Anda di halaman 1dari 154

Outline

1. Struktur dan fungsi sel saraf dan sel penunjang sistem saraf
2. Proses pembentukan potensial berjenjang dan potensial aksi
3. Struktur sinaps, fungsi, dan proses yang terjadi pada sinaps
secara singkat
4. Organisasi sistem saraf secara anatomi dan fisiologi

2
1. Struktur dan fungsi sel saraf
dan sel penunjang sistem saraf

3
SEL SARAF

4
1. Badan Sel
 Organel kompleks:
 Mengatur
mitokondria, badan
semua Perikarion
 golgi, ribosom
kegiatan mengandung organelbebas&terikat, R.E
metabolisme  Perikarion yang menyediakan yang memberikan
sel saraf sitoskeleton: energi dan
neurofilament dan penampilan kasar pada
materi sintesis
neurotubul. Ikatan sel saraf. Tetapi tidak
organik, khususnya
neurotransmitter: memiliki sentriol,
dari neurofilamen
disebut sebagai
• Mengandung neurofibril, berkomunikasi antarsehingga tidak dapat
nukleus dan sel bereplikasi
memanjang
nukleolus, menjadi dendrit
dikeliling dan axon
 Badan Nisil terdiri
sitoplasma dari RE kasar, dan
(perikarion) ribosom bebas: untuk
sintesis protein 5
2. Dendrit 3. Akson
 Menerima rangsang dari  Meneruskan impuls ke sel
reseptor atau akson sel neuron lain, atau ke sel efektor
saraf lain yang diteruskan (jaringan, organ, atau sel yang
ke badan sel bereaksi dengan rangsang)
 Berperan dalam komunikasi  Perpanjangan sitoplasmik,
intercellular
Bentuk: runcing, pendek, menyebarkan impuls listrik
bercabang (Potensial aksi)
 Permukaan dendrit penuh  Berasal dari Akson Hillock
dengan spinda dendrit, yang Axoplasma (sitoplasma pada
menghubungkan dengan
neuron lainnya akson) yg mengandung neurofibril,
neurotubules, vesikel, lisosom,
mitokondria, dan enzim)
6
SEL PENUNJANG

7
Sistem Saraf Pusat
Astrosit Sel Ependymal
• Protoplasmic Astrocytes
• Sel yang memiliki silia, gerakan
Ditemukan di substansi grisea pada
medula spinalis. silia ikut berperan
dalammengalirkan cairan
• Fiborus Astrocytes serebrospinal di seluruh ventrikel
Ditemukan di substansi alba pada otak.
medula spinalis.
• Melapisi dan melindungi medulla
spinalis.
Fungsi:
• Mengandung mikrofilamen yang memberi
sokongan terhadap sel saraf Fungsi:
• Menjadi pembatas antara sel saraf dengan • Memproduksi cerebrospinal fluid
pembuluh darah
• Memberi nutrisi pada sel saraf
• Membentuk blood-cerebrospinal
• Mensekresi bahan kimia yang muncul untuk fluid barrier
meregulasi pertumbuhan, migrasi, dan
interkoneksi antar sel saraf di otak pada embrio 8
Oligodendrosit

• Tidak memiliki kemampuan


Mikroglia
regenerasi.
• Mempunyai substansi lemak
yang mengelilingi serabut- • Mikroglia akan terjadi proses
serabut aksonnya. inflamasi ataupun proses degeneratif
yang mempengaruhi sistem saraf
Fungsi: pusat.
Membentuk dan menjaga bentuk • Dibuat dari jaringan sumsum tulang
selubung mielin pada akson yang sama dengan yang menghasilkan
monosit.
Fungsi:
• Sebagai imun untuk sel saraf
• Berfungsi memfagositosis
patogen
9
Sistem Saraf Tepi
Sel Schwann

Proses pembentukan selubung


mielin dimulai dari penyatuan
sitoplasma sel schwann yang Sel Satelit
membentuk gulungan.

Fungsi: Sel berbentuk datar yang mengelilingi badan


• Membentuk selubung mielin sel saraf di sistem saraf tepi
pada akson
• Terlibat dalam regenerasi Fungsi:
akson • Menyokong bentuk sel saraf tepi
• Meregulasi gas dan zat terlarut
antara tubuh sel saraf dna
cairan dalam sel

10
2. Proses pembentukan potensial
berjenjang dan potensial aksi

11
12
Potensial Berjenjang Mekanisme potensial berjenjang:
1. Membran istirahat terbuka karena
rangsangan kimia (biasanya rangsangan
dari neurotransmitter di sinaps)
2. Chemically-gated channels terbuka
3. Potensial membran berubah →
depolarisasi atau hiperpolarisasi
Potensial berjenjang adalah awal mula dari 4. Gerakan ion melalui kanal akan
potensial aksi. Dengan adanya potensial menghasilkan arus lokal
berjenjang dan potensial aksi ini, maka otot 5. Sehingga daerah membran sel
akan bergerak atau berkontraksi. disekitarnya akan terdepolarisasi atau
terhiperpolarisasi
6. Setelah itu, potensial berjenjang akan
menstimulus sel untuk melakukan
potensial aksi
7. Perubahan potensial pada potensial
berjenjang akan berbanding lurus dengan
rangsangan
Mekanisme Potensial Aksi
1. Diawali dengan potensial Istirahat -70mV
Potensial Aksi 2. Kemudian, karena kanal ion K+ bocor, ion K+
keluar sel perlahan-lahan
3. Akhirnya memicu membukanya kanal ion Na+
dan menutupnya dengan kanal ion K+
Potensial aksi merupakan pembalikan 4. Selanjutnya influksi Na+ kedalam sel
cepat potensial membran akibat mengakibatkan depolarisasi potensial
perubahan permeabilitas membran. membran
Potensial aksi berfungsi sebagai sinyal 5. Depolarisasi berhenti di angka +30mV, nilai
jarak jauh. ini disebut potensial puncak
6. Selanjutnya, kanal ion Na+ tertutup, diikuti
membukanya kanal ion K+
7. Kemudian, K+ keluar sel yang mengakibatkan
repolarisasi ke potensial istirahat
8. Perpindahan K+ keluar sel lebih lanjut
mengakibatkan hiperpolarisasi melebihi
potensial istirahat
9. Karena itu, kanal ion K+ tertutup dan
membran kembali istirahat
Sumber: Campbell, et al., 2011: 1068
3. Struktur, fungsi, dan proses yang
terjadi pada sinaps

17
Sinaps

• Struktur yang memungkinkan


neuron (atau sel saraf) untuk
melewatkan sinyal listrik atau
kimia ke neuron lain atau ke sel
efektor target.
• Melalui struktur ini, sistem
saraf dapat menggunakan
miliaran sel untuk mengontrol
fungsi sistem lain dalam tubuh.
• Sinapsis adalah komponen kunci
dari komunikasi sel-sel yang
mengatur sistem kontrol saraf.
• Terminal akson • Ruang antara dua sel (celah sinaptik)
adalah area khusus dalam sel Merupakan ruang ekstraseluler mikroskopis pada
presinaptik yang berisi sinaps yang memisahkan membran ujung saraf
neurotransmitter yang disebut terminal dari neuron presinaptik dan membran
vesikula sinaptik (terdiri dari sel postsinaptik.
mitokondria dan retikulum Fungsi : untuk mengangkut neurotransmitter
endoplasma). Vesikula sinaptik dari satu sinaps ke yang lain untuk terus
merapat pada membran plasma membawa impuls saraf sampai mencapai
presinaptik di daerah yang disebut tujuannya.
zona aktif.
Fungsi: mentransmisikan • Reseptor pada neuron lain (Dendrit)
neurotransmiter (rangsang) dari satu Merupakan molekul protein yang menerima
neuron ke neuron yang lain. sinyal kimia dari luar sel yang mengarahkan
Neurotransmitter dilepaskan dari kegiatan sel.
ujung akson satu neuron dan berikatan Fungsi : menerima berbagai rangsang atau impuls
dengan dendrit neuron target.

19
Proses Terjadinya Sinaps

20
4. Organisasi sistem saraf secara
anatomi dan fisiologi
Medula
Oblongata
Batang
Pons
Otak

Cerebellum Otak Tengah


Otak
Sistem Saraf
Korteks
Pusat Medula Cerebrum
Spinalis Cerebrum
Nukleus
Basal

Nervus Kranial

Sistem Saraf Tepi

Nervus Spinal
Sistem Saraf Pusat
Batang Otak
Medulla Oblongata
• Pusat kardiovaskular (mengatur detak jantung dan diameter
pembuluh darah).
• Pusat pernapasan meduler (bersama pons).
• Mengoordinasi muntah, menelan, bersin, batuk, dan cegukan

Pons
• Kontrol keseimbangan.
• Pusat pernapasan meduler (bersama medulla oblongata).

