Anda di halaman 1dari 28

KOMUNIKASI

HASIL AUDIT PBJ


WAKHYUDI
Widyaiswara Pusdiklatwas BPKP
Pendidikan terakhir :
Master of Commerce (Accounting)
Wollongong University, Australia
Tempat/tanggal lahir :
Kebumen, April 1967
Alamat :
wakhyuwakhyudi@gmail.com
HP : 081310010901
PERENCANAAN PELAKSANAAN


Penetapan tujuan dan lingkup penugasan
Pemahaman auditi
• Pengujian dan pengumpulan bukti
• Evaluasi bukti dan pengambilan kesimpulan
PELAPORAN



Identifikasi dan penilaian riitsiko
Identifikasi pengendalian kunci
Evaluasi pengendalian
• Pengembangan • Penyampaian simpulan
sementara


Penyusunan rencana pengujian
Penyusunan program audit temuan dan • Penyusunan laporan
rekomendasi
• Pengalokasian sumber daya

• Distribusi laporan
• Monitoring tindak lanjut
TUJUAN KOMUNIKASI AUDIT
 Komunikasi hasil audit merupakan bagian tidak terpisahkan dari seluruh proses
dan tahapan penugasan audit. Selama pelaksanaan penugasan, auditor secara
teratur berkomunikasi dengan manajemen dan personil auditi. Pada umumnya
komunikasi dilakukan dalam bentuk tatap muka atau media komunikasi lainnya
untuk menyampaikan permasalahan-permasalahan yang ditemui.
 Komunikasi selama proses penugasan dapat membantu auditor internal untuk
memastikan bahwa data dan informasi yang ditemukan benar-benar akurat.
Apabila terdapat hasil audit (observasi, temuan, hal-hal lain yang perlu
diperhatikan) yang penting dan mendesak, dapat disegera disampaikan kepada
manajemen (auditi), untuk dapat diperoleh rekomendasi dan langkah koreksi
terbaik dan segera.
 Bentuk: komunikasi lisan dan tulisan.
TUJUAN KOMUNIKASI AUDIT
1. mengomunikasikan hasil penugasan audit PBJ kepada auditi
dan pihak lain yang berwenang berdasarkan peraturan
perundangan;

2. menghindari kesalahpahaman atas hasil penugasan audit PBJ


serta memberikan rekomendasi perbaikan;

3. Menyajikan informasi sebagai bahan untuk melakukan


tindakan perbaikan bagi auditi dan instansi terkait;

4. memudahkan pemantauan tindak lanjut untuk menentukan


pengaruh tindakan perbaikan yang seharusnya dilakukan.
6
KRITERIA
KOMUNIKASI AUDIT INTERN

7
KRITERIA (1)
1. Komunikasi hasil penugasan audit PBJ harus mencakup
sasaran dan ruang lingkup penugasan audit intern,
simpulan, rekomendasi, dan rencana tindak lanjut.
2. Pendapat dan/atau simpulan yang dikeluarkan harus
mempertimbangkan harapan auditi dan para
pemangku kepentingan lainnya.
3. Pendapat dan/atau simpulan yang dikeluarkan harus
didukung oleh informasi yang cukup, kompeten,
relevan, dan berguna.
8
KRITERIA (2)
4. Dalam mengomunikasikan hasil penugasan audit PBJ,
auditor diharapkan mengakui kinerja auditan yang
memuaskan.
5. Jika komunikasi akhir audit PBJ mengandung
kesalahan atau kelalaian yang signifikan, pimpinan
APIP harus mengomunikasikan informasi yang telah
diperbaiki kepada semua pihak yang telah
menerima laporan asli hasil audit PBJ sebelumnya.
6. Jika dalam proses PBJ dijumpai adanya
penyimpangan material yang merugikan keuangan
Negara, maka dapat dipertimbangkan untuk
ditindaklanjuti dengan audit investigasi. 9
PENYAMPAIAN SIMPULAN SEMENTARA
• Konsep temuan yang telah disusun oleh tim audit disampaikan kepada pimpinan
auditan untuk dibahas dan diberikan komentar/tanggapan.
• Komentar/tanggapan auditan tersebut kemudian didokumentasikan dan dianalisis.
• Apabila auditan tidak setuju dengan temuan hasil audit tersebut, maka alasan tidak
setuju tersebut harus juga dianalisis.
• Terhadap temuan yang tidak disetujui, apabila dari hasil analisis atas tanggapan
auditan beserta bukti‐bukti pendukungnya, tim audit menerima alasan yang
disampaikan, temuan tersebut dapat dihilangkan dari temuan hasil audit atau
memberi tanda silang (x) pada konsep temuan.
• Selanjutnya ketua tim atau pengendali teknis audit bersama-sama dengan pimpinan
auditan memparaf tiap halaman temuan hasil audit. Apabila seluruh temuan audit
telah disepakati oleh tim dan auditan, ketua tim dan/atau pengendali teknis audit
bersama-sama dengan pimpinan auditan menandatangani halaman terakhir dari
halaman temuan tersebut.
10
MATERI POKOK KOMUNIKASI AUDIT
• Komunikasi audit melalui laporan hasil audit (LHA) harus dibuat dalam
bentuk dan isi yang dapat dimengerti oleh auditi dan pihak lain yang
terkait. LHA juga harus memenuhi laporan yang efektif dan baik, yaitu
disusun secara tepat waktu, lengkap, akurat, objektif, meyakinkan,
konstruktif, jelas, serta ringkas dan singkat.
• Bentuk laporan pada dasarnya bisa berbentuk surat atau bab. Bentuk surat
digunakan apabila dari hasil audit tidak diketemukan banyak fakta berupa
kelemahan dalam sistem pengendalian intern serta adanya ketidakpatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatutan
(abuse)/kecurangan yang signifikan. Sedangkan bentuk bab digunakan
apabila dari hasil audit ditemukan banyak fakta dan/atau signifikan.

