Anda di halaman 1dari 18

“ILMU KESEJAHTERAAN KELUARGA”

DISFUNGSI DAN DISORIENTASI


KELUARGA

Oleh :
Wiwik Gusnita, S.Pd., M.Si
Sari Mustika, S.Pt., M.Si
Keluarga

Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil dalam masyarakat.


Keluarga merupakan sistem karena di dalamnya setiap anggota keluarga
saling berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain untuk suatu
keutuhan. Sebagai sebuah sistem keluarga memiliki ciri-ciri saling
ketergantungan (interdependence), keutuhan (wholeness), tata cara dan
peraturan diri (patterns and self regulation), serta keterbukaan (openness)
(Addler & Rodman, 1991).
Keluarga Disfungsi
Disfungsi diartikan sebagai tidak dapat berfungsi dengan normal
sebagaimana mestinya.
Keluarga disfungsi dapat diartikan sebagai sebuah sistem sosial terkecil dalam
masyarakat dimana anggota-anggotanya tidak atau telah gagal manjalankan
fungsi-fungsi secara normal sebagaimana mestinya.
Keluarga disfungsi :
hubungan yang terjalin di dalamnya tidak berjalan dengan harmonis, seperti
fungsi masing-masing anggota keluarga tidak jelas atau ikatan emosi antar
anggota keluarga kurang terjalin dengan baik (Siswanto, 2007).
Faktor Penyebab Keluarga
Disfungsi :
1. Kurangnya Persiapan antara Suami dan Istri Ketika Hendak Membina Rumah
Tangga:
Adanya pernikahan yang didorong oleh emosi hanya akan menimbulkan adanya
disfungsi keluarga. Hal ini dapat terlihat dari suami/istri yang tidak dapat menerima
kekurangan yang adasering terjadi ini di hadapan anak secara langsung.

2. Salah Satu atau Kedua Orang tua Terlalu Sibuk


Target-target untuk memenuhi kebutuhan hidup terkadang membuat seseorang lalai
akan kewajiban lain yang seharusnya dilaksanakan. Apabila salah satu diantara
ayah/ibu yang terlalu divorsir menggunakan waktunya untuk bekerja, maka anak akan
sangat kurang mendapatkan waktu senggang untuk berkumpul dengan kedua orang tua.
Bahkan apabila kedua orang tua mampu untuk menyediakan pembantu rumah tangga,
tidak menutup kemungkinan bagi anak untuk justru lebih dekat dengan pembantu
rumah tangganya.
3. Komunikasi yang Tidak Efektif

Komunikasi di sini tidak semata-mata percakapan dengan bahasa biasa antara anggota
keluarga. Apabila kedua orang tua di dalam rumah terlalu sering bertengkar di hadapan anak
secara langsung, anak akan menumpuk rasa marah karena merasa tidak nyaman dengan suara-
suara yang keras itu. Anak akan beranggapan bahwa dalam kehidupan sehari-hari berbicara
dengan suara keras adalah hal biasa.

4. Ketidakmampuan Kedua Orang tua dalam Menyatukan Dua Budaya yang Berbeda
Kedua orang tua yang berasal dari budaya berbeda apabila tidak terbiasa
mampu menyesuaikan diri dan saling mengerti akan sering terjadi kesalahpahaman
ketika proses komunikasi berlangsung. Salah paham ini mengarah pada perdebatan
samapi pada pertengkaran. Masing-masing akan merasa bahwa dirinya sudah benar,
tidak terima akan kritik dan masukan yang diberikan. Sekalipun masukan itu bermaksud
baik, namun bila yang ada hanya kesalahpahaman maka semua itu hanya akan menjadi
penyebab pertengkaran kedua orang tua.
*

1. Upaya Preventif
a. Terhadap Peserta didik
Konselor dapat sedini mungkin mengadakan pengisian cumulative record, sehingga secara
mandiri peserta didik dapat mengenali keadaan keluarganya..
b. Terhadap Orang tua
Konselor dapat menyelenggarakan pengisian angket orang tua.
2. Upaya Kuratif
Terhadap Peserta didik dan Orang tua
Konselor dapat menyelenggarakan bimbingan/ konseling individual. Anak bermasalah
(keluarga) cenderung introvert ketika diupayakan dengan pendekatan bimbingan
kelompok. Perasaannya sangat sensitif dengan lingkungan sekitar, termasuk terhadap
teman dan guru di sekolah. Adapun konseling individual ini juga ditujukan kepada
orang tua/ anggota keluarga lain yang sekiranya tinggal satu rumah dengan anak yang
bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari.
*

