Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN GIZI

BURUK PADA ANAK

Oktavianti Noor Rachmadi (131711133048)


Tiara Rosa Indah K (131711133049)
Definisi

Nutrisi adalah zat, zat gizi dan zat lain yang berhubungan
dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses
dalam tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan
dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut
untuk aktivitas penting dalam tubuhnya serta mengeluarkan zat
sisa.
Fungsi utama nutrisi adalah untuk memberikan energi bagi
aktivitas tubuh, membentuk struktur kerangka dan jaringan tubuh,
serta mengatur berbagai proses kimia dalam tubuh.
Kebutuhan Nutrisi Manusia

1.Air
2.Karbohidrat
3.Protein
4.Lemak
5.Vitamin
6.Mineral
Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi

1.Kekurangan gizi
2.Kelebihan gizi
3.Obesitas
4.Gizi buruk
5.Diabetes mellitus
6.Hipertensi
7.Penyakit jantung koroner
8.Kanker
GIZI KURANG
Definisi
Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat
kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan
untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang
berhubungan dengan kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif
bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak terjadi
pada anak usia kurang dari 5 tahun.Gizi buruk adalah kondisi gizi
kurang hingga tingkat yang berat dan di sebabkan oleh rendahnya
konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi
dalam waktu yang cukup lama, (Khaidirmuhaj, 2009).
Etiologi Gizi Kurang
Klasifikasi

1. Kurang Energi Protein (KEP)


Kurang Energi Protein (KEP) disebabkan oleh kekurangan
makan sumber energi secara umum dan kekurangan sumber
protein. Pada anak-anak, KEP dapat menghambat
pertumbuhan, rentan terhadap penyakit terutama penyakit
infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan.
2. Anemia Gizi Besi (AGB)
Penyebab masalah AGB adalah kurangnya daya beli
masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sumber zat besi,
terutama dengan ketersediaan biologik tinggi (asal hewan),
dan pada perempuan ditambah dengan kehilangan darah
melalui haid atau persalinan.
AGB menyebabkan penurunan kemampuan fisik dan
produktivitas kerja, penurunan kemampuan berpikir dan
penurunan antibodi sehingga mudah terserang infeksi.
3. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
GAKI menyebabkan pembesaran kelenjar gondok (tiroid).
Pada anak-anak menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan
jasmani, maupun mental. Ini menampakkan diri berupa
keadaan tubuh yang cebol, dungu, terbelakang atau bodoh.
4. Kurang Vitamin A (KVA)
KVA merupakan suatu ganguan yang disebabkan karena
kurangnya asupan vitamin A dalam tubuh. KVA dapat
mengakibatkan kebutaan, mengurangi daya tahan tubuh
sehingga mudah terserang infeksi, yang sering menyebabkan
kematian khususnya pada anak-anak
5. Gizi buruk
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan
karena kekurangan asupan energi dan protein juga
mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi
buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai
(selama 3 bulan berturut-turut tidak naik) dan tidak disertai
tanda-tanda bahaya.
GIZI BURUK
Definisi

Gizi buruk merupakan suatu keadaan tubuh yang


diakibatkan oleh ketidaksimbangan asupan zat gizi
dengan kebutuhan, dapat dilihat dari variabel-variabel
pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan,
panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan
panjang tungkai. Gizi buruk adalah suatu keadaan kurang
gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks
timbangan menurut BB/TB (Depkes RI, 2008).
Etiologi

Ada 2 faktor penyebab dari gizi buruk adalah sebagai berikut :


