Anda di halaman 1dari 10

INTERPRETASI LITERAL

DAN PURPOSIVE
INISIASI 6
PENAFSIRAN LITERAL

Metode penafsiran Literal/Lettelijk menurut Arief Sidharta merupakan


penafsiran yang menekankan pada arti atau makna kata-kata yang tertulis.
Hakim berusaha untuk mengetahui makna suatu kata dalam peraturan
perundang-undangan.
Seorang hakim wajib mencari tahu arti kata dalam UU dalam kamus atau
pada ahli tata bahasa. Jika hakim belum menemukan maknanya, maka dia
mencarinya dengan memperhatikan dan mempelajari susunan kalimat dan
mencari hubungannya dengan peraturan-peraturan lain. Jadi dapat
disimpulkan bahwa untuk menafsirkan suatu perundang-undangan hakim
menggunakan pendekatan bahasa dalam memaknai suatu peraturan
Proses interpretasi literal sendiri dapat dibagi dalam beberap tahap yaitu:
1. Aturan terutama atau primer dalam penafsiran. Jika makna atau arti dalam
suatu kata berhasil diketahui oleh hakim, maka hakim wajib memberlakukannya
sesuai dengan maksud di pembuat peraturan;
2. Jika kata-kata dengan jelas bermakna :
a. ambigu, tidak jelas atau menyesatkan atau
b. jika kata yang ditafsir menghasilkan penafsiran yang tidak masuk akal
c. maka pengadilan dapat menyimpang dari arti harfiah untuk menghindari
seperti absurd
d. Hal ini dikenal sebagai interpretasi “aturan emas”
3. Kemudian pengadilan akan beralih ke alat bantu sekunder interpretasi untuk
menemukan maksud dari legislatif misalnya :
a. judul panjang undang-undang;
b. judul untuk bab dan bagian;
c. teks dalam bahasa resmi lainnya;
d. Dll
4. Untuk membantu menginterpretasi maka dibutuhkan “alat bantu sekunder”,
pengadilan akan memiliki alat “bantu tersier” untuk mengkonstruksikan yang
disebut dengan praduga hukum common law.

Metode penafsiran literal lebih melihat dari sudut pandang kebahasaannya


tidak melihat pada pengertian kontektualnya. Jadi hukum merupakan apa yang
tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Oleh karenanya metode ini menuai
beberapa kritikan dari para ahli hukum. Metode ini dipandang sebagai pendekatan
yang sempit karena pemaknaan kata merupakan hal utama dari maksud si pembuat
peraturan sehingga berimplikasi pada pembatasan peran hakim dalam melakukan
interpretasi.
Hakim hanya boleh melakukan intrepretasi ketika ada kata-kata yang sifatnya
ambigu. Hal ini berarti bahwa bantuan internal dan eksternal lainnya untuk
interpretasi yang diterapkan untuk membangun kontekstual makna diabaikan.

CONTOH PENAFSIRAN LITERAL:


Kata servants dalam dalam Konstitusi Jepang Art. 15 (2), “All public officials are
servants of the whole community and not of any group there of”. Contoh lain
mengenai kata a natural association dalam Art. 29 ayat (1) dan kata the moral dalam
ayat (2) konstitusi Italia yang menyatakan : “(1) The Republic recognizes the rights
of the family as a natural association founded on marriage; (2) Marriage is based on
the moral and legal equality of the spouses, within the limits laid down by law to
safeguard the unity of the family”.
PENAFSIRAN PURPOSIVE

