Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN


PPOK
OLEH: EFRIS KARTIKA SARI
PENDAHULUAN

 PPOK merupakan penyebab kesakitan dan kematian di dunia.


 Data hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 menunjukan
bahwa prevalensi PPOK di Indonesia sebanyak 3,7%.
DEFINISI

 Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan kondisi yang


ditandai oleh keterbatasan aliran udara yang biasanya progresif
dan disertai respons inflamasi abnormal paru terhadap partikel
atau gas toksik.
 PPOK merupakan kelompok penyakit dengan gejala klinis
bronkhitis kronis dan emfisema
 Bronkitis kronik merupakan suatu gangguan klinis yang ditandai
oleh pembentukan mukus yang meningkat dan bermanifestasi
sebagai batuk kronik.
 Emfisema merupakan suatu perubahan anatomis parenkim paru
yang ditandai oleh pembesaran alveolus dan duktus alveolaris
serta destruksi dinding alveolar.
 PPOK bukan penyakit tunggal tetapi merupakan istilah umum
yang digunakan untuk menggambarkan penyakit paru kronis
yang menyebabkan keterbatasan dalam aliran udara paru.
 Istilah lebih umum bronkhitis kronis dan emfisema tidak lagi
digunakan, tetapi sekarang termasuk dalam diagnosis PPOK.
KLASIFIKASI

Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease


(GOLD) 2011, PPOK diklasifikasikan sebagai berikut:
 1. Derajat 0 (berisiko)
Gejala klinis : Memiliki satu atau lebih gejala batuk kronis, produksi sputum, dan dispnea.
Ada paparan terhadap faktor resiko.
Spirometri : Normal

 2. Derajat I (PPOK ringan)


Gejala klinis : Dengan atau tanpa batuk. Dengan atau tanpa produksi sputum. Sesak
napas derajat sesak 0 sampai derajat sesak 1
Spirometri : FEV1/FVC < 70%, FEV1 ≥ 80%

 3. Derajat II (PPOK sedang)


Gejala klinis : Dengan atau tanpa batuk. Dengan atau tanpa produksi sputum. Sesak
napas derajat sesak 2 (sesak timbul pada saat aktivitas).
Spirometri :FEV1/FVC < 70%; 50% < FEV1 < 80%
 4. Derajat III (PPOK berat)
Gejala klinis : Sesak napas derajat sesak 3 dan 4. Eksaserbasi
lebih
sering terjadi
Spirometri :FEV1/FVC < 70%; 30% < FEV1 < 50%
 5. Derajat IV (PPOK sangat berat)
Gejala klinis : Pasien derajat III dengan gagal napas kronik.
Disertai
komplikasi kor pulmonale atau gagal jantung kanan.
Spirometri :FEV1/FVC < 70%; FEV1 < 30% atau < 50%
GOLD, 2017
FAKTOR RISIKO

 Merokok
 Faktor genetik
 Usia
 Jenis kelamin
 Hiperesponsif saluran pernafasan
 Infeksi saluran nafas
 Pemaparan akibat kerja
 Status sosial ekonomi
 Polusi udara
 Alfa-1 antitripsin (AAT) merupakan inhibitor penting pada
elastase neutrofil pada paru.
 Elastase neutrofil adalah protease utama yang terlibat dalam
cedera paru-paru akut, sindrom gangguan pernapasan akut,
serta
proses inflamasi lain seperti emfisema, fibrosis kistik, PPOK,
penyembuhan luka, rheumathoid arthritis, dan iskemia reperfusi.
PATOLOGI
PATOFISIOLOGI
 Pada pernafasan normal, udara dihirup masuk saat inspirasi, dan
dikeluarkan sempurna saat ekspirasi.
 Pada PPOK, udara tidak dapat dikeluarkan secara sempurna saat
ekspirasi, terdapat sisa udara yang “terperangkap” dalam paru-
paru akibat obstruksi jalan nafas dan penurunan elastisitas paru.
 Akibatnya, kinerja diafragma lebih keras dan tidak efisien. Tubuh
menggunakan otot bantu pernafasan di leher, dada, dan perut.
Penderita kesulitan melakukan inspirasi dan merasa sesak nafas .
MANIFESTASI KLINIS

 Batuk kronis
 Sesak nafas
 Kelelahan
 Barrel chest
 Dispnea dan intoleransi latihan (exercise intolerance) pada klien
PPOK:
 Penyebab: obstruksi pada aliran udara ekspirasi, disfungsi otot
inspirasi, gangguan pertukaran gas, disfungsi jantung.
 Exercise intolerance: konsep hiperinflasi dinamis, hiperinflasi
pergerakan dinding dada terbatas, maka kapasitas paru dalam
meningkatkan volume tidal selama latihan menjadi terganggu.
Hiperinflasi juga melemahkan dan menurunkan kemampuan otot-
otot inspirasi dalam menghasilkan tekanan.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