Otak Tengah
• Mengatur pergerakan mata, kepala, dan tubuh sebagai respons
dari stimulus visual dan auditori.
Cerebelum

Terletak di sisi inferior pons dan merupakan


bagian terbesar kedua otak.
• Menghaluskan dan mengoordinasi kontraksi
otot rangka.
• Meregulasi postur dan keseimbangan.
• Berperan dalam proses kognitas dan bahasa.
Cerebrum

Terbagi menjadi 2 hemisfer : Cerebrum Kanan dan Cerebrum


Kiri yang dihubungkan oleh Corpus Calosum
Struktur :
Korteks Cerebrum
• Lobus Oksipital : Melaksanakan proses input penglihatan
• Lobus Temporal : Melaksanakan proses persespsi suara
• Lobus Frontal : Mengelola kemampuan berbicara, berfikir,
aktifitas motorik, dan menyimpan memori
• Lobus Parietal : Memproses input sensorik dan
somatosensorik (sentuhan, tekanan)
Medula Spinalis

Fungsi : Mengintegrasikan gerak refleks, transmisi, informasi dari


reseptor ke otak dan dari otak ke efektor.
Sistem Saraf Tepi
Nervus Kranial
Nervus Spinal
Saraf yang berasal dari Medula Spinalis
Sensori
Saraf Aferen

Visiual

Somatis
Saraf Eferen
Simpatis
Otonom

Parasimpatis
Saraf Aferen
Membawa impuls dari Reseptor ke Saraf
Pusat Saraf Eferen
Dibagi menjadi : Membawa impuls dari Saraf Pusat ke
• Sensori Efektor
Membawa rangsangan dari luar Dibagi menjadi :
tubuh • Somatis
Contoh : sentuhan, tekanan, suhu Impuls yang diberikan akan
diteruskan ke Otot Rangka
• Viseral Contoh : Saat tertusuk jarum
Membawa rangsangan dari dalam
tubuh • Otonom
Contoh : suhu organ, rasa kram, Impuls yang diberikan akan
nyeri diteruskan selain ke Otot Rangka
Simpatik : Meningkatkan kerja
tubuh
Parasimpatik : Memperlambat
kerja tubuh
Struktur yang melindungi system saraf
Struktur yang melindungi sistem saraf

• Struktur ini dikenal sebagai sel • Peripheral Nervous System (PNS) :


penunjang/neuroglia/sel glia Terdiri dari seluruh jaringan saraf di
• Dalam sistem saraf, terdapat 2 jenis anatomi luar CNS. PNS mengirimkan
sistem saraf, yakni: informasi sensorik pada CNS dan
membawa perintah motorik pada
• Central Nervous System (CNS) : Terdiri dari
jaringan peripheral dan sistem.
sumsum tulang belakang dan otak. Tidak
hanya mengandung jaringan saraf, namun juga
pembuluh darah dan jaringan penghubung
lainnya yang berfungsi sebagai proteksi fisik
dan pendukung. Fungsi : Penghubung,
memproses, dan mengoordinasi data sensorik
dan perintah motorik
Pembagian sistem neuroglia

Sumber : Martini FH, Nath JL. 2012. Fundamentals of anatomy and physiology. 9th ed. San Francisco: Pearson Eucation Inc.
Jenis neuroglia dalam cns

• Sel Ependimal (Ependymal Cells) • Oligodendrosit (Oligodendrocyte)


Sebuah sel yang berisi cairan serebrospinal (cerebrospinal Mempunyai sebagian ekstensi sitoplasmik dengan ukuran
fluid) yang memanjang longitudinal diantara sumsum lebih kecil dari astrosit. Membentuk selubung mielin di
tulang belakang (central canal) dan otak (ventricles) dan sepanjang akson (mielinasi) yang mengandung lipid
membentuk epithelium ependyma. sehingga berwarna putih, sedangkan nodus ranvier (tidak
diselubungi) berwarna abu-abu.
• Astrosit (Astrocytes)
• Mengatur Blood-Brain Barrier (BBB) yang terbentuk • Mikroglia (Microglia)
dari isolasi CNS pada sirkulasi umum Bagian terkecil dan tersedikit dari neuroglia di CNS.
• Membuat kerangkan 3 Dimensi untuk CNS Memiliki 5 cabang yang dapat migrasi dalam jaringan
• Memperbaiki kerusakan jaringan saraf saraf. Mikroglia muncul di awal perkembangan
• Memandu perkembangan neuron embrionik, dari mesodermal stem cells yang memproduksi
• Mengontrol Interstitial Environment (regulasi monosit dan makrofag.
konsentrasi Na+,K+,CO2 , menyediakan rapid transit
system, mengontrol volume perederan darah kapiler,
menyerap sebagian neurotransmitter, melepas
kimiawi melalui terminal sinaptik)
Jenis neuroglia dalam CNS Sumber : Martini FH, Nath JL. 2012. Fundamentals of anatomy and physiology. 9th ed. San Francisco: Pearson Eucation Inc.
Jenis neuroglia dalam pns

• Sel Satelit (Satelite Cells/Amphicytes)


Menyelimuti badan sel neuron di ganglia dan meregulasi lingkungan di sekitar
neuron (seperti yang dilakukan astrocytes di CNS)

• Sel Schwann (Schwann Cells/Neurilemma Cells)


Membentuk sebuah selubung di sekitar akson peripheral. Dimanapun sel schwann
menyelimuti neuron, akan dikenal sebagai neurilemma. Dapat mielinasi hanya pada
sebuah single axon, berbeda dengan oligodendrosit yang dapat memielinasi sebagian
akson yang berdekatan.
Con’

Sumber : Martini FH, Nath JL. 2012. Fundamentals of anatomy and physiology. 9th ed. San Francisco: Pearson Eucation Inc.
Con’

Sumber : Martini FH, Nath JL. 2012. Fundamentals of anatomy and physiology. 9th ed. San Francisco: Pearson Eucation Inc.
Komponen sistem saraf pusat : otak dan
sumsum tulang belakang
 Ciri ciri otak
• Otak terdiri dari dua belahan, belahan
kiri mengendalikan
tubuh bagian kanan, belahan kanan men
gendalikan belahan kiri.
• Mempunyai permukaan yang berlipat-
lipat untuk memperluas permukaan seh
inggadapat ditempati oleh banyak saraf.
• Otak juga sebagai pusat
penglihatan, pendengaran, kecerdasan, i
ngatan, kesadaran, dan kemauan.
Sumber: Tortora, GJ And Derrickson, BH. Principles Of Anatomy And Physiology
• Bagian dalamnya berwarna putih berisi (14th Edition)
serabut saraf, bagian luarnya
berwarnakelabu berisi banyak badan sel
saraf.
Struktur dan fungsi system
saraf pusat
Otak depan : cerebrum,

Sumber : Martini FH, Et Al. Fundamentals Of Anatomy&physiology


thalamus, hipothalamus
 Otak besar (cerebrum) • Lobus temporal (sampin
• Pusat pengaturan semua g) : Pusat Pendengaran
aktivitasmental yaitu berkenaan • Lobus parietal (tengah) :
dengan kepandaian Pusat pengatur kulit dan ot
(Intelegensi),ingatan(memori), ot terhadap panas, dingin,
kesadaran, pusat menangis, keinginan sentuhan,tekanan.
buangair besar maupun kecil.
• Lobus frontalis (depan) : area
motorik yang membangkitkan impuls
untuk pergerakan volunteer. Area

(10th Ed). 2012


motorik kiri mengatur pergerakan sisi
kanan tubuh dan sebaliknya
• Lobus oksipital (belakang) : Pusat
Penglihatan
Diensephalon : Thalamus dan hipothalamus
• Thalamus terdiri dari sejumlah pusat syaraf dan berfungsi  Fungsi Hipolatamus
sebagai tempat penerimaan untuk sementara sensor data dan • Berperan penting dalam pengendalian
sinyal-sinyal motorik, contohnya untuk pengiriman data dari aktivitas SSO yang melakukan fungsi
mata dan telinga menuju bagian yang tepat dalam korteks. vegetative penting untuk kehidupan
seperti pengaturan frekuensi jantung,
TD, Suhu tubuh, keseimbangan air,
selera makan, saluran pencernaan, dan
aktivitas seksual.
• Sebagai pusat otak untuk emosi seperti
kesenangan, nyeri,kegembiraan dan
kemarahan.
• Memproduksi hormone yang mengatur
pelepasan atau inhibisi hormon kelenjar
hipofisis, sehingga mempengaruhi
keseluruhan system endokrin.

