Anda di halaman 1dari 15

LITURGIK A

A BAD PERTENGAHAN
LAURA SARI
RIBKA
ANJAR
LITURGI MENJELANG ABAD-ABAD
PERTENGAHAN
Ada satu masa dalam sejarah gereja yang disebut menjelang abad-abad
pertengahan. Masa tersebut berlangsung sekitar satu setengah abad,
antara zaman setelah Agustinus dan sebelum Gregorius 1. Banyak
orang menjadi Kristen karena situasi dan status sosial, serta
kemudahan persyaratann yang diberikan oleh gereja negara.
1. Ibadah Agama Lama
Sekalipun agama lain dan ibadah agama lama dilarang secara resmi oleh kaisar Theodosius,
terlalu piciklah membayangkan bahwa kelekatan yang sangat merakyat itu dapat hilang dalam waktu
singkat. Pada suatu pihak, liturgi dirayakan dengan lebih megah, lebih terbuka, lebih semarak dan lebih
menarik perhatian. Salah satu contoh kreativitas yang mengkristenkan unsur ritual agama lama antara
lain Refrigerium, yakni upacara perjamuan di makam.

2. Budaya Imperial dan Tata Busana


Warisan kedua ini sebenarnya harus ditulis warisan liturgis. Hal ini berhubungan dengan
pengaruh budaya kekaiseran yang masuk liturgi. Budaya gereja mengikuti budaya setempat di mana ia
berdiri. Para pelayan liturgi dan altar ditempatkan ke tengah dan di ujung timur naos. Umat di
tempatkan di alos disisi kiri atau sebelah utara dan kanan sebelah selatan dari naos. Stola juga digunakan
sebagai mantel. Stola adalah kain panjang dengan lebar 10 cm. Imam juga membawa secarik kain
sebenarnya fungsinya telalu liturgis, yakni mappa atau mappula. Dileher dan pundak uskup melingkar
dari depan kebelakang paenula atau cappa. Ada pula tunica dalmatica, yakni tunica yang dikenakan oleh
uskup dan diakon sebagai aksesioris pada waktu penahbisannya. Khusus uskup, ia mengenakan penutup
kepala yang disebut Camalucum.
3. Gereja Di Yerusalem
Gereja di Yerusalem di peroleh dari catatan Egeria. Catatan hariannya yang
kemudian disebut oleh para pakar sebagai Itenerarium Egeriare, adalah warisan berharga
bagi studi tentang gereja di Yerusalem. Egeria menginformasikan bahwa ibadah di
Yerusalem ditangani oleh biarawan dan biarawati, tetpi secara istimewa tetap dilayangkan
oleh kaum Klerus dan umat.
Ibadah harian yang dilayankan sepanjang minggu pada pekan suci dan Prapaskah,
termasuk hari Minggu Paskah. Fungsi para pelayan ibadah berdasarkan hirearki. Pucuk
tertinggi ialah uskup, seorang pria yang dipandang sebagai perantara. Peran uskup secara
istimewa melambangkan kehadiran Kristus sebagai Imam Besar yang mengantarai umat-
Nya di hadapan Allah Bapa. Para Presbiter atau Imam bersama dengan pengajar
memelihara dan mengajar umat sesuai dengan ajaran imamat.
Di Yerusalem pelayanan eksorsisme tidak di sebutkan, secara eksplesit ditangani
oleh seseorang, seperti di tempat masa itu. Ada kemungkinan pelayanan ditanggani oleh
imam. Juga tidak ada subdiakon dan penjaga seperti di gereja-gereja berbahasa Yunani lain.
Hari raya liturgi menjadikan kota Yerusalem kelimpahan. Yerusalem dikunjungi oleh
peziarah. Pelayanan ibadah diadakan di situs-situs historis, berhubungan dengan hidup,
kerja, mati dan kebangkitan Kristus.
4. Tradisi Hidup Membiara
Tradisi hidup membiara atau bertapa mula-mula diawali oleh gerakan kaum muda untuk
bebas dari sekulerisme, keduniawian, kemewahan, dan kelembagaan gereja. Mereka yang
menjalanakan hidup membiara atau bertapa melakukan penyendirian ketempat-tempat sunyi atau
disekitar rumahnya untuk dapat lebih menghayati hidup mengabdi pada Allah.
Pada abad ke-6, Benediktus membagi 4 jenis dan tingkat bagi biarawan dan biarawati
dalam membiara yakni:
• Pertama, Kenobit mereka adalah yang paling tertinggi. Kenobit hidup dalam kebersamaan di
dalam satu rumah biara.
