Anda di halaman 1dari 22

ARSITEKTUR KUNO

NAMA : SEPTA ARIANI


NRP : 142018024

DOSEN : RENY KARTIKA SARY, S.T.,M.T.


ARSITEKTUR KRISTEN KUNO

A. Sejarah Perkembangan Masa Kristen Awal


Secara keseluruhan, masa perkembangan Kristen Awal terbagi menjadi 3 periode, antara lain:
1. Periode Pengejaran
Hingga memasuki abad ke-6, kahidupan penduduk daerah Barat Eropa masih
berupa kelompok-kelompok kesukuan. Eropa Barat didominasi oleh suku Celtic, termasuk
Britania yang masih didominasi suku Angle dan Saxon. Sementara itu, Eropa Utara didominasi
oleh suku Germanic yang selanjutnya bermigrasi ke Eropa Barat lalu berasimilasi dengan suku
Celtic. Bangsa Romawi menyebut mereka bangsa “Barbar”.
2. Periode Pengakuan
Seiring dengan ekspansi kekuasaan ke barat dan utara, bangsa Romawi melakukan
represi dan upaya pembudayaan terhadap suku-suku ini, diawali dengan pembangunan kota-
kota Romawi. Kegiatan yang dilakukan bangsa Romawi ini tidak berjalan dengan mudah, sebab
bangsa Romawi mendapat banyak perlawanan balik dari suku-suku bangsa dari utara selama
kurun 100-500 M, antara lain Visigot, Ostrogoth, Goth, Vandal, Hun, dan Frank; hingga
kekaisaran Romawi akhirnya mulai memudar sejak abad ke-1 M.
3. Perpecahan Kekaisaran Romawi
Dimulai dari Jaman Constantine, hingga Charlemagne (800 M). Serbuan Huns yaitu
orang-orang Mongol ke Eropa sekitar 376 M, berhasil menguasai Wilayah Eropa hingga Italia.
Pada 410 M Roma jatuh ketangan orang-orang Goth di bawah Alaric.
CIRI-CIRI ARSITEKTUR KUNO
– Temboknya tebal,
– Bangunannya tidak terlalu tinggi,
– Atapnya melengkung membentuk kubah setengah lingkaran,
– Ruang-ruangnya gelap dan pada dindingnya ada sedikit Ukiran itu berupa
gambar-gambar binatang, gambar dedaunan, malaikat dan orang-orang suci.
– Ukiran gaya fresco yang sangat sederhana.
– Pilar-pilarnya sangat besar.
– Bentuk-bentuk denahnya sangat terikat oleh dalil-dalil yang sistematik, yaitu
bentuk simetris, jelas dan teratur dengan teknik konstruksi yang bersahaja.
– Arsitekturditanganidenganmenggunakandayanalarataupikiranyang rasional.
Arsitektur Masa Kristen Awal Tipe Basilica

– Bangunan di masa Kristen Awal (abad IV s.d. STRUKTUR DAN UTILITAS


abad VIII), mempunyai nilai yang sangat Gereja-gereja Basilika memiliki denah berbentuk segi
menekankan penyelesaian masalah konstruksinya. empat dengan pembagian ruangan menjadi dua bagian
Konsep-konsep yang menyusun arsitektur gereja bangunan, yaitu bagian utama dan bagian peralihan.
Basilikan ini mengadopsi konsep-konsep yang
menyusun gedung Basilika peninggalan dari
bangsa Romawi.

– Basilika (Basilica) telah disebutkan di depan,


yaitu gedung yang digunakan oleh bangsa Romawi – Bagian peralihan terdiri dari atrium, yang merupakan
sebagai gedung pengadilan. Lalu, nama Basilika ini halaman depan gereja yang dikelilingi oleh portico
melekat pada gereja-gereja yang dibangun pada
– Sebelum masuk ke bagian utama gereja, terdapat
masa Kristen Awal karena kemegahan dari gedung narthex, gang yang menjadi perantara bagian
ini, sehingga para arsitek yang berperan peralihan dan bagian utama dari suatu gereja masa
membangun tempat beribadah pada zaman itu Kristen Awal
kerap menjadikannya sebagai inspirasi. Sehingga, – Bagian utama terdiri dari nave, yaitu ruang umat
istilah gereja basilika digunakan untuk menyebut utama sebagai pusat sebuah gereja yang memanjang
gereja yang terbesar di lingkungannya. dari narthex ke choir atau mimbar gereja dan
biasanya diapit oleh aisle.
Bagian-Bagian Gereja Basilikan St. Peter
MATERIAL