Otak tengah
Ciri ciri otak tengah
dan otak belakang
Fungsi serebelum
(serebelum)

• Terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. • Koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan
• Didepan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya
yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
• •
Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang Pusat keseimbangan
mengatur refleks mata • Mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan gerakanotot dengan
seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pen baik
dengaran • Menghantarkan impuls dari otot-otot bagian kiri dan kanan tubuh.
• Otak tengah tidak berkembang dan tetap menjadi otak tengah.
Otak Tengah Otak kecil
Sumber : Martini FH, Et Al. Fundamentals Of Anatomy&physiology
(10th Ed). 2012
 Batang otak • Otak kecil (cerebellum)
Fungsi:
Fungsi:
- Mengatur keseimbangan tubuh
- mengatur sistem respirasi, sirkulasi, - Meningkatkan tonus otot
pencernaan - Koordinasi aktivitas otot rangka
- Mengatur jam biologis/jam tidur • Otak besar (cerebrum)
1. Korteks serebrum
2. Nukleus basal  menghambat tonus otot;
 Diensefalon koordinasi gerakan lambat
1. Hipotalamus  mengontrol dan Fungsi:
mempertahankan fungsi - Persepsi sensori
homeostasis - Bahasa
- Kepribadian
2. Talamus  pusat integrasi sensoris
- Berpikir, memori, membuat keputusan,
kreativitas
Saraf pusat : sumsum tulang belakang
Sumsum tulang belakang

• Sumsum Tulang Belakang : Bagian sistem saraf pusat yang


terletak di dalam canalis cervikalis bersama ganglion radix
pos yang terdapat pada setiap toramen intervertebralis
terletak berpasangan kiri dan kanan
 Fungsi sumsum tulang belakang
• Penghubung impuls dari dan ke otak
• Memungkinkan jalan terpendek pada gerak refleks
• Organ ini mengurus persyarafan tubuh,anggota badan dan
bagian kepala
Sumsum tulang belakang (medula spinalis)

Sumber: Tortora, GJ And Derrickson, BH. Principles Of Anatomy


And Physiology (14th Edition)
Sistem limbik
 Limbik
• Diantara pusat otak dan korteks
terletak sistem limbik

Image
Sumber: Google
• Sistem limbik memungkinkan kita m
engontrol insting atau naluri kita
• Sistem limbik dihubungkan dengan
daerah korteks serebral yang
terlibatdalam pembelajaran
kompleks, bernalar, dan personalitas.
Komponen sistem saraf pusat dilindungi oleh 3 lapisan:
 Lapisan paling dalam (piameter)pembuluh darah
 Lapisan tengah (arachnoid)berisi cairan
 Lapisan paling luar (durameter)membran tebal fibrosa pembungkus tengkorak
Substansi sistem saraf pusat
 badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea)
 serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba)
 sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf
pusat
Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar, bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum
tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian luar
berupa materi putih.
7. Fungsi dan struktur bagian sistem saraf tepi
Secara Fisiologis
Saraf Aferen

Saraf eferen
Membawa impuls dari reseptor ke Membawa impuls dari saraf pusat ke Efektor (otot, kelenjar,
dsb)
saraf pusat
 Somatis : otot rangka
 Sensori : dari luar  Otonom : respon – respon selain otot rangka

 Viseral : dari dalam - Simpatis : meningkatkan kerja tubuh, respon “fight or


flight” dalam menghadapi stress (keadaan yang tidak sesuai
normal)
- Parasimpatis : memperlambat kerja tubuh untuk istirahat
(rest and digest)
Saraf Somatik
Otak dan medulla spinalis berkomunikasi dengan
seluruh bagian tubuh melalui cranial nerves (saraf-
saraf kepala) dan spinal nerves (saraf-saraf tulang
belakang).
Saraf - saraf tersebut adalah bagian dari sistem saraf
perifer yang membawa informasi sensoris ke sistem
saraf pusat dan membawa pesan-pesan dari sistem saraf
pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelenjar di seluruh
tubuh atau disebut juga dengan sistem saraf somatik
(somatic nervous system).
Secara Anatomi
Nervus Cranial Nervus spinal
CN I – Olfaktorius
CN II – Optikus
CN III – Okulomotor
CN IV – Troklearis
CN V – Trigeminus
CN VI – Abdusen
CN VII – Fasialis
CN VIII –Vestibulokoklearis
CN IX – Glosofaringeal
CN X –Vagus
CN XI – Aksesorius
CN XII – Hipoglossus

Tortora G, Derrickson B. Principles of anatomy & physiology. 14th ed. USA: John Wiley; 2014.
1. Olfaktorius 3. Okulomotor
Jenis : sensori
Jenis : Motorik
Fungsi : Menerima rangsang dari hidung dan
menghantarkannya ke otak untuk diproses sebagai Fungsi : Menggerakkan sebagian besar otot mata
sensasi bau

2. Optikus
Jenis : Sensori 4. Troklear
Fungsi : menerima rangsangan dari Jenis : Motorik
mata dan menghantarkannya Fungsi : Menggerakkan beberapa otot mata
ke otak untuk diproses
sebagai persepsi visual

Tortora G, Derrickson B. Principles of anatomy & physiology. 14th ed. USA: John Wiley; 2014.
7. Fasialis
5. Trigeminal
Jenis : gabungan sensori dan motorik
Jenis : Gabungan sensori dan motorik
Fungsi :
Fungsi :
- Sensorik: menerima rangsang dari bagian anterior lidah
- Sensori : menerima rangsangan dari wajah untuk
untuk diproses di otak sebagai sensasi rasa
diproses ke otak sebagai sentuhan
- Motorik: mengendalikan otot wajah untuk menciptakan
- Motorik : menggerakkan rahang
ekspresi wajah

8. Vestibulokoklearis
Jenis : sensori
Fungsi :
- Sensori vestibular : mengendalikan
6. Abdusen keseimbangan
Jenis : motorik - Sensori koklea : menerima rangsang ke otak sebagai
Fungsi : abduksi mata respon terhadap suara

Tortora G, Derrickson B. Principles of anatomy & physiology. 14th ed. USA: John Wiley;
2014.
9. Glosofaring
11. Aksesorius
Jenis : Gabungan sensori dan motorik
Jenis : Motorik
Fungsi :
Fungsi : mengendalikan gerakan kepala
- Sensori : Menerima rangsang dari bagian posterior lidah
untuk diproses di otak sebagai sensasi rasa
-Motorik: Mengendalikan
organ-organ dalam

12. Hipoglosus
10. Vagus
Jenis : motorik
Jenis : Gabungan sensori dan motorik
Fungsi : mengendalikan pergerakan lidah.
Fungsi :
-Sensori : menerima rangsang dari organ
dalam
-Motorik : mengendalikan organ-organ
dalam
31 Saraf Spinalis Bagian: Dorsal (lebih tajam) untuk impuls masuk, ventral untuk impulskeluar
Terdiri dari: substansia alba (luar) & substansia grisea (dalam)
 8 Cervical (leher)
1. White matter (substansia alba) “tempat jalur”
 12 Thoracic (dada)
 5 Lumbar (perut)
 5 Sacral (panggul)
 1 Coccygeal (ekor)

Terdiri dari: jaras/traktus (kumpulan akson interneuron panjang)


