Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN

LUKA BAKAR
Kelompok 2 :
1. Claris Ayu S
2. Diana Sofie
3. Dino Mahardika
4. Eva Elya F
5. Frieska Pusparini
6. Ika Fitri R
7. Indah Setyawati
8. Nisrina Rosyada
9. Satya Devana
10. Ditawati Putriani D
PENGERTIAN

Combutsio (Luka bakar) adalah


injury pada jaringan yang disebabkan
oleh suhu panas (thermal), kimia,
elektrik dan radiasi (Suriadi, 2010).
Menurut Nugroho (2012), luka bakar
adalah luka yang disebabkan oleh
kontak langsung atau tak langsung
dengan suhu tinggi seperti api, air
panas, listrik, bahan kimia dan radiasi. 
ETIOLOGI

Menurut Fitriana (2014) dan Rahayuningsih (2012) terdapat


empat kelompok penyebab terjadinya luka bakar, yaitu:
1. Luka bakar termal
2. Luka bakar kimia
3. Luka bakar elektrik
4. Luka bakar radiasi
Setelah mengalami luka bakar maka seorang penderita akan
berada dalam tiga tingkatan fase, yaitu :

Fase akut Fase subakut Fase lanjut


• penderita • Masalah yang • Masalah yang
akan terjadi adalah muncul pada
mengalami kerusakan fase ini
ancaman atau adalah
gangguan kehilangan penyulit
jalan nafas jaringan berupa parut
(airway), akibat kontak yang
mekanisme dengan hipertropik,
bernafas sumber keloid,
(breathing), panas gangguan
dan sirkulasi pigmentasi,
(circulation) deformitas
dan
kontraktur
PATOFISIOLOGI
Luka bakar suhu pada tubuh terjadi baik karena konduksi panas langsung atau
radiasi elektromagnetik. Sel-sel dapat menahan temperatur sampai 44°C tanpa
kerusakan bermakna, kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap
derajat kenaikan temperatur. Saraf dan pembuluh darah merupakan struktur yang
kurang tahan terhadap konduksi panas (Sabiston,1995). Kerusakan pembuluh
darah ini mengakibatkan cairan intravaskuler keluar dari lumen pembuluh darah;
dalam hal ini bukan hanya cairan tetapi juga plasma (protein) dan elektrolit. Pada
luka bakar ekstensif dengan perubahan permeabilitas yang hampir menyeluruh,
penimbunan jaringan masif di intersisiel menyebabkan kondisi hipovolemik. Volume
cairan intravaskuler mengalami defisit, timbul ketidakmampuan menyelenggarakan
proses transportasi oksigen ke jaringan. Kondisi ini dikenal dengan sebutan syok.
Luka bakar secara klasik dibagi atas derajat I, II, dan III. Penggunaan sistem
klasifikasi ini dapat memberikan gambaran klinik tentang apakah luka dapat
sembuh secara spontan ataukah membutuhkan cangkokan. Kedalaman luka tidak
hanya bergantung pada tipe agen bakar dan saat kontaknya, tetapi juga terhadap
ketebalan kulit di daerah luka 
MANIFESTASI KLINIS
Grade I
1)      Jaringan yang rusak hanya epidermis.
2)      Klinis ada nyeri, warna kemerahan, kulit kering.
3)      Tes jarum ada hiperalgesia.
4)      Lama sembuh + 7 hari.
5)      Hasil kulit menjadi normal.
Grade II
Grade II a
1)      Jaringan yang rusak sebagian dermis, folikel, rambut, dan kelenjar keringat utuh.
2)      Rasa nyeri warna merah pada lesi.
3)      Adanya cairan pada bula.
4)      Waktu sembuh + 7 - 14 hari.
Grade II b
1)      Jaringan yang rusak sampai dermis, hanya kelenjar keringan yang utuh.
2)      Eritema, kadang ada sikatrik.
3)      Waktu sembuh + 14 – 21 hari.
Grade III
1)      Jaringan yang rusak seluruh epidermis dan dermis.
2)      Kulit kering, kaku, terlihat gosong.
3)      Terasa nyeri karena ujung saraf rusak.
4)      Waktu sembuh lebih dari 21 hari.
Grade IV
Luka bakar yang mengenai otot bahkan tulang.
RULE OF NINE
Metode Rule of Nines untuk menentukan daerah permukaan tubuh total
(Body surface Area : BSA)

Tubuh bagian Usia (tahun)


1-4 5-9 10-14 Dewasa
Kepala 19% 15 % 13 % 10 %
Lengan kanan 9.5 % 9.5 % 9.5 % 9%
Lengan kiri 9.5 % 9.5 % 9.5 % 9%
Badan depan 32 % 32 % 32 % 36 %
dan belakang
Kaki kanan 15 % 17 % 18 % 18 %
Kaki kiri 15 % 17 % 18 % 18 %
PENGKAJIAN Integritas ego