manda_nst-2012 11
SYARAT KUALITAS LAPORAN HASIL AUDIT
MATERI LAPORAN
 Dasar audit
 Identifikasi auditi
 Tujuan/sasaran, lingkup, dan metodologi audit
 Pernyataan bahwa penugasan dilaksanakan sesuai standar audit
 Kriteria yang digunakan
 Hasil audit PBJ berupa kesimpulan, fakta, dan rekomendasi
 Tanggapan pejabat auditi yang bertanggung jawab
 Pernyataan keterbatasan dalam audit dan pihak-pihak yang menerima LHA
 Pelaporan informasi rahasia apabila ada
 Hal-hal yang perlu diperhatikan
URAIAN HASIL AUDIT
 Uraian hasil audit setidaknya memuat hal-hal sebagai berikut:
1) Realisasi keuangan kegiatan pengadaan barang/jasa;
2) Pencapaian target penyelesaian kegiatan pengadaan barang/jasa;
3) Pemenuhan kewajiban Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
4) Hasil pengujian atas proses pengadaan barang/jasa:
a) Perencanaan Pengadaan,
b) Persiapan Pengadaan Barang/Jasa,
c) Pelaksanaan Pengadaan, dan
d) Pemanfaatan Pengadaan barang/Jasa.

 Temuan audit mempunyai atribut yaitu judul, kondisi, kriteria, penyebab, akibat
yang ditimbulkannya, serta rekomendasi perbaikan ditambah dengan tindak
lanjut, jika sudah ada. Penyajian kondisi dan akibat harus sinkron dan harus
mengungkapkan secara jelas jenis proses pengadaan barang dan jasa yang
menjadi temuan.
D. FORMAT LAPORAN

Bentuk Bab Bentuk Surat


• Materi laporan banyak • Materi laporan relatif
sedikit/ harus disampaikan
segera
DOKUMENTASI KKA
KKA yang didokumentasikan hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
 lengkap;
 bebas dari kesalahan, baik kesalahan hitung mauapun kesalahan penyajian
informasi;
 didasarkan pada fakta dan argumen yang rasional;
 disajikan secara sistematis, rapi, dan mudah dipahami;
 memuat hal penting dan relevan dengan pemeriksaan;
 mempunyai tujuan yang jelas;
 sedapat mungkin menghindari pekerjaan menyalin ulang; dan
 mencantumkan kesimpulan dan komentar atau catatan pereviu.
DRAFTING

