Anda di halaman 1dari 53

Operasional dan Pemeliharaan IPAL

Kegiatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan


(Fasyankes)
Disampaikan pada Pelatihan Pengelolaan Kesehatan Lingkungan
Dalam Mendukung Akreditasi di Fasyankes –

Dr. Ir. Titien Setiyo Rini, MT

6 NOVEMBER 2019

RSUD DR.SOETOMO SURABAYA


01
Air Limbah kegiatan
Fasyankes

2
Definisi Air Limbah

Air limbah yang berasal dari rumah sakit merupakan salah satu
sumber pencemaran air yang sangat potensial. Hal ini
disebabkan karena air limbah rumah sakit mengandung senyawa
organik yang cukup tinggi juga kemungkinan mengandung
senyawasenyawa kimia lain serta mikro-organisme patogen yang
dapat menyebabkan penyakit terhadap masyarakat di sekitarnya

“Air limbah/buangan adalah kombinasi dari cairan dan sampah-


sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perkotaan,
perdagangan, dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air
permukaan, dan air hujan yang mungkin ada”
(Metcalf and Eddy, 2009)

“Air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang
berwujud cair”
(Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 5 Tahun 2014) 3
Definisi Air Limbah Kegiatan Fasyankes
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2008
air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk
tinja manusia dari lingkungan permukiman

Limbah cair adalah semua buangan air termasuk tinja yang kemungkinan
mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radiaktif yang
berbahaya bagi kesehatan (Depkes RI, 2015).

Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan
rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Mengingat dampak yang
mungkin timbul, maka diperlukan upaya pengelolaan yang baik meliputi
pengelolaan sumber daya manusia, alat dan sarana, keuangan dan tata
laksana pengorganisasian yang ditetapkan dengan tujuan memperoleh
kondisi rumah sakit yang memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan
(Said, 2006).

Permenlhk 68 Tahun 2016 menyebutkan bahwa Air limbah domestik


adalah Air Limbah yang berasal dari aktivitas hidup sehari-hari manusia
yang berhubungan dengan pemakaian air.

4
Sumber Air Limbah
Rumah Sakit

5
Sumber

Unit Penunjang
Unit Pelayanan Pelayanan Medis
Medis
1. Laboratorium
1. Rawat Inap
2. Radiologi
2. Rawat Jalan
3. Farmasi
3. Rawat Darurat
4. Sterilisasi
4. Rawat Intensif
5. Kamar Jenasah

Unit Penunjang
Pelayanan Non Medis
1. Logistik 5. Administrasi
2. Laundry 6. Dapur Gizi,
3. Rekam
Prosentase terbesar dari air limbah adalah limbah domestik
Medis
sedangkan sisanya adalah limbah yang terkontaminasi oleh infectious
4. Masjid dan agents kultur mikroorganisme, darah, buangan pasien pengidap
Kantin penyakit infeksi, dan lain-lain
6
KELOMPOK JENIS AIR LIMBAH FASYANKES :

a. Air limbah domestik;


b. Air limbah klinis;
c. Air limbah laboratorium klinik dan
kimia;
d. Air limbah radioaktif (tidak boleh
masuk ke IPAL, harus mengikuti
petunjuk dari BAPETEN).

7
Komposisi Air Limbah
Rumah Sakit

8
Komposisi

Organik Anorganik

Bahan-bahan organik terdiri dari protein


65%, karbohidrat 25% dan lemak 10%. Bahan-bahan anorganik adalah terdiri
Bahan-bahan ini sebagian besar terurai dari butiran, garam-garam dan metal.
yang merupakan sumber makanan dan Bahan ini biasanya dalam keadaan
media yang baik bagi pertumbuhan mengendap, melayang, terapung dan
mikroorganisme termasuk bakteri. terlarut

9
KOMPOSISI KHUSUS AIR LIMBAH FASYANKES
Limbah kegiatan Klinis
• Limbah kegiatan klinis adalah limbah yang berasal dari kegiatan pelayanan medis perawatan, poliklinik,
farmasi, bedah/kamar operasi, sisa benda tajam, kimia, infeksi, radioaktif, jaringan bentuk tubuh dalam bentuk
padat maupun cair.
Limbah kegiatan non klinis
• Yang termasuk definisi umumnya berasal dari kegiatan kantor, dapur, pencucian, mesin diesel dan buangan
dari tanam-tanaman (Kusnoputranto 2011).

