Anda di halaman 1dari 75

LAPORAN KASUS

SUDDEN DEATH + PEMBUSUKAN


Bambang Aditya Rahmadani, S. Ked I4061172016
Maghfira Aufa Asli, S. Ked I4061172026
Ariski Pratama Johan, S. Ked I4061172043
Ahmad Dian Setiawan, S. Ked I4061172053
Agitya Goesvi Ajie, S. Ked I406117255
Zainul Arifin, S. Ked I4061172060

Pembimbing:
dr. Wahyu Dwi Atmoko, Sp. F
1
Surat Permintaan
Visum et Repertum
Identitas Jenzah
Nama : GINTORO Als. KOH GIN
Umur : 60 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : Swasta (service sanyo)
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Kab. Sukoharjo

2
PEMERIKSAAN JENAZAH

3
Keadaan Jenazah
• Jenazah terletak di atas meja
otopsi berbahan stainless steel,
tidak bermaterai. Jenazah
dibungkus dengan kantong
jenazah berwarna hitam dengan
tulisan “BASARNAS” berwarna
merah. Di bawah kantong
jenazah terdapat terpal bewarna
biru tua (luar) dan silver (dalam).

4
• Pada saat bungkus dibuka,
jenazah dalam keadaan
dibungkus plastik bening,
memakai celana pendek
berwarna biru tua berbahan kain
dan celana dalam berwarna
coklat

5
Sikap Jenazah di Atas Meja Otopsi
• Tengkurap, dengan muka
menghadap ke bawah. Lengan
kanan menekuk, dengan tangan
kanan dalam posisi menekuk.
Lengan kiri menekuk ke luar
dengan tangan kiri menekuk.
Kaki kanan dan kiri menekuk
dengan posisi pantat terangkat

6
Kaku Jenazah
• Tidak terdapat kaku jenazah
pada persendian dan sendi
mudah digerakkan.

7
Bercak Jenazah dan Pembusukan Jenazah
• Tidak terdapat bercak jenazah
karena dalam proses
pembusukan

8
Kepala
• Warna hitam beruban, panjang
lima sentimeter, mudah dicabut,
dalam keadaan lurus, basah, dan
terdapat belatung berukuran nol
koma lima sentimeter

9
Mata
• Membuka dua sentimeter,
rambut mata tidak bisa
dievaluasi, dalam proses
pembusukan. Kelopak mata
bagian luar warna lebih gelap
dari tubuh. Bagian dalam
kelopak mata sulit dievaluasi,
karena dalam proses
pembusukan. Sekitar mata
berwarna hitam kecoklatan,
dalam proses pembusukan.
10
Hidung
• Dari kedua lubang keluar cairan
berwarna hitam karena dalam
proses pembusukan.

11
Mulut
• Dalam keadaan terbuka lima
koma lima sentimeter, dengan
gigi sulit dievaluasi. Dari lubang
mulut keluar cairan berwarna
kehitaman, dalam proses
pembusukan. Lidah tergigit
dalam keadaan menjulur keluar
tiga koma lima sentimeter dari
gigi.

12
Telinga
• Daun telinga berwarna
kehitaman, kulit mengelupas,
terdapat belatung nol koma lima
sentimeter, dalam proses
pembusukan.

13
Dada
• Tidak terdapat adanya luka, kulit
berwarna lebih merah
kehitaman daripada bagian yang
lain. Terdapat belatung nol koma
lima sentimeter dalam proses
pembusukan.

14
Perut
• Permukaan perut sejajar dengan
permukaan dada. Terdapat
kelainan, kulit berwarna hijau
kebiruan dalam proses
pembusukan. Terdapat belatung
nol koma lima sentimeter, dalam
proses pembusukan

15
Punggung
• Tidak didapatkan luka dan tidak
teraba derik tulang, warna kulit
punggung bagian kiri lebih gelap
daripada bagian kanan, kulit
mengelupas, terdapat belatung
berukuran nol koma lima
sentimeter dalam proses
pembusukan.