1. Adanya Kebimbangan pada Anak dalam Menentukan Jati Diri :


Self concept yang sudah terbentuk pada diri anak kelak akan terwujud
menjadi sebuah kepribadian dan jati diri bagi anak. Namun apabila kedua
orang tuanya tidak mampu menjadi sebuah teladan dan pegangan bagi
anak, maka pada diri anak hanya akan terjadi kebimbangan harus
mengikuti yang mana. Demikian hal nya ketika fungsi-fungsi dalam
keluarga itu tidak terasa manfaatnya bagi anak, maka anak akan
kehilangan pedoman dan arah tujuan yang seharusnya merupakan
sesuatu yang utuh, yang menjadi tujuan bersama dalam suatu keluarga.
2. Depresi
depresi merupakan penyakit yang Depresi pada anak akan muncul dalam
bagian-bagiannya terdiri dari sindroma berbagai sikap dan perilaku. Antara lain:
a. Terlalu mudah menangis
klinik. Sindroma klinik berkaitan b. Terlalu mudah tersinggung
dengan gangguan alam perasaan, alam c. Sulit tidur
pikir dan tingkah laku motoriknya yang d. Jam tidur berlebih
e. Sering membicarakan kesedihannya
menurun (berkurang). f. Terlalu menutup diri, hingga sulit
bergaul dengan teman
3. Kesulitan dalam Menyesuaikan Diri
Akibat dari sikap yang terlalu tertutup dan sangat sensitif, maka anak akan
merasa nyaman dengan melakukan segala sesuatunya sendiri. Apabila ada
penolakan dalam dirinya, anak akan cenderung memilih untuk diam dan tidak
berdaya untuk menyampaikan maksudnya kepada orang lain

4. Munculnya Kenakalan pada Anak.


Kenakalan merupakan segala sesuatu yang apabila
dilakukan oleh anak dapat menimbulkan keresahan pada
orang tua, cenderung merupakan perilaku yang
mengganggu kenyamanan orang lain dan bertentangan
dengan nilai-nilai baik dan benar.
menyatakan beberapa bentuk kenakalan anak antara lain:

a.Berbohong/ dusta
1) Cerita-cerita khayal
2) Bohong/ dusta sebagai hasil peniruan
3) Berbohong sebagai pertahanan diri
4) Berbohong untuk menarik perhatian
5) Berbohong untuk mengimbangi suatu kekurangan
b. Pergi tanpa izin/ kabur
c. Mencuri (bentuk kenakalan melanggar hak milik).
Beberapa hal yang bisa menjadi sumber disfungsi dalam sebuah keluarga
adalah :

☻Ketidak dewasaan orang tua, baik secara psikologis maupun emosionil


☻Kontrol, yaitukecenderunan mengendalikan yang tidak sehat dan manipulasi
☻Sakit penyakit, bisa secara fisik ataupun mental
☻Konflik, baik yang bersifat terbuka ataupun yang tertutup
☻Kecanduan, yaitu keterikatan akan hal tertentu seperti narkoba, judi dll.
☻Pelecehan, baik secara verbal, emosional, fisik maupun seksual
Beberapa hal yang bisa menjadi sumber disfungsi dalam sebuah keluarga
adalah :

☻Ketidak dewasaan orang tua, baik secara psikologis maupun emosionil


☻Kontrol, yaitu kecenderunan mengendalikan yang tidak sehat dan manipulasi
☻Sakit penyakit, bisa secara fisik ataupun mental
☻Konflik, baik yang bersifat terbuka ataupun yang tertutup
☻Kecanduan, yaitu keterikatan akan hal tertentu seperti narkoba, judi dll.
☻Pelecehan, baik secara verbal, emosional, fisik maupun seksual
1. Ketidakdewasaan