1. Penyebab langsung
kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi, menderita
penyakit infeksi, cacat bawaan dan menderita penyakit kanker. Anak yang
mendapat makanan cukup baik tetapi sering diserang atau demam akhirnya
menderita kurang gizi.
2. Penyebab tidak langsung
ketersediaan pangan rumah tangga, perilaku, pelayanan kesehatan.
Sedangkan faktor-faktor lain selain faktor kesehatan, tetapi juga merupakan
masalah utama gizi buruk adalah kemiskinan, pendidikan rendah, pengetahuan
gizi ibu, ketersediaan pangan dan kesempatan kerja.
Manifestasi Klinis
1.Anak tampak sembab, latergik, cengeng, pada tahap lanjut anak menjadi apatis
dan koma.
2.Pertumbuhan terganggu BB dan PB kurang dibandingkan dengan yang sehat.
3.Pada sebagian penderita terdapat edema baik ringan dan berat.
4.Gejala gastrointestinal seperti anoreksia dan diare
5.Rambut mudah dicabut, tampak kusam kering, halus jarang dan berubah
warna.
6.Hilangnya masa otot.
7.Dermatitis dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi.
8.Kulit kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang mendalam dan lebar,
terjadi persisikan dan hiperpigmentasi.
9.Terjadi pembesaran hati, hati yang teraba umumnya kenyal permukaannya licin
dan tajam.
10.Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita.
11.Kelainan kimia darah yang selalu ditemukan ialah kadar albumin serum yang
rendah, disamping kadar globulin yang normal atau sedikit meninggi.
Patofisiologi

Patofisiologi gizi buruk pada balita adalah anak sulit makan atau
anorexia bisa terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik seperti
suasana makan, pengaturan makanan dan lingkungan. Turgor atau elastisitas
kulit jelek karena sel kekurangan air (dehidrasi). Reflek patella negatif terjadi
karena kekurangan aktin myosin pada tendon patella dan degenerasi saraf
motorik akibat dari kekurangn protein, Cu dan Mg seperti gangguan
neurotransmitter. Sedangkan, hepatomegali terjadi karena kekurangan protein.
Jika terjadi kekurangan protein, maka terjadi penurunan pembentukan
lipoprotein. Hal ini membuat penurunan HDL dan LDL. Karena penurunan
HDL dan LDL, maka lemak yang ada di hepar sulit ditransport ke jaringan-
jaringan, pada akhirnya penumpukan lemak di hepar. Tanda khas pada
penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting edema disebabkan oleh
kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik intravaskular menurun. Jika hal
ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial.
Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada
penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk
reabsorpsi natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga
keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor, selain
defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka
plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak
terfiksasi oleh membran sel dan mengembalikannya membutuhkan
waktu yang lama karena posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi
penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat
terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak
tepat seperti hubungan orang tua dengan anak terganggu, karena
kelainan metabolik atau malformasi kongenital. Keadaan ini
merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan
penyakit infeksi
Klasifikasi

1. Kwashiorkor
Kwarshiorkor adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein
baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

2. Marasmus
Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekuranga kalori dan
protein.

3. Marasmic-Kwashiorkor
Penyakit ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor
WOC
Penatalaksanaan
1.Ibu memberikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil dan sering kepada anak sesuai kebutuhan dan
petunjuk cara pemberian makanan dari rumah sakit/dokter/puskesmas.

2.Bila balita dirawat, perhatikan makanan yang diberikan lalu, teruskan dirumah

3.Berikan hanya ASI, bila bayi berumur kurang dari 4 bulan.

4.Usahakan disapih setelah berumur 2 tahun

5.Berikan makanan pendamping ASI (bubur, buah-buahan, biskuit, dsb.) bagi bayi di atas 4 bulan dan berikan
bertahap sesuai umur.

6.Pengobatan awal (terutama: untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa)

7.Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, dan pemulihan ketidakseimbangan


elektrolit

8.Pencegahan (jika ada) ancaman atau perkembangan renjatan septik

9.Pengobatan infeksi

10.Pemberian makanan

11.Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain seperti kekurangan vitamin, anemia berat, dan payah
jantung

