Anda di halaman 1dari 41

12/11/2019

Laporan Kasus

AFASIA PADA STROKE ISKEMIK


DIAGNOSIS BESERTA TATALAKSANA

MARINA RIZKI, S.KED


140611014
PRESEPTOR :
DR. BASLI MUHAMMAD, SP. S
1

DEPARTEMEN NEUROLOGI
RUMAH SAKIT UMUM CUT MEUTIA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
ACEH UTARA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Bahasa adalah fungsi luhur yang paling utama bagi manusia


selain fungsi daya mengingat, persepsi, kognisi, dan emosi.
Kerusakan atau kelainan di otak dapat menimbulkan
gangguan kemampuan berbahasa yang disebut afasia.

Afasia adalah suatu gangguan berbahasa yang diakibatkan oleh


kerusakan otak dimana gangguan tersebut bukan merupakan
penyakit yang herediter, tidak disebabkan oleh gangguan
pendengaran, gangguan penglihatan atau kelemahan motorik

Kerusakan otak itu sendiri dapat disebabkan oleh berbagai


macam penyakit, tetapi yang paling sering oleh penyakit
gangguan peredaran darah di otak dan cedera otak
(stroke dan trauma).
12/11/2019 2
BAB II
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
◦ Nama : Ny. A
◦ Umur : 84 tahun
◦ Jenis Kelamin : Perempuan
◦ MR : 10.58.40
◦ Alamat : Desa Manyang, Kec. Meurah Mulia
◦ Pekerjaan : Petani
◦ Status Perkawinan : Kawin
◦ Agama : Islam
◦ Suku : Aceh
◦ Ruangan : Neurologi
◦ Tanggal pemeriksaan : 9 November 2018

12/11/2019 3
Keluhan Utama Keluhan tambahan
Anamnesis
Nyeri kepala Tidak bisa bicara
dan kelemahan dan sariawan
anggota gerak
sebelah kanan

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien dibawa ke IGD RSU Cut Meutia pada hari selasa, 6 November 2018 pukul
23.45 wib dengan keluhan nyeri kepala dan kelemahan anggota gerak sebelah
kanan serta tidak bisa bicara 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Kelemahan
anggota gerak sebelah kanan telah dirasakan sejak 9 bulan yang lalu, namun
memberat sejak 2 hari yang lalu disertai dengan nyeri kepala sebelum masuk
rumah sakit. Keluhan memberat ketika beraktivitas dan diperingan saat istirahat.
Berdasarkan skala Visual Analog Scale(VAS) pasien terkategori skala 7 yaitu nyeri
berat dan pasien tidak mampu melakukan aktivitas biasanya. Selain itu juga
muncul keluhan sariawan 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
12/11/2019 4
Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Sebelumnya pasien
sudah pernah dirawat dengan stroke 9 bulan yang lalu. Diabetes
Mellitus disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal sama dengan
pasien

Riwayat pemakaian obat


Riwayat mengkonsumsi obat-obatan dari mantri atau puskesmas
disangkal dalam 5 bulan terakhir. Konsumsi alkohol disangkal.

Riwayat kebiasaan sosial


Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga dan sering pergi ke
sawah untuk menanam padi sebagai petani.

12/11/2019 5
Pemeriksaan Fisik

◦ Keadaan umum : Lemah


◦ Kesadaran : Apatis
◦ GCS : E2M3Vx(Afasia)
◦ Tekanan darah : 200/100 mmHg
◦ Frekuensi nadi : 95 x/menit,
◦ Frekuensi nafas : 26 x/menit
◦ Suhu : 36,8 ̊C

12/11/2019 6
Status Generalis
Kepala
1. Rambut : Putih, distribusi merata
2. Wajah : Simetris, tidak dijumpai deformitas dan tidak edema
3. Mata : Konjunctiva pucat (-/-), sclera ikterik (-/-), reflex cahaya
langsung (+/+), reflex cahaya tidak langsung (+/+), pupil
isokor  2 mm/2 mm
4. Telinga : Sekret (-/-), darah (-/-)
5. Hidung : Sekret (-/-), darah (-/-)
6. Mulut : Afasia, sariawan (+), sianosis (-)