16
Alat Kelamin
• Jenis kelamin laki-laki, tidak
disunat. Rambut kelamin warna
hitam beruban keriting dengan
panjang lima sentimeter, mudah
dicabut. Pada batang zakar
terapat kelainan, membesar,
dalam proses pembusukan.
Lubang kelamin tidak didapatkan
kelainan, Pada kantong pelir
terlihat adanya satu buah pelir,
membesar, dalam proses
pembusukan.
17
Anggota gerak atas
• Lengan atas kulit mengelupas,
berwarna hitam, terdapat belatung
nol koma lima sentimeter, dalam
proses pembusukan. Lengan bawah
kulit mengelupas, berwarna merah
kehitaman, terdapat belatung nol
koma lima sentimeter, dalam
proses pembusukan. Pada tangan
kanan didapatkan kulit
mengelupas, belatung nol koma
lima sentimeter, dalam proses
pembusukan.

18
Anggota gerak bawah
• Pada paha didapatkan kulit
mengelupas, warna hijau
kebiruan, terdapat bula,
belatung nol koma lima
sentimeter, dalam proses
pembusukan.
• Pada tungkai bawah terdapat
bula, dalam proses
pembusukan. Pada kaki
didapatkan adanya bula, warna
hijau kebiruan, dalam proses
pembusukan.
19
TINJAUAN PUSTAKA

20
SUDDEN DEATH

21
Definisi
• Kematian mendadak menurut WHO, yaitu kematian dalam waktu 24
jam sejak gejala timbul, namun pada kasus-kasus forensik sebagian
besar kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak
gejala timbul.
• Kematian mendadak tidak selalu tidak terduga, dan kematian yang tak
terduga tidak selalu terjadi mendadak, namun amat sering keduanya
terjadi bersamaan pada satu kasus.
Etiologi

23
THANATOLOGI

24
Tanatologi
• Tanatologi merupakan kata yang berasal dari “thanatos” yang artinya
berhubugan dengan kematian dan “logos” yang berarti ilmu.

• Jadi Thanatologi artinya yang mempelajari hal-hal yang berkaitan


dengan kematian yaitu definisi atau batasan mati, perubahan yang
terjadi pada tubuh setelah terjadi kematian dan faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan tersebut.

Sampurna, Budi, et al. 2003. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Universitas Indonesia.
Tanatologi
Bardale, R. 2011. Principle of Forensic Medicine and Toxicology. New Delhi: Jaypee Brother Medical Publisher
Bardale, R. 2011. Principle of Forensic Medicine and Toxicology. New Delhi: Jaypee Brother Medical Publisher
Dekomposisi
• Kehancuran jaringan tubuh setelah meninggal
• Proses terjadinya pembusukan
Tahap segar
• Tanda awal terjadi pembusukan pada perut kanan bawah yang berwarna
hijau
Tahap penggembungan
• Tubuh membengkak akibat terbentuknya gas dan cairan Gas
hidrogensulfat dan metana mulai terasa
• •Berlangsung selama 4-10 hari
Tahap pembusukan aktif
• Bau menyengat dan warna kehitaman pada kulit
• Larva yang masuk kedalam rongga tubuh semakin banyak
• Berlangsung10-25 hari
Tahap setelah pembusukan
• Terjadi fermentasi yang menghasilkangas asam butirat
• Berlangsung 20-25 hari
• Mayat tersisa Kulit, kartilago, dan tulang dengan sebagian sisa dari
otot dan juga intestinal
PEMBUSUKAN
Tahap skeletonisasi
• Terjadi pada 25-50 hari
• Tertinggal kulit yang
mengering, tulang dan rambut
• Larva dan lalat sudah tidak ada
Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembusukan

• 1.Faktor luar • 2. Faktor dalam


• Mikroorganisme • Umur
• Suhu di sekitar mayat • Sebab kematian
• Kelembaban • Keadaan mayat
udara
• Medium mayat berada

