Anda di halaman 1dari 29

JOURNAL READING

“Atopic Dermatitis: Natural History, Diagnosis, and Treatment“

Pembimbing :
dr. Taufik Raffendi, Sp.A,D.FM

Mahdi Yusuf
201620401011106
SMF Ilmu Kesehatan Anak RS Bhayangkara Kediri
Fakultas KedokteranUniversitas Muhammadiyah Malang
2017
1.DEFINISI
Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi pada kulit yang umum,
kronis dan sering kambuh yang terutama menyerang anak kecil.

Atopik didefinisikan sebagai kecenderungan yang diwarisi untuk


memproduksi antibodi IgE sebagai respon cepat terhadap protein-protein
umum lingkungan seperti serbuk sari, debu rumah dan allergen terhadap
makanan.
2.EPIDEMIOLOGI
Dermatitis atopik dialami sekitar 1/5 dari semua orang
sepanjang hidupnya.
Pada tahun 1950-2000 terjadi peningkatan kejadian
dermatitis atopik pada negara-negara industri hingga disebut
“epidemik allergi”
Dermatitis atopik merupakan masalah kesehatan yang
serius dibanyak negara terutama di negara berkembang,
kejadian dermatitis atopik terus meningkat.
2.1 Natural History
Persentase Kejadian Persentase Kejadian

5%
< 5 tahun 50% 50% < 1 tahun
95%
>5 tahun 1-5 tahun
Dermatitis Saat Menginjak Usia Remaja

25% Remisi Spontan

Terus berlanjut atau


Relaps
75%
Anak dengan dermatitis atopik
moderat-berat biasanya memiliki
Contoh allergen : penyakit atopik yang lain
1. Makanan
2. Debu
3. Tungau
Resiko terjadi penyakit atopik lain :
4. Binatang peliharaan
50% menjadi Asma
75% menjadi hay fever (Rinitis
alergi
2.2 Faktor Resiko
Bayi kembar identik
(monozigot)
mempengaruhi
sekitar 75%
genetic
Kembar nonidentik
(dizigot)
Human
mempengaruhi
sekitar 30%
lingkungan
Genetik
Banyak gene yang berkaitan dengan timbulnya dermatitis atopik, yang terbaru
dan menarik yaitu adanya mutasi genetik filaggrin pada kromosom 1

Sekitar 10% populasi orang barat membawa mutasi gen fillagrin dan 50% dari
semua pasien dengan dermatitis atopik membawa mutasi tersebut.

Ekspresi klinis dari gangguan tersebut adalah kulit kering dengan


fisura dan risiko eksim yang lebih tinggi.
Lingkungan
Banyak faktor lingkungan yang dapat menyebabkan
terjadinya dermatitis atopik yaitu :

1. gaya hidup

2. Higienitas

3. Lamanya asupan ASI


3.Patofisiologi
Ada 2 patofisiologi yang saling
berhubungan diantaranya oleh karena
faktor :

Imunitas Barrier kulit


Imunitas
Teori tentang ketidakseimbangan imunitas
pada dermatitis atopik merupakan hasil dari
ketidakseimbangan T sel.

Dalam hal ini terjadi peningkatan


CD4+ T sel yang dominan

Terjadi peningkatan produksi IL-4, IL-5, dan


IL-13 kemudian menyebabkan peningkatan
kadar IgE, dan diferensiasi Th1 terhambat.
Barrier Kulit
Gen filaggrin mengkodekan protein Mutasi gen
struktural pada stratum korneum
dan stratum granulosum yang
membantu mengikat keratinosit
Filaggrin kurang
diproduksi
Sehingga mempertahankan
barrier kulit dan stratum Kerusakan
korneum yang terhidrasi barrier kulit
4. Histopatologi
Biopsi kulit ditemukan edema interselular, perivaskular
ilfiltrat dan retensi nucleus keratinosit di dalam stratum
korneum yang disebut parakeratosis.