Cauda equina: bentuk saraf spinalis bawah
a. Ascending tracts (stb->otak)
(menumpuk) yang keluar dari vertebra columnar
Contoh: reseptor-> stb-> ventral spinocerebellar tract-> korteks
(tulang belakang) Karena: perpanjangan tulang somatosensori
belakang menyebabkan tempat keluar saraf spinalis b. Descending tracts (otak->stb):
yang seharusnya menjadi tidak sejajar. Sehingga saraf Contoh: motorik otak-> ventral corticospinal tract->otot
spinalis harus memanjang dan mengarah turun dulu
lalu keluar di exit space yang sesuai (di bagian bawah
tjd penumpukan seperti ekor kuda).
2. Grey matter (substansia grisea) “tempat proses” Fungsi Medulla Spinalis (STB):
Terdiri dari: Badan sel & dendrit, Bagian:
a. Tanduk dorsal (blkg): badan sel interneuron&akhir neuron aferen
(1) perantara info otak & badan,
b. Tanduk lateral (tengah): badan sel neuron eferen otonomik (2) gerak reflex
c. Tanduk ventral (depan): badan sel neuron eferen somatik REFLEKS
􀃎 Respon yang tidak disadari.
Komponen Lengkung Refleks:
(1) Reseptor sensorik, (2) Jalur aferen,
(3) Integrating center, (4) Jalur eferen,
(5) efektor
Sistem Saraf Otonom
1. Neuron preganglionik
Memiliki sel tubuh di tanduk lateral materi abu-abu di 12 segmen toraks
dan dua pertama segmen lumbar dari sumsum tulang belakang.
2. Ganglia otonom
a. Ganglia Simpatis
Situs sinapsis antara neuron preganglionik dan post-ganglionik simpatis. Dua
jenis ganglia:
Ganglia trunk simpatis (ganglia rantai
vertebral atau ganglia paravertebral) terletak pada baris vertikal di kedua sisi
kolom vertebrla memanjang dari pangkal tengkorak ketulang ekor.

Ganglia prevertebral (kolateral)


terletak anterior ke kolom vertebral dan dekat dengan arteri perut besar.
Ada lima ganglia prevertebral utama:
(1) Celiac Ganglion, berada di kedua sisi celiac trunk, arteri yang hanya lebih rendah daripada diafragma.
(2) Superior Mesentric Ganglion, dekat awal arteri superior mesentric di perut bagian atas.
(3) Inferior Mesentric Ganglion, dekat awal arteri inferior mesentric di tengah perut.
(4) Ganglion aorticorenal
(5) Renal Ganglion, dekat arteri ginjal dimasing masing ginjal
b. Ganglia Parasimpatis
Akson preganglionik dari sinaps parasimpatik sinaps dengan neuron postganglionik di ganglia terminal (intramural). Sebagian besar
ganglia ini berada dekat dengan atau benar-benar dalam dinding sebuah organ viseral.
3. Neuron Postganglionik
Berpindah ke ganglia trunk simpatis dan dapat terhubung dengan neuron postganglionik dengan cara sebagai berikut :
Akson dapat bersinaps dengan neuron postganglionik di ganglion yang pertama kali dicapai.
Akson dapat naik atau turun ke ganglion yang lebih tinggi atau lebih rendah sebelum bersinaps dengan neuron postganglionik.
Sebuah akson dapat berlanjut, tanpa sinaps, melalui ganglion trunk simpatik untuk berakhir pada ganglion prevertebral dan sinaps
dengan neuron postganglionik di sana.
Sebuah akson juga bisa lewat tanpa sinaps, melalui ganglion batang simpatik dan ganglion prevertebral dan kemudian meluas ke sel
chromaffin dari medullae adrenal yang secara fungsional mirip dengan neuron postganglionik simpatik.
4. Pleksus otonom
Di toraks, abdomen, dan pelvis, akson dari neuron simpatis dan parasimpatetik membentuk jaringan kusut yang disebut pleksus otonom,
yang banyak terletak di sepanjang arteri utama.
Pleksus utama di toraks adalah pleksus jantung, yang men-supply jantung, dan pleksus paru, yang men-supply pohon bronkial.
Pleksus celiac (solar) adalah pleksus otonom terbesar dan mengelilingi batang celiac. Berisi dua ganglia celiac besar, ganglia aorticorenal,
dan jaringan padat akson otonom serta didistribusikan ke lambung, limpa, pankreas, hati, kandung empedu, ginjal, adrenal medullae, testis,
dan ovarium.
Struktur Divisi Simpatik
1. Jalur dari sumsum tulang ke batang simpatik
Ganglia
Akson preganglionik me-ninggalkan sumsum tulang belakang Bersama dengan neuron motorik
somatik pada tingkat segmental yang sama.
Setelah keluar melalui foramina intervertebralis, akson simpatis preganglionik myelinated masuk
ke akar anterior saraf spinal dan memasuki jalur pendek yang disebut ramus putih sebelum melewati
ke ganglion simpatis terdekat di sisi yang sama.
2. Organisasi Simpatik Batang Ganglia
Pasangan batang simpatik tersusun atas anterior dan lateral basalis yang disusun untuk vertebral kolom.
Ganglia coccygeal kanan dan kiri bergabung bersama dan biasanya terletak di garis tengah.
3. Jalur dari batang simpatik ganglia ke efektor viseral
Akson meninggalkan batang simpatik dengan empat cara:
a. Dengam memasuki saraf spinal
b. Membentuk saraf periarterial cephali
c. Membentuk saraf simpatik
d. Membentuk saraf splanchnic
Struktur Divisi Parasimpatik
1. Ganglia silia
Terletak lateral untuk setiap optik (II) saraf dekat aspek posterior dari orbit.
Akson preganglionik melewati oculomotor (III) saraf ke ganglia siliaris.
Postganglionik akson dari ganglia mempersarafi serat otot polos di bola mata.
2. Ganglia pterygopalatina
Terletak lateral foramen sphenopalatina, antara sphenoid dan tulang palatin.
Menerima akson preganglionik dari facial (VII) saraf dan mengirim akson postganglionik ke mukosa hidung,palatum,
faring, dan kelenjar lakrimal.
3. Ganglia submandibular
Ditemukan di dekat duktus kelenjar saliva submandibular.
Menerima akson preganglionic dari saraf wajah dan mengirim akson postganglionik ke kelenjar saliva submandibular dan
sublingual.
4. Ganglia otik
Terletak lebih rendah daripada foramen masing-masing ovale.
Menerima akson preganglionik dari glossopharyngeal (IX) saraf dan mengirim akson postganglionik ke kelenjar ludah
parotid.
8. Pembuluh darah yang memvaskularisasi
pada otak
Darah mengalir ke otak melalui dua arteri karotis dan dua
arteri vertebralis.
Arteri karotis interna, setelah memisahkan diri dari arteri karotis komunis, naik dan
masuk ke rongga tengkorak melalui kanalis karotikus, berjalan dalam sinus
kavernosus,mempercabangkan arteri untuk nervus optikus dan retina, akhirnya bercabang dua : arteri
serebri anterior dan arteri serebri media.
 Arteri serebri anterior memberikan vaskularisasi pada korteks frontalis, parietalis
bagian tengah, korpus kalosum dan nukleus kaudatus.
 Arteri serebri media memberikan vaskularisasi pada korteks lobus frontalis,
parietalis dan temporalis.

 Arteri karotis interna memberikan vaskularisasi pada regio sentral dan


lateral
hemisfer.
Sistem vertebral dibentuk oleh arteri vertebralis kanan dan kiri yang berpangkal di
arteri subklavia, menuju dasar tengkorak melalui kanalis transversalis di
kolumna vertebralis servikalis, masuk rongga kranium melalui foramen magnum,
lalu mempercabangkan masing-masing sepasang arteri serebeli inferior.
Pada batas medula oblongata dan pons, keduanya bersatu menjadi arteri basilaris dan
setelah mengeluarkan 3 kelompok cabang arteri, pada tingkat mesensefalon, arteri
basilaris berakhir sebagai sepasang cabang arteri serebri posterior.
 Arteri vertebralis memberikan vaskularisasi pada batang otak dan medula spinalis
atas.
 Arteri basilaris memberikan vaskularisasi pada pons.
 Arteri serebri posterior memberikan vaskularisasi pada lobus temporalis,
oksipitalis, sebagian kapsula interna, talamus, hipokampus, korpus genikulatum
danmamilaria, pleksus koroid dan batang otak bagian atas
Penglihatan
Struktur pada Mata
Organ Luar (Okuli Assesoria)
 Palpebrae (Kelopak Mata) melindungi
mata dari cahaya berlebihan dan benda
asing.
 Conjuctiva, Penutup epitel pada
bagian dalam kelopak mata dan
permukaan anterior mata yang menjaga
agar kornea tetap lembab dan bersih.
 Lacrimal caruncle, elevasi kecil
kemerahan mengandung kelenjar
sebasea (minyak) dan kelenjar yang
sudoriferous (keringat) yang ditemukan
di sudut-sudut medial mata. Berfungsi
untuk memproduksi "pasir mata"
 Bulu Mata, Mencegah zat asing masuk
mata.
 Alis, sebagian meneduhi mata dan
melindungi mereka dari keringat.
Struktur pada Mata

