahan pribadi (yang tidak berkaitan dengan aktivitas bisnis
entitas) oleh pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola,
manajemen, atau karyawan entitas.

44
KETENTUAN

• Pertimbangan Auditor atas Kepatuhan terhadap Perundang-


undangan;
• Prosedur Audit Saat Dideteksi atau Diduga Terjadi
Ketidakpatuhan;
• Pelaporan atas Ketidakpatuhan yang Dideteksi atau Diduga
Terjadi;
• Dokumentasi

45
46

Diatur Dalam SA 260


KOMUNIKASI DENGAN PIHAK YANG
BERTANGGUNG JAWAB ATAS TATA KELOLA
PERAN KOMUNIKASI

• Komunikasi dua-arah memberikan pemahaman yang sama


terkait audit antara auditor dan pihak yang bertanggungjawab
atas tata kelola;
• Independensi dan objektivitas auditor tetap dipertahankan;
• Informasi yang diperoleh auditor lebih relevan;
• Risiko salah saji laporan keuangan dapat diminimalkan;
• Manajemen dituntut untuk tetap menjaga komunikasi dengan
auditor;
• Komunikasi harus jelas;
• Potensi benturan standar perikatan audit dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku

47
TUJUAN

• Komunikasi dua-arah terkait audit atas laporan keuangan


harus jelas;
• Auditor harus memperoleh informasi yang relevan dari pihak
yang bertanggungjawab atas tata kelola;
• Hasil observasi audit atas laporan keuangan yang signifikan
dan relevan harus disampaikan tepat waktu;
• Komunikasi dua-arah terkait audit atas laporan keuangan
harus efektif.

48
DEFINISI

• Pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola


Individu atau organisasi (organisasi-organisasi, seperti wali
amanat korporasi) yang memiliki tanggungjawab untuk
mengawasi arah strategis entitas dan pemenuhan kewajiban
yang berkaitan dengan akuntabilitas entitas;

• Manajemen
Individu atau kelompok individu dengan tanggungjawab
eksekutif untuk melaksanakan operasi entitas

49
KETENTUAN

• Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola;


• Hal-hal yang Perlu Dikomunikasikan;
• Proses Komunikasi;
• Dokumentasi.

50
51

Diatur Dalam SA 265


PENGOMUNIKASIAN DEFISIENSI DALAM
PENGENDALIAN INTERNAL KEPADA PIHAK
YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS TATA
KELOLA DAN MANAJEMEN
DEFINISI

• Defisiensi dalam pengendalian internal


Hal ini terjadi bila:
• Suatu pengendalian dirancang, diterapkan atau dioperasikan
sedemikian rupa sehingga pengendalian tersebut tidak dapat
mencegah, atau mendeteksi dan mengkoreksi salah saji dalam
laporan keuangan secara tepat waktu; atau
• Tidak adanya suatu pengendalian yang diperlukan untuk mencegah,
atau mendeteksi dan mengoreksi salah saji dalam laporan keuangan
secara tepat waktu.
• Defisiensi signifikan dalam pengendalian internal
Suatu defisiensi atau kombinasi beberapa defisiensi dalam pengendalian
internal, yang menurut pertimbangan profesional auditor, adalah cukup
penting untuk mendapatkan perhatian dari pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola.

52
KETENTUAN

• Tujuan auditor adalah:


• Untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat terkait
dengan kepatuhan terhadap ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan yang pada umumnya berdampak langsung
dalam menentukan jumlah dan pengungkapan material dalam
laporan keuangan;
• Untuk melaksanakan prosedur audit tertentu untuk membantu
mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan lain yang dapat berdampak material
terhadap laporan keuangan; dan
• Untuk merespons adanya ketidakpatuhan atau dugaan
ketidakpatuhan peraturan perundang-undangan yang
diidentifikasi selama pelaksanaan audit secara tepat.

53
DEFINISI

Ketidakpatuhan

Tindakan penghilangan atau tindakan kejahatan oleh entitas,


disengaja atau tidak disengaja, yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tindakan seperti itu mencakup transaksi yang dicatat oleh, atau
dengan nama entitas, atau atas namanya, oleh pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, manajemen, atau karyawan.
Ketidakpatuhan tidak termasuk kesalahan pribadi (yang tidak
berkaitan dengan aktivitas bisnis entitas) oleh pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, manajemen, atau karyawan
entitas.

54
KETENTUAN

• Identifikasi satu atau lebih defisiensi dalam


pengendalian intern;
• Penentuan signifikansi defisiensi dalam
pengendalian intern;
• Komunikasi tepat waktu;
• Komunikasi tertulis.

55
Q&A