penyusunan konsep reviu konsep laporan


laporan oleh Ketua PT dan PM
Tim (KT). • fisik, format dan substansi

Tanggal laporan: tanggal disetujuinya konsep LHA


oleh Pengendali Mutu/Penanggung Jawab audit.
FINALISASI
 Finalisasi laporan merupakan proses penyelesaian laporan audit
berdasarkan draft laporan yang telah direviu secara berjenjang oleh
pengendali teknis, dan pengendali mutu/penanggung jawab audit.
 Finalisasi laporan audit PBJ dilakukan oleh ketua tim.
 Dalam finalisasi laporan audit PBJ, dilakukan proses call yaitu
pembandingan antara printout laporan audit PBJ dengan draft laporan
yang telah direviu. Proses ini diperlukan untuk mengidentifikasi adanya
kesalahan/ketidaksesuaian. Agar lebih optimal, proses call dilakukan oleh
personil selain ketua tim.
 Laporan hasil audit final adalah laporan yang telah diberi nomor dan
tanggal laporan.
DISTRIBUSI LHA
Distribusi laporan audit pengadaan
barang/jasa mengikuti ketentuan yang
berlaku di lingkungan organisasi masing-
masing Aparat Pengawasan Intern Pemerintah.
PEMANTAUAN TINDAK LANJUT
 Efektivitas suatu audit sangat ditentukan oleh kecepatan
dan ketepatan pelaksanaan tindak lanjut atas hasil
audit.
 Tindak lanjut adalah pelaksanaan atas rekomendasi
hasil audit yang telah disampaikan oleh pimpinan auditi.
 Pemantauan tindak lanjut diperlukan untuk mendorong
percepatan pelaksanaan serta ketepatan pelaksanaan
tindak lanjut sesuai rekomendasi.
PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMANTAUAN TL
bukti pendukung tindak lanjut didokumentasikan
dengan baik

dipisahkan antara temuan tuntas dengan yang belum


atau belum seluruhnya ditindaklanjuti

pemutakhiran tindak lanjut setahun sekali dituangkan


dalam sebuah berita acara yang ditandatangani
pimpinan auditi dan tim pemantau tindak lanjut.
TINDAK LANJUT LHA SEBELUMNYA
 Pada saat pelaksanaan kegiatan audit PBJ, auditor harus memeriksa tindak
lanjut atas rekomendasi audit PBJ sebelumnya.
 Apabila terdapat rekomendasi yang belum ditindaklanjuti, auditor harus
memperoleh penjelasan yang cukup mengenai sebab rekomendasi belum
dilaksanakan, dan selanjutnya auditor wajib mempertimbangkan kejadian
tersebut dalam program kerja penugasan yang akan disusun.
 Demikian pula terhadap tindak lanjut yang sudah dilaksanakan harus pula
menjadi perhatian dalam penyusunan program kerja penugasan.
 Auditor harus menilai pengaruh simpulan, fakta, dan rekomendasi audit PBJ
sebelumnya yang tidak atau belum ditindaklanjuti terhadap simpulan atau
pendapat atas audit PBJ yang sedang dilaksanakan.
SURAT PENEGASAN
 Mendahului penyampaian laporan, harus diterbitkan surat penegasan,
segera setelah pembahasan final hasil audit dengan pihak auditi. Jika
dalam waktu satu bulan setelah laporan terbit, auditi belum melaksanakan
tindak lanjut, maka perlu diterbitkan surat penegasan kedua. Dua bulan
setelah surat penegasan kedua dikirimkan dan tindak lanjut belum
dilaksanakan, diterbitkan surat penegasan ketiga dengan tembusan
kepada atasan auditi yang bersangkutan.
 Dalam hal rekomendasi belum ditindaklanjuti maka auditor yang
bersangkutan membahas secara tuntas dengan pimpinan auditi sebab-
sebab tidak dilakukan tindak lanjut, apakah karena rekomendasi dimaksud
cacat atau sebab-sebab lain.
 Apabila setelah surat penegasan ketiga dari penerbitan laporan, auditi
belum melaksanakan tindak lanjut atas rekomendasi finansial, maka
Penanggung Jawab Audit perlu mempertimbangkan untuk melakukan
pendalaman audit atau audit investigasi.
Peraturan perundang-undangan

Kondisi Ketentuan manajemen

Kriteria Pengendalian manajemen

Sebab
Tolok ukur keberhasilan, efisiensi
dan kehematan
Unsur Temuan

Akibat Standar dan norma/kaidah

Memperbaiki kelemahan
Rekomendasi
Meminimalisasi akibat dari
kelemahan yang ada
LANGKAH YANG DAPAT DILAKUKAN APABILA
TIDAK TERSEDIA KRITERIA
Melakukan konfirmasi kepada pihak ketiga (misalnya dalam hal harga
barang/jasa).
Bersama dengan auditi melakukan formulasi kriteria yang akan dipakai sebagai
tolok ukur.
Norma standar yang sama atau sejenis dengan kegiatan auditi sehingga
norma/standar tersebut dapat digunakan sebagai pembanding.
Menggunakan keterangan tenaga ahli.
Selanjutnya kriteria yang diperoleh tersebut harus dibicarakan dengan pihak auditi
untuk memperoleh kesepakatan.
DISKUSI KASUS
 Hibah belum dicatat dan dilaporkan sesuai
dengan ketentuan dan pemanfaatan barang
milik negara.
 Penatausahaan persediaan serta aset tetap
belum memadai.
 Pekerjaan lintas tahunan dan pengadaan
barang dan jasa alutsista yang tidak sesuai
dengan ketentuan.