Anda di halaman 1dari 26

PEMERINTAH KABUPATEN KATINGAN

DINAS PERTANIAN PANGAN DAN PERIKANAN


 Daerah Kab. Katingan secara umum merupakan daerah
yang cukup ideal untuk pengembangan Sapi Bali dan Sapi
Lokal karena didukung oleh beberapa faktor antara lain:
 1. Dukungan Suberdaya Alam : Lahan rumput dan lahan
gembala yang masih luas, belum lagi potensi limbah kelapa
sawit.
 2. Dukungan Sumberdaya Ternak : dalam perjalanan
waktu sapi Bali tetap eksist di Kab. Katingan. Hal ini
menunjukkan bahwa sapi Bali sudah sesuai atau cocok
(adaptif) dengan kondisi agro ekosistem di Katingan.
 3. Dukungan Sumberdaya Manusia : secara tradisional
ternak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan
kehidupan petani. sifat dari pemeliharaan ternak sapi di
Katingan adalah peternakan rakyat yang bersifat usaha
sambilan, dengan kepemilikan rata-rata 2 – 10 ekor/KK
 Sistem pemeliharaan ternak dibedakan menjadi
3 (tiga) yakni :
- Ekstensif
- Semi Intensif
- Intensif
 Ekstensif : mulai perkawinan, pembesaran,
pertumbuhan & penggemukan dilakukan
dipadang penggembalaan
 Semi Intensif : memelihara dengan pakan yang
berasal dari hasil pertanian atau hijauan sekitar
 Intensif : sapi dikandangkan dan pakan diberikan
seluruhnya oleh peternak
 Untuk penggemukan prinsipnya bagaimana supaya ternak tidak
banyak bergerak , kandang tidak perlu luas, cukup 1,15m x 2 m per
ekor
 • Lantai miring ke belakang
 • Harus ada tempat pakan (prako)
 • Harus selalu dalam keadaan bersih, tidak lembab.
 • Kotoran dibersihkan/kumpulkan untuk kompos.
 • Drainase sekitar kandang harus baik, tidak boleh ada genangan
air sehingga
 kandang tidak lembab
 • Ventilasi cukup untuk pencahayaan yang baik
 Memilih bakalan yang tepat untuk digemukkan merupakan langkah
awal yang sangat menentukan bagi keberhasilan usaha penggemukan
sapi. Beberapa kriteria sapi bakalan adalah:
 • Umur > 2,5 tahun (Minimal Gigi Tetap 2 Pasang)
 • Memenuhi tanda sapi Bali Normal
 • Sehat/tidak sakit, tenang,tidak mudah terkejut dan tidak liar
 • Tidak cacat
 Contoh Bakalan untuk digemukkan
 • Tulang/rangka besar
 • Kepala pendek/persegi
 • Leher pendek
 • Kurus tapi sehat (tidak sakit)
 • Nafsu makan tinggi
 Dalam upaya memperoleh bibit yang
berkualitas melalui teknik perkawinan dapat
dilakukan dengan cara kawin alam dan
Inseminasi Buatan (IB).

 Pada kawin alam rasio jantan banding betina


diusahakan 1:8-10.
 Diperlukan rotasi pejantan / tukar guling.
 Mencegah Inbreeding  Kualitas bibit jelek,
kerdil, reproduksi rendah.
 Meningkatkan mutu pedet:
 Sapi bali
 Limosin
 Simental
 Brahman
 Madura
 Untuk mengetahui umur sapi dapat menggunakan pendekatan
pergantian gigi. Pada prinsipnya taksiran umur dengan metode
gigi sapi adalah memperhitungkan pertumbuhan, penggantian
dan keausan gigi sapi. Pertumbuhan gigi sapi sendiri terbagi
tiga periode yakni periode gigi susu, periode penggantian gigi
susu menjadi gigi tetap serta periode keausan gigi tetap.

 1.Sapi yang memiliki gigi susu semua pada rahang bawah,


mempunyai usia sekitar 1 tahun
 2.Sapi yang memiliki gigi tetap sepasang pada rahang bawah
mempunyai usia sekitar 1 - 1,5 tahun
 3. Sapi yang memiliki gigi tetap dua pasang pada rahang
bawah mempunyai usia sekitar 2-2,5 tahun
 4. Sapi yang memiliki gigi tetap tiga pasang pada
rahang bawah mempunyai usia sekitar 3-3,5 tahun

 5. Sapi yang memiliki gigi tetap empat pasang pada


rahang bawah mempunyai usia sekitar 4 tahun.

 6. Sapi yang memiliki gigi tetap sudah aus semua


pada rahang bawah mempunyai usia diatas 4 tahun.

 Pendugaan umur sapi berdasarkan pertumbuhan gigi


Sumber gizi atau nutrisi yang
dibutuhkan ternak bersumber dari :
Hijauan (rumput, legum, daun-
daunan), limbah tanaman (jerami),
limbah industri (dedak padi, ampas
tahu, bungkil kelapa), ransum
jadi/pabrik, supllemen/feed additive
tambahan.