36
MUMIFIKASI
• Mumifikasi dapat terjadi bila
keadaan lingkungan
menyebabkan pengeringan
dengan cepat sehingga dapat
menghentikan proses
pembusukan
AUTOLISIS
• Kematian sel terjadi akibat
aktivitas dari saluran
pencernaan dan enzim katalis
yang berasal dari sel.
ADIPOSERA
• suatu keadaan dimana tubuh
mayat mengalami hidrolisis
dan hidrogenasi pada jaringan
lemaknya
• Kerja enzim lipase endogenus
Rigor Mortis
• pada lingkungan dengan temperatur 70oF (21oC) → mulai muncul
dalam 2-4 jam→ maksimum dalam 6-12 jam→ menghilang setelah
18 jam → hilang total setelah 36 jam.
Livor mortis
• muncul dalam 30 menit – 2 jam setelah kematian→ tahap maksimum
setelah 8-12 jam
Pembusukan
•Mulai terlihat warna kehijaun di perut kanan bawah → 24 jam
Isi Lambung
• Mengetahui waktu kematian dari sisa makanan dalam lambung

Manifestasi Serangga
• Yang banyak ditemukan → lalat (Diptera) dan kumbang
(Coleoptera).
• Diptera yang paling sering ditemukan adalah Calliphoridae (blow
flies), Sacrophagidae (flesh flies) dan Muscidae (lalat rumah).
ENTOMOLOGI

43
Entomologi Forensik
Entomologi forensik adalah studi tentang aplikasi serangga dan
arthropoda lain dalam penyelidikan kriminal.
Serangga tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan waktu
kematian yaitu, interval waktu antara kematian dan penemuan mayat,
juga disebut postmortem index (PMI), pergerakan mayat, cara dan
penyebab kematian serta hubungan para tersangka di lokasi kematian.

Joseph I, Mathew DG, Sathyan P, Vargheese G. The use of insects in forensic investigations: An overview on the scope of forensic
entomology. Journal of forensic dental sciences. 2011 Jul;3(2):89.
Post mortem interval (PMI)
Post mortem interval (PMI) adalah waktu sejak kematian terjadi pada
seorang manusia ataupun hewan sampai dilakukannya pemeriksaan.
Perkiraan yang akurat terhadap PMI merupakan hal yang penting untuk
membantu kesuksesan dalam investigasi kematian, baik yang karena
kriminal maupun non-kriminal.

Bardale R. Principles of Forensic Medicine and Toxicology. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. 2011
Faktor yang mempengaruhi penentuan PMI

Gunn A. Essential forensic biology. John Wiley & Sons; 2019 Mar 18.
Lanjutan

Gunn A. Essential forensic biology. John Wiley & Sons; 2019 Mar 18.
Lanjutan

Gunn A. Essential forensic biology. John Wiley & Sons; 2019 Mar 18.
Siklus Hidup
Telur
• Telur lalat bervariasi bentuk dan ukurannya. Lalat biasanya
meletakkan telurnya secara berkelompok yang dapat mencapai 40-
200 telur sekali bertelur. Telur lalat akan menetas menjadi larva kira-
kira setelah 1 hari.
Larva
Terdapat tiga perkembangan larva lalat:
A. 1st instar
B. 2nd instar
C. 3rd instar
1 st Instar
• Stadium ini membutuhkan waktu paling sedikit diantara stadium lain.
Kebanyakan larva lalat membutuhkan waktu 11-38 jam untuk
menyelesaikan stadium ini sejak telur menetas, dengan puncak
pertumbuhan pada 22-28 jam. Panjang larva pada stadium ini
mencapai kurang lebih 5 mm atau seukuran bulir nasi.
2 nd Instar
• Kebanyakan larva menyelesaikan 11-22 jam sejak 1st instar untuk
kemudian menjadi 3 rd instar. Larva membentuk koloni yang disebut
“maggot mass” dan menyebabkan temperature di sekitar larva sedikit
meningkat yang disebut maggot mass temperature. Panjang larva
pada stadium ini kurang lebih 10 mm dan mulai terbentuk spirakel
posterior untuk respirasi.
3 rd instar
Stadium ini adalah stadium terlama yang dibagi menjadi dua tahap.
• Tahap pertama larva melanjutkan memakan mayat sampai 20-96 jam,
pada tahap ini larva memiliki empat spirakel posterior dan mencapai
panjang kurang lebih 17 mm.
• Tahap kedua akan berlangsung 80-112 jam. Setelah larva berhenti
makan, kemudian akan berpindah ke daerah yang lebih kering untuk
memulai stadium pupa. Larva berubah warna agak coklat kemerahan.
Pupa
• Diperlukan waktu kira-kira 10 hari dalam puparium untuk
transformasi dari larva menjadi lalat dewasa. Tahap pupa dapat
bertahan dari keadaan panas, dingin ataupun banjir.

