Anda di halaman 1dari 10

Kelompok 4 :

 Alvin Sambada 16126009


 Dervina Jelunut 16120005
 Elsyana S. Kandu 16120006
 Erwin Haebun 16120026
 Meliana Rosandy Kiki 16120003
Menurut SAK-ETAP, ekuitas sebagai bagian hal pemilik dalam entitas, yaitu selisih antara
aset dan kewajiban yang ada. Bentuk modal tergantung dari bentuk hukum entitasnya
Contoh :
Perseroan Terbatas (PT) : Modal terpisah dengan kekayaan pribadinya
Entitas perorangan dan Firma : Modal tidak terpisah dengan kekayaan pribadinya.

Akuntansi untuk ekuitas berbentuk PT meliputi : Saham Preferen, Saham biasa dan akun
tambahan modal saham dan saldo laba.
Modal saham merupakan bagian dari ekuitas suatu PT yang dikontribusikan pemilik.
Jenis saham dapat meliputi saham biasa dan saham preferen. Saham preferen
memberikan hak lebih kepada pemegang sahamnya berupa pembagian aset terlebih
dahulu pada saat liquidasi, pembagian dividen, convertible, dan dapat ditebus kembali.
Penjualan saham umumnya berdasarkan harga pasar. Selisih nominal dan harga pasar
merupakan agio saham atau disagio saham.
Menurut SAK-ETAP, akun tambahan modal saham terdiri dari berbagai macam unsur
penambah modal seperti agio saham, tambahan modal dari perolehan kembali saham
dengan harga yang lebih rendah dari jumlah yang diterima pada saat pengeluaran,
tambahan modal dari penjualan saham yang diperoleh kembali dengan harga atas
jumlah yang dibayarkan pada saat perolehannya, tambahan modal dari perbedaan kurs
modal saham ,dll.
PT Calvin menjual saham biasa dengan harga Rp.12.000 per lembar dengan nilai nominal
Rp.10.000 sebanyak 1000 lembar pada tanggal 10 januari 2012. berikut pembukuan PT Calvin
Tanggal Keterangan Debit Kredit
10 Jan Kas/Bank 12.000.00 -
2012 Saham biasa 0 10.000.00
Tambahan Modal - 0
Saham - 2.000.000
Jika tranksasksi tersebut dilakukan di bursa efek maka akan dikenakan PPh final sebesar
(0,1% + 0,5%) x 12.000.000 = Rp.72.000 sehingga pembukuannya akan seperti :
Tanggal Keterangan Debit Kredit
10 Jan Kas/Bank 11.928.00 -
2012 PPh Pasal 4 ayat (2) 0 -
Saham biasa 72.000 10.000.00
Tambahan Modal - 0
Saham - 2.000.000
PT Calvin akan mendapatkan bukti pemotongan PPh Final Pasal 4 ayat 2 atas penghasilan
dari transaksi penjualan saham yang diperdagangkan di bursa efek.
Perusahaan terkadang membeli kembali sahamnya dengan tujuan tertentu dan
hal ini sering di sebut dengan saham perbendaharaan (Treasury Stock). Treasury Stok
diperlakukan sebagai pengurang jumlah saham beredar. Untuk tujuan pajak,
penerimaan dan pembelian kembali saham oleh perusahaan penerbit dapat dianggap
sebagai dividen apabila dalam tahun lampau diperoleh laba atau kelebihan penerimaan
di atas harga perolehannya.
Saham preferen memiliki kemungkinan untuk dikonversi menjadi saham biasa.
Apabila terjadi pertukaran, maka selisih nilai buku saham preferen (nominal dan agio)
atau dibebankan kepada saldo laba (kalau lebih rendah), tetapi apabila sebelumnya
pernah dilakukan transaksi pembelian treasury stock yang sudah dijual kembali dan
memperoleh agio atas saham perbendaharaan tersebut maka dapat dibebankan
terlebih dahulu pada agio saham perbendaharaan dan apabila tidak cukup baru
dibebankan ke saldo laba
PT Dede memiliki 2000 lbr saham preferen convertible dengan nilai nominal Rp.10.000. agio
saham tersebut Rp.1.000.000. pada tanggal 31 Desember 2011 diumumkan saham tersebut dapat
ditukarkan dengan saham biasa dengan nilai nominal Rp.5.500 dimana proporsi setiap 1 lbr
saham preferen mendapat 2 lbr saham biasa. Pembukuan yang dilakukan PT Dede :
Tanggal Keterangan Debit Kredit
31 Des 2011 Kas/Bank 150.000 -
Saham Preferen 20.000.000 -
Tambahan modal saham 1.000.000 -
Saldo Laba 1.000.000 -
Saham biasa - 22.000.000
Utang PPh 23 - 150.000
(menatat konversi saham dan pemotongan PPh 23 atas dividen sebesar Rp.1.000.000)
Tanggal Keterangan Debit Kredit
10 Jan Utang PPh 23 150.00 -
2012 Kas 0 150.00
- 0
Pembagian laba dalam bentuk saham termasuk dalam pengertian dividen sehingga merupakan
objek pajak.
Pos saldo laba biasanya disajikan terpisah dari pos modal saham. Biasanya saldo laba
disediakan untuk dibagikan sebagai dividen. Namun apabila dianggap perlu maka
saldo labar dapat dicadangkan untuk keperluan lain seperti, untuk ekspansi perusahaan
sehingga tidak seluruh saldo laba didistribusikan. Saldo laba adalah laba yang
dikumpulkan setelah dipotong PPh sehingga menurut akuntansi komersial laba ini tidak
boleh dibebani atau dikredit dengan pos pos uamg seharusnya diperhitungkan pada
perhitungan laba rugi tahun berjalan. Pembayaran yang bersumber dari saldo laba
tidak diperkenankan sebagai biaya untuk tahun buku berikutnya.
Contoh : pembayaran bonus, gratifikasi, jasa produksi, tantiem kepada pegawai maupun
pengurus.
Dalam perpajakan, penjualan saham kepada pihak ketiga yang dilakukan
di bursa efek akan dikenakan PPh yang bersifat final. Untuk saham
pendiri, pemilik saham pendiri dikenakan tambahan PPh sebesar 0,5%
dari nilai saham perusahaan pada saat penutupan bursa diakhir tahun
1996. jadi total PPh yang dikenakan adalah 0,6% dari nilai saham
perusahaan.
Saat terutangnya/pemotongan PPh 23/26 atau pun PPh Final atas
pembayaran dividen atau bagian keuntungan dari PT dalam negeri
dengan ini disampaikan penegasan sebagai berikut.
1) Bagi PT yang tertutup, saat terutangnya PPh 23/26 atau Final ialah pada saat
disediakan untuk dibayarkan, yaitu pada saat pembagian dividen diumumkan dalam
Rapat Umum Pemegang Saham tahunan
2) Bagi PT yang terbuka, kewajiban perusahaan untuk memotong PPh 23/26 maupun
Final baru timbul pada tanggal penentuan kepemilikan pemegang saham yang
berhak atas dividen.