Karena sifatnya yang merupakan campuran beragam material organik, maka limbah rumah sakit memiliki
karakteristik sebagai berikut:
a. TSS cukup tinggi > 100 ppm.
b. COD tinggi, berkisar 40 – 1200 ppm c. BOD tinggi, berkisar 30 – 700 ppm d. pH terkadang Asam, < 7
e. Mengandung bakteri patogen

10
Karakteristik Air Limbah
Rumah Sakit

11
Karakteristik

Biologis
Fisik

1. Warna 1. Bakteri

2. Bau 2. Fungi

3. Suhu 3. Algae

4. Padatan 4. Protozoa

5. Kelarutan 5. Virus
6. Cacing
Kimia

1. Bahan organik
2. Bahan anorganik
3. Gas
Prosentase terbesar dari air limbah adalah limbah domestik sedangkan
sisanya adalah limbah yang terkontaminasi oleh infectious agents kultur
mikroorganisme, darah, buangan pasien pengidap penyakit infeksi, dan
lain-lain.
12
Permasalahan Umum
Air Limbah Kegiatan
Fasyankes
“Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan limbah medis,
seperti masih sedikit fasilitas pelayanan kesehatan yang
melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar,
banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang menggunakan
alat kesehatan yang bermerkuri, hambatan teknis dan
perizinan dalam pengolahan limbah medis” (Depkes RI,
2015)

13
Contoh Penelitian 1

• Penelitian yang dilakukan Yenti (2011) di IPAL Rumah Sakit St. Carolus Jakarta
• Limbah cair RS St Carolus juga mengandung fosfat sebesat 10,5 mg/L, nitrit 0,04
mg/L, nitrat 0,15 mg/L, dan MBAS 0,41 mg/L

BML (Pergub
Inlet IPAL Outlet IPAL
Parameter DKI 122/206)
(mg/L) (mg/L)
(mg/L)
pH 7 7 6-9
TSS 183,4 8,4 50
BOD5 31,712 7,72 50
COD 129,4 34,26 80
Minyak Lemak 0,52 0,43 10
KmnO4 91,3 29,52 85
Ammonia 34 0,71 10

14
Contoh Penelitian 2 Contoh Penelitian 3

• Penelitian yang dilakukan Galuh (2018) di IPAL • Penelitian yang dilakukan dilakukan Said
Rumah Sakit Umum Jember Klinik (2006) di IPAL Rumah Sakit Makna, Tangerang

Inlet Metode BML Outlet


Inlet IPAL BML (PermenLH
Parameter IPAL Wetlands 9 (PermenLH Parameter IPAL
(mg/L) 5/2014) (mg/L)
(mg/L) jam (mg/L) 5/2014) (mg/L) (mg/L)
pH 6,51 7,26 6-9 TSS 7,3 7,9 6-9
TSS 52 0 30 BOD5 825 10 30
BOD5 52 25 50 COD 419 16,5 50
COD 84 32 80 NH4-N 729 52 80
PO4 0,806 0,310 2 MBAS 33,68 8 10

15
Contoh Penelitian 4 Contoh Penelitian 5

• Penelitian yang dilakukan Said (2006) di IPAL • Penelitian yang dilakukan Fauziyah (2012) di
Rumah Sakit Djatiroto, Lumajang IPAL Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R.
Soeharso Surakarta

Inlet Outlet BML Outlet


Inlet IPAL BML (PermenLH
Parameter IPAL IPAL (PermenLH Parameter IPAL
(mg/L) 5/2014) (mg/L)
(mg/L) (mg/L) 5/2014) (mg/L) (mg/L)
TSS 130 1 30 pH 7,30 7,58 6-9
BOD5 90 10 50 TSS 42 28 30
COD 150 28 80 BOD5 26,1 7,37 50
NH3-bebas 0,36 0,000046 1 COD 73,55 20,32 80
MBAS 1,56 0,398 10 Ammonia 13,65 0,042 1
Phospat 1,804 0,391 2

Dari beberapa referensi penelitian yang dilakukan di IPAL Rumah Sakit, dapat disimpulkan
bahwa parameter TSS, BOD, COD, dan pH rata-rata sudah stabil memenuhi Baku Mutu
Limbah Cair untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan, sedangkan parameter MBAS, nitrit, fosfat,
dan amonia rata-rata baku mutu berada di angka sedang namun masih dibutuhkan
pemantauan lebih lanjut pada tahapan pengelolaannya. 16
Baku Mutu Air Limbah
Rumah Sakit

17
PermenLHK No 68 Tahun 2016

Keterangan :
Rumah susun, penginapan, asrama, pelayanan
kesehatan, lembaga pendidikan, perkantoran,
perniagaan, pasar, rumah makan, balai pertemuan,
arena rekreasi, permukiman, industri, IPAL kawasan,
IPAL permukiman, IPAL perkotaan, pelabuhan,
bandara, stasiun kereta api,terminal dan lembaga
pemasyarakatan.