• Anakhoret yaitu petapa yang mengkhususkan diri memerangi kuasa jahat dan menjahui duniawi
melalui latihan kedesiplinan.
• Scarabites yakni petapa yang tidak berada di bawah kotrol apapun atau siapa pun. Keempat,
tingkat terendah adalah Gyrovogus yakni penjelajah, petualang, pengembara. Biarawan ini
menghabiskan hisup dengan berpindah-pindah.
LITURGI ABAD-ABAD PERTENGAHAN
PERTAMA
Masa ini diawali dengan runtuhnya politik negara Romawi yang
dimanfaatkan secara baik oleh Uskup Roma. Ia mulai
memegang kuasa sewaktu pusat pemerintahan Romawi
dipindahkan ke Byzantium. Gereja memulai era baru. Para
uskup melakukan kampanye untuk menjadi Papa. Julukan Paus
untuk pertama kalinya di berikan Kepada Leo I.
Dalam sejarah gereja abad ke-5, ada dua rumpun tradisi besar dalam liturgi yaitu liturgi Roma dan
liturgi Gallia.
1. Buku-buku liturgi Rumpun Tradisi Roma dan Gallia
Buku—buku yang termasuk dalam rumpun liturgi Roma, yaitu: Sacramentarium
Gregorius, Sacramentarium Gelasianum, Sacramentarium Leonia, kumpulaan Naskah Revenna, dan
Ordines Romani. Sedangkan yang termasuk rumpun liturgi Gallia, yaitu: Missale Gothicum, Missale
Gallicanum, Misa-misa yang dipublikasikan oleh Mone, buku Pengajaran Luxeucell, Surat-surat
Santo Germanus dari Paris, Buku-buku Inggris dan Irlandia, Misa Bobbio, Buku-buku Ambrosian
dan Buku-buku Mozaratis.
2. Liturgi Papal dalam Liturgi Roma
Zaman kepausan membawa dampak bagi timbulnya liturgi kepausan, disebut
liturgi Papl atau ritus Papal. Liturgi yang dilayangkan oleh Paus berbeda dengan liturgi yang
dilayangkan oleh imam biasa dari jemaat yang dipimpin oleh imam. Apabila Paus tidak hadir,
pelayan liturgi digantikan oleh imam dengan memakai liturgi yang lebih sederhana dari pada
liturgi Papal. Adalah liturgi biasa Papal, yang diadakan menurut waktu yang tetap dan dipimpin oleh
Paus sendiri dihadiri oleh anggota Kerajaan dan umat dari pelosok kota Roma.
3. Liturgi Gallia
Liturgi Gallia berasal dari liturgi oriental dan pada mulanya menggunakan bahasa Yunani.
Setelah penyebarannya ke Italia, bahasa dan formula Yunani pun bercampur dengan bahasa dan formula
Latin. Bagian pertama adalah liturgi masuk, diawali oleh sebuah antifon demi mempertegas kelayakan
para pelayan untuk melayangkan liturgi. Kemudian nyanyian masuk, yakni monogees atau Introitus atau
ingressa, atau officum, dinyanyikan. Trisagion, yakni tiga nyanyian masuk. Selanjutnya pembacaan Alkitab
diselinggi dengan Mazmur. Berkohtbah atau Homili, berkata bagi katekummen yang dilanjutkan dengan
prosesi persembahan tubuh dan darah Tuhan, selanjutnya persembahan dilayangkan. Kemudian ciuman
kudus. Salam damai. Kemudian doa collectio post santcus berupa epiklesis. Dan bagian terakhir adalah
pengucapan syukur.
4. Perkembangan dan Penetapan Sakramen
Sebelum tiba pada bagian iini, urain mengenai sakramen terbatas sampai akar-akar sakramen.
Pada abad ke-6 sampai abad ke-11 terjadi perubahan besar dalam teologi sakramen. Baptisan berubah
kedalam pengertian sederhana sebagai ritus air dan firman. Karena baptisan dianggap liturgi publik dan
diterima seumur hidup. Pertobatan salah satu akar praktik baptisan-ditonjolkan sebagai ritus personal
dan sakramen yang dapat diulangi.