Ketidakdewasaan, baik secara psikologis maupun emosi, yang dimiliki oleh orang tua,
akan mengganggu perkembangan sebuah keluarga dan mengakibatkan disfungsi. Orang
yang tidak dewasa akan mengakibatkan banyak sakit hati, baik bagi
pasangannya, anak-anak, dan orang-orang lain disekitarnya. Ketidakdewasaan yang
dilakukan oleh orang tua juga akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak, karena
sering anaklah yang kemudian dipaksa menjadi “orang tua”..
2. Kontrol dan Manipulasi
Apabila dalam keluarga banyak dilakukan pengendalian dan
manipulasi yang tidak sehat, maka kemungkinan besar anak akan bertumbuh
dengan tidak sehat. Orang tua yang terlalu mengontrol adalah orang tua yang
gagal menjadikan anak-anak mandiri dan bertanggung jawab. Sering yang
menjadi penyebab adalah ketakutan orang tua dan keengganan untuk melihat
anak menjadi mandiri, yang mengakibatkan terjadinya dominasi dan over-
proteksi. Kontrol dan manipulasi ini sering dijumpai dalam banyak cara.
Orang tua sering melakukannya dengan cara:
• menakut-nakuti dengan alasan yang tidak benar (“Kalau kamu tidak mau
makan, kamu akan disuntik oleh dokter”)
•menakut-nakuti dengan alasan agamawi (“Kalau kamu berbohong, kamu
akan masuk neraka dan dibakar selamanya”)
•menakut-nakuti dengan rasa bersalah (“kalau kamu nakal terus, mama pasti
akan cepat mati”)
•memarahi atau menghukum di luar batas
3. Sakit Penyakit

Jika ada satu anggota keluarga yang sakit parah, apakah itu sakit
secara fisik ataupun mental, sering terjadi disfungsi dalam status dan peran
di dalam keluarga. Misalnya ayah menderita sakit penyakit yang menyebabkan
ia tidak bisa berperan penuh, yang kemudian perannya digantikan oleh istri
atau anak. Dalam kasus penyakit kejiwaan, sering krisis yang ditimbulkan
menyebabkan disfungsi yang cukup parah dalam keluarga, karena orang yang
mengalami masalah kejiwaan sering tidak memiliki kemampuan untuk
mengendalikan emosi, dan melampiaskannya pada orang-orang terdekat.
Sering terjadi ada rasa malu yang harus ditangung keluarga, dan juga
kebutuhan untuk kompensasi dengan melakukan hal-hal yang dianggap bisa
menghapus aib keluarga.
4. Konflik

Konflik yang berkepanjangan dalam satu keluarga, atau satu keluarga


besar sering mengakibatkan disfungsi dalam keluarga tersebut. Dalam suatu
keluarga yang tidak harmonis, di mana sering terjadi letupan emosi, histeria
ataupun pertikaian, sampai perkelahian fisik, anak akan tumbuh besar dengan
masalah yang berhubungan dengan kehidupan agresif, ketakutan, rasa tidak aman
sampai mengisolasi diri. Kadang-kadang konflik tidak terjadi secara agresif, tapi
suasana keluarga menjadi dingin dan tidak terjadi komunikasi yang sehat. Atau
ada anggota keluarga yang cenderung melarikan diri (atau mengancam akan pergi)
jika terjadi konflik dalam keluarga. Sering juga anak diharuskan untuk menjaga
nama baik keluarga dengan harus berdiam diri dan tidak boleh bercerita kepada
orang lain. Atau salah satu orang tua akan menjelek-jelekkan pasangan yang lain
dan berharap bahwa anak akan berpihak kepadanya. Kondisi penuh konflik,
apakah itu secara dingin atau agresif, terbuka atau rahasia, akan mengakibatkan
disfungsi dalam keluarga, karena yang terganggu kemudian adalah pola
komunikasi, keintiman dan peran-peran keluarga
5. kecanduan

Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang kecanduan berat


umumnya akan menjadi keluarga yang kacau dan sulit untuk diprediksi,
karena sering ada krisis yang ditimbulkan oleh kecanduan ini yang harus
ditanggulangi oleh keluarga.
Contoh : Misalnya dalam keluarga dengan pemabuk, harus bersiap-siap ketika
orang tersebut pulang dalam keadaan mabuk dan mengacaukan keluarga.
Atau jika ada pecandu narkotik, yang sering menghabiskan barang keluarga
yang harus dijual untuk menutupi kebutuhannya. Atau penjudi berat yang
menghabiskan uang dan harta keluarga. Dalam keadaan seperti ini aturan
yang sehat sulit untuk diterapkan. Sering terjadi bahwa masalah kecanduan
tersebut harus dirahasiakan, yang mengakibatkan anggota keluarga harus
mempertahankan nama keluarga.
6. Pelecehan

Pelecehan yang dilakukan dalam sebuah keluarga bisa bermacam-macam. Bisa


secara kata-kata (verbal), emosional, fisik maupun seksual. kata, emosi dan fisik biasanya
dilakukan secara terbuka, dan sering ada alasan mengapa pelecehan itu perlu dilakukan,
misalnya sebagai cara pendisiplinan. Namun sebenarnya yang terjadi adalah ada orang yang
memiliki kebutuhan emosi (misalnya ayah sedang marah) dan melampiaskannya pada orang
lain (misalnya anak).
Pelecehan seksual biasanya terjadi secara tertutup (rahasia), walau dalam
beberapa kasus terjadi juga pelecehan yang diketahui oleh orang-orang lain, yang kemudian
harus menutup rahasia. Pelecehan seksual, apalagi bila dilakukan oleh orang terdekat,
sangat merusak kejiwaan seseorang. Mereka sering kehilangan kemampuan untuk
menghargai diri sendiri, untuk percaya pada orang, ataupun untuk menjalin hubungan yang
intim dengan orang lain. Jika pelecehan seksual terjadi pada satu rumah tangga, biasanya
itu merupakan tanda disfungsi yang parah dalam sistem keluarga.
*

Arti disorientasi menurut kamus besar bahasa indonesia adalah : kekacauan


kiblat,kesamaran arah tujuan,hilangnya suatu tujuan.
disorientasi berarti kehilangan orientasi (tujuan) atau sudak tidak mempunyai
orientasi (tujuan). Secara sederhana, disorientasi adalah kehilangan orientasi.
Disorientasi merupakan penyimpangan dari misi dan visi semula;
penyimpangan yang terus menerus terjadi, dan tidak pernah ataupun sulit untuk
diperbaiki, ataupun berusaha agar menjadi normal
*
• Orang-orang yang kepribadiannya rapuh, lemah, dan tidak dewasa
psikologis atau adanya keterlambatan perkembangan psikologis, mudah terkena
depresi, frustrasi, dan stres akibat tekanan-tekanan tertentu yang datang dari
luar dirinya. Mereka tidak kuat atau tak mampu menghadapi ataupun menemukan
jalan keluar dari permasalahan dan problem hidup dan kehidupannya. Sehingga
mengalami gangguan jiwa akut, tidak terobati, dan tak mengalami perawatan.

• Mereka, bisa saja, adalah orang dewasa yang dulunya (ketika masih anak-
anak dalam keluarga) adalah anak-anak manja dan dimanjakan. Misalnya, anak
tunggal, bungsu, atau mereka yang mengalami kelebihan perhatian dan
perlindungan dari orang tuanya; ataupun anak-anak korban kekerasan dalam
rumah tangga; serta mereka yang ditelantarkan oleh orang tuannya.

• Anak-anak muda yang bertumbuh dalam keluarga yang sangat kaya;


semua kebutuhan dan keinginannya mudah terpenuhi; tanpa pendidikan tinggi
ataup un bekerja keras, mereka dapat hidup [bahkan bisa meninggalkan warisan
untuk anak cucu]. Model ini, memunculkan anak-anak muda yang terjerumus pada
gaya hidup hedonis dan penggunaan obat-obat terlarang.

• Orang-orang yang tak berpendidikan karena kemiskinan. Akibatnya,


mereka tidak mampu bersaing dalam masyarakat; anak-anak terlantar; para
yatim-piatu yang ditelantar oleh sanak familinya, dan lain-lain.