Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK:4

NAMA:
VERDI WAHYUDI
FAUZAN
H.FAUZAN
HANAFI
HARIS HAFIZI
1.PENGERTIAN

Bell's Palsy adalah suatu kelainan pada saraf wajah yang


menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot
di satu sisi wajah.
2.ETIOLOGI
 Kausa kelumpuhan n. fasialis perifer sampai sekarang belum diketahui secara
pasti. Umumnya dapat dikelompokkan sbb.
I) Kongenital
1.anomali kongenital (sindroma Moebius)

2.trauma lahir (fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial .dll.)


II) Didapat
1.trauma
2.penyakit tulang tengkorak (osteomielitis)
3.proses intrakranial (tumor, radang, perdarahan dll.)
4.proses di leher yang menekan daerah prosesus stilomastoideus)
5.infeksi tempat lain (otitis media, herpes zoster dll.)
6.sindroma paralisis n. fasialis familial
3.PATOFISIOLOGI
 Apapun sebagai etiologi Bell’s palsy, proses akhir yang dianggap
bertanggung jawab atas gejala klinik Bell’s palsy adalah proses edema
yang selanjutnya menyebabkan kompresi nervus fasialis. Gangguan
atau kerusakan pertama adalah endotelium dari kapiler menjadi edema
dan permeabilitas kapiler meningkat, sehingga dapat terjadi kebocoran
kapiler kemudian terjadi edema pada jaringan sekitarnya dan akan
terjadi gangguan aliran darah sehingga terjadi hipoksia dan asidosis
yang mengakibatkan kematian sel. Kerusakan sel ini mengakibatkan
hadirnya enzim proteolitik, terbentuknya peptida-peptida toksik dan
pengaktifan kinin dan kallikrein sebagai hancurnya nukleus dan lisosom.
Jika dibiarkan dapat terjadi kerusakan jaringan yang permanen.
4.TANDA DAN GEJALA

 Bell's palsy terjadi secara tiba-tiba.


Beberapa jam sebelum terjadinya kelemahan pada otot wajah, penderita bisa
merasakan nyeri di belakang telinga. Kelemahan otot yang terjadi bisa ringan sampai
berat, tetapi selalu pada satu sisi wajah.

Sisi wajah yang mengalami kelumpuhan menjadi datar dan tanpa ekspresi, tetapi
penderita merasa seolah-olah wajahnya terpuntir.
Sebagian besar penderita mengalami mati rasa atau merasakan ada Beban di
wajahnya, meskipun sebetulnya sensasi di wajah adalah normal.

Jika bagian atas wajah juga terkena, maka penderita akan mengalami kesulitan dalam
menutup matanya di sisi yang terkena.
5.PEMERIKSAAN PENUNJANG

 1. Pemeriksaan Fisis
Kelumpuhan nervus fasialis mudah terlihat hanya dengan
pemeriksaan fisik tetapi yang harus diteliti lebih lanjut adalah
apakah ada penyebab lain yang menyebabkan kelumpuhan
nervus fasialis.
 2. Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk
menegakkan diagnosis Bell’s palsy.
 3. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi bukan indikasi pada Bell’s palsy.
Pemeriksaan CT-Scan dilakukan jika dicurigai adanya fraktur
atau metastasis neoplasma ke tulang, stroke, sklerosis multipel
dan AIDS pada CNS. Pemeriksaan MRI pada pasien Bell’s
palsy akan menunjukkan adanya penyangatan (Enhancement)
pada nervus fasialis, atau pada telinga, ganglion genikulatum.
6.PENATALAKSANAN MEDIS
 Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan tonus otot
wajah dan untuk mencegah atau meminimalkan denervasi. Klien harus
diyakinkan bahwa keadaan yang tejadi bukan stroke dan pulih dengan
spontan dalam 3-5 minggu pada kebanyakan klien.
 Terapi kortikosteroid (prednison) dapat diberikan untuk menurunkan
radang dan edema, yang pada gilirannya mengurangi kompresi
vaskuler dan memungkinkan perbaikan sirkulasi darah ke saraf
tersebut. Pemberian awal terapi kortikosteroid ditujukan untuk
mengurangi penyakit semain berat, mengurangi nyeri dan membantu
mencegah atau meminimalkan denervasi.
 Nyeri wajah dikontrol dengan analgesik. Kompres panas pada sisi
wajah yang sakit dapat diberikan untuk meningkatkan kenyamanan
dan aliran darah sampai ke otot tersebut.
 Stimulasi listrik dapat diberikan untuk mencegah otot wajah menjadi
atrofi. Walaupun banyak klien pulih dengan pengobatan konservatif,
namun eksplorasi pembedahan pada saraf wajah dapat dilakukan
pada klien yang cenderung mempunyai tumor atau untuk dekompresi
saraf wajah melalui pembedahan untuk merehabilitasi keadaan
paralisis wajah.
7.PROGNOSIS

 Jika kelumpuhannya parsial (sebagian), maka penyembuhan total


terjadi dalam waktu 1-2 bulan.
Prognosis pada kelumpuhan total adalah bervariasi, tetapi sebagian
besar mengalami penyembuhan sempurna.