Kulit Leher
1. Warna : Kuning Langsat 1. Inspeksi : Simetris
2. Turgor : Lambat kembali 2. Palpasi : Pembesaran KGB
(-), distensi vena
3. Sianosis : Tidak ada
jugularis (-)
4. Ikterus : Tidak ada
5. Oedema : Tidak ada
6. Anemia : Tidak ada
12/11/2019 7
Status Generalis
Thorax
Paru
1. Inspeksi : Bentuk asimetris kanan dan kiri, pergerakan
dada sama
2. Palpasi : Tidak ada benjolan
3. Perkusi : Sonor
4. Aukultasi : Vesikuler (+/+), Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)

Jantung
1. Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
2. Palpasi : Ictus cordis teraba
3. Perkusi : Batas atas jantung di ICS II, kanan di LPSD, kiri
di LMCS
4. Auskultasi : BJ I/II normal, bising jantung (-), Gallop (-)

12/11/2019 8
Status Generalis
Abdomen
1. Inspeksi : Simetris, perut datar
2. Palpasi : Defans muscular (-)
Hepar : Tidak teraba
Lien : Tidak teraba
Ginjal : Ballotement (-)
3. Perkusi : Timpani, Shifting dullness (-)
4. Auskultasi : Peristaltik usus normal
Genetalia : Tidak dilakukan pemeriksaan
Kelenjar limfe : Pemeriksaan KGB (-)
Ekstremitas : Akral hangat
Superior Inferior
kanan kiri kanan kiri
Sianosis - - - -
Oedema - - - -
Fraktur - - - -
Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan

12/11/2019 9
Status Neurologis
1. GCS : E2M3Vx(Afasia)

2. Pupil

Kanan Kiri
Bentuk Bulat Bulat
Diameter 2 mm 2mm
Reflek cahaya langsung + +
Reflek cahaya tidak + +
langsung

3. Tanda rangsang meningeal

Kanan Kiri
Kaku kuduk - -
Kernig Sign - -
Laseque Sign - -
Brundzinky 1 - -
Brundzinky 2 - -
Brundzinky 3 - -
Brundzinky 4 - -

12/11/2019 10
4. Pemeriksaan Nervus Cranialis

Kanan Kiri
N.I (Olfaktorius) + +
N.II (Optikus)
Visus 1/60 1/60
Lapang pandang Normal Normal
Warna Normal Normal
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N.III IV VI
(Okulomotorius, Trochlearis,
Abducens)

M.rectus medius Normal Normal


M.rectus superior Normal Normal
M.rectus inferior Normal Normal
M.Obliqus inferior Normal Normal
M.levator palpebra Normal Normal
M.obliqus superior Normal Normal
N.V (Trigeminus)
-Sensorik Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
V1
V2
V3
-Motorik Normal Normal
1. Membuka Mulut + +
2. Menggigit dan + +
mengunyah
12/11/2019 11
4. Pemeriksaan Nervus Cranialis

N. VII (Fasialis)
-Sensorik Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
-Motorik Normal Normal
1. Mengangkat alis + +
2. Menutup mata + +
3. Mengembungkan pipi + +
4. Menyeringai + +

N.VIII
(Vestibularis
Cochlearis)
Rhinne Tidak dilakukan pemeriksaan
Weber
Swabach
N.IX & N.X (Glossofaringeus,
Vagus)

Reflek menelan Normal


Reflek batuk Normal
Reflek muntah Normal
Arcus faring Simetris
Posisi uvula Normal, deviasi (-)
Pengecapan 1/3 posterior lidah Tidak dilakukan pemeriksaan

N.XI (Aksesorius)
-M.sternocleido-mastoideus Menoleh normal
-M.trapezius
Tidak bisa mengangkat bahu sebelah kanan

N.XII (Hipoglossus) Lidah tidak deviasi dan tidak ada atrofi.


12/11/2019 12
5. Fungsi Motorik

Kanan Kiri
Kekuatan
Ekstremitas atas 1111 5555
Ekstremitas bawah 1111 5555

Tonus
Ekstermitas atas Hipotonus Eutonus
Ekstremitas bawah Hipotonus Eutonus

Trofi
Ekstremitas atas Eutropi Eutropi
Ekstremitas bawah Eutropi Eutropi

Klonus
Ekstremitas atas Normal Normal
Eksremitas bawah Normal Normal
Refleks
Fisiologis Normal Normal
Biceps Normal Normal
Triceps Normal Normal
Patella Normal Normal
Achilles Normal Normal
Patologis
Hoffmann-tromner Negatif Negatif
Babinski Positif Negatif
Chaddok Negatif Negatif
Gordon Negatif Negatif
Gonda Negatif Negatif
Oppenheim Negatif Negatif
Schaeffer Negatif Negatif
12/11/2019 13
Rosolimo Negatif Negatif
6. Fungsi Sensorik