12.Rehabilitasi (terutama: untuk memulihkan keadaan gizi


Pemeriksaan Penunjang
Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan
menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi
badan (BB/TB).
1.Indeks berat badan menurut umur (BB/U)
Merupakan pengukuran antropometri yang sering digunakan sebagai indikator dalam
keadaan normal, dimana keadaan kesehatan dan keseimbangan antara intake dan
kebutuhan gizi terjamin.
2. Indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)
Indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau, juga lebih erat
kaitannya dengan status ekonomi
3. Indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal,
perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan
kecepatan tertentu (Supariasa,dkk 2002).
4. Melakukan pemeriksaan lab : kadar gula darah, darah tepi lengkap,feses lengkap,
elektrolit serum, protein serum (albumin, globulin),feritin.
5. Pemeriksaan radiologi (dada AP dan lateral) juga perlu dilakukan untuk menemukan
adanya kelainan pada paru.
5. EKG
Pencegahan

1.Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan


2.Anak diberi makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein,
lemak, vitamin dan mineralnya
3.Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program
posyandu.
4.Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada
petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari
rumah sakit.
5.Jika anak menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang
tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula.
Komplikasi
1.Hipotermia : penurunan suhu tubuh dibawah 36,5֯ C suhu normal dan
menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah.
2. Hipoglikemia : keadaan dimana kadar gula ( glukosa) darah turun dibawah
normal (kurang dari 70 Mg/dl)
3.Infeksi : kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme
inang dan bersifat paling membahayakan inang
4.Diare : perubahan konsistensi dan frekuensi berak.
5.Syok : kondisi kritis akibat penurunan mendadak dalam aliran darah yang
melalui tubuh
6.Defisiensi vitamin A
7.Dermatosis : kelainan kulit
8.Tuberculosis : penyakit menular yang umumnya disebabkan oleh berbagai
strain mikobakteri
KASUS

An. B (laki-laki) usia 2 tahun dirawat di Ruang anak RS Husada Utama


karena kurang kalori dan protein (KKP). Klien tampak lemah, rambut tipis
kecoklatan, mata cekung, mukosa mulut kering, wajah keriput, tulang iga
tampak jelas, retraksi dinding dada, perut buncit, turgor kurang elastis, edema di
ekstremitas atas dan bawah, pantat atropi, belum bisa berjalan, duduk harus
dibantu dan bicara belum jelas. An. B anak ke lima dari keluarga yang kurang
mampu, hanya minum ASI, ibu An. B umur 40 tahun, TB 150 cm, BB 40 kg,
dari pemeriksaan BB An. B 8 kg.
A. Identitas
1. Identitas Klien
Nama : An. B
Umur : 2 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan :-
Pekerjaan :-
Suku bangsa : Jawa
Alamat : Sidoharum, Gunung kidul
No.RM : 20605xxx
Tanggal masuk RS : 5 Juni 2019 pukul 09.30 WIB
Dx. Medis : Kwasiorkhor dan marasmus
2. Identitas Penanggung jawab
Nama : Ny.N
Umur : 40 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Sidoharum, Gunung kidul
Hubungan dengan klien : Ibu
B. Riwayat kesehatan