– Material yang digunakan untuk membangun diambil dari berbagai benda yang tersedia di sekitar
lingkungannya, seperti batu dan marmer. Terdapat pula bahan-bahan lain seperti mozaik dan patung
sebagai material penghias gereja. Penggunaan kaca warna disertai dengan mosaik banyak digunakan
sebagai lukisan yang dipasang pada bagian dalam kubah.
– Selain itu, material kayu juga berperan penting khususnya dalam konstruksi kuda-kuda. Pengerjaan
material kayu ini juga didukung oleh teknologi yang dimiliki oleh bangsa Romawi yang saat itu sudah
menerima dan meresmikan agama Kristen sebagai agama negera.
ARSITEKTUR ROMANESQUE
Arsitektur Romanesque adalah gaya arsitektur dari Eropa Abad
Pertengahan (VIII-XII), ditandai oleh pelengkung setengah lingkaran. Contoh-
contoh dari arsitektur ini dapat ditemukan di seluruh penjuru Eropa.
Arsitektur romanesk sejatinya adalah perkembangan dari arsitektur klasik.
Masih dengan tipologi yang sama bahkan kembali lagi pada material batu
(karena bangunan perlu tahan api dari demonstrasi rakyat). Yang
membedakan arsitektur romanesk dengan arsitektur klasik adalah teknologi
struktur dalam membangun.
Arsitektur Romanesk dikenalkan oleh suku Merovingian,
Carolingian and Ottonian (bangsa Franks/Perancis) melalui arsitektur
tradisional mereka (arsitektur merovingian, arsitektur carolingian, dan
arsitektur ottonian), namun perkembangannya semakin pesat saat kerajaan
vasal bermunculan. Kerajaan-kerajaan vasal mengambil kosa kata arsitektur
tradisional suku-suku tersebut dan mengelaborasinya dengan arsitektur
klasik, sehingga terciptalah arsitektur romanesk yang menyebar ke seluruh
Eropa dengan gaya kerajaan vasalnya tersendiri.
Adapun ciri-ciri arsitektur Romanesque :
– Adanya busur lengkung pada tiap bukaan
– Bangunan tampak bulky (sangat besar) dan kokoh
– Bahan bangunan berupa potongan-potongan batu besar dan berat
– Dinding bangunan sangat tebal dan massif untuk memperkuat struktur
– Memiliki bukaan berupa jendela yang berukuran kecil dan berjumlah sedikit.
– Adanya arcade
– Adanya vault yang terbagi menjadi dua, yaitu Barrel Vault & Groin Vault.
– Fasad bagian depan umumnya miskin dekorasi
– Terdapat banyak menara yang berujung lancip
– Terdapat wheel window. Namun tidak semua bangunan periode Romanesque
– menggunakan wheel window
KARAKTERISTIK ROMANESQUE