Organ Luar (Okuli Assesoria)

 Lacrimal Apparatus (aparatus lakrimal) struktur penghasil air


mata
 Lacrimal Glands (Kelenjar Lakrimal), kelenjar yang menghasilkan cairan
lakrimal (air mata), yang masuk ke mata superolateral
 Lacrimal Punctum, saluran kecil di sudut medial setiap mata dan
bermuara ke lalrimal canaliculus
 Lacrimal Canals (kanal lakrimal), dua saluran (inferior dan superior)
yang membawa air mata ke kantung lakrimal
 Lacrimal Sac (Kantung Lakrimal), area dimana air mata dikosongkan
kemudian diteruskan ke Nasolacrimal Duct (duktus nasolakrimal)
 Nasolacrimal Duct (duktus nasolakrimal ), Saluran ini membawa cairan
lakrimal ke dalam rongga hidung
Struktur pada Mata
Organ Luar (Okuli Assesoria)

 Otot Mata Oblique (Oblique Eye Muscles)


 Oblique superior memutar mata ke bawah dan medial.
 Oblique inferior memutar mata ke atas dan medial.
 Otot Mata Rectus (Rectus Eye Muscles)
 Otot rektus superior, menggerakkan mata ke atas
 Otot rektus inferior, menggerakkan mata ke bawah
 Otot Rektus medial, menggerakkan mata ke tengah
 Otot Rektus lateral. menggerakkan mata ke pinggir.
Struktur pada Mata
 Fibrous Layer (lapisan berserat)
Organ Bola mata (Okulus)  Kornea berfungsi untuk membiaskan
(membelokan) cahaya
 Sclera berfungsi untuk mempertahankan bentuk
bola mata dan melindungi bagian-bagian dalam
 Vascular Layer (lapisan vascular)
 Iris berfungsi untuk mengatur cahaya yang
masuk ke lensa
 Tubuh Siliaris berfungsi untuk mensekresi
aqueous humor dan mengubah bentuk lensa
untuk jarak dekat atau jauh (akomodasi)
 Koroid berfungsi untuk mensuplai darah dan
menyerap cahaya yang tersebar
Struktur pada Mata
Organ Bola mata (Okulus)
 Retina berfungsi menerima dan mengubah
cahaya dari lensa menjadi sinyal saraf menuju
otak
 Lensa berfungsi untuk memfokuskan sinar
sejajar tepat di retina
 Anterior cavity (rongga anterior) mengandung
aqueous humor yang membantu
mempertahankan bentuk bola mata dan
mensuplai oksigen dan nutrisi ke lensa dan
kornea
 Vitreous chamber (ruang vitreous)
mengandung vitreous body yang membuat
retina melekat pada koroid
 Reseptor pada mata

Reseptor khusus cahaya disebut fotoreseptor.


Reseptor penglihatan terdapat pada retina yang tersusun atas dua sel, yaitu sel batang dan
sel kerucut.

 Sel batang (basilus) :


- berjumlah ± 125 juta sel
- mampu menerima rangsang sinar tak berwarna
- tidak dapat membedakan warna
- lebih sensitif terhadap cahaya
- cocok untuk pengelihatan di tempat gelap atau pada malam hari
- pencitraan warna yang ditampilkan hitam dan putih
- banyak mengandung pigmen penyerap cahaya yang disebut rodopsin. Apabila ada cahaya,
maka rodopsin akan terurai dan apabila gelap maka akan terbentuk kembali, sehingga
memungkinkan seseorang secara perlahan mampu melihat di tempat yang gelap.
 Sel kerucut (sel konus)
- berjumlah ± 6,5 juta sel
- mengandung pigmen iodopsin
- mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna
- dapat membedakan warna dan sangat baik untuk pengelihatan pada siang hari.

Pencitraan warna disebabkan oleh tiga jenis sel kerucut, yaitu sel kerucut dengan
reseptor yang peka terhadap warna merah, hijau dan biru. Kerusakan pada sel
kerucut menyebabakan penyakit buta warna dikromat dan monokromat.
- Dikromat adalah penyakit buta warna sebagian karena penderita hanya memiliki
dua sel kerucut. Dikromat hanya dapat memadukan spektrum warna dengan
mencampur dua warna saja.
- Monokromat adalah penyakit buta warna yang hanya dapat membedakan hitam
dan putih serta bayangan abu-abu.
PROSES MELIHAT

Cahaya masuk melalui kornea  melewati


aqeuos humor  pupil  lensa mata 
vitreous humor  retina  impuls  saraf
otak  otak
Pendengaran
Struktur pada Telinga
Telinga Bagian Luar

 Auricle (Pinna), mengumpulkan gelombang suara.


 Meatus Akustik Eksternal, mengarahkan gelombang suara ke
membran timpani
 Kelenjar Ceruminous, mensekresikan kotoran telinga
(cerumen) untuk menangkap partikel asing
 Membran timpani, menerima dan meneruskan gelombang
suara ke tulang pendengaran
Struktur pada Telinga

Telinga Bagian Tengah


 Auditory Ossicles (ossicles
pendengaran), tiga tulang terkecil di
tubuh sesuai bentuknya yaitu tulang
Maleus, Inkus dan Stapes. Berfungsi
untuk mengirimkan getaran yang
diterima menuju jendela oval telinga
dalam
 Tuba Eustachius, berfungsi dalam
menyeimbangkan tekanan udara pada
telinga luar dan telinga tengah
Struktur pada Telinga  Otot-otot telinga bagian tengah
 Otot tensor tympani melekat pada
Telinga Bagian Tengah malleus. Dipersarafi oleh mandibula
saraf trigeminal (V). Perannya dalam
refleks akustik adalah menarik maleus ke
medial lalu mengencangkan membran
timpani. Kekakuan yang meningkat ini
mengurangi jumlah gerakan
 Otot stapedius berasal dari dinding
posterior telinga tengah dan
menyisipkan diri pada stapes.
Dipersarafi oleh saraf wajah (VII),
Kontraksi stapedius menarik stapes
untuk meredam getaran besar pada
stapes karena suara keras. Berperan
dalam melindungi serta mengurangi
gerakan stapes di jendela oval, dan
mengurangi sensitivitas pendengaran
Struktur pada Telinga  Labirin tulang dapat dibagi menjadi
vestibulum, tiga kanalis semisirkularis,
dan koklea
Telinga Bagian Dalam
 Vestibulum, terdiri dari sepasang
kantung membran: saccule dan
utricle. Vestibuli berfungsi untuk
menjaga keseimbangan tubuh
 Kanalis Semisirkularis, terdiri
dari tiga yaitu anterior, lateral, dan
posterior. Kanalis Semisirkularis
berfungsi sebagai alat keseimbangan
tubuh
 Koklea atau rumah siput berfungsi
sebagai reseptor pendengaran
Struktur pada Telinga  Labirin membranosa
 Utrikulus (Utricle) dan Sakulus
(Saccule), berfungsi untuk merespon
Telinga Bagian Dalam perubahan posisi kepala terhadap
gravitasi (percepatan linear).
 Ductus Koklearis, berfungsi
sebagai tempat membranan basilaris
 Organ Korti mengandung sel rambut.
Berfungsi sebagai reseptor untuk suara,
mengeluarkan potensial reseptor ketika
tertekuk akibat gerakan cairan di
koklea
Phonoreseptor
Telinga memiliki phonoreseptor (reseptor) yang berupa
koklea. Koklea akan menerima rangsang bunyi dan
mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah. Bagian yang
peka penerima bunyi di Coclea itu disebut organ Korti berupa
rambut rambut halus Dari Organ korti yang banyak terdapat syaraf
pendengaran (auditory) staraf tepi otak no 8 akan mengirimkan ke
Otak besar Lobus temporalis untuk diasosiasikan menjadi
imaginasi suara.
MEKANISME MENDENGAR
Sumber bunyi  aurikula 
saluran meatus akustikus
eksternus  membran timpani 
tulang pendengaran (maleus,
inkus dan stapes)  koklea 
diteruskan ke saraf auditori 
otak
Keseimbangan
Struktur pada Apparatus Utrikulus dan sakulus berfungsi dalam
vestibularis keseimbangan statis.
Otolithic Organs (Organ Otolitik)  Utrikulus berfungsi untuk
mendeteksi perubahan posisi kepala
menjauhi sumbu vertikal yang
mengarahkan percepatan serta
perlambatan linear secara horizontal
 Sakulus berfungsi untuk mendeteksi
perubahan posisi kepala menjauhi
sumbu horizontal yang mengarahkan
percepatan dan perlambatan linear
secara vertikal
 Makula, dinding utrikulus dan sakulus
mengandung wilayah kecil yang
menebal
Apparatus
vestibularis Duktus semisirkularis