Interpretasi Purposive digunakan untuk memberikan arti atau aturan-


aturan dalam undang-undang berdasarkan maksud atau tujuan
pembentukannya.
Enam macam interpretasi konstitusi yang dikemukakan Hobbit termasuk
dalam lingkup Interpretasi Purposive, yakni antara lain :
1. Penafsiran tekstual (textualism or literalism) atau penafsiran harfiah
ini merupakan bentuk atau metode penafsiran konstitusi yang dilakukan
dengan cara memberikan makna terhadap arti dari kata-kata di dalam
dokumen atau teks yang dibuat oleh lembaga legislatif (meaning of the
words in the legislative text). Dengan demikian, penafsiran ini menekankan
pada pengertian atau pemahaman terhadap kata-kata yang tertera dalam
konstitusi atau Undang-Undang sebagaimana yang pada umumnya dilakukan
oleh kebanyakan orang.
2. Penafsiran historis ini disebut juga dengan penafsiran orisinal, yaitu bentuk
atau metode penafsiran konstitusi yang didasarkan pada sejarah konstitusi atau
Undang-Undang itu dibahas, dibentuk, diadopsi atau diratifikasi oleh
pembentuknya atau ditandatangani institusi yang berwenang. Pada umumnya
metode penafsiran ini menggunakan pendekatan original intent terhadap norma-
norma hukum konstitusi. Menurut Anthony Mason, interpretasi atau penafsiran ini
merupakan penafsiran yang sesuai dengan pengertian asli dari teks atau istilah-
istilah yang terdapat dalam konstitusi. Penafsiran ini biasanya digunakan untuk
menjelaskan teks, konteks, tujuan dan struktur konstitusi.
3. Penafsiran Doktrinal merupakan metode penafsiran yang dilakukan dengan
cara memahami aturan Undang-Undang melalui sistem preseden atau melalui
praktik peradilan. James A. Holland dan Julian S. Webb mengemukakan bahwa
common law is used to describe all those rules of law that have evolved through
court cases (as opposed to those which have emerged from Parliament.) Menurut
Bobbitt, metode penafsiran doktrinal ini banyak dipengaruhi oleh tradisi common
law yang digunakan sebagai pendekatannya.
4. Penafsiran prudensial merupakan metode penafsiran yang dilakukan dengan
cara mencari keseimbangan antara biaya-biaya yang harus dikeluarkan dan
keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari penerapan suatu aturan atau Undang-
Undang tertentu. Menurut Bobbitt, prudential arguments is actuated by facts, as
these play into political and economic policies.
5. Penafsiran struktural merupakan metode penafsiran yang dilakukan dengan
cara mengaitkan aturan dalam Undang-Undang dengan konstitusi atau Undang-
Undang Dasar yang mengatur tentang struktur-struktur ketatanegaraan.
Bobbitt mengemukakan, metode penafsiran ini juga berkenaan dengan
pertanyaan-pertanyaan mengenai federalisme, pemisahan kekuasaan dan isu-isu
lainnya di lingkungan pemerintahan, di luar isu-isu tentang kebebasan sipil dan hak
asasi manusia. Bobbit mengemukakan, ‘structuralism as a kind of 'macroscopic
prudentialism‘.
6. Penafsiran etikal merupakan metode penafsiran yang dilakukan dengan cara
menurunkan prinsip-prinsip moral dan etik sebagaimana terdapat dalam konstitusi
atau undang-undang dasar. Metode penafsiran ini dikonstruksi dari tipe berpikir
konstitusional yang menggunakan pendekatan falsafati, aspirasi atau moral.
Metode penafsiran ini dapat digunakan untuk isu-isu yang menekankan pada
pentingnya hak-hak asasi manusia dan pembatasan terhadap kekuasaan negara
atau pemerintahan. Dalam metode penafsiran etikal ini, moralitas konvensional
(conventional morality) dan filsafat moral (moral philosophy) merupakan 2 (dua)
aspek yang sangat relevan sekali apabila digunakan sebagai metode pendekatan.

CONTOH PENAFSIRAN PURPOSIVE:


Dapat dilihat dalam kasus Jones v Menara Boot Co (1997). Dalam hal ini
Pengadilan Tinggi harus memutuskan apakah kekerasan fisik dan verbal yang
dialami seorang pekerja berkulit hitam yang dilakukan oleh rekan kerjanya jatuh
dalam 'masa kerja' di bawah S32 Race Relations Act 1976. Majikan telah
menegaskan bahwa tindakan ini jatuh di luar masa kerja yang dilakukan oleh
rekan kerjanya, karena perilaku seperti itu bukan bagian dari pekerjaan mereka.
Pengadilan Banding Ketenagakerjaan tidak bisa karena itu bertanggung jawab
kepada pekerja berkulit hitam untuk perilaku rekan kerjanya.
Keputusan ini terbalik oleh Pengadilan Tinggi menggunakan pendekatan purposive
untuk menafsirkan S32. Niat parlemen ketika memberlakukan Race Relations Act
adalah untuk menghapuskan diskriminasi di tempat kerja dan ini tidak akan
tercapai dengan menerapkan konstruksi sempit untuk kata-kata.
Kelebihan Menggunakan Interpretasi Purposive
Ini adalah pendekatan penafsiran atau interpretasi hukum yang fleksibel yang
memungkinkan hakim untuk mengembangkan hukum sejalan dengan niat Parlemen.
Hal ini memungkinkan hakim untuk mengatasi situasi yang tak terduga oleh
Parlemen memungkinkan hukum untuk dikembangkan.
Kelemahan Menggunakan Interpretasi Purposive
Hakim diberi terlalu banyak kekuasaan untuk mengembangkan hukum dan
merebut kekuasaan dari Parlemen. Hakim menjadi pembuat hukum melanggar
Pemisahan Kekuasaan (Montesquieu), ada lingkup bias peradilan dalam
memutuskan apa yang dimaksudkan Parlemen. Ini mengasumsikan Parlemen
memiliki satu niat dan mengabaikan fakta bahwa Parlemen terbagi atas garis
partai. Membiarkan referensi untuk Hansard dapat menyebabkan pemeriksaan
berkepanjangan materi yang tidak relevan dengan pengacara yang menambah biaya
dan panjang litigasi.