ATAP
Salah satu hal yang sederhana dari kubah atap adalah kubah barel pada
permukaan melengkung memanjang dari satu dinding ke dinding, panjang
dari ruangan yang berada dibawah kubah, misalnya, nave.
Terdapat banyak kolom atau pilar kubah, di gedung-gedung Romawi kuno,
khususnya di Katedral Speyer di mana kubah tinggi dari sekitar 1060 adalah
karya pertama dalam arsitektur Romawi jenis kubah dengan mengikuti
panjang dari nave(bagian tengah dari ruangan di gereja).
DINDING
Dinding romanesque dirancang dengan beberapa ketebalan berbeda dari
diameter yang tebal sampai kecil. Romanesque memiliki dua periode, yaitu
gaya "first romanesque" dan gaya "romanesque".
MENARA
Menara, yang merupakan ciri penting dari gereja Roma dan sejumlah besar dari
mereka masih berdiri. Mereka mengambil banyak bentuk dari mulai persegi, bulat
dan segi delapan. Diposisikan secara berbeda dalam kaitannya dengan gereja di
negara yang berbeda.
DEKORASI (ORNAMEN)
Periode romanesque Arsitektur patung yang dihasilkan sebagai ornamen. Hal ini
sering menggunakan bentuk geometri murni dan terutama digunakan untuk
cetakan, baik program dekorasi lurus maupun melengkung.
PATUNG FIGURATIF
Selama abad ke-11 dan ke-12, patung figuratif dikembangkan
dalam gaya romantik yang dengan jelas diakui di seluruh Eropa,
meskipun proyek patung paling spektakuler terkonsentrasi di
Selatan-Barat Perancis, Spanyol dan Italia Utara. Mayor hiasan
figuratif terjadi terutama di sekitar gerbang katedral dan
gereja-gereja, menghiasi timpanum, lintels, jambs dan pusat
pos.
STRUKTUR ARSITEKTUR
ROMANESK
– Denah pada arsitektur romanesk masih seperti pada arsitektur klasik yang persegi dan lingkaran, namun
diberi massa tambahan sehingga untuk bangunan monastik (gereja) banyak denah yang berbentuk salib.
– Denah gereja Romanesque selalu berbentuk salib. Altar diletakkan di timur (menghadap Yerusalem), pintu
masuk di barat.
– Jendela terlihat kecil dan sempit. Susunan kolom, busur dan
pahatan dekorasi di sekeliling jendela membuatnya terlihat lebih
besar.
– Penggunaan patung-patung manusia mulai dikenal pada masa ini.
Patung/pahatan manusia dipakai sebagai salah satu cara
menyebarkan ajaran Injil.
– Kolom sebagai penyalur beban memiliki berbagai macam bentuk
yakni, salvaged coloumn yang berbentuk persegi, drum
coloumn yang berbentuk lingkaran, dan hollow coloumn yang
besar namun tidak massive.
– Kepala kolompun memiliki berbagai macam desain tidak lagi
mengikuti greek order/roman order, detail datar dengan dekorasi
bentuk, detail dengan mencoak bentuk, detail pahatan wajah
manusia, detail pahatan dekoratif, detail pahatan manusia, dan
detail pahatan binatang.
– Vault sebagai penyangga memiliki berbagai pemecahan masalah, barrel vault yang hanya
berupa archsingular, groin vault yang berupa arch diagonal untuk mengatasi masalah beban di
antara arch singular, dan ribbed vault yang berupa gabungan antara arch singular
dan arch diagonal
BANGUNAN ARSITEKTUR 2. St. Etienne
ROMANESQUE Nevers adalah tempat dimana arsitektur bergaya
Romanesque pertama kali menggunakan lukisan
1. Istana Kapel Palatine dan pahatan di dinding-dindingya. Gereja ini
adalah St.Etienne. Gereja St.Etienne ini adalah
Kapel Palatine dibangun antara 796-805 di salah satu dari bangunan-bangunan Romanesque
dalam istana Charlemagne menggunakan yang mengundang paradigma. Bagian dalamnya
struktur Carolingian yang unggul. Sebuah terdapat kolom-kolom yang didirikan secara
kubah, dengan dua lapis dinding, dua lantai segi berirama, diperkuat oleh diding penopang yang
bertolak belakang dengan garis-garis horizontal
delapan, kapel tersebut melambangkan
yang dibentuk di kolomnya.
arsitektur dengan gaya Early Christian dan
Bizantin.
ARSITEKTUR GOTIK
Sejarah dan Geografi
– Kekuasaan Romawi berpusat di Roma mencapai puncak hingga abad
II, wilayahnya mencakup seluruh kawasan Laut Mediterania, termasuk
Mesir di timur-selatan, Mesopotamia di barat, di utara-barat hingga
Britania.
– Setelah Theodosius I salah seorang penguasa Imperium Bisantin
meninggal pada 395, wilayah kekuasaan dibagi menjadi dua, wilayah
timur berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul) dan wilayah
barat berpusat di Ravenna (sekarang di Italia bagian utara). Bagian
utara-barat Afrika, daratan Eropa bagian barat yang dahulu masuk ke
dalam wilayah Romawi, tidak lagi berada di bawah kekuasaan
Bisantin.
– Perpecahan antara kaum ortodoks dari Konstantinopel dengan Paus
terjadi pada 1054, berpengaruh besar pada perkembangan politik dan
ekonomi Eropa. Dari segi luas wilayah, Imperium Bisantin mencapai
puncak pada 1014, ketika berhasil mengalahkan kekaisaran Bulgaria.
CIRI-CIRI ARSITEKTUR GOTIK

– Terdapat satu atau lebih menara pada bangunan. Biasanya terletak pada bagian depan ataupun belakang bangunan.
– Arsitektur gotik menerapkan proporsi arsitektur yang berkesan agung, menjulang tinggi melebihi skala manusia normal.
– Filsafat arsitektur Gotik adalah vertikalisme, transparan dan diafan.
– Adanya rib vaulting yang merupakan atap bangunan menyerupai membran dan memiliki unsur arsitektural sebagai salah
satu peninggalan bentuk arsitektur gothic.
– Penebalan kolom/tiang sebagai perkuatan struktur bangunan yang juga merupakan ciri khas dari bangunan gothic. Jajaran
kolom yang terpadu dengan rib voulting menjadi unsur utama konstruksi bangunan.
– Berkembangnya Sistem flying buttress. Pada dasarnya ini adalah sistem triforium seperti pada zaman arsitektur sebelumnya,
namun arsitektur gotik lebih bereksperimen dalam hal struktur.
– Bidang penyangga triforium dicoak hingga menjadi struktur yang organik, lebih meruang
– Terdapat rose window (jendela berbentuk seperti mawar) pada bangunan. Secara arsitektural hal itu digunakan untuk
memasukan cahaya dan estetika. Sedangkan dari segi religi, rose window dipakai sebagai symbol suatu firman Tuhan.
– Berkembangnya seni kaca patri (clear storey) yang dipasang di dinding bangunan. Hal ini merupakan hasil perkembangan
teknologi kaca pada masa itu yang diterapkan pada bangunan.
– Gambar yang tersaji pada kaca patri banyak menceritakan sejarah keagamaan dan tokoh-tokoh yang berpengaruh.
KARAKTERISTIK ARSITEKTUR
GOTIK