18
PERMENLH 5 TAHUN 2014

19
LANJUTAN….

20
Peraturan Timur Nomor 72 Tahun 2013 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Industri atau
Kegiatan Usaha Lainnya di Jawa Timur (Fasyankes/rumah sakit)

Parameter Baku Mutu


Total coliform 10.000 MPN/100 ml
pH 6-9
Suhu 300C
BOD5 30 mg/L
COD 80 mg/L
TSS 30 mg/L
NH3-N bebas 0,1 mg/L
Phospat (ortho) 2 mg/L

21
BOD Phospat
BOD atau kebutuhan oksigen biologis, adalah Kandungan phospat yang tinggi menyebabkan suburnya
jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh algae dan organisme lainnya yang dikenal dengan
mikroorganisme di dalam air lingkungan untuk eutrophikasi. Pengukuran kandungan phospat dalam air
memecah (mendegradasi) bahan buangan limbah berfungsi untuk mencegah tingginya kadar phospat
organik yang ada didalam air lingkungan sehingga tumbuh-tumbuhan dalam air berkurang jenisnya
tersebut. sehingga tidak akan mengakibatkan berkurangnya oksigen
terlarut.
COD Minyak dan Lemak
COD menggambarkan jumlah total oksigen yang
diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik Kandungan lemak dan minyak
secara kimiawi, baik yangdapat didekomposisi yang terkandung dalam limbah
secara biologis (biodegradable) maupun yang bersumber dari instalasi yang
sukar didekompsisi secara biologis (non mengolah bahan baku
biodegradable). mengandung minyak. Lemak
dan minyak merupakan bahan
Ammonia organik bersifat tetap dan sukar
diuraikan bakteri.

Ammonia (NH3) adalah gas yang tidak


berwarna, memiliki bau yang menyengat.
Ammonia (NH3) menjadi penyebab iritasi dan
korosi, meningkatkan pertumbuhan
mikroorganisme dan mengganggu proses
desinfeksi dengan klor
22
Hal yang perlu dilakukan agar air limbah rumah sakit
memenuhi parameter
• Dalam pemeriksaan kualitas air limbah ke laboratorium, maka seluruh parameter pemeriksaan
air limbah baik fisika, kimia dan mikrobiologi yang disyaratkan harus dilakukan uji
laboratorium.
• Pemeriksaan contoh limbah cair harus menggunakan laboratorium yang telah terakreditasi
secara nasional.
• Pewadahan contoh air limbah menggunakan jirigen warna putih atau botol plastik bersih
dengan volume minimal 2 (dua) liter.
• Rumah sakit wajib melakukan swapantau harian air limbah dengan parameter minimal DO,
suhu dan pH.
• IPAL di rumah sakit harus dioperasikan 24 jam per hari untuk menjamin kualitas limbah cair
hasil olahannya memenuhi baku mutu secara berkesinambungan.
• Petugas kesehatan lingkungan atau teknisi terlatih harus melakukan pemeliharaan peralatan
mekanikal dan elektrikal IPAL dan pemeliharaan proses biologi IPAL agar tetap optimal.
• Dilarang melakukan pengenceran dalam pengolahan limbah cair, baik menggunakan air
bersih dan/atau air pengencer sumber lainnya.
• Melakukan pembersihan sampah-sampah yang masuk bak penyaring kasar di IPAL.
• Melakukan monitoring dan pemeliharaan terhadap fungsi dan kinerja mesin dan alat
penunjang proses IPAL.

23
02
Instalasi Pengolahan Air
Limbah Rumah Sakit

24
Suspended Proses lumpur aktif standar/konvesional (standard
activated sludge), step aeration, contact stabilization,
extended aeration, oxidation ditch (kolam oksidasi

Pengolahan Air Limbah sistem parit) dan lainnya.

Trickling filter atau biofilter, rotating


secara Biologis Attached biological contactor (RBC), contact
aeration/oxidation (aerasi kontak) dan
Proses Biologis Biakan Tersuspensi lainnya.
1 (Suspended Culture) Kolam aerasi atau kolam stabilisasi
Lagoon
(stabilization pond).

Proses Biologis Biakan Melekat


2 (Attached Culture)

Proses Pengolahan dengan Sistem


3 Lagoon atau Kolam

25
26
27
Proses Lumpur Aktif
Tahapan
1. Screen untuk memisahkan sampah padatan
2. Bak ekualisasi untuk bak pengatur debit air limbah dan
terdapat saringan kasar untuk memisahkan kotoran yang
besar
3. Bak pengendap awal untuk menurunkan padatan
tersuspensi (Suspended Solids) sekitar 30 - 40 %, serta BOD
sekitar 25 %
4. Bak aerasi sebagai tumbuh dan berkembang biomasa dalam
jumlah besar yang akan menguaraikan senyawa polutan yang
ada di dalam air limbah
5. Bak pengendap akhir untuk lumpur aktif yang mengandung
massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali ke
bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur.
6. Bak khlorinasi untuk menampung air overflow membunuh
bakteri patogen.

28
Proses Lumpur Aktif
Keunggulan
Dapat mengolah air limbah dengan beban BOD yang
besar, sehingga tidak memerlukan tempat yang besar.
Masalah Umum Proses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah
dalam jumlah yang besar.