Kanan Kiri
Raba halus
Ekstremitas atas Normoestesia Normoestesia
Ekstremitas bawah Normoestesia Normoestesia

Nyeri
Ekstremitas atas Normoestesia Normoestesia
Ekstremitas bawah Normoestesia Normoestesia

Suhu
Ekstremitas atas Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Ekstremitas bawah

Getar
Ekstremitas atas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekstremitas bawah

Proprioseptif
Ekstremitas atas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekstremitas bawah

12/11/2019 14
6. Fungsi Sensorik

Kanan Kiri
Raba halus
Ekstremitas atas Normoestesia Normoestesia
Ekstremitas bawah Normoestesia Normoestesia

Nyeri
Ekstremitas atas Normoestesia Normoestesia
Ekstremitas bawah Normoestesia Normoestesia

Suhu
Ekstremitas atas Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Ekstremitas bawah

Getar
Ekstremitas atas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekstremitas bawah

Proprioseptif
Ekstremitas atas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekstremitas bawah

7. Fungsi Otonom
◦ BAK : Inkontinensia Urine (-) Retensi (-) Anuria (-)
◦ BAB : Inkontinensia Alvi (-) Retensi (-)
◦ Keringat: normal
12/11/2019 15
Mini-Mental State Exam (MMSE) Skor Siriraj
Nilai Nilai

Tes maks. Rumus : (2.5 x tingkat kesadaran) + (2 x


Item
muntah) + (2 x pusing) + (0.1 x tekanan darah
diastolik) - (3x atheroma markers) – 12
ORIENTASI

1 Sekarang (tahun), (musim), (bulan), (tanggal), hari apa? 5 1

2 Kita berada dimana? (negara), (propinsi), (kota), (rumah sakit), (lantai/kamar) 5 1


= (2.5x0) + (2x0) + (2x1) + (0.1x100) – (3x0) -12
REGISTRASI
= 0 + 0 + 2 + 10 - 0 – 12 = 0
3 Sebutkan 3 buah nama benda ( jeruk, uang, mawar), tiap benda 1 detik, pasien disuruh 3 0
mengulangi ketiga nama benda tadi. Nilai 1 untuk tiap nama benda yang benar. Ulangi
sampai

pasien dapat menyebutkan dengan benar dan catat jumlah pengulangan

Dengan hasil sebagai berikut:


• SS > 1 = Stroke Hemoragik
ATENSI DAN KALKULASI

4 Kurangi 100 dengan 7. Nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar. Hentikan setelah 5 jawaban. 5 0
• -1 > SS > 1 = Perlu pemeriksaan penunjang (Ct-
Atau disuruh mengeja terbalik kata “ WAHYU” (nilai diberi pada huruf yang benar sebelum

kesalahan; misalnya uyahw=2 nilai) Scan)


• SS < -1 = Stroke Non Hemoragik
MENGINGAT KEMBALI (RECALL)

5 Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama benda di atas 3 0

BAHASA

6 Pasien diminta menyebutkan nama benda yang ditunjukkan ( pensil, arloji) 2 0

7 Pasien diminta mengulang rangkaian kata :” tanpa kalau dan atau tetapi ” 1 0

Pasien diminta melakukan perintah: “ Ambil kertas ini dengan tangan kanan, lipatlah
8 menjadi 3 0

dua dan letakkan di lantai”.

9 Pasien diminta membaca dan melakukan perintah “Angkatlah tangan kiri anda” 1 1

10 Pasien diminta menulis sebuah kalimat (spontan) 1 0

11 Pasien diminta meniru gambar di bawah ini 1 0

◦Nilai: 24 -30: normal Skor Total 30 3


◦Nilai: 17-23 : probable gangguan kognitif
◦Nilai: 0-16:definite gangguan kognitif

12/11/2019 16
Laboratorium:
Pemeriksaan Penunjang 6 November 2018
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