Tiga duktus semisirkularis


berfungsi dalam kesetimbangan
dinamis.
 Ampula, wilayah yang diperluas
yang mengandung reseptor.
 Cupula, suatu struktur agar-
agar yang memperluas lebar
ampula.
 Crista, Daerah di dinding
ampula yang berisi reseptor
reseptor
Sel-sel rambut adalah reseptor yang selalu dikelilingi oleh sel pendukung dan dipantau oleh
dendrit neuron sensorik. Permukaan bebas dari setiap sel rambut mendukung stereocilia panjang 80-
100, yang menyerupai mikrovili. Setiap sel rambut di vestibulum juga mengandung kinocilium, satu
cilium besar. Sel-sel rambut tidak secara aktif memindahkan kinocilia atau stereocilia mereka.
Sel-sel rambut memberikan informasi tentang arah dan kekuatan rangsangan mekanis.
Rangsangan yang terlibat tergantung pada lokasi sel rambut: gravitasi atau akselerasi di ruang depan,
rotasi di kanalis semisirkularis, dan suara di koklea. Sensitivitas sel-sel rambut berbeda, karena masing-
masing daerah memiliki struktur aksesori yang berbeda yang menentukan stimulus yang akan
memberikan kekuatan untuk membelokkan kinocilia dan stereocilia.
Penghidu
Struktur pada hidung

Epitel Olfaktori

Hidung mengandung 10-100 juta reseptor untuk indera penciuman


yang terkandung pada suatu wilayah yang disebut epitel
olfaktori. Epitel olfaktori terdiri dari 3 jenis sel:
 Sel pendukung, merupakan sel epitel kolumnar berupa selaput lender.
Berfungsi untuk mendetoksifikasi bahan kimia yang bersentuhan dengan epitel
olfaktori.
 Sel basal, Merupakan sel induk yang terletak di antara 2 sel pendukung. Terus
mengalami pembelahan sel untuk menghasilkan reseptor olfaktori baru.
 Reseptor olfaktori
Struktur pada hidung

Epitel Olfaktori

Di dalam jaringan ikat yang mendukung epitel olfaktori, terdapat


kelenjar olfaktori.
 Kelenjar olfaktori berfungsi untuk menghasilkan lendir yang
dibawa ke permukaan epitel oleh saluran. Lendir membasahi
permukaan epitel olfaktori dan melarutkan bau sehingga
transduksi dapat terjadi.
 Rongga sinus, menjaga kelembaban
hidung
 Bulbus olifaktori, sebagai alat indera
pembau.
 Tonjolan olfaktor, menerima semua
impuls yang dikirim akson dan
membawanya menuju otak.
 Akson, mengangkut impuls hasil
kerja saraf pembau.
 Saraf pembau, reseptor yang
menerima stimulus dari gas yang
dihirup
 Silia, menyaring partikel yang
terlewatkan oleh bulu hidung
Reseptor olfaktori

• Merupakan neuron bipolar dengan dendrit yang terekspos serta akson


yang memanjang melalui cribriform plate dan berakhir di olfactory bulb.
• Terdiri dari rambut-rambut olfaktori.
Pengecap
Struktur pada lidah  Terdapat 3 jenis papilla yang mempunyai
kuncup pengecap:
 Vallate papilla, berjumlah sekitar 12 yang
Papilla
masing-masingnya mengandung 100-300
kuncup pengecap.
 Fungiform papilla, tersebar di seluruh
permukaan lidah yang masing-masingnya
mengandung 5 kuncup pengecap.
 Foliate papilla, terletak di tepi lateral lidah
tetapi sebagian besar telah mengalami
degenerasi sejak masa anak-anak.
 Filiform papilla, terletak di seluruh permukaan
lidah tetapi tidak memiliki kuncup pengecap
dan berfungsi untuk meningkatkan gesekan
antara lidah dengan makanan sehingga mudah
untuk memindahkan makanan di rongga mulut.
Struktur pada lidah
Kuncup Pengecap

Kuncup pengecap ditemukan di bagian lidah yang disebut dengan


papilla sehingga luas permukaan lidah meningkat dan memberikan
tekstur kasar pada permukaan atas lidah.
Sebagian besar kuncup pengecap pada orang dewasa terletak di
lidah, namun ada juga yang ditemukan di langit-langit lunak, faring,
dan epiglotis. Setiap kuncup pengecap terdiri dari 3 jenis sel epitel:
 Sel pendukung, mengelilingi 50 reseptor gustatori pada setiap kuncup
pengecap.
 Sel basal, Sel induk yang menghasilkan sel pendukung yang kemudian
berkembang menjadi reseptor gustatori.
 Reseptor gustatori
 Reseptor pada lidah

Reseptor pada lidah yaitu reseptor perasa disebut taste bud. Taste bud merupakan
sel epitel yang telah di modifikasi.
Taste bud memiliki 5 tipe reseptor rasa yang memiliki silia, yaitu asin, asam, manis,
pahit, dan umami. Ujung luar taste buds tersusun di sekitar taste pore yang sangat
kecil. Dari ujung-ujung setiap sel, mikrovili menonjol ke luar menuju taste pore dan
mengarah ke rongga mulut. Mikrovili ini dianggap memberikan permukaan reseptor
untuk pengecapan.
Taste bud yang dimiliki orang dewasa adalah 3.000 sampai 10.000 sedangkan untuk
anak-anak lebih sedikit
 Indera umum terbagi menjadi 2 macam yaitu
 Sensasi adalah segala sesuatu yang ditangkap oleh reseptor tubuh (panas, harum, dll)
 Persepsi adalah Interpretasi otak terhadap sensasi yang dirasakan
Penginderaan dan Cara Kerjanya
Pada kulit, terdapat jenis reseptor sebagai berikut:

 Nosiseptor, mendeteksi rasa sakit.


 Thermoreseptor, mendeteksi kondisi suhu berupa panas atau dingin.
 Mekanoreseptor, mendeteksi tekanan.

Terdiri dari;
 Reseptor taktil mendeteksi sentuhan, tekanan, dan getaran.
 Baroreseptor, mendeteksi perubahan tekanan.
 Propioseptor mendeteksi posisi sendi dan otot.
 Kemoreseptor, peka terhadap zat-zat kimia.
Somatosensorik
SOMATOSENSORIK
Somatosensorik  sistem penginderaan yang mendeteksi
sentuhan, tekanan dan suhu.
Organ-organ untuk indera ini adalah:
1. Kulit  Memiliki reseptor yang dapat merasakan
sentuhan, panas, dingin, tekanan, dan sakit. Reseptor untuk
rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis.
Reseptor untuk rangsangan sentuhan dan panas ujungnya
terletak di dekat epidermis, dan untuk reseptor rangsangan
pada tekanan berada di dermis jauh dari epidermis.
Struktur pada kulit Epidermis adalah lapisan pelindung superfisial kulit.
Epidermis rata-rata hanya memiliki empat lapisan
Karakteristik lapisan epidermis tersebut :
Epidermis
 Stratum korneum (lapisan mirip tanduk),
Stratum korneum terdapat pada permukaan kulit
dan terdiri dari ribuan sel-sel ini mati yang
berganti setiap harinya. Lapisan permukaan kulit
ini benar benar melindungi kulit dari gesekan
permukaan.
 Stratum Lucidum (lapisan bening), Lapisannya
tipis lapisan ini terlihat tampak jelas serta hanya
ditemukan di epidermis bibir, telapak tangan, dan
telapak kaki.
 Stratum granulosum (lapisan granular), hanya
terdiri dari tiga atau empat pipih lapisan sel
granular yang mengandung serat-serat keratin dan
nuklei yang keriput. Sel-sel ini mengandung
butiran yang diisi dengan keratohyalin, prekursor
kimia untuk keratin.
Struktur pada kulit  Stratum spinosum, berisi beberapa lapisan
sel yang terpusat berbentuk , besar, inti oval
Epidermis dan melakukan mitosis secara terbatas.
Penampilan berduri lapisan ini adalah karena
ekstensi spinelike yang timbul dari keratinosit
ketika jaringan diperbaiki untuk pemeriksaan
mikroskopis.
 Stratum basal, terdiri dari satu lapisan sel
kuboid yang berdekatan dengan dermis dan
juga membran basal yang mengalami mitosis .
Empat jenis sel menyusun stratum basal:
keratinosit, melanosit, sel taktil (sel Merkel),
dan granular nonpigmentasi dendrosit (sel
Langerhans).
Struktur pada kulit Dermis terdiri dari dua lapisan:
 Lapisan atas, yang disebut stratum papillarosum
Dermis (lapisan papiler), bersentuhan dengan
epidermis dan menyumbang sekitar seperlima
dari seluruh dermis
 Lapisan yang lebih dalam dan lebih tebal dari
dermis disebut stratum reticularosum (lapisan
reticular). Serat dalam lapisan ini lebih padat
dan teratur diatur untuk membentuk yang
tangguh, fleksibel meshwork.
Struktur pada kulit Hipodermis, atau jaringan subkutan, sebenarnya
bukan bagian dari lapisan pada kulit, tetapi
Hipodermis mengikat dermis ke organ yang mendasarinya.
Hipodermis terutama terdiri dari jaringan ikat
longgar dan adiposa sel-sel interlaced dengan
pembuluh darah.
Lapisan yang berada pada hipodermis berfungsi
untuk menyimpan lipid, insulate dan bantal tubuh,
dan mengatur suhu tubuh.
 Reseptor pada kulit