1. Pengadukan pada proses aerasi yang kurang


sempurna sehingga mengakibatkan penurunan Kelemahan
efisiensi pengolahan
Biaya operasionalnya besar serta kemungkinan dapat
2. Sludge bulking, dimana lumpur aktif (sludge) terjadi bulking pada lumpur aktifnya, terjadi buih, serta
berubah menjadi keputih-putihan dan sulit jumlah lumpur yang dihasilkan cukup besar
mengendap, dan mengakibatkan cairan supernatan
yang dihasilkan masih memiliki kekeruhan yang
cukup tinggi.

29
Proses Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit dengan RBC
(Rotating Biological Contactor)

• suatu proses pengolahan limbah cair dengan


menggunakan metode dimana unit pengolah air limbah ini
berotasi dengan pusat pada sumbu atau as yang
digerakkan oleh motor drive system dan/atau tiupan udara
(air drive system) dari difusser yang dibenam dalam air
limbah, di bawah media. Berbahan plastik, media tempat
pelekatan mikroba dipasang sedemikian rupa sehingga
terjadi kontak yang seluas-luasnya dengan air limbah dan
oksigen yang terjadi silih berganti.
• Prinsip kerja pengolahan air limbah dengan RBC yakni air
limbah yang mengandung polutan organik dikontakkan
dengan lapisan mikro-organisme (microbial film) yang
melekat pada permukaan media di dalam suatu reaktor.
Media tempat melekatnya film biologis ini berupa piringan
(disk) dari bahan polimer atau plastik yang ringan dan
disusun dari berjajar-jajar pada suatu poros sehingga
membentuk suatu modul atau paket, selanjutnya modul
tersebut diputar secara pelan dalam keadaan tercelup
sebagian ke dalam air limbah yang mengalir secara
kontinyu ke dalam reaktor tersebut.

30
Proses Lumpur Aktif
Kelemahan RBC
• Pengontrolan jumlah mikro-organisme sulit
dilakukan.
Keunggulan RBC
• Sensitif terhadap perubahan temperatur.
• Beberapa keunggulan proses pengolahan air limbah
denga sistem RBC antara lain: • Kadang-kadang konsentrasi BOD air olahan masih
tinggi.
• Pengoperasian alat serta perawatannya mudah.
• Dapat menimbulkan pertumbuhan cacing rambut,
• Untuk kapasitas kecil / paket, dibandingkan dengan serta kadang-kadang timbul bau yang kurang sedap.
proses lumpur aktif konsumsi energi lebih rendah.
• Dapat dipasang beberapa tahap (multi stage),
sehingga tahan terhadap fluktuasi beban
pengoalahan.
• Reaksi nitrifikasi lebih mudah terjadi, sehingga
efisiensi penghilangan ammonium lebih besar.
• Tidak terjadi bulking ataupun buih (foam) seperti
pada proses lumpur aktif.

31
Proses Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit dengan
Trickling Filter
• Trickling filter merupakan proses attached-growth, dimana berlangsung secara aerobik. Media filter
dalam kondisi kering dan biasanya agregat kasar dengan diameter 30-60 mm. Prosesnya, air limbah
dialirkan ke atas alas dan menetes ke bawah di atas permukaan media atau agregat. Pada permukaan
agregat ini akan tumbuh bakteri yang akan mengoksidasikan limbah yang melewatinya. Jumlah
mikroba terus bertambah pada saat pengoksidasian. Unsur pencemar yang dihilangkan antara lain
BOD, Nitrogen–amonia, dan zat padat tersuspensi.

Keuntungan :
Sederhana dan dapat diandalkan Kelemahan :
Cocok diaplikasikan pd lahan yang tidak terlalu luas Harus dikontrol secara teratur oleh operator
(tergantung jumlah penduduk yang dilayani) Kurang ekonomis jika diaplikasikan dalam skala lebih besar
Efektif dalam mengolah air limbah yang memiliki kadar organik tinggi Umumnya membutuhkan biaya lebih besar dari proses tangki aerasi
Dapat diterima secara estetis Kerugian menggunakan pengolahan trickling filter ini bila ketebalan biofilm membesar
Mampu mereduksi BOD degradable dengan cepat maka mikroorganisme dekat permukaan media tidak sepenuhnya menerima suplai
Stabil terhadap kejutan beban organik oksigen dan substrat (BOD) dan difusi substrat kemungkinan akan menyebabkan:
reduksi efisiensi removal BOD dalam trickling filter.
biomassa dapat kehilangan kemampuannya untuk mencapai permukaan
media filter dan kemungkinan ikut keluar dari filter bersama efluen.
32
Biofilter Anaerob Aerob
• Pengolahan air limbah dengan proses Biofilter Anaerob-Aerob adalah proses pengolahan air limbah dengan
cara menggabungkan proses biofilter anaerob dan proses biofilter anaerob.
• Dengan mengunakan proses biofilter anaerob, polutan organik yang ada di dalam air limbah akan terurai
menjadi gas karbon dioksida dan methan tanpa menggunakan energi (blower udara), tetapi amoniak dan
gas hidrogen sulfida (H2S) tidak hilang. Oleh karena itu jika hanya menggunakan proses biofilter anaerob
saja hanya dapat menurunkan polutan organik (BOD, COD) dan padatan tersuspensi (TSS)

