Anda di halaman 1dari 19

Pleurodesis

Hendy Buana Vijaya


Pengertian
• Pleurodesis adalah penyatuan pleura viseralis dengan parietalis baik secara
kimiawi, mineral ataupun mekanik, secara permanen untuk mencegah
akumulasi cairan maupun udara dalam rongga pleura.
Anatomi paru
Pleurodesis pada kasus keganasan
• Jika dispnea tidak disebabkan oleh efusi pleura (melainkan karena gangguan pada parenkim atau
jaringan ekstratoraks) maka pleurodesis tidak akan mengurangi gejala dispnea. Pasien yang mengalami
perbaikan gejala pasca torakosintesis menunjukkan keterkaitan efusi pleura dengan dyspnea.
• Rekurensi efusi pleura biasanya terjadi pada keganasan, baik segera maupun tidak. Tingkat keberhasilan
pleurodesis pada kanker lanjut relatif lebih rendah daripada yang dilakukan pada tahap awal
• Gangguan pengembangan paru mungkin disebabkan oklusi bronkus atau trapped lung akibat massa
tumor pada pleura.
• Pleurodesis merupakan tindakan yang invasif sehigga tidak dianjurkan untuk pasien dengan harapan
hidup yang singkat. Parameter klinis seperti indeks Karnofsky dapat membantu pengambilan
keputusan. Selain itu, berdasarkan penelitian, pemeriksaan pH dan kadar gula pada cairan pleura juga
dapat membantu pengambilan keputusan. Kadar pH < 7,20 dan kadar gula < 60 mg/dl telah
dihubungkan dengan harapan hidup yang singkat.
Pleurodesis pada kasus jinak
• Insidensi yang relatif tinggi pada pasien usia muda, sehingga pleurodesis dapat
diandalkan serta masih memungkinkan untuk dilakukannya torakotomi pada masa
selanjutnya (misalnya untuk reseksi kanker paru, transplantasi paru, dan
sebagainya).
• Ruptur bullae dan blebs membutuhkan intervensi khusus untuk mencegah rekurensi.
• Permukaan mesotelial pleura yang sebagian besar masih normal memungkinkan
tingkat keberhasilan pleurodesis yang lebih baik walaupun membutuhkan dosis
analgesik yang lebih tinggi. Selain itu, respons yang adekuat diperoleh dapat dengan
dosis agen sklerosis yang lebih rendah
Rapid pleurodesis
• Rapid pleurodesis (pleurodesis cepat) merupakan tindakan plerodesis kimia
yang dilakukan pada MPE (malignant pleural effusion) setelah dilakukan
pengosongan cairan efusi yang dipercepat dengan suatu intervensi khusus.
• Pasien secara PA terbukti MPE
• MPE simtomatik dengan luas lebih ½ hemothoraks
• Keadaan umum baik (karnofsky >50)
• Xray thoraks memberikan gambaran reekspansi setelah dilakukan drainase
Kontraindikasi
• Pasien dengan perkiraan kemungkinan hidup < 3 bulan
• Tidak ada gejala yang ditimbulkan oleh efusi pleura
• Pasien tertentu yang masih mungkin membaik dengan terapi sistemik (kanker mammae, dll)
• Pasien yang menolak dirawat di rumah sakit atau keberatan terhadap rasa tidak nyaman di dada
karena selang torakostomi
• Pasien dengan re-ekspansi paru yang tidak sempurna setelah pengeluaran semua cairan pleura
(trapped lung)
Ozkul S, Turna An, Demirkaya A, Aksoy B, Kaynak K. Rapid
pleurodesis in an outpatient alternative in patient with malignant pleural
effusions : a prospective randomized controlled trial. J Thorac Dis
2014;6(12):1731-1735

• A prospective randomized ‘non-inferiority’ trial was conducted in 96 patients with malignant pleural
effusion (MPE) who are not potentially curable and/or not amenable to any other surgical intervention.
• They were randomly allocated to group 1 (rapid pleurodesis) and to group 2 (standard protocol). In group
1, following complete fluid evacuation, talc slurry was instilled into the pleural space. This was
accomplished within 2 h of thoracic catheter insertion, unless the drained fluid was more than 1,500 mL.
• After clamping the tube for 30 min, the pleural space was drained for 1 h, after which the thoracic catheter
was removed. In group 2, talc-slurry was administered when the daily drainage was lower than 300 mL/day.
• No-complication developed due to talc-slurry in two groups. Complete or partial response was
achieved in 35 (87.5%) and 33 (84.6%) patients in group 1 and group 2 respectively (P=0.670). The mean
drainage time was 40.7 and 165.2 h in group 1 and group 2 respectively (P<0.001).
Agen sklerotik
Tetrasiklin HCl
Efektivitas tetrasiklin bervariasi antara 45-77% dengan angka rekurensi yang cukup tinggi. Penggunaanya membutuhkan
analgesik dosis tinggi. Sekarang tetrasiklin parenteral sudah tidak diproduksi lagi sehingga sekarangsudah tidak digunakan.

Doksisiklin
Rerata nilai efektivitas doksisiklin 72%, namun penggunaannya membutuhkan dosis ulangan, seringkali lebih dari 2 minggu.

Minosiklin
Juga merupakan turunan tetrasiklin yang diharapkan dapat digunakan sebagai pengganti. Angka keberhasilan
yang dicapai rata-rata 86%. Minosiklin pada dosis pleuro desis dapat menimbulkan gejala vestibular dan meningkatkan
kejadian hemotorak pasca tindakan.
Lanjutan
Bleomisin
Karena mahal dan diabsorbsi secara sistemik (menimbulkan risiko toksik) penggunaannya tidak luas.