Dalam keadaan kronis ditemukan penebalan dari stratum


korneum (hiperkeratosis) dan penebalan dari stratum
spinosum (acantosis) namun jarang ditemukan infiltrat
limfosit
5.Diagnosis
5.1 Jenis Manifestasi
A. Dermatitis Atopik pada Bayi
Lokasi : wajah, kulit kepala, ekstensor lengan dan tungkai
Tanda lesi : eritema, papula, vesikula, ekskoriasi dan skuama

B. Dermatitis Atopik pada Anak


Lokasi : biasanya pada sikut, lutut, pergelangan tangan dan kaki
Tanda lesi : lebih kering, ekskoriasi, papula dan nodul

C. Dermatitis Atopik pada Remaja dan Dewasa


Lokasi : wajah, leher, sebagian besar terdapat pada
tangan sehingga mengganggu aktivitas
5.2 Manifestasi Spesial
1. Ptiriasis alba

2. Keratosis pilaris

3. Dermatitis plantaris sicca

4. Eksim ear lobe

5. Cheilitis

6. Keratoconus

7. Katarak
5.3 Faktor Pemberat
1. Pakaian (Kain Wol)

2. Air Panas

3. Infeksi Sekunder

4. Makanan

5. Stress
5.4 Diagnosis Banding
1. Scabies

2. Seborrheic dermatitis

3. Dermatitis kontak
5.5 Komplikasi
1. Impetigo

2. Herpes
6. Terapi
Tujuan terapi:

1. Mengurangi jumlah eksaserbasi (prevensi)

2. Memperpendek durasi dan derajat penyakit


(medication)
6.1 Emollients
Tujuan pemberian emollient(pelembab) adalah
untuk meningkatkan hidrasi epidermis, terutama
menurunkan evaporasi.
6.2 Topical Corticosteroids
Terapi kortikosteroid
digunakan pada
dermatitis derajat sedang
sampai berat.
Cara penggunaan kortikostreoid
Efek Samping Kortikosteroid
1. Penipisan kulit

2. Talangektasis

3. Stretch marks
6.3 Calcineurin Inhibitors
Calcineurin inhibitor merupakan formulasi baru untuk
terapi eksaserbasi dan pemeliharaan dermatitis akut.
Ada 2 jenis yaitu
1. primecrolimus yang memiliki potensi seperti
kortikosteroid ringan
2. Tracolimus yang sama dengan kortikosteroid moderat
sampai kuat
6.4 Fototerapi
Fototerapi memberikan manfaat yang besar pada
pengobatan dermatitis. Namun hanya dianjurkan pada
pasien dewasa karena mempunyai efek samping yang
lebih berat seperti penuaan dini pada kulit dan
meningkatkan resiko kanker kulit.
6.5 Imunosupressan Sistemik
Oral kortikosteroid dianjurkan pada eksaserbasi akut
dermatitis yang berat dan dermatitis atopik yang luas

Terapi ini sebaiknya dikombinasikan dengan obat


antibiotik oral oleh karna eksaserbasi akut biasanya
dipicu oleh bakteri Stapilokokus.
6.6 Terapi Lain
Antihistamin dengan efek sedatif direkomendasikan
untuk mengurangi gatal pada pasien.
Kesimpulan
• Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi pada kulit yang umum, kronis dan
sering kambuh yang terutama menyerang anak kecil

• Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya dermatitis atopik yaitu karena Genetik
dan Lingkungan

• Gejala yang biasa dirasakan oleh pasein yaitu berupa gatal dan kulit kering

• Pencegahan untuk mengurangi eksaserbasi dari dermatitis yaitu dengan menjauhi


faktor pemicu, faktor pemberat dan menggunakan pelembab supaya kulit tidak
kering

• Terapi pada dermatitis atopik ada 2 tujuan yaitu mengurangi jumlah eksaserbasi dan
memperpendek durasi dan derajat penyakit.