33
Proses Biofilter Anaerob Aerob

Dengan proses biofilter aerob polutan organik yang masih


Tahapan
tersisa akan terurai menjadi gas karbon dioksida (CO2)
• Bak pengumpul atau ekualisasi untuk bak pengatur debit air limbah dan air (H2O), amoniak akan teroksidasi menjadi nitrit
• Bak pengendap awal untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan selanjutnya akan menjadi nitrat, sedangkan gas H2S akan
kotoran organik tersuspensi, pengurai lumpur (sludge digestion) dan diubah menjadi sulfat.
penampung lumpur.
• Reaktor biofilter anaerob dimana pada permukaan media filter akan
tumbuh lapisan film mikro-organisme yang akan menguraikan zat
organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap
• Reaktor biofilter aerob terdapat proses aerasi atau dihembus dengan
udara agar terjadi kontak dengan mikro-organisme yang tersuspensi
dalam air maupun yang menempel pada permukaan media agar dapat
meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta
mempercepat proses nitrifikasi, sehingga meningkatkan efisiensi
penghilangan amonia
• Bak pengendap akhir dimana air limpasan dari bak aerasi dan sebagian Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
air limbah dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa reaksi penghilangan substrat organik di dalam
sirkulasi lumpur. air secara biologis antara lain Beban Organik
• Bak kontaktor khlor untuk menampung air overflow membunuh
bakteri patogen. (Organic Loading); Beban Hidrolis (Hydrolic
Loading); Temperatur; Keasaman Air (pH);
Kebutuhan Oksigen (DO); Logam berat

34
Proses Penghilangan Amoniak
• Di dalam proses biofiltrasi, senyawa amoniak akan diubah menjadi nitrit, kemudian senyawa
nitrit akan diubah menjadi nitrat. Proses nitrifikasi menurut Grady & Lim (1980)
didefinisikan sebagai konversi nitrogen ammonium (NH4-N) menjadi nitrit (NO2-N) yang
kemudian menjadi nitrat (NO3-N) yang dilakukan oleh bakteri autotropik dan heterotropik.

Faktor yang mempengaruhi proses


nitrifikasi :
DO
TEMPERATUR
PH
Rasio Organik dan Total Nitrogen
(BOD/T-N)

35
36
Proses Biofilter Anaerob Aerob

Keunggulan

• Pengelolaannya sangat mudah.


• Tidak perlu lahan yang luas.
• Biaya operasinya rendah.
• Lumpur yang dihasilkan relatif sedikit,
dibandingkan dengan proses lumpur
aktif
• Dapat menghilangkan nitrogen dan
phospor yang dapat menyebabkan
euthropikasi. Kelemahan
• Suplai udara untuk aerasi relatif kecil.
• Dapat digunakan untuk air limbah • Waktu start relatif lama menunggu terbentuknya film.
dengan beban BOD yang cukup besar. • Kontrol bakteri tidak dilakukan.
• Dapat menghilangan padatan • Tidak memperhitungkan jumlah dan jenis mikroba
tersuspensi (SS) dengan baik. yang hidup.

37
Teknologi IPAL Advanced untuk Rumah Sakit

Menurut Rame et al. (2017), dalam beberapa studi di Eropa dan Cina, CAS, MBR, dan pengolahan biologis air limbah
rumah sakit tidak memberikan eliminasi yang memadai dari beberapa senyawa seperti obat-obatan dan beberapa
mikroba patogen. Diperlukan langkah-langkah lanjutan tambahan seperti ozonasi, karbon aktif, atau AOP (PROSES
OKSIDASI LANJUTAN) untuk penghilangan senyawa-senyawa tersebut

Pengolahan
Negara Pengolahan Primer Pengolahan Tersier Desinfektan
Sekunder

Denmark - MBR GAC + O3/H2O2 UV


O3 + PAC + filtrasi
Jerman - MBR -
pasir
Belanda - MBR O3 + GAC -

Italia - MBR O3 UV

Mesir, Brazil - CAS - Klorinasi

Saudi Arabia, Iran, India - CAS Filtrasi pasir KlorinasiIndia

China - MBR - Klorinasi

Korea Flokulasi CAS Karbon aktif -

Brazil Tangki septik - Filter anaerob -

38
Teknologi IPAL Advanced untuk Rumah Sakit
Pengolahan Primer Pengolahan Sekunder Pengolahan Tersier

Tujuan menyaring bahan Sistem Comprehensive Activated Tujuan menghilangkan sisa bahan
kasar dari air limbah Sludge, MBR, dan proses oksidasi organik, molekul anorganik, dan
lanjutan (AOP). sisa mikroorganisme.
Tangki septik dan flokulasi
kimia diterapkan dalam IPAL • CAS paling representatif pada Contoh Filtrasi melalui karbon aktif
skala penuh khusus dengan WWTP tetapi membutuhkan seperti PAC dan GAC, filtrasi
tujuan menghilangkan koloid langkah akhir untuk memisahkan anaerob setelah pengolahan secara
SS dan dari air limbah yang lumpur biologis dari limbah. ozon, desinfeksi akhir dengan klorin
tidak mengendap secara atau iradiasi UV.
• Tidak adanya suspended solid
spontan. Baik filtrasi dan pada efluen MBR cocok untuk
proses fisikokimia lainnya pengolahan, namun kelemahan
biasanya diterapkan sebagai biaya operasional tinggi
pengolahan awal sebelum terutama biaya aerasi, hilangnya
pengolahan sekunder. permeabilitas membran, dan
penggantian membran secara
teratur.