 Korpuskula pacini, reseptor


rangsangan tekanan
 Korpuskula ruffini, reseptor
rangsangan panas
 Korpuskula krause, reseptor
rangsangan dingin
 Korpuskula meissner, reseptor
rangsangan sentuhan
Jenis otot

DAN KARAKTERISTIKNYA
Otot

Otot Otot
Otot Polos
Rangka Jantung
Otot Rangka
 Memiliki bentuk silindris panjang
 Berinti banyak di tepi
 Kontraksi dan relaksasi dibawah kesadaran
 Menempel pada tulang
 Berfungsi dalam pergerakan, perlindungan
Otot Polos
 Memiliki nucleus di tengah
 Memiliki gap junction menghubungkan
banyak serat di beberapa jaringan otot
polos
 Tidak berlurik
 Fungsinya menggerakan makanan melalui
saluran pencernaan, kontraksi kandung
kemih
 Terletak pada dinding struktur internal
berongga seperti pembuluh darah,
saluran udara ke paru-paru, kandung
kemih
Otot Jantung
 Bergerak secara involunter
 Berbentuk lurik
 Nukleous terletak di tengah
 Berfungsi untuk memompa aliran
darah dari organ jantung ke seluruh
tubuh
 Terletak pada dinding otot jantung
yang membentuk atrium dan
ventrikel
Proses kontraksi otot rangka
Proses
 Potensial aksi mencapai bonggol sinaps dari neuron, lalu mengeluarkan
asetil kolin
 Asetil kolin menempel pada reseptor pada protein kanal di serabut otot.
 Menempelnya asetil kolin ini membuka protein kanal sehingga
menyebabkan aliran ion Na+ ke dalam serabut otot, dengan kata lain,
terjadi depolarisasi serabut otot, sehingga terjadi potensial aksi di
serabut otot
 Potensial aksi bergerak menuju T-tubulus >> merangsang retikulum
sarkoplasma untuk mengeluarkan ion Ca2+.
 Ca2+ menempel pada troponin di filamen aktin >> mengubah
konformasi tropomyosin >> blokade tropomyosin terbuka >> binding
site untuk kepala myosin terbuka (binding site = tempat menempel)
 Otot memendek (dengan kata lain,
berkontraksi)
 Potensial aksi berhenti, menyebabkan
Ca2+ berhenti dikeluarkan oleh
retikulum sarkoplasma, Ca2+ diserap
kembali oleh retikulum sarkoplasma
 Tropomyosin kembali ke konformasi
semula >> terjadi blokade binding site
oleh tropomyosin
 Filamen aktin kembali ke posisi semula
secara pasif >> relaksasi
Cara Myosin Menempel pada Binding Site
 ATP sudah menempel di kepala
myosin, lalu dipecah oleh myosin
ATPase menjadi ADP + P.
 Lalu terjadi eksitasi >> retikulum
sarkoplasma mensekresikan Ca2+>>
blokade tropomyosin terbuka >>
kepala myosin berikatan dengan
filamen aktin di binding site
 Kepala myosin menarik filamen aktin
 Kepala myosin mendapat ATP
sehingga lepas dari aktin pertama, dan
bersiap untuk berikatan dengan aktin
kedua. ATP belum dipecah.
 Setelah ATP menempel, ATP dipecah
menjadi ADP+P, kepala myosin
kembali ke konformasi semula.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kekuatan
Kontraksi Otot
 Treppe

yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik.

Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril.

 Summasi

yaitu adanya kontraksi kedua saat kontraksi pertama belum selesai sehingga kedua kontraksi tersebut dipadukan untuk membentuk

kontraksi yang lebih besar.

 Kreatin fosfat (CP), merupakan sumber energi yang langsung tersedia untuk memperbarui ATP dari ADP (CP+ADP-

>ATP+C)

 Reaksi anaerob

 Reaksi aerob
 Tetani (tetanus)

terjadi apabila frekuensi stimulasi (summasi gelombang) menjadi cepat sehingga tidak ada peningkatan frekuensi lebih jauh lagi
yang akan meningkatkan tegangan kontraksi.

 Fatigue

Muscle fatigue (kelelahan otot) menurunnya kekuatan kontraksi setelah berlangsungnya stimulasi yang berkepanjangan.

 Rigor (kelelahan yang berlebihan)

terjadi apabila sebagian terbesar ATP dari dalam otot telah dihabiskan, kalsium tidak dapat dikembalikan ke dalam reticulum
sarkoplasma melalui mekanisme pemompaan kalsium. Oleh karena itu, relaksasi tidak bisa terjadi karena filamen aktin dan
myosin terikat dalam suatu ikatan yang erat
kontraksi isotonik
dan kontraksi isometrik
 Isotonik
- Proses kontraksi yang menyebabkan pemendekan panjang otot
- Tonus otot tidak berubah
- Terjadi pemendekan sarkomer
- Misal pada saat menenkuk siku untuk mengangkat beban

 Isometrik
- Tidak ada pemendekan otot, tonus meningkat.
- Misal saat mendorong beban
SISTEM MUSKULOSKELETAL

5. Subtansi yang Menyusun Tulang dan fungsinya


dan jenis-jenis tulang
Unsur Penyusun Tulang
 Serat-serat kolagen
o Tertanam pada substansi dasar yang terdiri dari proteoglikan
o Bersifat organic untuk memberikan ketahanan terhadap tekanan.
 Garam-garam tulang
o Berbentuk kristal kalsium fosfat yang disebut hidroksiapatit
o Bersifat anorganik yang memungkinkan tulang untuk memiliki bentuk
kaku
Sel Penyusun Tulang
Osteoblas berfungsi mensekresikan matriks tulang saat osifikasi. Sel ini letaknya di
pinggir tulang.
Osteosit merupakan sel tulang dewasa. Osteosit ini menyusun sebagian besar sel di
dalam tulang. Osteosit memiliki dua fungsi utama yaitu memelihara kandungan
protein dan mineral yang terdapat pada matriks di sekitarnya dan berperan saat
perbaikan tulang jika terjadi kerusakan.
Osteoklas berada di endosteum. Osteoklas berfungsi menyerap matriks tulang.
Berperan besar saat remodeling tulang.
Jenis jenis tulang berdasar
jaringan penyusunnya
1. Tulang Keras
Sel penyusunnya adalah osteosit, tersusun
atas fosfor dan zat kapur, dan didalamnya
terdapat sum-sum tulang
2. Tulang Rawan
Sel penyusunnya adalah kondrosit,
bersifat Elastis, matriks tersusun atas
serat kolagen dan kondriotin
 Tulang Rawan Hialin  terdapat pada
cuping hidung, pensendian, pada ujung
tulang.
 Tulang Rawan Elastin  terdapat pada
epiglottis dan bagian luar telinga.
 Tulang Rawan Fibrosa  terdapat pada
antar ruas tulang belakang.
Jenis jenis tulang berdasar
bentuknya
1. Tulang Pipa (femur, tibia, fibula, huumerus,
radius, ulna, dan felangus)
2. Tulang Pendek (karpal dan tarsal)
3. Tulang Pipih (sternum dan skapikula)
4. Tulang Tidak Beraturan (vertebre)
5. Tulang Sesamoid  ada di beberapa tendom
untuk tahan gesekan, ketegangan dan tekanan.
(patella).
PROSES BONE REMODELING
Ilustrasi remodeling tulang
sendi
Klasifikasi Sendi
Berdasarkan Struktur
1. Sendi fibrosa
 Tidak ada rongga
 sebagian besar sendi fibrosa tidak bergerak sama sekali
 Tiga jenis sendi fibrosa yaitu: sutura (tengkorak), Syndesmosis (sendi tibia dan fibula pada pergelangan kaki),
dan gomphosis (gigi dan soket mereka).