 Spirometri: metode pemeriksaan untuk mengevaluasi fungsi paru


dan mendiagnosis kondisi paru-paru dengan menggunakan
spirometer. Dinilai volume eskpirasi paksa satu detik pertama
(Forced expiratory volume in 1 second/FEV1), kapasitas vital
paksa (forced vital capacity/ FVC) (rasio FEV1 /FVC)
 Analisis gas darah: mengkaji status ventilasi, kapasitas
oksigenasi, keseimbangan asam basa
 Pemeriksaan sarah: peningkatan penanda inflamasi (leukosit,
CRP)
 Chest x ray
KRITERIA DIAGNOSIS
PENATALAKSANAAN
 Rehabilitasi pulmonal
PENGKAJIAN

 Keluhan utama
 Riwayat kesehatan
 Riwayat pengobatan
 Riwayat keluarga
 Kebiasaan merokok
 Status nutrisi
 Pola tidur
 Lingkungan
 Pekerjaan
 Pemeriksaan thoraks:
 Inspeksi: bentuk dada: barrel chest (dada seperti tong)
, terdapat pursed lips breathing (seperti orang meniup)
, terlihat penggunaan otot bantu nafas
 Palpasi: taktil fremitus melemah
 Perkusi: hipersonor
 Auskultasi: suara nafas vesikuler melemah atau normal
, ekspirasi memanjang, ronkhi atau wheezing
DIAGNOSIS KEPERAWATAN

 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas


 Ketidakefektifan pola nafas
 Hambatan pertukaran gas
 Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
 Intoleransi aktifitas
 Kurang pengetahuan
 Ketidakpatuhan
 Ketidakefektifan manajemen kesehatan, dll
KASUS

 Seorang laki-laki (50 th) memeriksakan diri ke rumah sakit


dengan keluhan batuk dan sesak nafas sejak 3 hari yang lalu.
Karena sesak, klien sulit tidur, dan hanya bisa tidur dengan posisi
duduk. Klien bekerja sebagai pegawai pabrik, dan sering terpapar
asap pembakaran di pabrik tersebut. Klien memiliki kebiasaan
merokok sejak 10 tahun yang lalu, 5-10 batang per hari. Klien
mengatakan telah di diagnosis PPOK sejak 1 tahun yang lalu,
sering kambuh akibat klien tidak suka minum obat dan tidak bisa
berhenti merokok. Dari pemeriksaan fisik diketahui: TD 130/90
mmHg, N 90x/mnt, RR 30x/menit, S 37oC, skala sesak 3, pursed
lip breathing (+), penggunaan otot bantu nafas (+), ronchi +/+.
Klien diberi terapi oksigen 6 lpm, dan direkomendasikan untuk
rawat inap.
 Buatlah rencana asuhan keperawatan berdasarkan kasus di atas.
REFERENSI

 Bailey, P. H., Boyles, C. M., Cloutier, J. D., Bartlett, A., Goodridge, D., Manji, M., & Dusek, B. (2013). Best practice in
nursing care of dyspnea: The 6th vital sign in individuals with COPD. Journal of Nursing Education and Practice,
3(1), 108-122.
 Barken, T. L., Thygesen, E., & Söderhamn, U. (2017). Advancing beyond the system: telemedicine nurses’ clinical
reasoning using a computerised decision support system for patients with COPD – an ethnographic study. BMC
Medical Informatics and Decision Making, 17(181), 1-11.
 Bracken, N. (2016). Reducing readmissions in COPD patients. American Nurse Today, 11(7).
 Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. (2017). Pocket Guide to COPD Diagnosis, Management, and
Prevention: Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease.
 Li, P., Gong, Y., Zeng, G., Ruan, L., & Li, G. (2015). A new mode of community continuing care service for COPD
patients in China: participation of respiratory nurse specialists. Int J Clin Exp Med 8(9), 15878-15888.
 NANDA International. (2018). Diagnosis Keperawatan NANDA 2018-2020 (Ed. 11). Jakarta: EGC.
 Naser, F. e., Medison, I., & Erly. (2016). Gambaran derajat merokok pada penderita PPOK di Bagian Paru RSUP Dr.
M. Djamil. Jurnal Kesehatan Andalas, 5(2), 306-311.
 Oktaria, D., & Ningrum, M. S. (2017). Pengaruh merokok dan defisiensi alfa-1 antitripsin terhadap progresivitas
penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan emfisema. Majority, 6(2), 42-47.
 Singh, S., & Singh, V. (2012). Pulmonary rehabilitation in COPD. SUPPLEMENT TO JAPI 60, 48-52.
 The Japanese Respiratory Society. (2010). Guidelines for the Diagnosis and Treatment of COPD (Chronic
Obstructive Pulmonary Disease) (3rd ed.). Tokyo: The Japanese Respiratory Society.
TERIMA KASIH