Anda di halaman 1dari 14

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN GLIKOSIDA

SAPONIN,TRITERPENOID DAN STEROID


(EKSTRAK SAPINDUS RARAK DC)

DEYA PUTRI NABILAH (201610410311045)


ACH HUZEIRY (201610410311172)
BELLA SINTIYA MEIRANI (201610410311201)
ANINDA FEBRIAN (201610410311219)

FARMASI E
KELOMPOK 6
A. TUJUAN
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan glikosida saponin, triterpenoid dan steroid.

B. TINJAUAN PUSTAKA

 Klasifikasi Tanaman (Sapindus rarak DC)


• Divisi : Spermatophyta
• Subdivisi : Angiospermae
• Kelas : Dycotyledonae
• Bangsa : Sapindales
• Suku : Sapindaceae
• Marga : Sapindus
• Spesies : Sapindus rarak
• Morfologi Tanaman

Tumbuhan ini berbentuk pohon tinggi, besar. Daun bentuknya bundar telur sampai lanset. Perbungaan majemuk,
malai, terdapat di ujung batang warna putih kekuningan. Bentuk buah bundar seperti kelereng kalau sudah tua/masak
warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin/mengkilat. Habitatnya liar di hutan-hutan pada ketinggian antara 450
sampai 1500 m dari permukaan laut. (forestryinformation.gov)
Lerak merupakan jenis tumbuhan yang berasal dari Asia Tenggara yang dapat tumbuh dengan baik pada hampir
segala jenis tanah dan keadaan iklim, dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 450-1500 m dari
permukaan laut (Afriastini, 1990). Buah lerak dalam bahasa latin disebut sebagai Sapindus rarak DC. Lerak (Sapindus
rarak DC) diketahui mengandung saponin yang tinggi, terutama pada bagian perikarpiumnya (Herawati, dkk., 2012).
• Senyawa-Senyawa

Glikosida merupakan salah satu senyawa jenis alkaloid (Hartati, 2010).


Glikosida terdiri atas gabungan dua bagian senyawa, yaitu gula yang disebut
dengan gliko dan bukan gula biasa disebut aglikon. Glikosida yang
menghubungkan glikon dan aglikon ini sangat mudah terurai oleh pengaruh Triterpenoid adalah senyawa yang
asam, basa, enzim, air, dan panas (Rahayu dan Hastuti, 2008). Jembatan atau kerangka karbonnya berasal dari enam
ikatan glikosida yang menghubungkan glikon dan aglikon ini sangat mudah
satuan isoprena dan secara biosintesis
terurai oleh pengaruh asam, basa, enzim, air, dan panas. Bila semakin panas
lingkungannya, maka glikosida akan semakin cepat terhidrolisis. diturunkan dari hidrokarbon C-30
asiklik, yaitu skualena, senyawa ini tidak
berwarna, berbentuk kristal, bertitik
Saponin merupakan senyawa dalam bentuk glikosida yang tersebar leleh tinggi dan bersifat optis aktif
luas pada tumbuhan tingkat tinggi. Saponin membentuk larutan koloidal (Harborne,1987).
dalam air dan membentuk busa yang mantap jika dikocok dan tidak hilang Steroid adalah suatu golongan
dengan penambahan asam (Harborne, 1996). senyawa triterpenoid yang mengandung
inti siklopentana perhidrofenantren
Dikenal dua jenis saponin yaitu glikosida triterpenoid yaitu dari tiga cincin sikloheksana dan
alcohol dan glikosida struktur steroid tertentu yang mempunyai sebuah cincin siklopentana.
rantai samping spiroketal. Kedua jenis saponin ini larut dalam air
dan etanol tetapi tidak larut dalam eter (Robinson,1995)
• Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi lapis tipis adalah kromatografi serapan, dimana sebagai fasa tetap (diam) berupa zat padat yang disebut adsorben
(penyerap) dan fasa gerak adalah zat cair yang disebut larutan pengembang (Gritter, 1991) Penyerap untuk KLT ialah silika gel, alumina,
kiselgur, dan selulosa. Identifikasi dari senyawa-senyawa hasil pemisahan KLT dapat dilakukan dengan penambahan pereaksi kimia dan reaksi-
reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk identifikasi digunakan harga Rf.
Harga Rf dirumuskan sebagai berikut:
Rf =

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga Rf:


1. Struktur kimia dari senyawa yang dipisahkan
2. Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya
3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap
4. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fasa bergerak
5. Derajat kejenuhan dari uap dalam mana bejana pengembangan yang digunakan
6. Teknik percobaan
7. Jumlah cuplikan yang digunakan
8. Suhu
9. Kesetimbangan
C. ALAT DAN BAHAN

 Alat :  Bahan :

1. Pipet 1. Ekstrak Sapindus rarak DC


2. Tissue dan kain lap 2. Aquades
3. Sudip 3. Etanol
4. Label 4. H2SO4 pekat
5. Penjepit kayu 5. HCl 2 N
6. Aluminuim foil 6. Asam asetat anhidrat
7. Pinset vial 10 ml 7. NH4OH
8. KLT 8. n-heksana-etil asetat (4:1)
9. Plat kaca 9. Kiesel Gel GF 254
10. Anisaldehida asam sulfat
D. PROSEDUR KERJA