2. Sendi kartilaginosa
 Dihubungkan oleh tulang rawan
 Dua jenis sendi kartilaginosa : synchondrosis(tulang bergabung dengan tulang rawan hialin) dan simfisis(tulang
rawan hialin meliputi ujung tulang, tetapi hubungan antara tulang terjadi melalui fibrokartilago).

3. Sendi sinovial
 rongga sinovial diisi dengan cairan sinovial
 Memungkinkan terjadinya gerakan bebas
 Lutut, siku, dan bahu
1. Sendi Fibrosa
Sutures syndesmoses dan interosseous

z
2. Sendi Kartilaginosa
Synchondrosis Symphysis
3. Sendi Sinovial
Sendi luncur/geser (arthrodial)
• Gerak rotasi di satu bidang datar
• Contoh: hubungan tulang pergelangan kaki

• Satu arah
• Contoh: sendi siku antara tulang lengan
Sendi engsel (ginglymus)
atas dan tulang hasta.
Sendi Putar (trochoid)

• Rotasi
• Contoh: hubungan tulang tengkorak dengan
tulang belakang I (atlas)

Sendi Lonjong (ovoid/ellipsodial)

• Mirip sendi peluru


• Berbentuk lingkaran lonjong
• Contoh: sendi di radiocarpal
Sendi Pelana (sellaris)

• Beberapa gerakan rotasi


• Tidak ke segala arah
• Contoh: hubungan telapak tangan dan
jari tangan.

Sendi Peluru (enarthrodial)

• Segala arah
• Contoh: hubungan tulang lengan atas
dengan tulang belikat
Klasifikasi Persendian Berdasarkan Sifat
Gerakannya
1. Sendi mati (sinartrosis)
 Sinartrosis sinfibrosis:
 jaringan ikat fibrosa.
 Contoh: persendian tulang tengkorak.

 Sinartrosis sinkondrosis:
 tulang rawan
 Contoh: hubungan antarsegmen pada tulang belakang
2. Sendi kaku (amfiartrosis)
 Simfisis
 diskus cartilago (menjadi bantalan sendi)
 sedikit gerakan
 Contoh simfisis pubis.
 Sindesmosis
 serat-serat jaringan ikat kolagen.
 Contoh: pada tulang yang bersisihan seperti radius dan ulna serta tibia dan fibula.
 Gomposis
 tulang berbentuk kerucut masuk dengan pas dalam kantong tulang
 Contoh gigi yang tertanam pada tulang rahang.
3. Sendi gerak (diartrosis),
 Lebih bebas
 Rongga sendi  minyak sendi (cairan sinovial)
 sendi peluru, sendi pelana, sendi engsel, dan sendi putar, sendi lonjong
Gerakan Dasar Otot
Supination and Pronation

Radius

Ulna

www.google.com
Abduction:
Abduction and Adduction • Kaki - Gluteus Medius
• Tangan - Gluteus Minimus
- Tensor Fasciae
- Latae
- Sartorius

Adduction:
- Adductor longus
- Adductor brevis
- Adductor magnus
- Gracilis
Abduction & Adduction: - Pectineus
- Deltoid Muscle
- Trapezius
- Triceps
- Biceps
Flexion and Extension
• Tangan

Extension :
- Extensor Carpi Radialis
Brevis, Flexion :
- Extensor Carpi Radialis - Otot Flexor Carpi Radialis
Longus, - Otot Flexor Carpi Ulnaris
- Extensor Carpi Ulnaris
Flexion and Extension
• Kaki Extension:
- Tibialis Anterior
Flexion: - Extensor Digitorum Longus,
- Quadriceps Femoris - Extensor Hallucis Longus
- Iliopsoas
- Sartorius
Elevation and Depression

ELEVATION & DEPRESSION:


- Trapezius
- Levator Scapulae
- Rhomboid Major
- Rhomboid Minor
Nama otot Fungsi Contoh Otot
Ekstensor Gerak meluruskan Ekstensor cruis
Fleksor Gerak membengkokkan Fleksor tarsi

Adduktor Gerak mendekat sumbu badan Adductor longus

Abduktor Gerak menjauhi sumbu badan Gluteus medius

Levator Gerak mengangkat suatu struktur Temporalis dan messeter

Depresor Gerak menurunkan suatu Depresor mandibulae


struktur

Pronator Gerak menelungkupkan Pronator teres

Supinator Gerak mengadahkan Supinator

Rotator Gerak memutar Pectoralis mayor


Konstriktor Gerak menutup Orbicularis oculi
Adilator Gerak membuka Orbicularis oris
REFERENSI
Engineer, T. (no date) ‘Overview Sistem Saraf’.
Fithrotunnisa, Q et al. (2016) ‘IBD Topik 3 : Sistem Saraf Manusia’
F. Deswaty dan H. Haamid. Pengantar Anatomi Modul IBD.
https://scele.ui.ac.id/pluginfile.php/666120/mod_resource/content/1/Pengantar%20Anatomi-IBD%201-2017.pdf.
Accessed 1/11/2018.
Foster, M. Sherrington, C.S. Textbook of Physiology, volume 3. 7th ed. London: Macmillan, 1897. p. 929.
Giannini, C. and Okazaki, H. (2009) ‘Nervous system’, Handbook of Autopsy Practice: Fourth Edition, pp. 51–68. doi:
10.1007/978-1-59745-127-7_4
Guyton Textbook of Medical Physiology 11th Ed 2006
Hall,J. (2016). Guyton and Hall Physiology Review. Philadelphia: Elsevier Saunders.
Harris, K.M. Weinberg, R.J. Ultrastructure of Synapses in the Mammalian Brain. Texas: Cold Spring Harbor Laboratory
Press, 2015.
Lumongga, Fitriani. 2007. Meninges dan Cerebrospinal Fluid. Medan: Departemen Patologi dan Anatomi USU.
Lodish H, Berk A, Zipursky SL, et al. Molecular Cell Biology. 4th edition. New York: W. H. Freeman; 2000.
Martini FH, Nath JL, Bartholomew EF. Fundamentals of anatomy and physiology. 9th ed. Glenview: Pearson Education,
Inc.; 2012. P. 549
Reece, J. B., & Campbell, N. A. (2010). Campbell biology. Boston: Benjamin Cummings / Pearson.
Sari, E. (n.d.). Jaringan Otot. [online] Academia.edu. Available at:
https://www.academia.edu/26079694/Jaringan_Otot [Accessed 10 Oct. 2018].
Sasika S, khoirunnisa R, setiadi H, safitri R. Biomedik. Jakarta: Trans Info Media; 2012.
Satyanegara. 2014. Ilmu Bedah Saraf Edisi 5. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2001
Sherwood, L. (2013). Introduction to Human Physiology. 8th ed. China: Brooks/Cole, Cengage Learning.
Shier, D., Butler, J., Lewis, R. and Hole, J. (2015). Hole's essentials of human anatomy & physiology. 12th
ed. New York, NY.: McGraw-Hill Education.
Silverhorn D.: Human Physiology: an integrated approach. 2nd ed. Upper Saddle River. NJ: Prantice-Hall
Inc;2001
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC
Struktural, B. (2009) Anatomi fisiologi sistem saraf, Medical, pp. 1–11.
Tortora, G.J., Derrickson, B. 2012. Principles of Anatomy & Physiology (13 ed). Amerika: Quad Graphics
Tortora, G.J., Derrickson, B. Principles of Anatomy & Physiology (14 ed). Amerika: Wiley. 2014.