Sakramen adalah tanda dari suatu yang sakral. Namun, misteri sakral disebut juga sakramen,
sebagaimana sakramen ilahi. Maka, sakramen dapat berarti tanda dari suatu yang sakral, atau suatu yang
sakral yang ditandakan. Kini, kita memiliki sakramen sebagai tanda-tanda jadi. Jadi sakarmen adalah
bentuk kelihatan dari anugerah yang tak terlihat. Ada tujuh sakramen, yaitu baptisan, konfirmasi, misa,
pertobatan, perminyakan suci, penahbisan, dan perkawinan.
5. Perkembangan Disiplin Spiritualitas dan Monastik
Pada awal abad-abad pertengahan, biara-biara barat mulai menjadi mandiri dan mapan
dalam menerapkan metode pelatihan spiritualitas. Dalam hal metode askese, biara Barat banyak
menimba ilmu dari gerakan Monastik padang pasir Mesir. Pola kenobit dianggap lebih baik sebab
mencerminkan gaya hidup sebuah keluarga, selain karena alasan iklim Italia dan dunia. Barat
umumnya yang lebih dingin dari pada Mesir, terutam musim dingin. Peran seorang ayah atau ibu
dalm keluarga menjadi pengikat para naggota keluarga yang lain, yaitu anak-anak, sanak saudara,
cucu dan sebagainya.
LITURGI ABAD-ABAD PERTENGAHAN
KEDUA
Abad-abad Pertengahan bagian kedua adalah masa menjelang Paus Gregorius
VII dan menjelang abad reformasi abad ke-16.
Abad-abad Pertengahan tidak selalu di warnai oleh masalah politik, yakni
perseteruan antara gereja dengan negara. Muncul pula dampak lain selain
gereja ingin mengatasi kuasa negara. Dampak tersebut terjadi dalam tubuh
gereja sendiri. Perayaan liturgi adalah salah satu dampak tersebut.
1. Gereja Katedral di Antara Gereja Parikial
Hingga abad ke-7, banyak bangunan gereja katedral berarsitektur basilika. Lambat laun gereja
basilika disejajarkan dengan katedral. Sejak semula basilika Leteran-Roma adalah gereja katedral dari
abad-abad pertengahan. Waktu itu liturgi di basilika Leteran telah lepas dari akarnya sehingga
berkembang atau sebenarnya terpelihara dua bentuk liturgi yaitu :
- Pemeliharaan ritus perayaan liturgi di Kapel Paus
- Perkembangan liturgi secara independen di basilikia Leteran.
Liturgi Papal menjadi model dasar bagi gereja Eropa pada awal Abad Pertengahan walaupun
tiap daerah tetap memasukan atau menyisipkan penyusaiannya pada locus-nya.
Imam sebagai pemimpin paroki diharapkan menjaga dan merawat gereja, termasuk merayakan
liturgi. Selain itu, menetapkan pembayaran para uskup, memberikan perhatian kepada orang miskin,
kebutuannya sendiri dan para pembantunya. Jadi ada empat hal yang harus di perhatikan imam, yaitu
Uskup, orang miskin, bangunan gereja dan kebutuhan pribadi.
Bagi imam paroki di kota, ada semacam tuntutan pelayanan yang lebih tinggi ketimbang
sebagai paroki didesa. Tuntutan tersebut terutama pelayanan liturgi. Kehidupan Collegia dengan aktifitas
liturginya di tunjang oleh uskup. Secara liturgis, uskup sangat berperan atas imam-imam, tetapi tidak
mencampuri urusan biara.
2. Arsitektur Gereja
• Setelah tahun 600-an, antara zaman Konstantinus dan Karel Agung, muncul zaman baru yang dikenal
dengan abad-abad Pertengahan sebagai masa kebangkitan aritektur gereja. Hal ini bersamaan dengan
kebangkitan ekonomi dan perkembangan biara pada sekitar abad ke-11.
• Bentuk gereja pertama yang dibangun dalam ukuran raksasa setelah rumah-rumah dan katkombe ialah
basilika. Basilika adalah bangunan Romawi untuk kegiatan umum. Dalam bentuk awalnya basilika
bermodel sederhana dan kosong, basilika hanya seperti hanggar bagi manusia dengan pilar di dalamnya.
• Arsitektur gereja dirancang tidak melulu berdasarkan timbangan kebutuhan fungsional. Gedung gereja
juga bukan sekedar tempat untuk menampung orang sebanyak-banyaknya, melainkan sebagai saran
spiritual untuk merasakan perumpaan dengan Allah.