39
Moving Bed Bioreactor System (MBBR)
Penelitian yang dilakukan oleh Jasem et al. (2018) dengan air limbah
dari Rumah Sakit Al-Batul Kota Baquba, Iraq

Tujuan :
Menghapus bahan organik dan
padatan tersuspensi, bersamaan
dengan nitrifikasi dan
pertumbuhan bakteri untuk air
limbah medis.
Merupakan kombinasi dari lumpur
aktif dan trickling filters.
Sistem yang digunakan adalah
instalasi pengolahan air limbah
menggabungkan Assisted Moving
Bed Biomedia, Tequatic Plus
tertiary filtration (Tequatic Filter,
dan Ultraviolet Disinfection (UV).

40
Moving Bed Bioreactor System (MBBR)
• Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) adalah salah satu unit pengolahan biologis yang
memanfaatkan biofilm yaitu dengan sistem fluidized attached growth (mikroorganisme yang
tumbuh pada media) tanpa terjadi clogging. Moving Bed Biofilm Reactor memanfaatkan proses
anaerobik untuk mengolah konsentrasi organik (COD) yang tinggi mencapai 80.000 mg/L.
Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) juga memanfaatkan proses aerobik-anoksik yang berpotensi
dalam mengolah nitrogen melalui nitrifikasi dan denitrifikasi.
• Secara umum proses pengolahan air limbah dengan sistem MBBR mengikuti pola aliran sebagai
berikut:
Inlet  Screening  Grit & Grease Removal  MBBR  Secondary Settler (Koagulasi & Flokulasi) 
UV Disinfection  Outlet
Tanpa perlu melakukan pengembalian lumpur, proses ini
Keunggulan memberikan peningkatan perlindungan terhadap toxic shock,
sementara secara otomatis menyesuaikan untuk memuat
• Teknologi ini tidak terlalu mengeluarkan biaya fluktuasi. • Proses MBBR cocok diterapkan untuk permasalahan
yang besar dan perawatannya juga sangat nitrifikasi karena prosesnya memungkinkan perkembangbiakan
mudah karena MBBR mampu memproses bakteri nitrifikasi dalam area permukaan dilindungi dari ribuan
secara alamiah merawat bakterinya sendiri potongan plastik, disebut biocarriers atau media.
pada level optimum dari biofilm yang
Kualitas Air Limbah Baku Mutu Air Limbah
produktif. Parameter Satuan Yang Akan Diolah Domestik (Permen LHK No. Efisiensi (%)
• Dalam prosesnya, tidak membutuhkan (Asumsi) 68 Tahun 2016)
pengembalian lumpur dan tidak perlu pH pH unit 6-9 6-9
BOD mg/l 200 30 85%
mengatur F/M ratio atau tingkat MLSS yang COD mg/l 430 100 77%
ada dalam reaktor. TSS mg/l 230 30 87%
• MBBR sangat efektif dalam mereduksi BOD, Minyak dan Lemak mg/l 100 5 95%
NH4 mg/l 25 10 41
60%
nitrifikasi, dan meremoval nitrogen Total coliforms mg/l 10 - 108
7 3000 99,97%
• Proses Moving Bed Biofilm dapat digunakanuntuk berbagai aplikasi
yang berbeda. Seperti prosespenghilangan zat organik, proses
penghilangan amoniak, proses nitrifikasi dan proses penghilangan
nitrogen. Proses ini baik digunakan untuk pengolahan air limbah
pada daerah perkotaan dan pengolahanair limbah industri.
• Reaktor moving bed biofilm dapat dioperasikan dalam kondisi
aerobik untuk penghilangan zat organik dan nitrifikasi atau dalam
kondisi anoxic untuk denitrifikasi
• Teknologi MBBR menggunakan beribu biofilm dari polyethylene yang
tercampur di dalam suatu reaktor dengan aerasi terus-menerus

42
Herlev Hospital WWTP (SISTEM MBR)
WWTP atau IPAL di Rumah Sakit Herlev, Zealand terdiri dari
bangunan 550 m2 dan dua tangki proses biologis tinggi 6 m

IPAL terdiri dari tahap MBR untuk pengolahan biologis diikuti


oleh tahap polishing termasuk adsorpsi oleh granular
activated carbon (GAC), ozonasi dan radiasi UV. Pelepasan
udara kritis serta udara ventilasi umum diolah dalam sistem
pengolahan udara.