Untuk menentukan kemungkinan terjadinya penyembuhan total, bisa


dilakukan pemeriksaan untuk menguji saraf wajah dengan
menggunakan rangsangan listrik.
Kadang saraf wajah membaik, tetapi membentuk hubungan yang
Abnormal yang menyebabkan timbulnya gerakan yang tidak dikehendaki
pada beberapa otot wajah atau keluarnya air mata secara spontan.
8.KOMPLIKASI

 Crocodile tear phenomenon


 Synkinesis
 Hemifacial spasm
 Kontraktur
KONSEP KEPERAWATAN

 A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan klien dengan Belll’s palsy meliputi anamnesis riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan pengkajian psikososial.
 1. Anamnesis
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan dalah
berhubungan dengan kelumpuhan otot wajah terjadi pada satu sisi.
 2. Riwayat penyakit saat ini
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk menunjang keluhan utama
klien. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai
serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Pada pengkajian klien Bell;s palsy biasanya
didapatkan keluhan kelumpuhan otot wajah pada satu sisi.
Kelumpuhan fasialis ini melibatkan semua otot wajah sesisi. Bila dahi dikerutkan, lipatan
kulit dahinya hanya tampak pada sisi yang sehat saja. Bila klien disuruh memejamkan
kedua matanya, maka pada sisi yang tidak sehat, kelopak mata tidak dapat menutupi bola
mata dan berputarnya bola mata keatas dapat disaksikan. Fenomena tersebut dikenal
sebagai tanda bell.
 3. Riwayat penyakti dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya hubungan
atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami
penyakit iskemia vaskuler, otitis media, tumor intrakranial, truma kapitis, penyakit
virus (herpes simplek, herpes zoster), penyakit autoimun, atau kombinasi semua
faktor ini. Pengkajian pemakaian obat-obatan yang sering digunakan klien, pengkajian
kemana klien sudah meminta pertolongan dapat mendukung pengkajian dari riwayat
penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk
memberikan tindakan selanjutnya.
 4. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian psikologis klien Bell’s palsy meliputi beberapa penilaian yang
memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status
emosi, kogniti dan perilaku klien
 Pemeriksaan fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik
sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya
dilakukan persistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (brain) yang
terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien. Pada klien Bell’s palsy biasanya
didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
 B1 (breathing)
Bila tidak ada penyakit lain yang menyertai pemeriksaan inspeksi didapatkan klien tidak batuk,
tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot bantu napas dan frekuensi pernapasan dalam
batas normal. Palpasi biasanya taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Perkusi didapatkan
resonan pada seluruh lapangan paru. Auskultasi tidak didengar bunyi napas tambahan.
 B2 (Blood)
Bila tidak ada penyakit lain yang menyertai pemeriksaan nadi dengan frekuensi dan irama yang
normal. TD dalam batas normal dan tidak terdengar bunyi jantung tambahan.
 B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian
pada sistem lainnya.
 1. Tingkat kesadaran
Pada Bell’s palsy biasanya kesadaran klien compos mentis.

 2. Fungsi serebri
Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien,
observasi ekspresi wajah dan aktivitas motorik yang pada klien Bell’s palsy biasanya statul
mental klien mengalami perubahan.

 3. Pemeriksaan saraf kranial


Saraf I : biasanya pada klien bell’s palsy tidak ada kelainan dan fungsi penciuman
tidak ada kelainan.
 Saraf II : tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal
 Saraf III, IV, VI : penurunan gerakan kelopak mata pada sisi yang sakit (lagoftalmos).
 Saraf V : kelumpuhan seluruh otot wajah sesisi, lipatan nasolabial pada sisi
kelumpuhan mendatar, adanya gerakan sinkinetik.
 Saraf VII : berkurangnya ketajaman pengecapan, mungkin sekali edema nervus
fasialis ditingkat foramen stilomastoideus meluas sampai bagian nervus fasialis, dimana
khorda timpani menggabungkan diri padanya.
 Saraf VIII : tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
 Saraf IX & X : paralisis otot orofaring, kesukaran berbicara, menguyah dan menelan. Kemampuan menelan
kurang baik, sehingga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral.
 Saraf XI : tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Kemampuan mobilisasi leher
baik.
 Saraf XII : lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra
pengecapan mengalami kelumpuhan dan pengecapan pada 2/3 lidah sisi kelumpuhan kurang tajam.

