Anda di halaman 1dari 22

KONSTIPASI

KELOMPOK 6

1. ADE WIDYA NINGSIH


2.DESSY HERMAWATY
3.DWI FITRIYANI
4.M.FAJRI MUMTAZAH
5.MARINI RUSADI
Pengertian
Konstipasi adalah suatu penurunan defekasi yang
normal pada seseorang, disertai dengan kesulitan
keluarnya feses yang tidak lengkap atau keluarnya
feses yang sangat keras dan kering (Wilkinson, 2006).

Konstipasi adalah defekasi dengan frekuensi yang


sedikit, tinja tidak cukup jumlahnya, berbentuk keras
dan kering (Oenzil, 1995).

Konstipasi adalah kesulitan atau kelambatan pasase


feses yang menyangkut konsistensi tinja dan frekuensi
berhajat. Konstipasi dikatakan akut jika lamanya 1
sampai 4 minggu, sedangkan dikatakan kronik jika
lamanya lebih dari 1 bulan (Mansjoer, 2000).
Tipe Konstipasi
Penundaan pada muara
rektosigmoid menunjukkan adanya
Konstipasi Fungsional disfungsi anorektal

Kriteria :
Konstipasi fungsional disebabkan
a.Hambatan pada anus lebih dari
waktu perjalanan yang lambat dari
25% BAB
feses
b.Waktu untuk BAB lebih lama
c.Perlu bantuan jari-jari untuk
Kriteria :
mengeluarkan feses
Dua atau lebih dari keluhan ini ada
paling sedikit dalam 12 bulan:
a.Mengedan keras 25% dari BAB
b.Feses yang keras 25% dari BAB
c.Rasa tidak tuntas 25% dari BAB Konstipasi Penundaan
d.BAB kurang dari 2 kali per minggu
Etiologi
1. Kebiasaan defekasi yang tidak teratur dan mengabaikan keinginan untuk defekasi
dapat menyebabkan konstipasi.
2. Klien yang mengonsumsi diet rendah serat dalam bentuk hewani (misalnya daging,
produk-produk susu, telur) dan karbohidrat murni (makanan penutup yang berat)
sering mengalami masalah konstipasi, karena bergerak lebih lambat didalam saluran
cerna. Asupan cairan yang rendah juga memperlambat peristaltik.
3. Tirah baring yang panjang atau kurangnya olahraga yang teratur menyebabkan
konstipasi.
4. Pemakaian laksatif yag berat menyebabkan hilangnya reflex defekasi normal. Selain
itu, kolon bagian bawah yang dikosongkan dengan sempurna, memerlukan waktu
untuk diisi kembali oleh masa feses.
5. Obat penenang, opiat, antikolinergik, zat besi (zat besi mempunyai efek menciutkan
dan kerja yang lebih secara lokal pada mukosa usus untuk menyebabkan konstipasi.
Zat besi juga mempunyai efek mengiritasi dan dapat menyebabkan diare pada
sebagian orang), diuretik, antasid dalam kalsium atau aluminium, dan obat-obatan
antiparkinson dapat menyebabkan konstipasi.
6. Lansia mengalami perlambatan peristaltic, kehilangan elastisitas otot abdomen, dan
penurunan sekresi mukosa usus. Lansia sering mengonsumsi makanan rendah serat.
7. Konstipasi juga dapat disebabkan oleh kelainan saluran GI (gastrointestinal), seperti
obstruksi usus, ileus paralitik, dan divertikulitus.
8. Kondisi neurologis yang menghambat implus saraf ke kolon (misalnya cedera pada
medula spinalis, tumor) dapat menyebabkan konstipasi.
9. Penyakit-penyakit organik, seperti hipotirodisme, hipokalsemia, atau hypokalemia
dapat menyebabkan konstipasi.
10. Peningkatan stres psikologi
Patofisiologi

Diskesia Rektum

Dis-sinergis Pelvis

Peningkatan Tonus Rektum


Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik pada konstipasi sebagian besar tidak
mendapatkan kelainan yang jelas. Namun demikian
pemeriksaan fisik yang teliti dan menyeluruh diperlukan untuk
menemukan kelainan yang berpotensi mempengaruhi fungsi
usus besar.

Pemeriksaan dimulai pada rongga mulut meliputi gigi


geligi, adanya luka pada selaput lendir mulut dan tumor yang
dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan.