Membrane bioreactor (MBR) merupakan suatu sistem pengolahan air


limbah yang mengaplikasikan penggunaan membran yang terendam di
dalam bioreaktor.

Proses yang terjadi di dalam bioreaktor mirip dengan lumpur aktif


konvensional (conventional activated sludge, AS), di mana zat organik di
dalam air limbah akan didegradasi secara biologis oleh mikroorganisme
aerob kemudian terjadi pemisahan solid (lumpur).

Bedanya, pada MBR proses pemisahan solid dilakukan menggunakan


membran sementara pada AS pemisahan solid dilakukan secara gravitasi 43
di dalam tangki pengendap
03
SOP dan Pemeliharaan
Instalasi Pengolahan Air
Limbah Rumah Sakit
Permenkes No 7 Tahun 2019

44
1. Rumah sakit memiliki Unit Pengolahan Limbah
Cair (IPAL) dengan teknologi yang tepat dan
desain kapasitas olah limbah cair yang sesuai
dengan volume limbah cair yang dihasilkan.
2. Unit Pengolahan Limbah Cair harus dilengkapi
dengan fasilitas penunjang sesuai dengan
Penyelenggaraan Pengamanan ketentuan.
Limbah di Rumah Sakit 3. Memenuhi frekuensi dalam pengambilan
sampel limbah cair, yakni 1 (satu) kali per
bulan.
4. Memenuhi baku mutu efluen limbah cair sesuai
peraturan perundang-undangan.
5. Memenuhi pentaatan pelaporan hasil uji
laboratorium limbah cair kepada instansi
pemerintah sesuai ketentuan minimum setiap 1
(satu) kali per 3 (tiga) bulan.

45
Ketentuan Pengelolaan Unit Pengolahan Limbah Cair
• Limbah cair dapur gizi dan kantin yang memiliki kandungan
Limbah cair rumah sakit harus diolah dalam minyak dan lemak tinggi harus dilengkapi pre-treatment
Instalasi Pengolah Limbah Cair (IPAL) dan berupa bak penangkap lemak/minyak
1 kualitas limbah cair efluennya harus memenuhi • Limbah cair laundry yang memiliki kandungan bahan
baku mutu sesuai dengan ketentuan peraturan kimia dan deterjen tinggi harus dilengkapi pre-
perundang-undangan sebelum dibuang ke treatmen berupa bak pengolah deterjen dan bahan
lingkungan perairan. Air hujan dan limbah cair kimia
yang termasuk kategori limbah B3 dilarang
disalurkan ke IPAL.
4 • Limbah cair laboratorium yang memiliki kandungan
bahan kimia tinggi harus dilengkapi pre-treatmenya
berupa bak pengolah bahan kimia
Desain kapasitas olah IPAL harus sesuai dengan • Limbah cair rontgen yang memiliki perak tinggi harus
perhitungan debit maksimal limbah cair yang
2 dihasilkan ditambah faktor keamanan (safety
dilengkapi penampungan sementara dan tahapan
penanganan selanjutnya diperlakukan sebagai limbah
factor) + 10 %. B3
• Limbah cair radioterapi yang memiliki materi bahan
radioaktif tertentu harus dilengkapi pre-treatment
berupa bak penampung untuk meluruhkan waktu
paruhnya sesuai dengan jenis bahan radioaktifnya
Lumpur endapan IPAL yang dihasilkan apabila dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-
3 dilakukan pembuangan atau pengurasan, maka undangan.
penanganan lanjutnya harus diperlakukan
sebagai limbah B3.
• Jaringan pipa penyaluran limbah cair dari
5 sumber menuju unit pengolahan air limbah
melalui jaringan pipa tertutup dan
dipastikan tidak mengalami mengalami
kebocoran.

46
PERAWATAN IPAL

Sedapat mungkin tidak ada sampah padat (plastik, kain, batu, softex, dll) yang masuk ke dalam sistem IPAL.
Diusahakan sedapat mungkin tidak ada limbah dari bengkel ( bahan bakar atau olie ) masuk ke dalam sistem
IPAL.
Bak kontrol harus dibersihkan secara rutin minimal satu minggu sekali atau lebih baik sesering mungkin untuk
menghindari terjadinya penyumbatan oleh sampah padat.
Menghindari masuknya zat-zat kimia beracun yang dapat menggaggu pertumbuhan mikroba yang ada di dalam
system biologis misalnya, cairan limbah perak nitrat, merkuri atau logam berat lainnya.
Perlu dilakukan pengurasan lumpur pada bak ekualisasi dan bak pengendapan awal secara periodik untuk
menguras lumpur yang tidak dapat terurai secara biologis. Pengurasan biasanya dilakukan minimal 6 bulan sekali
atau disesuaikan dengan kebutuhan.
Perlu dilakukan perawatan rutin terhadap pompa pengumpul, pompa air limbah, pompa sirkulasi serta blower
yang dilakukan 3-4 bulan sekali.
Perawatan rutin pompa dan blower udara dapat dilihat pada buku operasional dan perawatan dari pabriknya.