1. Keluhan Utama : Ibu klien mengatakan An. B tampak lemah


2. Riwayat Penyakit Sekarang : Ibu klien mengatakan klien tampak lemah,
badannya sangat kurus, kemudian diperiksakan di balai pengobatan desa, menurut hasil dari
pemeriksaan, klien didiagnosa Gizi buruk sehingga klien harus menjalani pengobatan dan
dokter menganjurkan agar klien dibawa ke RS Husada Utama. Pada tanggal 5 Juni 2019 pukul
09.30 WIB oleh keluarga klien dibawa ke IGD RS Husada Utama. Ibu klien mengatakan
tampak lemah, badannya sangat kurus, perut buncit, tangan dan kakinya tampak bengkak,
belum bisa berjalan, duduk harus dibantu dan bicara belum jelas. Di IGD TTV ; TD : 80/60
mmHg, Nadi : 80 x/menit, Suhu : 37˚C, dan RR : 24 x/menit. Terapi : infus RL 45 tpm. Saat
dikaji pada tanggal 5 Juni 2019 pukul 11.00 WIB Ibu klien mengatakan tampak lemah, klien
hanya di beri ASI karena keluarga klien tidak mampu membeli susu formula , badannya sangat
kurus, perut buncit, tangan dan kakinya tampak bengkak, belum bisa berjalan, duduk harus
dibantu dan bicara belum jelas.
3. Riwayat Penyakit Dahulu : Ibu klien mengatakan kemarin klien sering diare,
tetapi klien tidak di bawa ke balai pengobatan ataupun RS.
4. Riwayat kesehatan keluarga : Ibu klien mengatakan keluarga tidak ada yang
mengalami sakit seperti klien. Dan keluarga tidak ada yang mengalami penyakit seperti TBC,
DM, hipertensi maupun penyakit serius lainnya.
5. Riwayat kehamilan : Anak laki laki dari ibu G5 P5 A0. Selama
kehamilan klien, ibu klien mengatakan tidak mempunyai masalah khusus, paling hanya
mual-mual.
6. Riwayat Persalinan : Ibu klien mengatakan klien lahir secara normal
dan spontan, tidak ada kelainan bawaan dan tidak mempunyai gangguan selama proses
persalinan. Klien lahir secara prematur yaitu hamil usia 35 minggu, presentasi bawah
kepala. BBL : 3200 gram.
7. Riwayat imunisasi : Klien mendapat imunisasi BCG dan Polio.
8. Riwayat tumbuh kembang : Ibu klien mengatakan klien mengalami
keterlambatan dalm proses tumbuh kembang.
Perkembangan motorik : klien belum bisa berjalan, dan duduk harus dibantu.
Perkembangan bahasa: bicara klien belum jelas
9. Kebutuhan cairan
Kebutuhan cairan klien = 100 cc/ kgBB/ hari = 100 x 8 = 800 ml
10. Kebutuhan kalori
Kebutuhan kalori klien =
1000 kalori + (100 x usia dalam tahun) = 1000 + (100 x 2) = 1000 + 200 = 1200
kalori/hari
6. Pola perseptif kognitif
Sebelum sakit : Klien dapat melihat dengan normal dan bisa mendengarkan dengan
jelas, dalam pengecapan klien tidak ada masalah, klien bisa mengecap makanan dengan baik.
Saat dikaji : Klien dapat melihat dengan normal dan bisa mendengarkan dengan
jelas, dalam pengecapan klien tidak ada masalah, klien bisa mengecap makanan dengan baik.
7. Pola koping/toleransi stres
Sebelum sakit : Ibu klien mengatakan jika klien merasa tidak nyaman klien menangis.
Saat dikaji : Klien hanya tiduran dan apabila klien kesakitan klien menangis dan
rewel.
8. Pola Konsep diri : Tidak terkaji
9. Pola Seksual dan Reproduksi
Klien berjenis kelamin laki-laki, dan tidak ada masalah dalam sistem reproduksi klien.
10. Pola peran / hubungan
Sebelum sakit : Hubungan klien dengan orangtua dan keluarga baik.
Saat dikaji : Klien lebih nyaman ditemani oleh ibunya.
11. Pola nilai / kepercayaan
Sebelum sakit : Ibu klien mengatakan klien belum melakukan ibadah.
Saat dikaji : Ibu klien mengatakan klien belum melakukan ibadah
D. Pemeriksaan Fisik
1. TTV :
TD : 80/60 mmHg
Nadi : 70 x/menit
Suhu : 36,5 ˚C
RR : 22 x/menit
2. Antropometri :
Lingkar Kepala : 48 cm
Lingkar Lengan atas : 12 cm
BB : 8 Kg
TB : 84 cm
3. Kepala : mesosepal, rambut tipis kecoklatan
4. Wajah : tampak keriput
5. Mata : konjungtiva anemis, sklera Anikterik, reflek terhadap
cahaya pupil isokhor, mata cekung