Dewasa
• Setelah 3 hari, larva yang sudah berubah menjadi bentuk lalat dewasa
akan keluar dari pupa dan dapat memulai siklus hidupnya lagi dengan
bertelur.
Kumbang
• Serangga ini memiliki karakteristik yaitu sayap yang berkulit keras
yang menutupi dan melindungi lapisan sayap dibawahnya. Mereka
dapat memakan bangkai, tumbuhan, maupun segalanya, dengan
beberapa diantaranya dapat hidup sebagai parasit.
Jenis-Jenis Serangga
Jenis Serangga Yang Biasanya ada pada Mayat

Terdapat dua kelompok terbanyak dari serangga yang sering ditemukan


pada mayat yang telah membusuk yaitu:
1. Kelompok Diphteria (true flies)
2. Kelompok Coleoptera (beetles).

Bardale R. Principles of Forensic Medicine and Toxicology. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. 2011
Nurwidayati A. Penerapan Entomologi dalam Bidang Kedokteran Forensik. Jurnal Vektor Penyakit. 2009;3(2):55-65.
Lalat (Diphtheria sp)
• Lalat termasuk ordo diphteria pada
kelas insecta, dengan ciri - ciri
sepasang sayap yang terletak di
mesothorax.
• Sepasang sayap lainnya bereduksi
menjadi alat keseimbangan terbang
yang disebut halter.
Famili Sarcophagidae (flesh flies)
• Spesies dari famili ini ditemukan di daerah beriklim tropis dan panas.
Berbeda dari famili lainnya, mereka tidak meletakkan telurnya pada
tubuh mayat.
Famili Muscidae
• Lalat dari famili ini berukuran sedang, dengan panjang sekitar 3-10
mm. Mereka biasanya berwarna keabuan hingga gelap, meskipun
beberapa spesies memiliki warna metalik.
• Larva maturnya memiliki panjang 5-12 mm dan berwarna putih
hingga kekuningan.
Famili Silphidae (Kumbang Bangkai)
• Bentuk dewasanya memiliki kebiasaan mengubur bangkai dalam
ukuran kecil di bawah tanah untuk disiapkan bagi anaknya.
• Larva dari famili ini memiliki bentuk dan ukuran yang umumnya
mempunyai panjang 15-30 mm.
Famili Staphylinidae (Kumbang Pengelana)
• Merupakan jenis kumbang yang ramping, panjang, dan memiliki sayap
yang pendek atau juga disebut elytra.
• Larvanya yang berbentuk ramping, panjang, berwarna pucat, dan memiliki
kepala yang berwarna gelap. Larva dan bentuk dewasa bergerak cepat dan
bersifat predator terhadap serangga yang lebih kecil.
Cara mengambil sampel
1. Kumpulkan serangga, baik dewasa dan belum dewasa, dari mayat
2. Dalam kasus serangga dewasa, kumpulkan dua jenis sampel, satu
sampel terdiri dari serangga terbunuh dan sampel lainnya terdiri
dari yang hidup untuk pemeliharaan selanjutnya.
3. Pertahankan serangga dewasa dalam etanol 70% atau alkohol
isopropyl.
4. Larva harus disimpan dalam cairan larva. Jika cairan larva tidak
tersedia, tempatkan larva di air panas (76,7oC) dalam waktu 2-3
menit dan kemudian transfer ke etanol 70%.