Daerah perut diperiksa apakah ada pembesaran perut,


peregangan atau tonjolan. Perabaan permukaan perut untuk
menilai kekuatan otot perut. Perabaan lebih dalam dapat
mengetahui massa tinja di usus besar, adanya tumor atau
pelebaran batang nadi. Pada pemeriksaan ketuk dicari
pengumpulan gas berlebihan, pembesaran organ, cairan dalam
rongga perut atau adanya massa tinja.
Pemeriksaan dengan stetoskop digunakan
untuk mendengarkan suara gerakan usus besar serta
mengetahui adanya sumbatan usus. Sedang
pemeriksaan dubur untuk mengetahui adanya wasir,
hernia, fissure (retakan) atau fistula (hubungan
abnormal pada saluran cerna), juga kemungkinan
tumor di dubur yang bisa mengganggu proses buang
air besar.

Colok dubur memberi informasi tentang


tegangan otot, dubur, adanya timbunan tinja, atau
adanya darah.

Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan


upaya mendeteksi faktor risiko konstipasi seperti gula
darah, kadar hormon tiroid, elektrolit, anemia akibat
keluarnya darah dari dubur.
Penatalaksanaan Pengobatan farmakologis

1. Memperbesar dan melunakkan


Pengobatan non-farmakologis massa feses, antara lain
: Cereal, Methyl selulose,
Psilium.
1. Latihan usus besar 2. Melunakkan dan melicinkan
2. Diet feses, obat ini bekerja dengan
3. Olahraga menurunkan tegangan
permukaan feses, sehingga
mempermudah penyerapan air.
Contohnya : minyak kastor,
4. Merangsang peristaltik, sehingga golongan dochusate.
meningkatkan motilitas usus besar. 3. Golongan osmotik yang tidak
Golongan ini yang banyak dipakai. diserap, sehingga cukup aman
Perlu diperhatikan bahwa pencahar untuk digunakan, misalnya
golongan ini bisa dipakai untuk jangka pada penderita gagal ginjal,
panjang, dapat merusak antara lain : sorbitol, laktulose,
pleksusmesenterikus dan berakibat gliserin
dismotilitas kolon. Contohnya
: Bisakodil, Fenolptalein.
Pencegahan
1. Jangan jajan di sembarang tempat.
2. Hindari makanan yang kandungan lemak dan gulanya
tinggi.
3. Minum air putih minimal 1,5 sampai 2 liter air (kira-
kira 8 gelas) sehari dan cairan lainnya setiap hari.
4. Olahraga, seperti jalan kaki (jogging) bisa dilakukan.
Minimal 10-15 menit untuk olahraga ringan, dan
minimal 2 jam untuk olahraga yang lebih berat.
5. Biasakan buang air besar secara teratur dan jangan
suka menahan buang air besar.
6. Konsumsi makanan yang mengandung serat
secukupnya, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
7. Tidur minimal 4 jam sehari.
Pengkajian
Klien datang ke RS dengan keluhan nyeri pada
perut, seminggu belum BABKlien mengatakakn
bahwa nyeri timbul pada perut selama seminggu.
Sejak saat itu klien tidak pernah menghabiskan
porsi makan sehari-harinya. Selain itu, klien
mengaku mudah lelah untuk melakukan aktivitas
sehari-hari.

Pasien harus ditanya tentang adanya tekanan


rektal atau rasa penuh, nyeri abdomen, mengejan
berlebihan saat defekasi, flatulens, atau diare
encer.
Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breath) : RR meningkat
b. B2 (Blood) : denyut jantung meningkat, TD meningkat
c. B3 (Brain) : nyeri pada abdomen bawah
d. B4 (Bladder) :-
e. B5 (Bowel) : nafsu makan turun, BB turun
f. B6 (Bone) :-

Hasil pemeriksaan fisik umum :


a. Keadaan umum : lemah
b. TTV : tekanan darah 130/95 mmHg, nadi :
90x/mnt, RR 23x/mnt

Pemeriksaan fisik abdomen


a. Inspeksi : pembesaran abdomen
b. Palpasi : perut terasa keras, ada impaksi feses
c. Perkusi : redup
d. Auskultasi : bising usus tidak terdengar
Analisa Data

Pengkajian objektif mencakup inspeksi feses


terhadap warna, bau, konsistensi, ukuran, bentuk,
dan komponen. Abdomen diauskultasi terhadap
adanya bising usus dan karakternya. Distensi
abdomen diperhatikan. Area peritonial diinspeksi
terhadap adanya hemoroid, fisura, dan iritasi kulit.
Diagnosa
a. Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi
tidak teratur.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan hilangnya nafsu makan.
c. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi
feses keras pada abdomen.
Intervensi dan Rasional
a. Diagnosa : Konstipasi berhubungan
dengan pola defekasi tidak teratur
Tujuan : pasien dapat defekasi dengan
teratur (setiap hari)
Kriteria hasil :
1)Defekasi dapat dilakukan satu kali sehari.
2)Konsistensi feses lembut
3)Eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan
Intervensi Rasional