HEMATOLOGI RUTIN

Hb 9.9 g/dl 12-16

Eritrosit 3.45 x 103/mm3 3,8-5,8 x 103/mm3

Leukosit 22.55 x 103/mm3 4-11

Hematokrit 30.7 % 37-47

INDEX ERITROSIT

MCV 89.0 fl 76-96

MCH 28.7 pg 27-32

MCHC 32.2 g% 30-35

RDW 16.5 % 11-15

Trombosit 499 x 103/mm3 150-450

KARBOHIDRAT

Glukasa darah puasa 83 mg/dL 70-126

FUNGSI GINJAL

Kreatinin 2.03 mg/dL 0.60-1.00

Ureum 159.42 mg/dL 20-40

Asam Urat 12.4 mg/dL <6.8

LEMAK

Kolesterol 142 ml/dL Dianjurkan <200 Resiko sedang 200-239 Resiko


Tinggi >240

LDL 64 mg/dL 100-129

12/11/2019 17
Thorax AP CT Scan

Kesimpulan :
Infark cerebral
regio occipital
sinistra dengan
edema
periventrikel.
Atropi cerebri
dan hidrosepalus
tekanan normal
(NPH).
12/11/2019 18
Resume
Ny. A, 84 thn, datang ke IGD RS Cut Meutia pada tanggal 6 November
2018 pukul 23.45 wib dengan keluhan nyeri kepala dan kelemahan anggota
gerak sebelah kanan serta tidak bisa bicara 4 hari sebelum masuk rumah sakit.
Kelemahan anggota gerak sebelah kanan telah dirasakan sejak 9 bulan yang
lalu, namun memberat sejak 2 hari yang lalu disertai dengan nyeri kepala
sebelum masuk rumah sakit. Keluhan memberat ketika beraktivitas dan
diperingan saat istirahat. Berdasarkan skala Visual Analog Scale (VAS) pasien
terkategori skala 7 yaitu nyeri berat dan pasien tidak mampu melakukan
aktivitas biasanya. Selain itu juga muncul keluhan sariawan 1 hari sebelum masuk
rumah sakit. Mual dan muntah disangkal.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran apatis E2M3Vx(Afasia). TD


200/100 mmHg, nadi 95 x/menit, pernapasan 26 x/menit, suhu 36,8 ̊C. Pada
pemeriksaan neurologi didapatkan pupil isokor 2 mm/2 mm, reflek cahaya
langsung (+/+)dan tidak langsung (+/+). Fungsi motorik anggota gerak kanan
mengalami kelemahan dan tidak bisa bicara. Pemeriksaan sensorik taktil dan
nyeri (+/+).
12/11/2019 19
Diagnosis
Diagnosa klinis
Hemiparase dextra + afasia motorik e.c stroke iskemik + Hipertensi + Cephalgia

Diagnosa etiologi
Emboli

Diagnosis topis
Lobus oksipital hemisfer kiri

Diagnosis patologis
Infark

12/11/2019 20
Terapi
Infus : IVFD Futrolit 20gtt/i
Injeksi : Ceftriaxon 1 gr/ 12 jam
: Citicolin 500 mg/ 12 jam
: Omeprazole 1 vial/12j
: Drip Paracetamol/12 jam
Obat Nystatin drop 3x1cc
Prognosis
Quo Ad vitam :
Dubia ad bonam
Quo Ad fungsionam :
Dubia ad bonam
Quo Ad sanctionam :
Dubia ad malam
12/11/2019 21
Status Follow Up
Tanggal S O A P
Selasa, 6 - Susah menggerakkan TD 180/100 mmHg Stroke Iskemik + IVFD :
November anggota gerak sebelah N 80x/menit Hemiparase Futrolit 20gtt/i
2018 kanan T : 36.6 dextra + Afasia Injeksi:
- Nyeri kepala RR : 18x/i -Ceftriaxone 1gr/12jam
- Tidak bisa bicara GCS E2M3Vx(Afasia) -Citicolin 500mg/12jam
- BAB 5 hari Pupil bulat isokor 3mm/3mm -Omeprazole
(-) RCL +/+ 1amp/12jam
- Nafsu makan menurun RCTL +/+ -Drip PCT fls/12jam
karna ada sariawan Tanda Rangsang Meningeal :
- Riwayat HT (+) -Kaku kuduk (-) - Nystatin drop 3x1cc
-kearning sign (-)
-leaseag sign (-) Pemeriksaan:
-brudzinki I (-) Lab lengkap.
-brudzinki II (-) Ro Thorax
Nervus Cranialis
N.I : dbn N.VII: dbn
N.II :dbn N.VIII:dbn
N.III: dbn N.IX : dbn
N.IV: dbn N.X : dbn
N.V:dbn N.XI:dbn
N.VI; dbn N.XII:dbn