HIJAUAN
a. Yang paling tradisional adalah ambil
dari alam (ngarit/ngawis)
b. Paling dianjurkan adalah menanam.
 Menanam rumput-rumputan (Rumput
Setaria, Rumput Raja, Rumput Gajah
dan lain-lain).
 Legume merambat/ legume herba
(Arachis, Centro, Clitoria dan lain
lain).
 Memanfaatkan limbah pertanian (Jerami,
berangkasan kulit kacang-kacangan dll),
limbah industri (dedak padi, ampas tahu,
bungkil kelapa sawit dll).
 d. Mengawetkan : Dalam bentuk kering
(Hay) dan bentuk segar ( Silase)
 KEBUTUHAN PAKAN (NUTRISI)
 Kandungan Protein Kasar (PK) pada pakan untuk sapi yang digemukkan
sekitar 10 % dari komposisi pakan, dan Energi sekitar 50% dari Bahan
Kering pakan.
 PEMBERIAN
 1. Jumlahnya (Hijauan minimal 10 – 15 % dari Berat Badan (BB) + Pakan
penguat 1-2% BB + Pakan Tambahan/probiotik/UMB).
 Artinya kalau berat badan awal 200 kg, perkiraan kebutuhan hijauan 10 -15
% dari BB, maka diperlukan 20 – 30 kg /ekor/hari.
 2. Pemberian pakan penguat/konsentrat (seperti Dedak padi, Ampas tahu,
bungkil kelapa dll) sekitar 1–2 % dari BB, artinya 2–4 kg/ekor/hari
 3. Pemberian pakan pelengkap (probiotik, sumber mineral/Urea Molases
Blok/Urea Mineral Molases Blok) tergantung jenis produknya. Untuk
beberapa merk probiotik biasanya cukup dengan 1 sendok makan per ekor
per hari
 4. Frequensi pemberian, makin sering makin baik (2 – 3 kali sehari
semalam). Hindari pemberian sekaligus karena akan banyak
tersisa/terbuang.
 1. Untuk sapi Bali di tingkat petani umumnya penggemukan
dilakukan selama 4 bulan, 6 bulan , 12 bulan bahkan ada
yang lebih lama tergantung besarnya bakalan dan target yang
ingin dicapai oleh peternak. Dalam hal ini dianjurkan paling
lama 6 bulan saja.
 2. Pertambahan Berat Badan Harian (PBBH) pada sapi Bali
antara 0,4 –0,8 kg/ekor/hari atau rata-rata 0,5 kg/ekor/hari,
meskipun di tingkat petani lebih banyak yang kurang dari
0,4kg /ekor/hari.
 3. Dengan demikian kalau diambil angka rata-rata 0,5
kg/ekor/ hari maka penggemukan selama 4 bulan (120 hari)
akan mendapatkan Pertambahan Berat Badan sebanyak
60kg/ekor, 6 bulan (180 hari) tambahan berat badan 90 kg
dan 12 bulan tambahan 180kg/ekor.
 Kebersihan kandang dan peralatan harus terjaga, termasuk
memandikan ternak.
 KOTORAN SAPI yang bertumpuk adalah SUMBER PENYAKIT.
 Sapi yang sakit dipisahkan dari sapi sehat untuk dilakukan
pengobatan
 Lantai kandang diusahakan bersih dan kering
 Kesehatan sapi diperiksa secara teratur dan dilakukan vaksinasi
sesuai petunjuk

 Napsu makan turun hingga hilang
 Sapi terlihat lesu (tidak bergairah)
 Telinga jatuh dan tidak pada posisi siaga
 Kepala merunduk
 Jika dipelihara secara berkelompok, sapi
memisahkan diri dari lainnya
 Sapi batuk, pernapasan abnormal, cermin
hidung kering.
 Kotoran cair atau berwarna abnormal.
 PARASIT CACING (HELMINTHIASIS)
 PENYEBAB:
 - Cacing pencernaan  larva cacing
dirumput
 - Cacing Hati (fasciola Sp.)
 - Cacing Mata (Thelazia Sp.)  lalat Rumah

 CIRI-CIRI
:
 - Kurus, Pucat, Bulu Berdiri, Mata berair,
Mencret (Bisa Berdarah).
 PENGOBATAN :
 - Obat cacing oral (Albendazole)
 - Obat cacing Injeksi (Ivermectin)

 CACING MATA/THELAZIA
 - Obat : mata ditetesi anastesi lokal Procain
HCL 2%, diamkan 3 menit lalu cacing diambil
dengan pinset/tangan.
 - Tradisional : Mata sapi ditetesi dengan air
tembakau selama 3-5 menit, cacing diambil
dengan pinset.
 CACING PENCERNAAN (Ascaris Sp. Dll)
 TRADISIONAL (Bawang putih, Pinang)
 BAWANG PUTIH :
 - Bawang putih + daun dihancurkan, dicampurkan
ke konsentrat ternak. Berikan 10-20 siung / bulan.
 4 sung bawang putih dihancurkan + konsentrat di
bentuk menjadi bola, berikan pada sapi atau pedet.

 PINANG/BIJI PEPAYA
 - Sangrai/Keringkan 10 biji pinang/segenggam biji
pepaya, hancurkan/tumbuk.
 - Larutkan dalam 1 gelas air, minumkan.
 Dosis pemeliharaan 1 kali/bulan.
 Dosis pengobatan 1 kali sehari selama 3-7 hari.
 KEMBUNG (BLOAT/TYMPANI)
 PENYEBAB:
 - Hijaun berembun/basah
 - Sapi kurang bergerak/exercise
 - Cuaca dingin/banjir

 CIRI-CIRI :
 - Perut sebelah kiri kembung dan tegang.
 - Anus menonjol
 - Mencret
 - Tidak nafsu makan
 - Pada kondisi parah akan lumpuh
 PENGOBATAN
 OBAT MEDIS:
 - DIMETHICONE (EX : TYMPANOL SB, ANTI
BLOAT)
 Trocarisasi

 TRADISIONAL:
- Sapi diajak excercise.
 - Minumkan 100-200 ml atau lebih minyak
goreng nabati + air hangat (Bisa juga
minyak kayu putih/atsiri).
 DIARE
 PENYEBAB:
- Infeksi bakteri/virus
 - Tidak cocok hijauan
 - Hijaun terlalu berembun/basah
 - Cuaca dingin/banjir

 PENGOBATAN :
 - Antibiotik injeksi/oral
 - Vitamin