6. Hidung : tidak ada polip, tidak ada cuping hidung
7. Mulut : bibir terlihat pucat dan kering
8. Telinga : normal, tidak ada sekret dan darah
9. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
10. Dada :
Paru
Inspeksi : tulang iga tampak jelas, tidak ada otot bantu pernafasan
Palpasi : retraksi dinding dada sama kanan dan kiri, terdapat vocal fomitus kanan kiri
Perkusi : sonor
Auskultasi : bunyi vesikuler
Jantung
Inspeksi : tidak tampak ictus cordis
Palpasi : tidak terdapat pembesaran jantung
Perkusi : pekak
Auskultasi : S1 dan S2 bunyi reguler
Abdomen
Inspeksi : bentuk buncit
Auskultasi : bising usus 10 x/menit
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, cubitan perut lambat
Perkusi : timpani
11. Genetalia : laki laki, tidak terpasang DC
12. Anus : tidak ada lesi, pantat atropi
13. Ekstremitas : atas : akral dingin, CRT : 4 detik, terpasang infus RL 20 tpm, terdapat edema
Bawah : lemah, terdapat edema
14. Kulit : turgor kulit kurang elastis
MASALAH
NO DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
1. DS : Intake kurang dari Ketidakseimbangan
- Ibu klien mengatakan klien kebutuhan nutrisi kurang dari
badannya sangat kurus, tidak kebutuhan tubuh
mau makan makanan Defisiensi protein dan
pendamping ASI kalori
DO:
- Klien tampak lemah Ketidakseimbangan
- Tulang iga tampak jelas nutrisi kurang dari
- Perut buncit kebutuhan tubuh
- Pantat atropi
- BB nomal : 12 kg
- BB An. B : 8 kg
MASALAH
NO DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
2. DS : Intake kurang dari Keterlambatan
- Ibu klien mengatakan klien kebutuhan pertumbuhan dan
belum bisa berjalan dan duduk perkembangan
harus dibantu Defisiensi protein dan
- Ibu klien mengatakan klien kalori
hanya minum ASI
Asam amino esensial
DO : menurun dan produksi
- BB : 8 Kg, BB normal : 12 albumin menurun
kg
- TB : 84 , TB normal : 90 cm Atrofi/pengecilan otot
- LILA: 12 cm, LILA normal :
16 cm Keterlambatan
- Klien tampak lesu pertumbuhan dan
perkembangan
Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh b.d asupan yang tidak adekuat
2. Keterlambatan pertumbuhan dan
perkermbangan b.d asupan kalori dan protein
yang tidak adekuat
Diagnosa
NO Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan 1 Jelaskan kepada keluarga
nutrisi kurang dari keperawatan 2x24 jam tentang penyebab malnutrisi,
kebutuhan tubuh diharapkan ketidakseimbangan kebutuhan nutrisi pemulihan,
b.d asupan yang nutrisi kurang dari kebutuhan susunan menu dan pengolahan
tidak adekuat tubuh klien teratasi makanan sehat seimbang,
dengan KH : tunjukkan contoh jenis sumber
- Menunjukan adanya makanan ekonomis sesuai status
kenaikan BB dan BB stabil sosial ekonomi klien
- Tidak ada malnutrisi 2 Tunjukkan cara pemberian
makanan per sonde, beri
kesempatan keluarga untuk
melakukannya sendiri.
3 Timbang berat badan, ukur
lingkar lengan atas dan tebal
lipatan kulit setiap pagi.
4 Dorong orangtua untuk
menyuapi anak
5 Sajikan makan sedikit tapi
sering
Diagnosa
NO Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
2. Keterlambatan Setelah dilakukan tindakan 1 Ajarkan kepada orang tua
pertumbuhan dan keperawatan ....x24 jam tentang standar pertumbuhan fisik
perkermbangan diharapkan tumbuh kembang dan tugas-tugas perkembangan
b.d asupan kalori anak membaik meningkat sesuai usia anak.
dan protein yang dengan KH : 2 Lakukan pemberian
tidak adekuat - Pertumbuhan fisik sesuai makanan/ minuman sesuai
usia program terapi diet pemulihan.
- Perkembangan motorik, 3 Lakukan pengukuran
bahasa sesuai usinya antropo-metrik secara berkala.
4 Lakukan stimulasi tingkat
perkembangan sesuai dengan usia
klien.
Evaluasi
1. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
2. Tumbuh kembang anak membaik secara
signifikan sesuai dengan usianya