Bardale R. Principles of Forensic Medicine and Toxicology. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. 2011
•Pertumbuhan larva lalat dipantau seperti ukuran, berat dan
perubahan morfologinya.
•Penelitian oleh Mayasari (2008): menunjukkan keadaan tikus yang
dislokasi tulang leher 24 jam pasca kematian, rata-rata panjang larva
lalat 4-5 mm, 48 jam pasca kematian 8-11 mm, 72 jam pasca kematian
18-19 mm.
Serangga yang dapat ditemukan setelah Pembusukan
Tahap Serangga yang ada
Fresh stage Lalat contoh Calliphoridae, Syrphidae flies
Bloated stage Larva lalat dan kumbang (contoh: Rove Beetles)
Decay stage Semut, kecoa, kumbang dan lalat
Post decay Kumbang dan kutu contoh Springtail beetle,
Nematocera (muncul pada musim dingin),
Brachycera

Remain stage. Kumbang (Dermestidae: Carpet Beetles dan


Trogidae: Carcass Beetles)
Lokasi ditemukannya serangga
ASPEK MEDIKOLEGAL

69
Aspek Medikolegal
Perlunya pemeriksaan pada kasus kematian mendadak adalah
untuk menyingkirkan adanya tindakan pidana.
• Permintaan visum dilakukan dengan cara tertulis melalui surat
• Pada surat permintaan visum diketahui alasan visum karena belum
diketahui penyebab kematian
• Terdapat identitas korban berupa nama, umur, jenis kelamin,
kebangsaan, pekerjaan, kewarganegaraan serta alamat
• Terdapat identitas serta tanda tangan penyidik peminta visum
• Terdapat tanggal surat dan penerima surat visum
Ada beberapa prinsip secara garis besar harus diketahui oleh dokter
berhubungan dengan kematian mendadak akibat penyakit yaitu:
• Apakah pada pemeriksaan luar jenazah terdapat adanya tanda-tanda
kekerasan dan keracunan?
• Apakah korban merupakan pasien (contoh: penyakit jantung
koroner) yang rutin datang berobat ke tempat praktek atau poliklinik
di rumah sakit ?
• Apakah korban mempunyai penyakit kronis tetapi bukan merupakan
penyakit tersering penyebab natural sudden death ?
ANALISA KASUS

72
Pada kasus ini dapat dianalisa sebagai berikut:
1. Kaku Mayat
Pada mayat tidak ditemukan adanya kaku mayat. Kaku mayat terjadi
maksimal setelah 12 jam dan menghilang 12 jam berikutnya. Hal ini
dapat diperkirakan bahwa waktu kematian mayat >24 jam.
lanjutan...

2. Lebam Mayat
Pada mayat didapatkan adanya lebam mayat yang tidak hilang dalam
penekanan. Lebam mayat terbentuk sejak 20 menit hingga 1 jam post
mortem. Lebam tidak akan hilang saat penekanan setelah 8-12 jam
post mortem.
lanjutan...

3. Proses Pembusukan
Pada mayat ditemukan proses pembusukan di seluruh bagian tubuh.
Pembusukan terjadi setelah 24 jam post mortem.
PERBANDINGAN LARVA

LARVA PADA JENAZAH GAMBAR SKEMATIK LARVA

76
lanjutan...
4. Ukuran Larva
Pada mayat ditemukan larva lalat berukuran 0.5 cm (5 mm)
Tahap kehidupan larva lalat menurut Bardale, 2011:
a. Telur : 1 hari, 1-2 mm
b. Larva instar 1 : 2 hari, 2-5 mm
c. Larva instar 2 : 2,5 hari, 10-11 mm
d. Larva instar 3 : 4-5 hari, 14-17 mm
e. Pre Pupa : 8-12 hari, 11-12 mm
f. Pupa : 14-18 hari, 14-18 mm
g. Lalat dewasa : 4-7 Hari
KESIMPULAN
1. Telah dilakukan pemeriksaan terhadap jenazah berjenis kelamin
laki-laki dewasa dengan identitas jelas dan dikenal.
2. Tidak didapatkan tanda-tanda trauma.
3. Tand-tanda asfiksia sulit dievaluasi karena proses pembusukan..
4. Penyebab kematian tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan
pemeriksaan dalam sesuai dengan surat permintaan penyidik.
5. Perkiraan saat kematian jenazah meninggal sekitar 72 jam – 96 jam
dari saat pemeriksaan.

78

Anda mungkin juga menyukai