• Setelah model basilika, aritektur bizantium memberi warna pada bangunan gereja. Walaupun pengaruh
bizantium tidak luas, model ini menjadi saksi sejarah liturgis. Ciri khas bizantium adalah atap berkubah,
bahkan berkubah besar. Ada tiga bentuk kubah: kubah bentuk tunggal, kubah bersusun, dan kubah
berkuncup. Kubah-kubah tersebut disusun tanpa tiang penyangah inti di tengahnya.
• Antara tahun1500 dan 1200, Arsitektur romanesque, manjadi pola agak umum bagi gereja. Bangunan ini
di lengkapi dengan menara yang tingginya dapat mencapai 100m dan beratap batu. Ruang di dalamnya
luas, ada yang mampu menampung sepuluh ribu orang. Jika pada awalnya bangunan gereja raksasa dan
basilika lebih berupa ruang dalam yang panjang lurus, romanesque membuat model salib pada naosnya.
3. Liturgi Pernikahan
Perkawinan orang Kristen adalah sama dengan setiap perkawinan mana pun sehingga
orang yang kawin mengikuti adat istiadat setempat. Namun, dalam perkawinan itu gerja coba
mewujudkan etos Kristen.bagi gereja, pernikahan yang sah ialah persetujuan kedua belah
pihak yang menikah dan keluarganya. Gereja mendukung usaha melindungi institusi
pernikahan. Di situlah kejujuran dan ketulusan terjamin sebab tidak ada manipulasi
atau language game.
Liturgi nikah pada abad-abad pertengahan didasarkan pada sakramentria Roma.
Dalam Sakramentarium Leonia abad ke-7, liturgi nikah disebut incipit velatio nuptialis, yakni
pemberkatan tudung. Pemberkatan tersebut berisi enam doa yaitu :
a. Doa Collecta, memohon berkat Allah secara umum.
b. Doa Secreta dan hanc igitus, Doa khusus mempelai
c. Doa Pra sacra coniugii, permohonan agar perjamuan yang diberikan oleh perempuan
diterima sebagai hukum suci pernikahan.
d. Doa bagi pasangan yang dipersatukan Allah. Ini juga merupakan doa persiapan bahwa Allah
menetapkan pernikahan mereka untuk melahirkan keturunan.
e. Doa Pro Famula Tua Illa, yakni doa berkat dan mengingatkan bahwa pada usia muda Allah
menyatukan mempelai perempuan dengan suaminya untuk tumbuh bersama hingga tua.
f. Doa Pater Mundi Conditor, yakni doa-doa bagi mempelai tentang kisah penciptaan adalah sebagai
berikut :
1. Penciptaan manusia melalui perempuan untuk meneruskan umat manusai.
2. Perempuan sebagai yang lemah bergabung dengan yang kuat, lalu melahirkan anak.
3. Bagi istri yang baik dan memegang hukum disebut aeterna iura.
4. Pernikahan bukan hanya untuk mendapatkan anak, melainkan juga untuk tetap
beriman.
5. Pernikahan di dalam Kristus atau fedelis et casta nubat un Christo.
4. Ordo-ordo Biara Baru
Abad-abad pertengahan kedua juga diwarnai dengan munculnya beberapa ordo biara yang
kemudian menjadi induk-induk biara-biara di masa kemudian.
Sementara Citeaux kemudian melahirkan tradisi Cisterciensis, sebutan yang dikenakannya pada
akhir abad ke-15. Pada masa kira-kira sama lahirnya Citaeux, yakni abda ke-11, muncul biara baru di La
Grande Chartreuse-Prancis, para Rahib dan muridnya yang menyebut diri mereka Kartusian. Pada akhir abad
ke-13, Fransisikus Asisi mendirikan ordo Frates Minores, yakni persaudaraan hina-dina, atau dikenal pula
kaum Fransiskan.

5. Persebaran Brevir dan Liturgi Harian


Pada akhir abad ke-14, ketika rahib makin banyak mengadakan perjalanan keluar biara sehingga
tidak mungkin kembali untuk merayakan liturgi harian di kapel pada waktunya. Oleh karena itu, biara menjadi
brevir. Penyediaan brevir tersebut bertujuan agar rahib tetap dapat merayakan liturgi harian di perjalanan
seorang diri atau bersama satu-dua teman seperjalannya. Brevir berasal dari kata latin brevio atau breviarium,
artinya penyingkatan atau ringkasan. Brevir berisi pelaksanaan liturgi, doa-doa, dan nyanyian.