Anda di halaman 1dari 19

SNAKE BITE

Sitaresmi Pranasari 1610711001


Nedya Asnurianti 1610711003
Lycia Dwi Lyndiyani 1610711025
Herfina 1610711026
Leily Muhafilah 1610711030
DEFINISI
• Luka gigitan adalah cidera yang disebabkan
oleh mulut dan gigi hewan atau manusia.
Hewan mungkin menggigit untuk
mempertahankan dirinya, dan pada
kesempatan khusus untuk mencari makanan.
• Beberapa luka gigitan perlu ditutup dengan
jahitan, sedang beberapa lainnya cukup
dibiarkan saja dan sembuh dengan sendirinya.
JENIS ULAR DAN CARA
MENGIDENTIFIKASINYA
• famili Colubridae (lemah), Contoh ular yang
termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys
carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular
tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah
(Sibynophis geminatus).
• Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae (berbisa
kuat). contoh anggota famili ini adalah ular cabai
(Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus
candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan
ular king kobra (Ophiophagus hannah).
Tabel 1. Perbedaan Ular Berbisa
dan Ular Tidak Berbisa

Tidak berbisa Berbisa

Bentuk Bulat Elips, segitiga


Kepala
Gigi Taring Gigi Kecil 2 gigi taring besar

Bekas Gigitan Lengkung seperti U Terdiri dari 2 titik

Warna Warna-warni Gelap


Komposisi Bisa Ular

Enzim prokoagulan (Viperidae) dapat menstimulasi


pembekuan darah namun dapat pula menyebabkan
darah tidak dapat berkoagulasi

Haemorrhagins (zinc metalloproteinase) dapat merusak


endotel yang meliputi pembuluh darah dan menyebabkan
perdarahan sistemik spontan (spontaneous systemic
haemorrhage).
Post-synaptic neurotoxins (Elapidae) –polipeptida ini bersaing
dengan asetilkolin untuk mendapat reseptor di neuromuscular
junction dan menyebabkan paralisis yang mirip seperti
paralisis kuraonium

Racun sitolitik atau nekrotik – mencerna hidrolase


menyebabkan pembengkakan setempat

Phospholipase A2 haemolitik and myolitik – ennzim ini dapat


menghancurkan membran sel, endotel, otot lurik, syaraf serta
sel darah merah.
Sifat Bisa Ular

Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa


ular dapat dibedakan menjadi:
• hemotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi
jantung dan sistem pembuluh darah;
• bisa neurotoksik, yaitu bisa yang
mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan
bisa sitotoksik,
• yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi
gigitan.
TANDA DAN GEJALA GIGITAN ULAR
BERDASARKAN JENIS ULAR
1. Gigitan Elapidae
• (misalnya : ular kobra, ular weling, ular sendok, ular anang, ular
cabai, coral snake, mambas, kraits)
• Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang
berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
• Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit rusak
• Setelah digigit ular
• 15 menit : muncul gejala sistemik
• 10 jam : paralisis otot-otot wajah, bibir, lidah, tenggorokan,
sehingga sukar berbicara, susah menelan, otot lemas, ptosis, sakit
kepala, kulit dingin, muntah, pandangan kabur, parestesia di sekitar
mulut. Kematian dapat terjadi dalam 24 jam.
2. Gigitan Viporidae/Crotalidae
• (misalnya ular tanah, ular hijau, ular bandotan
puspo)
• Gejala lokal timbul dalam 15 menit, setelah
beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan
yang menyebar ke seluruh anggota tubuh.
• Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau
setelah beberapa jam
• Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan
di atas siku dan lutut dalam waktu 2 jam atau
ditandai dengan perdarahan hebat.
Gigitan Hydropiridae
• (misalnya ular laut)
• Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal,
berkeringat, dan muntah.
• Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya
timbul kaku dan nyeri menyeluruh, dilatasi pupil,
spasme otot rahang, paralisis otot, mioglobinuria
yang ditandai dengan urin berwarna coklat gelap
(penting untuk diagnosis), kerusakan ginjal, serta
henti jantung
Anamnesis:
1. pada bagian tubuh mana anda terkena gigitan
ular?
2. kapan dan pada saat apa anda terkena gigitan
ular?
3. perlakuan terhadap ular yang telah menggigit
anda?
4. perlakuan terhadap ular yang telah menggigit
anda?
PENATALAKSANAAN KERACUNAN
AKIBAT GIGITAN ULAR
1. Pertolongan pertama. Menenangkan korban yang cemas;
imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang
tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan
kayu agar tidak terjadi kontraksi otot.
2. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya,
dengan cara yang aman dan senyaman mungkin. Pasien
diposisikan miring (recovery posotion) bila ia muntah
dalam perjalanan.
3. Pengobatan gigitan ular. Metode penggunaan torniket
(diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran
darah), insisi (pengirisan dengan alat tajam), pengisapan
tempat gigitan, pendinginan daerah yang digigit.
Terapi yang dianjurkan meliputi:
1. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.
2. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban
katun elastis dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan
kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari
kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan.
3. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi
penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan;
penatalaksanaan sirkulasi.
4. Pemberian suntikan antitetanus, bila korban pernah mendapatkan
toksoid maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.
5. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara
intramuskular.
6. Pemberian analgesik untuk menghilangkan nyeri.
7. Pemberian serum antibisa.
Kandungan Serum Anti Bisa Ular
• Tiap ml dapat menetralisasi :
• Bisa ular Ankystrodon rhodosoma 10-50 LD50
• Bisa ular Bungarus fascinatus 25-50 LD50
• Bisa Ular Naya sputatrix 25-50 LD50
• Dan mengandung Fenol 0,25% sebagai
pengawet.
Cara Pemakaian Serum Anti Bisa Ular
• Dosis pertama sebanyak 2 vial @5 ml sebagai larutan 2% dalam
NaCl dapat diberikan sebagai infus dengan kecepatan 40-80 tetes
per menit,
• lalu diulang setiap 6 jam.
• Apabila diperlukan (misalnya gejala-gejala tidak berkurang atau
bertambah) antiserum dapat diberikan setiap 24 jam sampai
maksimal (80-100 ml).
• antiserum yang tidak diencerkan dapat diberikan langsusng sebagai
suntikan intravena dengan sangat perlahan-lahan.
• Dosis untuk anak-anak sama atau lebih besar daripada dosis untuk
dewasa.
• Cara lain adalah denga menyuntikkan 2,5 ml secara infiltrasi di
sekitar luka, 2,5 ml diinjeksikan secara intramuskuler atau intravena.
Pada kasus berat dapat diberikan dosis yang lebih tinggi.
• Penderita harus diamati selama 24 jam.
Efek Samping Serum Anti Bisa Ular
• Reaksi anafilaktik (anaphylactic shock)
• Penyakit serum (serum sickness)
• Kenaikan suhu (demam) dengan menggigil
• Rasa nyeri pada tempat suantikan
KRITERIA PEMBERIAN SERUM ANTI BISA ULAR

DERAJAT PARRISH
Derajat Venerasi Luka gigit Nyeri Udem/eritema Tanda sistemik

0 0 + +/- <3cm/12 jam 0

I +/- + + <3cm/12 jam 0

II + + +++ >12cm- +. Neurotoksik, mual,


25cm/12jam pusing, syok

III ++ + +++ >25cm/12jam ++,syok,


petekie,ekimosis

IV +++ + +++ Pada satu ++, gangguan faal


ekstremitas ginjal, koma,
secara perdarahan
menyeluruh
PEMBERIAN SABU
(SERUM ANTI BISA ULAR)

Derajat parrish SABU (serum antibisa


ular)

0-1 Tidak perlu

2 5-20 cc

3-4 40-100 cc