Aktifitas/istirahat Sirkulasi Eliminasi Makanan/cairan

• Tanda : • Tanda (dengan • Tanda : • Tanda : • Tanda : Oedema


Penurunan cedera luka Ansietas, Keluaran urine jaringan umum,
kekuatan, bakar lebih dari menangis, menurun/tak anoreksia,
tahanan, 20% APTT) : ketergantungan ada selama fase mual/muntah
keterbatasan Hipotensi , menyangkal, darurat, warna
rentang gerak (syok), menarik diri, mungkin hitam
pada area yang takikardia marah kemerahan bila
sakit, gangguan (syok/ansietas/n • Gejala : Masala terjadi
massa otot, yeri), h tentang mioglobin,
perubahan pembentukan keluarga, penurunan
tonus oedema pekerjaan, bising usus/tak
jaringan (semua keuangan, ada
luka bakar) kecacatan
Neurosensori Nyeri/kenyamanan Pernafasan Keamanan

• Tanda : Perubahan • Gejala : Berbagai • Tanda : Serak, • Tanda : Pucat,


orientasi, afek, nyeri batuk mengi, dengan pengisian
perilaku, partikel karbon kapiler lambat
penurunan refleks dalam sputum, pada adanya
tendon dalam ketidakmampuan penurunan curah
(RTD) pada cedera menelan sekresi jantung
ekstremitas oral dan sianosis, sehubungan
• Gejala : Area indikasi cedera dengan
batas, kesemutan inhalasi kehilangan
• Gejala : Terkurung cairan/status syok
dalam ruang • Cedera Api : Bulu
tertutup, terpajan hidung gosong,
lama mukosa hidung
(kemungkinan dan mulut kering,
cedera inhalasi) edema lingkar
mulut dan/ atau
lingkar nasal
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan b.d Kegagalan mekanisme


regulasi (pengaturan)
2. Nyeri akut b.d injuri fisik
3. Kerusakan integritas kulit b.d mekanik (luka bakar)
INTERVENSI KEPERAWATAN
(DX 1)
DIAGNOSA NOC NIC

Kekurangan volume Setelah dilakukan tindakan a. Monitor vital sign


cairan b.d Kegagalan keperawatan diharapkan b. Monitor masukan makanan
mekanisme regulasi cairan adekuat dengan /cairan dan hitung intake
(pengaturan) Kriteria Hasil : kalori harian
a. Tidak ada tanda tanda c. Kolaborasikan pemberian
dehidrasi cairan IV
b. Elastisitas turgor kulit baik d. Berikan penggantian
c. Tekanan darah, nadi, suhu nasogatrik sesuai output
tubuh dalam batas normal e. Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
INTERVENSI KEPERAWATAN
(DX 2)
DIAGNOSA NOC NIC

Nyeri akut b.d injuri Setelah dilakukan tindakan a. Monitor KU dan vital sign
fisik keperawatan diharapkan b. Berikan analgetik untuk
nyeri berkurang dengan mengurangi nyeri
kriteria hasil : c. Ajarkan tentang teknik non
a. Mampu mengontrol nyeri farmakologi
b. Mampu mengenali nyeri d. Kolaborasikan dengan
c. Tanda vital dalam dokter jika ada keluhan dan
rentang normal tindakan nyeri tidak
berhasil
INTERVENSI KEPERAWATAN
(DX 3)
DIAGNOSA NOC NIC

Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan a. Monitor adanya infeksi


kulit b.d mekanik (luka keperawatan diharapkan b. Inspeksi kulit dan
bakar) integritas jaringan dan membran mukosa untuk
mukosa normal dengan kemerahan, panas,
kriteria hasil : drainase
a. elastisitas dalam rentang c. Ajarkan pasien untuk
yang  diharapkan  menggunakan pakaian
b. bebas dari lesi yang longgar
c. kulit utuh d. Tempatkan pasien pada
terapeutic bed
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Hitung darah lengkap


2. GDA (Gas Darah Arteri)
3. Elektrolit Serum
4. EKG
5. Fotografi luka bakar
6. Loop aliran volume
PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Penatalaksanaan
Awal Lanjutan

Sebelum memulai
penatalaksanaan, perlu diingat
perlindungan diri bagi penolong,
khususnya bagi penolong yang Penatalaksanaan lanjutan
berada di tempat kejadian. dimulai dari penatalaksanaan
Pajanan seperti api atau listrik kegawatdaruratan hingga
harus dipastikan tidak ada lagi manajemen luka.
atau diminimalisir oleh alat
pelindung diri saat penolong
masuk
PENCEGAHAN
Pencegahan primer
• Penghilangan atau modifikasi risiko dari pajanan bahan berbahaya
sebelum penyakit terjadi. Contoh : hindari bahan penyebab, pakai alat
pelindung diri

Pencegahan sekunder
• menilai dampak pekerjaan dan temukan penyakit sedini mungkin
dengan identifikasi perubahan preklinik suatu penyakit. Contoh :
Pemeriksaan berkala meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang

Pencegahan tersier
• meminimalkan komplikasi, menghindari kecacatan, meningkatkan
kualitas hidup agar dapat menjalani kehidupan secara normal dan
dapat diterima oleh lingkungan