Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PENYAKIT PARU


OBSTRUKTIF KRONIK
(PPOK)

Rita Fitri Yulita, S.Kep., Ners., M. Kep


DEFINISI PPOK

Menurut PDPI (2010) PPOK adalah penyakit yang ditandai


adanya hambatan udara disaluran napas secara progresif

Menurut Smeltzer & Bare (2008) PPOK adalah penyakit


yang ditandai oleh keterbatasan aliran udara di dalam
saluran napas yang tidak sepenuhnya dapat dipulihkan

PPOK meliputi emfisema, bronkitis kronik atau kombinasi


dari keduanya.
 Emfisema : kondisi patologis terjadinya pembesaran
abnormal rongga udara di bagian distal bronkiolus dan
kerusakan dinding alveoli

 Bronkitis kronis : kelainan saluran napas yang ditandai


oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam
setahun sekurang-kurangnya 2 tahun berturut-turut (Price
& Wilson, 2005)

PPOK merupakan sejumlah gangguan yang mempengaruhi


pergerakan udara dari dan keluar paru, inflamasi jalan nafas,
obstruksi jalan nafas yang mencakup emfisema, bronkitis kronik atau
kombinasi dari keduanya
ETIOLOGI

 Merokok

 Merokok akan menyebabkan hyperplasia kelenjar mukus


bronkus, metaplasia skuamus epitel saluran pernapasan dan
bronkokonstriksi akut.
 Risiko terkena PPOK akibat merokok dapat diketahui melalui
penilaian derajat berat merokok berdasarkan Indeks Brinkman
(IB), yakni :

Jumlah rata-rata batang rokok yang dihisap sehari X


lama merokok dalam tahun

Kategori :
Perokok ringan : merokok antara 0-200 batang
Perokok sedang : jumlah batang antara 200-600
Perokok berat : menghabiskan 600 batang atau lebih
 Lapangan kerja berdebu
 Polusi udara
 Defisiensi ɑ-1-antitripsin
 ɑ-1-antitripsin (AAT) adalah sejenis protein yang
berperan sebagai inhibitor diproduksi di hati dan
bekerja pada paru-paru.
 Seseorang dengan kelainan genetik kekurangan enzim
tersebut maka akan berpeluang lebih besar untuk
terserang PPOK.
PATOGENESIS
PATOFISIOLOGI

 PATHWAY PPOK.docx
TANDA DAN GEJALA

 Dipsnue

 batuk

 Pink puffers

 Blue blaters

 Produksi sputum

 Sesak

 Perubahan bentuk dada


KLASIFIKASI PPOK

Derajat klinis Faal paru

Ringan - Batuk kronik dan VEP1/KVP<


PPOK drj 1 produksi sputum ada 70%
tapi tdk sering. Pasien VEP1≥80%
sering tdk menyadari prediksi
fungsi paru mulai
turun
KLASIFIKASI PPOK

derajat klinis Faal paru

Sedang - Sesak saat aktivitas, VEP1/KVP<70%


PPOK drj 2 kadang batuk dan 50%<VEP1<80%
produksi sputum. prediksi
Pasien mulai
memeriksakan
kesehatannya
KLASIFIKASI PPOK

derajat klinis Faal paru

SangatBerat Gejala drj 3 ditambah VEP1/KVP<70%


PPOK drj 4 tanda-tanda gagal VEP1<30%
napas atau gagal prediksi atau
jantung kanan dan VEP1<50%
ketergantungan O2. prediksi disertai
kualitas hidup gagal napas kronik
memburuk
KLASIFIKASI PPOK

derajat klinis Faal paru

SangatBerat Gejala drj 3 ditambah VEP1/KVP<70%


PPOK drj 4 tanda-tanda gagal VEP1<30%
napas atau gagal prediksi atau
jantung kanan dan VEP1<50%
ketergantungan O2. prediksi disertai
kualitas hidup gagal napas kronik
memburuk
KOMPLIKASI

 Gagal nafas

 Atelektasis

 Pneumonia

 Pneumothorak

 Gagal jantung kanan


PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Sinar X : menunjukkan hiperinflation paru, flattened diafragma,


peningkatan ruang udara retrosternal, penurunan tanda vaskular,
emfisema, bronkitis.

Pemeriksaan fungsi paru : menentukan penyebab dispnea, menentukan


abnormalitas fungsi tersebut akibat obstruksi atau restriksi,
memperkirakan tingkat disfungsi, dan evaluasi efek dari therapi misalnya
bronkodilator.

Darah lengkap : terjadi peningkatan hemoglobin (emfisema berat)


Kultur sputum : untuk menentukan adanya infeksi dan
mengidentifikasi patogen, sedangkan pemeriksaan sitologi
digunakan untuk menentukan penyakit keganasan atau alergi.

Electrocardiogram (ECG) : Deviasi aksis kanan, gelombang P tinggi (asma


berat), atrial (bronkitis), gelombang P pada leads II, III dan AVF panjang,
tinggi (pada bronkitis dan emfisema).
PENATALAKSANAAN
Obat-obatan
 Bronkodilator
• Antikolinergik
• Agonis beta – 2
• Kombinasi antikolinergik dan agonis beta – 2
• Xantin
 Antiinflamasi
• Metilprednisolon
• Prednison
 Antibiotik
• (1st line: amoksisilin, makrolid. 2nd line: amokisisilin,
sefalosporin, kuinolon, makrolid baru)
 Antioksidan
 Mukolitik
 Antitusif
PENATALAKSANAAN PPOK
STABIL
Asuhan Keperawatan

• Gambaran klinis
a. Anamnesis
- Keluhan
- Riwayat penyakit
 Riwayat penyakit dahulu
 Riwayat penyakit sekarang
 Riwayat penyakit keluarga
- Faktor predisposisi
 Merokok
 Tempat bekerja

b. Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum
- TTV
Pemeriksaan Fisik

• Inspeksi
 Pursed - lips breathing
 Barrel chest
 Penggunaan otot bantu napas
 Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena
jugularis i leher dan edema tungkai
 Penampilan pink puffer atau blue bloater

• Palpasi
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar
• Perkusi
Pada emfisema hipersonor

• Auskultasi
 ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau
pada ekspirasi paksa
 Ekspirasi memanjang
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan


dengan akumulasi sekret
 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
suplai O2 dalam darah menurun
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan anoreksia
 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan
 Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk
produktif
INTERVENSI KEPERAWATAN

Rencana Asuhan Keperawatan PPOK.docx


SEMOGA BERMANFAAT