Anda di halaman 1dari 18

Diagnosis Kerja

• Rinosinusitis kronis dengan polip nasi


Rencana Pemeriksaan Tambahan
• CT Scan
Rencana Terapi
Medikamentosa Non medikamentosa

• Amoksiklav 3x625 mg • Humidifikasi atau menghirup


• Ketorolac amp 1x1 uap air panas untuk
mengurangi sumbatan hidung
• Metylprednisolone amp 3x0,5
• Nasal wash menggunakan
• Metformin 3x500 mg NaCl 0,9%
• Amlodipine 1x10 mg • Kompres hangat pada area
sinus
• Minum air putih yang cukup
Pembedahan
Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS)
Prognosis
• Quo ad vital : bonam
• Quo ad sanationam : dubia ad bonam
• Quo ad functionam : dubia ad bonam
PEMBAHASAN
Diagnosis Kerja
Teori
(EPOS, 2012)
• Gejala lebih dari 12 minggu
• Terdapat dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung
tersumbat/ obstruksi/ kongest atauu pilek (sekret hidung anterior/
posterior):
1) ± nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah
2) ± penurunann/ hilangnya penghidu
dengan validasi anamnesis tentang gejala alergi.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding rinosinusitis kronis dengan polip nasi tergantung dari gejala
klinis pada pasien.
• hidung tersumbat dan berair, cairan putih kekuningan :
1. common cold :
- kurang dari 12 minggu
- lendir tanpa warna
2. Influenza :
- kurang dari 12 minggu
- disertai demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, mual dan muntah
3. corpus alienum di hidung :
- tidak terdapat cairan
• sakit kepala : tension headache, migraine headache, cluster
headache atau reffered pain headache

• polip nasi :
1. Angiofibroma Nasofaring juvenile :
- obstruksi hidung dan epistaksis berulang yang masif
- disertai lendir keunguan dan ulcerasi
2. Keganasan pada hidung :
- obstruksi hidung, rhinorhea, likuorhea, epistaksis, diplopia, proptosis,
penonjolan pada palatum, nyeri hebat pada pipi dan kepala
Rencana Pemeriksaan Tambahan
CT Scan
gold standard diagnosis rinosinusitis karena mampu menilai anatomi
hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara
keseluruhan dan perluasannya. Pada pemeriksaan CT-scan akan terlihat
bagaimana sel-sel ethmoid dan kompleks ostio-meatal tempat biasanya
polip tumbuh. CT scan perlu dilakukan bila ada polip unilateral, bila
tidak membaik dengan pengobatan konservatif selama 4-6 minggu, bila
akan dilakukan operasi BESF dan bila ada kecurigaan komplikasi
sinusitis.
(Sumber : E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam Soepardi EA, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)
Tatalaksana
• Tujuan terapi rinosinusitis dengan polip ialah mempercepat penyembuhan dan mencegah komplikasi.

• Antibiotik dan dekongestan merupakan pilihan pada sinusitis bakterial, untuk menghilagkan infeksi dan
pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan
penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka
dapat diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik
diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang dan yang sesuai untuk kuman negatif gram
dan anaerob.

• Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik,
steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCL atau pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak
rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret jadi lebih kental. Irigasi sinus
maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat.
Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat.

• Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik. Tindakan
ini memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan lebih ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa:
sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang
ireversibel, polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.
TINJAUAN PUSTAKA
Polip Nasi
Definisi
Polip nasi adalah masa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam
rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi
mukosa. Polip dapat timbul pada laki-laki ataupun perempuan, dari usia
anak-anak hingga usia lanjut.

Etiologi
• Alergi terutama rinitis alergi
• Sinusitis kronik
• Iritasi
• Kelainan anatomi
Gejala klinis
• Rasa sumbatan di hidung yang tidak hilang timbul dan semakin
memberat keluhannya
• Hiposmia/anosmia
• Keluar cairan dari hidung
• Postnasal drip
• Dapat disertai sakit kepala, demam, bersin
Patogenesis
Edema mukosa di daerah meatus medius stroma terisi cairan
intraseluler mukosa sembab menjadi polipoid polipoid
semakin membesar dan turun ke dalam rongga hidung membentuk
tangkai POLIP

Diagnosis
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan penunjang
• Anamnesis
Keluhan utama penderita polip adalah hidung tersumbat. Dapat
disertai rinore mulai dari jernih sampai purulen atau postnasal drip,
gangguan fungsi penghidu, suara serak, sakit kepala.

• Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak massa berwarna pucat
dan mudah digerakkan. Adanya fasilitas nasoendoskopi akan sangat
membantu diagnosis polip stadium dini.

• Pemeriksaan penunjang
- histopatologi
- radiologi
- Pemeriksaan histopatologi
Gold standard untuk penegakan diagnosis polip nasi. Ada 4 tipe
histopatologi hidung :
1) Edematous, Eosinophilic Polyp (Allergic Polyp)
2) Chronic Inflammatory Polyp
3) Polip dengan hiperplasi kelenjar seromusin
4) Polip dengan stroma atipi

- Pemeriksaan radiologi
CT scan diindikasikan untuk kasus polip yang gagal dengan terapi
medikamentosa, ada komplikasi sinusitis, dan rencana tindakan bedah.
Stadium Polip
Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997)
a. Stadium 1: polip masih terbatas dimeatus medius
b. Stadium 2: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak dirongga hidung tapi belum
memenuhi rongga hidung
c. Stadium 3: polip yang massif
Tatalaksana
• Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhan-keluhan, mencegah
komplikasi dan mencegah rekurensi polip.
• Pemberian kortikosteroid topikal atau sistemik untuk menghilangkan polip nasi disebut juga
polipektomi medikamentosa. Polip tipe eosinofilik memberikan respon yang lebih baik terhadap
pengobatan kortikosteroid intranasal dibanding polip tipe neutrofilik.
• Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat massif
dipertimbangkan untuk terapi bedah. Indikasi pembedahan apabila polip sudah menghalangi
saluran napas, menghalangi saluran drainase/sinus, dan mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga
dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cunam dengan
analgesi local, etmoidektomi intra nasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid, operasi
Caldwell Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik adalah apabila tersedia fasilitas endoskopi maka
dapat dilakukan fasilitas endoskopi maka dapat dilakukan tindakan BSEF.