Anda di halaman 1dari 26

TERAPI KOGNITIF DAN PERILAKU

PADA GANGGUAN OBSESIF


KOMPULSIF
WARIH ANDAN PUSPITOSARI
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
REVIEW ARTIKEL

• Judul : Terapi Kognitif dan Perilaku pada


Gangguan Obsesif Kompulsif
• Jurnal : Mutiara Medika
• Volume dan halaman : Vol. 9 No. 2:73-79
• Tahun : 2009
• Penulis : Warih Andan Puspitosari
• Reviewer :-
TUJUAN PENELITIAN

Melaporkan hasil penatalaksanaan penderita


Gangguan Obsesif Kompulsif dengan
menggunakan kombinasi antara golongan SRI
(Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif
perilaku modifikasi 5 sesi.
SUBJEK PENELITIAN

Seorang laki-laki, berusia 18 tahun, beragama


Islam, suku Minangkabau, pelajar SMU di
Yogyakarta dengan gangguan obsesif kompulsif
METODE PENELITIAN

Metode penelitian deskriptif


case report termasuk ke dalam jenis penelitian
deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha
mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian
yang terjadi pada saat sekarang.
Pada artikel ini mendeskripsikan seseorang dengan
ocd yang diterapi dengan kombinasi antara
golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi
kognitif perilaku modifikasi 5 sesi.
FAKTOR PENGARUH

Pemberian Terapi kognitif perilaku yang


dikombinasi dengan SRI pada pasien Gangguan
Obsesif Kompulsif
ALASAN DILAKUKAN PENELITIAN

• Prevalensi gg. Obsesif kompulsif 2-3%


populasi >> remaja laki-laki dg Penyebab
multifaktorialTatalaksananya kombinasi
farmakoterapi (SRI) dan psikoterapi
pilihan pertama.
• Terapi kognitif perilaku ada 12 sesi
pertemuan, berdasarkan pengalaman
praktek di Indonesia sulit terlalu lama,
rumit, faktor biaya Dicoba modifikasi
untuk menyingkat menjadi 5 sesi terapi.
VARIABEL INDEPENDEN

• Terapi kognitif dan perilaku


VARIABEL DEPENDEN

• Gangguan Obsesif Kompulsif


LANGKAH-LANGKAH

1. Anamnesis
2. Pemeriksaan status mental, pemeriksaan
psikologik
3. diagnosis multiaksial
4. Terapi SRI
5. Terapi Kognitif dan Perilaku
ANAMNESIS

Identitas Pasien :
• Nama : Tn. X
• Usia : 18 tahun
• Agama : Islam
• Suku : Minangkabau
• Pekerjaan : Pelajar SMU
• Status : Belum Menikah
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Sering mengulang-ulang suatu


perbuatan/aktivitas selama 3 bulan terakhir
KELUHAN TAMBAHAN

cemas, mengganggu kegiatan lain dan orang


lain
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

• Belum pernah seperti ini sebelumnya dan


gangguan jiwa lainnya
• (-) riw. medis,Kejang, trauma kepala yg harus
dirawat ,penggunaan zat, rokok maupun
alkohol
RIWAYAT PSIKOSOSIAL

• bila mengerjakan sesuatu ingin dilakukan


dengan sebaik-baiknya. Bila tidak dikerjakan
dengan baik (sesuai standarnya), ia merasa
tidak puas.
• Ia sangat menyukai kebersihan
• memegang teguh nilai-nilai norma sosial dan
norma agama.
RIWAYAT PSIKOSOSIAL

• tinggal di sebuah rumah kontrakan di kota


Yogyakarta, berdekatan dengan sekolahnya,
bersama ibu dan ketiga adiknya.
• Ayahnya bekerja di Jakarta sebagai karyawan
rumah makan milik kakak kandungnya. Ibunya
ingin agar ayahnya tetap di Yogya, membantu
warung makan yang dikelola ibunya. Hal ini
sering menimbulkan konflik pada kedua orang
tuanya. Secara ekonomi termasuk kurang.
RIWAYAT MASA KANAK-KANAK

• Perkembangan masa kanak-kanak normal.