47
Penanganan Permasalahan IPAL

48
Menurut Rahmat dan Mallongi (2018), Prosedur Tetap Pemeliharaan Kualitas Air Limbah bertujuan untuk mengetahui
ketentuan tata cara mengatur dan memelihara kualitas air limbah agar memenuhi syarat undang-undang. Bila dalam
hasil pemeriksaan kualitas air limbah ditemukan parameter yang melebihi batas, maka dilakukan :

pH PO4
Equalisasi (menseragamkan air limbah), Aerasi (lama waktu aerasi ditambah),
pembersihan bak lemak, bak penyaring, bak pembubuhan tawas.
sedimentasi, bak flotasi
NH3
Suhu
Aerasi (lama waktu aerasi ditambah),
Equalisasi (menseragamkan air limbah) pembubuhan kaporit.

BOD, COD, TSS Coliform


Aerasi (lama waktu aerasi ditambah), Pembubuhan kaporit
pembersihan bak lemak, bak penyaring, bak
floatasi, bak sedimentasi, pengaliran lumpur
pada biodetok (menseragamkan air limbah)

49
Ketentuan Kelengkapan Fasilitas Penunjang Unit Pengolahan Limbah Cair:
• Bak pengambilan contoh air limbah yang dilengkapi dengan tulisan “Tempat Pengambilan Contoh Air Limbah
Influen dan/ atau “Tempat Pengambilan Contoh Air Limbah Efluen”.
• Alat ukur debit air limbah pada pipa inflen dan/atau pipa efluen
• Pagar pengaman area IPAL dengan lampu penerangan yang cukup dan papan larangan masuk kecuali yang
berkepentingan.
• Pastikan tidak ada kebocoran pipa air bersih
• Papan tulisan titik koordinat IPAL menggunakan Global Positioning Sistem (GPS).
• Fasilitas keselamatan (APD) selama di lokasi IPAL.

Penaatan frekuensi pengambilan contoh limbah cair sebagai berikut:


• Setiap rumah sakit harus melakukan pemeriksaan contoh limbah cair di laboratorium, minimal limbah cair
efluennya dengan frekuensi setiap 1 (satu) kali per bulan.
• Apabila diketahui hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kualitas limbah cair tidak memenuhi baku mutu,
segera lakukan analisis dan penyelesaian masalah, dilanjutkan dengan pengiriman ulang limbah cair ke
laboratorium pada bulan yang sama. Untuk itu, pemeriksaan limbah cair disarankan dilakukan di awal bulan. 50
MONITORING IPAL DAN HASIL OLAHAN
• Monitoring berkala adalah melakukan pengambilan sampel air
limbah pada inlet dan outlet IPAL untuk dilakukan pemeriksaan di
laboratorium lingkungan guna memenuhi ketentuan yang berlaku.
Monitoring berkala ini dilakukan dengan frekuensi minimal 1 kali
setiap bulan, dengan parameter mengacu pada Permenlhk No 68
Tahun 2016 atau mengikuti baku mutu limbah cair sesuai dengan
peraturan daerah setempat yang berlaku.
• Monitoring rutin
Melakukan Swapantau (Monitoring harian) yaitu melakukan
pengukuran lapangan (in situ) setiap hari pada kualitas air limbah
yang bertujuan untuk memonitoring kinerja sistem IPAL guna
memudahkan melakukan tindakan dini (early warning) dalam
perbaikan sistem tersebut. Parameter yang dipantau biasanya pH,
suhu, Amonia, Dissolved Oxygen (DO), KMnO4, TSS, dan debit air
limbah dengan frekuensi harian. Lokasi monitoring pada outlet,
inlet dan pada tangki aerasi. Secara umum monitoring rutin ini
dapat menjaga agar sistem tetap berjalan secara optimal.

51
MONITORING
Monitoring Beban Cemaran Air Limbah :
• Data yang dibutuhkan adalah Rata-rata debit harian dan kualitas air limbah influen dan efluen
• Beban cemaran (BOD loading) hasil perhitungan dianilisis dengan membandingkan dengan BOD
loading hasil perencanaan (BOD loading desain IPAL). BOD loading hasil perhitungan harus di bawah
BOD loading desain,bila nilainya melebihi maka kinerja IPAL over loading (pengaruh ke kualitas air
limbah efluen)
Rumus/formulasi :
BOD loading (Kg BOD/hari) = Debit (M3/hari) x konsentrasi BOD influen (mg/l)

Monitoring satuan produksi air limbah :


• Data yang dibutuhkan : debit air limbah, jumlah tempat tidur (TT) dan data BOR rata-rata
bulanan
• Perhitungan produksi air limbah menggunakan Liter/TT/hari

52
Terima Kasih.
Dr. Ir. Titien Setiyo Rini, MT
Surabaya, Tanggal 6 November 2019

53