Kuinakrin
Banyak digunakan di Skandinavia, kuinakrin dapat menimbulkan reaksi toksik berat pada susunan saraf pusat
karena dibutuhkan dalam dosis besar.2
Talk
Angka keberhasilan penggunaan talk pada pleurodesis mencapai 91%, terutama bila melalui torakoskopi.
Pleurodesis talk dengan torakoskopik dianggap paling efektif dibandingkan dengan metode lain karena
mampu memastikan drainase cairan sempurna serta distribusi yang merata di seluruh permukaan pleura.
Penggunaan talk tidak membutuhkan anestesia umum ataupun intubasi trakea, namun perlu melakuan
anestesia lokal serta parenteral dengan sangat hatihati.2
Algorithm
pleurodesis
Persiapan pasien
• Menerangkan prosedur tindakan yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga, indikasi, dan
komplikasi yang mungkin timbul,
• Setelah mengerti dan setuju, pasien dan keluarga menandatangani surat ijin tindakan.
• Foto toraks dilakukan sebelum pleurodesis untuk memastikan bahwa paru-paru telah mengembang
sepenuhnya. Mediastinum dilihat untuk menilai tekanan pleura di sisi efusi dan kontra lateral
• Bila memungkinkan dilakukan bronkoskopi sebelum pleurodesis utnuk menilai adakah obstruksi di
bronkus yang memerlukan radioterapi atau terapi laser
• Dilakukan pemeriksaan hemodinamik (tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan, suhu)
• Hasil laboratorium dilihat ulang.
• Bila belum terpasang insersi chest tube. Semua cairan pleura dibiarkan keluar sampai habis, atau produksi
cairan maksimal 100 cc per 24 jam. Idealnya selang berada pada posisi posterio-inferior
Alat-alat
• Klem chest tube 2 buah
• Catheter tip syringe (60 ml) 1 buah
• Mangkuk steril 1 buah
• Sarung tangan steril
• Drape/duk steril
• Kassa steril
Bahan-bahan
• Larutan povidon-iodine,
• 10 ampul lidokain 2%
• 1 ampul pethidin 50 mg
• cairan NaCl 0,9%
• Agen sklerotik
Prosedur tindakan
• Dipasang jalur infus NaCl 0,9%
• Disiapkan O2 untuk oksigenasi
• Posisi pasien setengah lateral dekubitus pada sisi kontralateral (sisi yang ada chest tube berada di atas), tempatkan handuk
di antara pasien dan tempat tidur.
• Pethidin 50 mg IM, 15-30 menit sebelum memasukkan zat pleurodesis.
• Chest tube di-klem dengan 2 klem, lalu dilepaskan dari adaptor/WSD
• Klem dibuka sesaat, agar paru sedikit kolaps dalam rongga pleura
• 20 ml lidokain 2% diinjeksikan melaluichest tube, kemudian klem kembali dipasang. Posisi pasien diubah-ubah agar
lidokain merata di seluruh permukaan pelura
• Dengan menggunakan teknik steril, agen sclerosing dicampur dengan larutan saline di mangkuk steril. Aspirasi campuran
dengan syringe.
Prosedur tindakan
• Syringe dipasangkan pada chest tube, kedua klem dibuka, larutan diinjeksikan melalui
chest tube. Bilas dengan NaCl 0,9%.
• Pasien diminta bernapas beberapa kali agar larutan tertarik ke rongga pleura
• Klem segera dipasangkan kembali dan chest tube
• dihubungkan dengan adaptor WSD
• Hindari suction negatif selama 2 jam setelah pleurodesis.
• Posisi tubuh pasien diubah-ubah (supine, dekubitus lateral kanan-kiri) selama 2 jam,
lalu klem dicabut. Rongga pleura dihubungkan dengan suction bertekanan -20 cm
H2O.
Respon pleurodesis
• Complete response (CR): if there was no reaccumulation of pleural fluid in the same
hemithorax, after tube removal, during the 1st week of the procedure and all through the follow
up period.
• Partial response (PR): if there was accumulation of some fluid, early after tube removal (1–7
days), not causing symptoms and not requiring repeated thoracocentesis or tube drainage.
• Failure of pleurodesis: was considered if there was difficulty to remove the tube, because the
pleural fluid drained through it is more than 250 ml/24 h (primary failure) or
there was fluid reaccumulation after tube removal, that caused symptoms to the patient or
necessitated repeated thoracocentesis or intercostal tube drainage, during the follow up period
(secondary failure)

Bark M, El-mahalawy I, Abdel-Aal A, Mabrouk A, Ali A. Pleurodesis using different agent in malignant pleural effusion. Egyptian
journal of chest disease and tuberculosis. 2012 ; 61 : 399-404
• The standard procedure pleurodesis resulted in 9 (81.81%) successful
pleurodesis category patients, 2 (18.18%) failure patient, and 1 non-evaluated
patient. The rapid pleurodesis resulted in 10 (90.9%) successful pleurodesis
category patients, 1 (9.09%) failure patient, and 2 non-evaluated patient.
• There are no significant differences to rapid and standard procedure
pleurodesis to malignat pleural effusion patient.

Wahyudi A, Marhani I. Effective comparison on rapid and standard pleurodesis procedure result in Malignant Pleural Effusion patient. Airlangga
University. 2018 : 1-9
Komplikasi
• Nyeri
• Takikardia, takipnea, pneumonitis, atau gagal napas (terutama setelah pemberian
slurry talc), edema paru reekspansi. Umumnya keadaan ini bersifat reversibel.
• Demam. Biasanya berkaitan dengan pleuritis, hilang dalam <48 jam
• Ekspansi paru inkomplit dan partially trapped lung
• Reaksi terhadap obat
• Syok neurogenik