• Norma nilai-nilai benar-salah dipegangnya
cukup kuat.
RIWAYAT MASA REMAJA-DEWASA

• Akademiknya baik, hampir selalu masuk


peringkat 5 besar.
• Punya banyak teman dan cukup akrab.
• rajin mengikuti pengajian yang secara rutin
• Olah raga yang disukainya adalah sepak
bola.
• akrab dengan adik-adiknya dan lebih
mandiri.
• Pasien mengalami mimpi basah saat kelas 1
SLTP, dan sudah tertarik dengan lawan jenis,
tetapi tidak sampai pacaran.
• Pemeriksaan status mental
didapatkan bahwa pasien selalu menyatakan adanya pikiran
berulang yang mengganggu dan harus dikerjakan agar merasa lega.
• Status internus dan status neurologikus
belum ditemukan adanya kelainan.
• Pemeriksaan Psikologik
Woodworth’s : Eint.
Emot : 56 / Psych
Obses : 120 / Schiz
Tendenz : 120 /Paran
Tendenz : 40 / Depr
Hypoch : 52 / Impuls
Epil : 74 / Instab
emos: 104 / Antis
Tendenz: 0.
Eysenk : N : 17, I : 15, L : 2. HDRS : 6, HRSA : 9,
• Test Psikologis
Kepribadian : curiga, ragu-ragu, kompulsif, imatur.
DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

• Aksis I : Campuran Pikiran dan Tindakan


Obsesif (F. 42.2)
• Aksis II : Kecenderungan kepribadian
anankastik
• Aksis III : belum ada diagnosis
• Aksis IV : Masalah keluarga
• Aksis V : GAF 90-81 (tertinggi dalam 1
tahun terakhir). GAF 60-51 (sekarang)
TATALAKSANA

FARMAKOu/ perbaiki disregulasi


serotonin  pembentukan gejala obsesi
dan kompulsif
Minggu 1 : Fluoxetin 1 x 20 mg
Minggu 2 : Fluoxetin 1 x 40 mg

TERAPI KOGNITIF DAN


PERILAKU 5 SESI u/
memperbaiki pikiran
obsesifnya
TERAPI KOGNITIF DAN PERILAKU
• Sesi 1  assesmen dan diagnosis awal & kesepakatan terapi
kognitif perilaku sebanyak 5 sesi.
• Sesi 2 mencari emosi negatif, pikiran otomatis dan
keyakinan utama yang berhubungan dengan gangguan
(Pasien selalu merasa ragu-ragu yg dilakukannya krg
sempurna  muncul pikiran berulang &cemas).
• Sesi 3 menyusun rencana intervensi, pasien bersama
keluarga &membuat berbagai alternative dlm atasi
masalahnya, ada reward dan punishment dlm kegiatan2
hariannya melibatkan keluarga dan teman terdekatnya.
(berusaha untuk tidak tertinggal sholat berjaahpasien
akan berwudhu dan takbiratul ihrom dengan dibatasi
waktu)
• Sesi 4  formulasi alternative dan intervensi tingkah laku
lanjutan (Pasien meneruskan pencapaian hasil yang telah
dicapainya setelah sesi 3,  mengurangi pengulangannya
dengan jumlah yang mendekati normal terhindar dari
kecemasan)
• Sesi 5 fokus pada pencegahan relapse.
HASIL PENELITIAN

• Pemberian Terapi SRI dan dikombinasi Terapi


kognitif perilaku yang dimodifikasi menjadi 5 sesi
pada penderita Gangguan Obsesif Kompulsif
hasilnya cukup memuaskan.
SIMPULAN

Pemberian farmakoterapi dimulai dengan dosis


1x20 kemudian dinaikkan menjadi 1x40 mg pada
minggu ke-2, bersama-sama terapi kognitif
perilaku yang dimodifikasi menjadi 5 sesi pada
penderita Gangguan Obsesif Kompulsif hasilnya
cukup memuaskan.
KELEBIHAN

• Anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan


dijelaskan dengan lengkap
• Dijelaskan alasan penegakkan diagnosis
multiaksial
• Dijelaskan perbedaan 5 sesi di Indonesia dan 12
sesi di Luar Negri
• Dijelaskan kegiatan tiap sesinya
KEKURANGAN

• Tidak dijelaskan waktu pemberian terapi


kognitif dan perilaku
• Tidak dijelaskan perkembangan tiap sesinya
• Tidak dijelaskan indikator keberhasilan dari
terapi kognitif dan perilaku