– Ujung lancip pada eksterior


Bangungan yang tinggi, megah, dan menara dengan ujung yang lancip
pada gereja identik dengan arsitektur Gotik. Dekorasi pada tampilan façade
dibuat dengan sangat detail.
– Flying Buttress
Flying buttress merupakan contoh karakteristik paling penting dalam
dekorasi bagian luar bangunan gaya Gotik. Arsitektur Gotik menerapkan
solusi untuk menyangga bangunan-bangunannya yang memiliki struktur
tinggi dengan sistem flying buttress. Flying buttress tidak hanya berfungsi
sebagai penyangga struktur bangunan tapi juga terlihat sangat dekoratif
dengan desainnya yang memberikan efek kemegahan.
– Lengkungan runcing (pointed arch).
Lengkungan runcing merupakan karakteristik yang paling penting dalam
interior bangunan gaya Gotik. Lengkungan yang runcing berfungsi
menahan beban dari desain langit-langit bangunan yang sangat berat dan
tebal. Lengkungan ini juga menjadi dekorasi tersendiri untuk interior
bangunan.
– Vault
Vault merupakan istilah arsitektur untuk bagian atap melengkung yang digunakan
dalam arsitektur Gotik. Sistem vault pada atap bangunan menjadi salah satu ciri khas
dari gaya Gotik. Vault memiliki fungsi yang sama dengan lengkungan runcing untuk
menahan beban dari lantai diatasnya. Desain melengkung memberikan kesan tinggi dan
kemegahan, sedangkan vault memberikan kesan keagungan dan keanggunan. Jajaran
pilar yang tergabung dengan vault menjadi unsur utama dari konstruksi bangunan.
– Pencahayaan dan interior luas
Arsitektur Gotik menekankan kepada pencahayaan, jendela-jendela yang besar, dan
interior yang luas, mengubah istana dan gereja terlihat lebih megah dan menyenangkan
untuk ditempati.
– Gargoyle
Gargoyle merupakan sebuah monster kecil yang biasanya diletakkan di sepanjang atap
atau benteng bangunan dan istana. Gargoyle digunakan sebagai sistem drainase air
hujan yang jatuh dari atap bangunan dan kemudian keluar dari mulut mereka. Tujuan
lain dari penggunaan Gargoyle adalah menakut-nakuti petani jahat pada abad
pertengahan.
– Penekanan pada dekorasi dan ornament
Arsitektur Gotik merupakan gaya arsitektur pertama yang
menggabungkan unsur keindahan dan estetik pada desain
bangunan. Arsitektur tidak lagi hanya bersifat fungsional, tapi juga
mempunyai makna dan arti tersendiri.

– Rose window
Secara arsitektural rose window digunakan untuk pencahayaan dan
memberikan kesan estetis pada bangunan. Sedangkan dari segi
religi, rose window dipakai sebagai simbol firman Tuhan yang
disimbolkan sebagai cahaya yang masuk dan menerangi isi hati para
jemaat gereja
Katedral Notre-Dame de Paris (1136-1250), mulai dibangun oleh
Bishop Maurice de Sully. Seperti pada kebanyakan gereja pada
jamannya dan jaman sebelumnya, denah gereja segi empat dengan
nave di tengah dalam sumbu membujur, dalam hal ini diapit simetris
oleh aisle dobel, masing-masing dua lajur di kiri-kanannya.
Sejarah dan arsitektur Notre-Dame de Paris sangat representative
arsitektur Gotik dengan bentuk langsing, tinggi, pada ujung-
ujungnya dihias dengan bentuk runcing-runcing sehingga salah satu
sebutannya “pointed architecture”.Hampir semua bagian dihias
termasuk hiasan jendela mawar (rose window), jendela pelengkung
runcing dengan hiasan traceried merupakan ciri kuat arsitektur
Gotik. Ciri Gotik lainnya yang menonjol dalam Katedral Notre-Dame
de Paris, dari segi konstruksi terlihat pada atap berderet dari
pelengkung silang-runcing atau “pelengkung iga” (rib vault / pointed
arch ) dan flying buttress.
TERIMA KASIH