 4. Sistem motorik
Bila tidak melibatkan disfungsi neurologis lain, kekuatan otot normal, kontrol keseimbangan dan koordinasi pada
Bell’s palsy tidak ada kelainan.

 5. Pemeriksaan refleks
Pemeriksaan refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum derajat refleks pada respons
normal.

 6. Gerakan involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, kejang dan distonia. Pada beberapa keadaan sering ditemukan Tic fasialis.
 7. Sistem sensorik
Kemampuan penilaian sensorik raba, nyeri dan suhu tidak ada kelainan.

 B4 (Blader)
Pemeriksaan pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume haluaran
urine, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke
ginjal.

 B5 (bowel)
Mulai sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan
nutrisi pada klien bell’s palsy menurun karena anoreksia dan kelemahan otot-otot
pengunyah serta gangguan proses menelan menyebabkan pemenuhan via oral menjadi
berkurang.
 B6 (Bone)
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 1. Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan


dengan perubahan bentuk wajah karena kelumpuhan satu
sisi pada wajah.
 2. Cemas yang berhubungan dengan prognosis penyakit
dan perubahan kesehatan.
 3. Kurangnya pengetahuan perawatan diri sendiri yang
berhubungan dengan informasi yang tidak edekuat
mengenai proses penyakit dan pengobatan.
DIAGNOSA 1

 Ds: merasa malu karena adanya kelumpuhan otot wajah terjadi pada satu sisi lain
 Do: dahi di kerutkan,lipatan kulit dahi hanya tampak pada sisi yang sehat saja.
 Tujuan :konsep diri klein meningkat
 Criteria hasil :klien mampu menggunakan koping yang positif
 Intervensi :

 a) Kaji dan jelaskan kepada klien tentang keadaan paralisis wajahnya.


 R/ intervensi awal bisa mencegah disstres psikologi pada klien
 b) Bantu klien menggunakan mekanisme koping yang positif.
 R/ mekanisme koping yang positif dapat membantu klien lebih percaya diri, lebih kooperatif terhadap
tindakan yang akan dilakukan dan mencegah tetjadinya kecemasan tambahan.
 c) Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.
 R/ orientasi dapat menurunkan kecemasan.
 d) libatkan system pendukung dalam perawatan klien
 R/ kehadiran system pendukung meningkatkan citra diri klien.
DIAGNOSA II
 Tujuan : kecemasan hilang atau berkurang
 Criteria hasil : mengenal perasaannnya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya
dan menyatakan ansietas berkurang/hilang.

 Intervensi :
 a) kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, dampingin klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku
merusak.
 R/ reaksi verbal/non verbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah dan gelisah.
 b) Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat.
 R/ mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.
 c) Tingkatkan control sensasi klien
 R/ control sensasi klien (dan dalam menurunkan ketakutan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien,
menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping (pertahanan diri), yang positif, membantu latihan
relaksasi dan teknik-teknik pengalihan dan memberikan respons balik yang positif.
 d) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan kecemasannya.
 R/ dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak dieksperesikan.
 e) Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat
 R/ memberi waktu untuk mengeksperesikan perasaan, menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga
dan tewman-teman yang dipilih klien yang melayani aktivitas dan pengalihan (misalnya membaca) akan menurunkan
perasaan terisolasi.
DIAGNOSA III
 Tujuan : dalam jangka waktu 1x30 menit klien akan memperlihatkan kemampuan pemahaman yang adekuat
tentang penyakit dan pengobatannya.
 Criteria hasil : klien mampu secara subjektif menjelaskan ulang secara sederhana terhadap apa yang
telah didiskusikan.

 Intervensi :
 a) Kaji kemampuan belajar, tingkatkan kecemasan, partisipasi, media yang sesuai untuk belajar.
 R/ indikasi progresif atau reaktivasi penyakit atau efek samping pengobatan serta untuk evaluasi lebih
lanjut.
 b) Identifikasi tanda dan gejala yang perlu dilaporkan keperawat
 R/ meningkatkan kesadaran kebutuhan tentang perawatan diri untuk meminimalkan kelemahan.
 c) Jelaskan instruksi dan informasi misalnya penjadwalan pengobatan.
 R/ meningkatkan kerja sama/ partisipasi terapeutik dan mencegah putus obat.
 d) Kaji ulang resiko efek samping pengobatan
 R/ dapat mengurangi rasa kurang nyaman dari pengobatan untuk perbaikan kondisi klien.
 e) Dorong klien mengeksperesikan ketidaktahuan/kecemasan dan beri informasi yang dibutuhkan.
 R/ memberikan kesempatan untuk mengoreksi persepsi yang salah dan mengurangi kecemasan.
THANKS