Refleks fisiologis
(+/+)
Refleks patologis
(- / -)

Motorik
1111 5555
1111 5555
Sensorik
Eksteroseptik : normo
Propioseptik : normo
Otonom :
BAK :+
BAB : 5 hari (-)
Hydrosis : normo

12/11/2019 22
Status Follow Up
Tanggal S O A P
Kamis, 8 - Susah menggerakkan TD 160/80 mmHg Stroke Iskemik + IVFD :
November anggota gerak sebelah N 84x/menit Hemiparase Futrolit 20gtt/i
2018 kanan T : 36.3 dextra + Afasia Injeksi:
- Nyeri kepala sudah RR : 19x/i -Ceftriaxone 1gr/12jam
berkurang GCS E2M3Vx(Afasia) -Citicolin 500mg/12jam
- Tidak bisa bicara Pupil bulat isokor 3mm/3mm -Omeprazole
- BAB 7 hari (-) RCL +/+ 1amp/12jam
RCTL +/+ -Drip PCT fls/12jam
Tanda Rangsang Meningeal :
-Kaku kuduk (-) - Nystatin drop 3x1cc
-kearning sign (-) - Sucralfat Syrup 3x1
-leaseag sign (-) - Clopidogrel 1x75mg
-brudzinki I (-)
-brudzinki II (-) - Pemasangan
Nervus Cranialis NGT (+)
N.I : dbn N.VII: dbn - CT Scan kepala
N.II :dbn N.VIII:dbn
N.III: dbn N.IX : dbn
N.IV: dbn N.X : dbn
N.V:dbn N.XI:dbn
N.VI; dbn N.XII:dbn

Refleks fisiologis
(+/+)
Refleks patologis
(- / -)

Motorik

1111 5555
1111 5555

Sensorik
Eksteroseptik : normo
Propioseptik : normo
Otonom :
BAK :+
BAB : 7 hari (-)
Hydrosis : normo
12/11/2019 23
Status Follow Up
Tanggal S O A P
Sabtu, 10 - Susah menggerakkan TD 150/90 mmHg Stroke Iskemik + IVFD :
November anggota gerak sebelah N 74x/menit Hemiparase Futrolit 20gtt/i
2018 kanan T : 36.3 dextra + Afasia Injeksi:
- Susah bicara, namun RR : 18x/i -Ceftriaxone 1gr/12jam
sudah mengeluarkan GCS E3M4Vx(Afasia) -Citicolin 500mg/12jam
suara merintih Pupil bulat isokor 3mm/3mm -Omeprazole
- BAB (+) RCL +/+ 1amp/12jam
RCTL +/+ -Drip PCT fls/12jam
Tanda Rangsang Meningeal :
-Kaku kuduk (-) - Nystatin drop 3x1cc
-kearning sign (-) - Sucralfat Syrup 3x1
-leaseag sign (-) - Clopidogrel 1x75mg
-brudzinki I (-)
-brudzinki II (-)
Nervus Cranialis
N.I : dbn N.VII: dbn
N.II :dbn N.VIII:dbn
N.III: dbn N.IX : dbn
N.IV: dbn N.X : dbn
N.V:dbn N.XI:dbn
N.VI; dbn N.XII:dbn

Refleks fisiologis
(+/+)
Refleks patologis
(- / -)

Motorik
2222 5555
2222 5555
Sensorik
Eksteroseptik : normo
Propioseptik : normo
Otonom :
BAK :+
BAB : +
Hydrosis : normo

12/11/2019 24
Status Follow Up
Tanggal S O A P
Senin, 12 - Susah menggerakkan TD 140/60 mmHg Stroke Iskemik + IVFD :
November anggota gerak sebelah N 85x/menit Hemiparase Asering 20gtt/i
2018 kanan T : 36.8 dextra + Afasia Injeksi:
- Susah bicara, namun RR : 20x/i -Ceftriaxone 1gr/12jam
sudah mengeluarkan GCS E3M4Vx(Afasia) -Citicolin 500mg/12jam
suara merintih Pupil bulat isokor 3mm/3mm -Omeprazole
- BAB (+) RCL +/+ 1amp/12jam
RCTL +/+ -Drip PCT fls/12jam
Tanda Rangsang Meningeal :
-Kaku kuduk (-) - Nystatin drop 3x1cc
-kearning sign (-) - Sucralfat Syrup 3x1
-leaseag sign (-) - Clopidogrel 1x75mg
-brudzinki I (-) -Fitbon 2x1
-brudzinki II (-)
Nervus Cranialis
N.I : dbn N.VII: dbn
N.II :dbn N.VIII:dbn
N.III: dbn N.IX : dbn
N.IV: dbn N.X : dbn
N.V:dbn N.XI:dbn
N.VI; dbn N.XII:dbn