1.Mandiri: a.Untuk mengembalikan keteraturan


a.Tentukan pola defekasi bagi klien pola defekasi klien
dan latih klien untuk menjalankannya
b.Atur waktu yang tepat untuk b.Untuk memfasilitasi refleks defekasi
defekasi klien seperti sesudah makan
c.Berikan cakupan nutrisi berserat c.Nutrisi serat tinggi untuk
sesuai dengan indikasi melancarkan eliminasi fekal
d.Berikan cairan jika tidak d.Untuk melunakkan eliminasi feses
kontraindikasi 2-3 liter per hari

2.Kolaborasi: Untuk melunakkan feses


Pemberian laksatif atau enema sesuai
indikasi
b. Diagnosa : Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan hilangnya
nafsu makan
Tujuan : menunjukkan status gizi baik
Kriteria Hasil :
1)Toleransi terhadap diet yang dibutuhkan
2)Mempertahankan massa tubuh dan berat badan
dalam batas normal
3)Nilai laboratorium dalam batas normal
4)Melaporkan keadekuatan tingkat energy
Intervensi Rasional

1.Mandiri: a.Menjaga pola makan pasien


a.Buat perencanaan makan dengan sehingga pasien makan secara teratur
pasien untuk dimasukkan ke dalam b.Pasien merasa nyaman dengan
jadwal makan. makanan yang dibawa dari rumah dan
b.Dukung anggota keluarga untuk dapat meningkatkan nafsu makan
membawa makanan kesukaan pasien pasien.
dari rumah. c.Dengan pemberian porsi yang besar
c. Tawarkan makanan porsi besar dapat menjaga keadekuatan nutrisi
disiang hari ketika nafsu makan tinggi yang masuk.
d.Pastikan diet memenuhi kebutuhan d.Tinggi karbohidrat, protein, dan
tubuh sesuai indikasi. kalori diperlukan atau dibutuhkan
e.Pastikan pola diet yang pasien yang selama perawatan.
disukai atau tidak disukai. e.Untuk mendukung peningkatan
f.Pantau masukan dan pengeluaran nafsu makan pasien
dan berat badan secara periodik. f. Mengetahui keseimbangan intake
g.Kaji turgor kulit pasien dan pengeluaran asuapan makanan.
g.Sebagai data penunjang adanya
perubahan nutrisi yang kurang dari
kebutuhan
Intervensi Rasional
2.Kolaborasi: 1)Untuk dapat mengetahui tingkat
a.Observasi: kekurangan kandungan Hb, albumin,
1) Pantau nilai laboratorium, seperti dan glukosa dalam darah.
Hb, albumin, dan kadar glukosa darah 2)Klien terbiasa makan dengan
terencana dan teratur.
2) Ajarkan metode untuk perencanaan
makan Menjaga keadekuatan asupan nutrisi
b.Health Edukasi yang dibutuhkan.
Ajarkan pasien dan keluarga tentang
makanan yang bergizi dan tidak mahal
c. Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan
akumulasi feses keras pada abdomen
Tujuan : menunjukkan nyeri telah berkurang
Kriteria Hasil :
1)Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang
efektif untuk mencapai kenyamanan
2)Mempertahankan tingkat nyeri pada skala kecil
3)Melaporkan kesehatan fisik dan psikologisi
4)Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan
untuk mencegah nyeri
5)Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan
analgesik dan non-analgesik secara tepat.
Intervensi Rasional
1.Mandiri: aKlien dapat mengalihkan perhatian
a.Bantu pasien untuk lebih berfokus dari nyeri
pada aktivitas dari nyeri dengan b.Hati-hati dalam pemberian anlgesik
melakukan penggalihan melalui opiate
televisi atau radio. c.Hati-hati dalam pemberian obat-
b.Perhatikan bahwa lansia mengalami obatan pada lansia
peningkatan sensitifitas terhadap efek
analgesik opiat
c.Perhatikan kemungkinan interaksi
obat – obat dan obat penyakit pada
lansia
Intervensi Rasional
2.Kolaborasi a.Observasi
a.Observasi 1)Mengetahui tingkat nyeri yang
1)Minta pasien untuk menilai nyeri dirasakan klien
atau ketidak nyaman pada skala 0 – 2)Mengetahui karakteristik nyeri
10 3)Agar mngetahui nyeri secara spesifik
2)Gunakan lembar alur nyeri
3)Lakukan pengkajian nyeri yang b.Health Education
komperhensif 1) Perawat dapat melakukan tindakan
b. Health education yang tepat dalam mengatasi nyeri klie
1)Instruksikan pasien untuk 2)Agar pasien tidak merasa cemas
meminformasikan pada perawat jika
pengurang nyeri kurang tercapai
2) Berikan informasi tetang nyeri
Thank
You...

Anda mungkin juga menyukai