A. UJI BUIH B. REAKSI WARNA


C. KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
E. HASIL PENGAMATAN

A. UJI BUIH B. REAKSI WARNA

Menit 0 = 8 cm

Menit 10 = 5,5 cm

Menit 20 = 5,1 cm

Menit 30 = 4,5 cm

II C Uji Salkowski II B Uji Liebermann-


Burchard
C. KLT

Nilai Rf =

Jarak tempuh eluen = 7,5 cm Identifikasi terpenoid/steroid bebas (Etanol)


Nilai Rf
Identifikasi sapogenin steroid/triterpenoid (N-Heksana) Noda Ke
254 365 Visual
Noda Nilai Rf Warna Noda
Nilai Rf
Ke 254 365 Visual 254 365 Visual
1 0,27 0,27 0,27
1 0,007 0,007 0,007 0,007 Pendar kuning Pendar kuning Kuning
0,27 Pendar kuning Pendar kuning Kuning 2 - - 0,53
2 0,27 0,27 0,27
Pendar merah Pendar merah
3 0,49 0,49 0,49 0,49 Merah ungu
ungu ungu 3 - - 0,92
4 0,57 0,57 0,57
Pendar merah Pendar merah
5 0,67 0,67 0,67 0,57 Merah ungu
ungu ungu
6 0,75 0,75 0,75 Warna Noda
0,67 Pendar kuning Pendar kuning Kuning
7 0,79 0,79 0,79 Nilai Rf
Pendar merah Pendar merah 254 365 Visual
8 0,85 0,85 0,85 0,75 merah ungu
ungu ungu
9 - 0,87 0,87 0,79 Pendar kuning Pendar kuning Kuning
0,27 Pendar ungu Pendar ungu Ungu
10 0,91 0,91 0,91 Pendar merah Pendar merah
0,85 Merah ungu
ungu ungu
0,53 - - Ungu
0,87 - Pendar kuning Kuning
Pendar merah Pendar merah 0,92 - - Ungu
Hasil spot noda setelah di eluasi dengan
Hasil pemisahan warna dilihat secara
disinari UV 254
visual setelah diberi penampak noda
Anisaldehida asam sulfat

Hasil pemisahan warna dilihat dengan


disinari UV 365 setelah diberi penampak Hasil pemisahan warna dilihat dengan
noda Anisaldehida asam sulfat disinari UV 254 setelah diberi penampak
noda Anisaldehida asam sulfat
F. PEMBAHASAN

Saponin merupakan surfaktan yang kuat yang menimbulkan busa bila dikocok dengan air (Brotosisworo, 1979 ; Robinon,
1995). Larutan ekstrak kelompok kami dapat dikatakan mengandung saponin karena kurang dari 10 menit ketika dikocok sudah
menimbulkan buih setinggi 8 cm, dan ketika didiamkan selama 10 menit tingginya menjadi 5,5 cm, pada menit ke 20 tingginya 5,1
cm, dan pada menit ke 30 tingginya 4,5 cm. Sehingga dari hasil diatas dapat dikatakan positif mengandung saponin karena selama 30
menit buih stabil dan tingginya lebih dari 3 cm diatas dari permukaan larutan.
Pada uji Liebermann-Burchard didapatkan hasil pada tabung IIB terdapat endapan merah ungu yang menunjukkan adanya
saponin triterpenoid. Pada uji Salkowski larutsn IIC sebanyak 5ml ditambah 1-2ml H2SO4 pekat menghasilkan cincin berwarna
merah yang menunjukkan adanya steroid tak jenuh.
Pengujian terakhir yaitu dengan KLT, pada pengujian ini terdapat 2 totolan yaitu C1 dan C2, C1 untuk mengidentifikasi
sapogenin steroid/triterpenoid dan C2 mengidentifikasi terpenoid/steroid bebas secara KLT. Pada C1 didaptkan warna noda
pendar merah ungu pada lampu UV 254 dan 365 serta secara visual pada nilai Rf 0,49; 0,51; 0,75; 0,85; 0,91 yang menunjukkan
bahwa pada C1 terdapat sapogenin yang ditunjukan dari adanya warna merah ungu. Berdasarkan literatur penelitian sebelumnya
nilai Rf sapogenin steroid/triterpenoid yaitu 0.30 (Marline,2018). Hasil dari pengamatan pada C2 didapatkan hasil nilai Rf 0,27; 0,53;
0,92 dengan warna pendar ungu. Nilai Rf untu terpenoid berdasrkan literatur adalah 0,61 (Nurhidayah, 2013). Dari percobaan ini
nilai Rf yang paling mendekati literatur ialah 0,53 yang nodanya berwarna pendar ungu. Hasil dapat dikatakan spesifik jika warna
noda yang dihasilkan sama yaitu ungu dengan nilai Rf mendekati dengan selisih <0,2. Pada percobaan ini dapat dikatakan Sapindus
rarak DC positif mengandung terpenoid.
G. KESIMPULAN

Kami dapat mengidentikasi golongan glikosida saponin, triterpenoid dan steroid pada ekstrak Sapindus rarak DC.
Dari uji buih menunjukan positif adanya saponin. Pada uji reaksi warna dengan uji Liebermann-Burchard menunjukkan
positif saponin triterpenoid dari munculnya endapan merah ungu. Pada uji Salkowski muncul cincin mrah yang
menujukkan positif steroid tak jenuh. Untuk uji KLT C1 memberikan hasil nilai Rf 0,49; 0,51; 0,75; 0,85; 0,91 dengan
warna noda pendar merah ungu yang menunjukkan adanya senyawa sapogenin. Pada C2 hasil nilai Rf 0,27; 0,53; 0,92
dengan warna noda pendar ungu yang menunjukkan adanya senyawa triterpenoid.