Refleks fisiologis
(+/+)

Refleks patologis
(- / -)

Motorik
2222 5555
2222 5555
Sensorik
Eksteroseptik : normo
Propioseptik : normo
Otonom :
BAK :+
BAB : +
Hydrosis : normo

12/11/2019 25
TINJAUAN
PUSTAKA
12/11/2019 26
Anatomi dan Fisiologi
Berbahasa

Semua stimulus auditif (pendengaran) dihantarkan 


kortex auditorik primer (temporal), korteks visual primer
d&s (occipital) dihantarkan  area wernick (pusat
pengenalan kata)  diidentifikasi suara sbg symbol
bahasa  diteruskan ke area pusat pengertian bahasa
(di bag inferior lobus parietal)  informasi disampaikan
lagi ke/mell  area wernick (ke area2 otak  (respon
bahasa)  disampaikan  area Broca (pusat produksi
kata2) sbg area motorik primer & suplementer (trletak di
bag medial girus frontal sup.)  produksi aktivitas motorik
tangkas dlm bentuk kata2 yg jelas.
Afasia
◦ Definisi
Kesulitan dlm memahami dan/atau memproduksi
bahasa yg disebabkan oleh gangg (kelainan/penyakit)
yg melibatkan hemisfer otak.

◦ Klasifikasi afasia, berdasarkan:


- Manifestasi klinis
- Distibusi anatomi lesi
- Gabungan 1&2
Klasifikasi berdasarkan
Manifestasi Klinis
1. Afasia yg lancar (fluent):
- Afasia reseptif/sensorik/Wernick
- Afasia konduksi
- Afasia amnesik/anomik
- Afasia transkortikal
2. Afasia yg tdk lancar (non fluent):
- Afasia ekspresif/motorik/Broca
(tersering)
- Afasia global
Beberapa Bentuk Afasia Mayor

Bentuk afasia Ekspresi Komprehensi Repetisi Menamai Komprehen Menulis Lesi


verbal si membaca

Broca Tak lancar Relatif terpelihara Terganggu Terganggu Bervariasi Terganggu Frontal inf-
post

Wernick Lancar Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Temporal


sup-post

Global Tak lancar Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Fronto-


temporal

Konduksi Lancar Relatif terpelihara Terganggu Terganggu Bervariasi Terganggu Fasikulus


arkuatus,
girus supra
marginal

Nominal Lancar Relatif terpelihara Terpelihara Terganggu Bervariasi Bervariasi Girus


angular,
temporal
sup-post

Transkortikal Tak lancar Relatif terpelihara Terpelihara Terganggu Bervariasi Terganggu Peri-sylvian
motor ant

Transkortikal Lancar Terganggu Terpelihara Terganggu Terganggu Terganggu Peri-sylvian


sensorik post
Gejala Afasia
Tipe Afasia Pembicaraan Komprehensia Repetisi Gejala yang Lokasi lesi
berkaitan
Broca Tidak lancar, butuh Tetap baik Terganggu Kelemahan pada Frontal
banyak usaha tangan dan wajah suprasylvian
dalam berbicara, bagian kanan
kurangnya suku
kata, kurangnya
output namun
dapat mencetuskan
ide

Wernicke Lancar, fasih Sangat Tidak dapat dilakukan Hemi- atau Temporal,
berbicara, artikulasi terganggu quadrantanopia, infrasylvian
baik, tapi tanpa arti tidak ada paresis termasuk girus
angular dan
supramarginal

Konduksi Lancar Baik Tidak dapat dilakukan Biasanya tidak Supramarginal


dapat dilakukan gyrus atau insula
Global Sedikit, tidak lancar Sangat Tidak dapat dilakukan Hemiplegia Sebagian besar
terganggu perisylvian atau
lesi terpisah pada
frontal dan
temporal

Transkortikal Tidak lancar Baik Sangat baik Bervariasi Anterior atau


motorik superior area
Broca
Gejala Afasia
Tipe Afasia Pembicaraan Komprehensia Repetisi Gejala yang Lokasi lesi
berkaitan

Transkortikal Lancar Tidak dapat Sangat baik Bervariasi Area di sekitar


sensori dilakukan seperti Wernicke
halnya pada
Wernicke

Tuli kata murni Sedikit parafasik Terganggu Terganggu Quadrantanopia Bilateral (atau
atau normal atau tidak ada bagian kiri saja)
sama sekali bagian tengah
superior
temporal gyrus

Buta kata murni Normal tapi tidak Normal Normal Hemianopia Girus kalkarina
(aleksia tanpa dapat bersuara kanan; tidak dan girus
agrafia) keras dapat membaca angularis
tulisan tangan
sendiri
Mutisme kata Tak bersuara tapi Normal Tidak ada Tidak ada Sebagian dari
(afemia) mampu menulis area Broca

Anomic afasia Kesulitan mencari Normal Normal Bervariasi Lobus temporalis


kata-kata bagian dalam
Diagnosis
◦ Anamnesis
◦ Pemeriksaan berbicara spontan
◦ Pemeriksaan kelancaran berbicara
◦ Pemeriksaan pemahaman (komprehensi) bahasa lisan
◦ Pemeriksaan repetisi
◦ Pemeriksaan menamai dan menemukan kata
◦ Pemeriksaan sistem bahasa
◦ Pemeriksaan penggunaan tangan
Bahasa
◦ Area Bahasa :
● Terletak di daerah fisura sylvian
● Area Broca / Area Eksekutif (bag bawah
gyrus presentral dan girus postsentral)
● Area Wernicke / Area Reseptif (girus
supramarginal dan angular, girus parietal
inferior, bagian atas lobus temporal)
● Area Broca dan Wernicke dihubungkan
oleh fasikulus arkuatus
Bahasa
Kemampuan modalitas bahasa
1. bicara spontan
2. pengertian
3. pengulangan
4. penamaan
5. membaca
6. menulis
Lesi Afasia
◦ Lesi di anterior fisura Rolandik menyebabkan
Afasia nonfluent (tidak lancar)

◦ Lesi di posterior fisura Rolandik menyebabkan


Afasia fluent (lancar)

◦ Lesi di daerah perisylvian selalu menimbulkan


gejala afasia dengan kesukaran mengulang
(repetisi) kata dan kalimat
(Broca, Wernicke, Global, Konduksi)

◦ Lesi di borderson tidak mengalami kesukaran


repetisi
(Transkortikal Motorik, Transkortikal Sensorik,
Transkortikal Campuran)
Pemeriksaan tambahan
◦ Mini Mental Status Examination

Pemeriksaan Penunjang
◦ Untuk mencari penyebab utama lesi => sering
karena stroke
◦ CT-Scan
Terapi
Farmakoterapi
◦ Terapi pada penyakit
penyebab => terapi
stroke, tumor otak,
perdarahan, dll
Terapi Bicara
◦ Terapi kognitif linguistic
◦ Stimulation-Fascilitation
Therapy
◦ PACE (Promoting
Aphasic's
Communicative
Effectiveness).
◦ Transcranial Magnetic
Stimulation (TMS).
Prognosis
Prognosis pada pasien afasia sangat bergantung pada
penyebabnya. Pada afasia yang disebabkan oleh stroke,
penanganan utama stroke dan kesembuhannya sangat
berpengaruh terhadap kesembuhan dari afasia itu sendiri.
Mengingat penyembuhan dari stroke memakan waktu lama
dan biasanya meninggalkan bekas defisit neurologis,
kesembuhan afasia dari pasien stroke sangat tidak menentu.

12/11/2019 39
BAB IV
KESIMPULAN
Afasia merupakan penyakit penyerta dari berbagai penyakit
neurologis lain seperti stroke, cedera kepala, tumor otak, dan
penyakit neurodegeneratif.

Diagnosis dini dari afasia sangat penting untuk memulai terapi


afasia baik bagi pasien maupun pendamping pasien agar defisit
yang dialami tidak makin berat.

Terapi utama dari afasia adalah terapi berbicara. Terapi ini biasa
dilakukan oleh tenaga rehabilitasi medik dan dipantau oleh ahli
syaraf.

12/11/2019 40
SEKIAN DAN TERIMA KASIH

12/11/2019 41