Anda di halaman 1dari 11

BIO REKAYASA

Oleh : kelompok 2
Christian Javieri (4191111061)

Fitrah Wahyuni (4191111003)

Santi Karla (4191111004)


Siti Marwa (4191111007)
Pengertian Rekayasa Hayati

Rekayasa hayati (Bio-engineering) merupakan


interdisiplin ilmu biologi (Bio-sciences) dan teknik
Want
(engineering) yangbig impact? dalam
diaplikasikan
perekayasaanUseberbasis biosistem untuk
big image.
meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat
biosistem untuk bioindustri (Bio-industry).

Orang yang ahli dalam bidang rekayasa hayati


disebut dengan Bio-engineers.

2
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK) yang pesat selama beberapa dekade
terakhir ini, dalam bidang pertanian, kesehatan,
industri obat-obatan, makanan-pakan,
menuntut pengembangan tahap hilir untuk
meningkatkan efisiensi dan produktivitas agen
hayati dalam skala industri.

Bio-engineering sangat dibutuhkan untuk perancangan sistem dan produksi massal dari
biomaterial dan bioproduk, seperti misalnya enzim, therapeutic proteins, senyawa bioaktif,
bioenergi, biomembran ataupun biodegradable plastics.

Untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan


penguasaan ilmu teknik yang terkait terutama
dalam perancangan sistem produksi massal,
perhitungan struktur,mekanisasi, labor /SDM dan
teknologi proses hilir. Karena itu, diperlukan daya
dukung dari rekayasa hayati (Bio-engineering)
yang melakukan perekayasaan berbasis sistem
hayati.
Sejarah Rekayasa Hayati ( Bio-engineering)

Berdasarkan definisi diatas, sejarah Bio-


engineering dimulai sebelum perang Dunia II.
Bio-engineering baru saja mulai diakui sebagai
cabang teknik dan merupakan konsep yang
sangat baru bagi masyarakat pada saat itu.

Pasca Perang Dunia II, cabang ilmu ini mulai tumbuh cepat,
sebagian karena istilah "Bioteknologi" yang diciptakan oleh
ilmuan Inggris dan penyiar radio Heinz Wolff pada tahun 1954
di British National Institude for Medical Research. Wolf lulus
pada tahun yang sama yang menjadi direktur Divisi Biological
Engineering di universitas tersebut. Iji adalah pertama kalinya
Bio-engineering diakui sebagai cabang ilmu sendiri di universitas.
Istilah rekayasa hayati (Bio-engineering) juga dapat diterapkan
untuk modifikasi lingkungan seperti perlindungan tanah permukaan,
stabilisasi lereng, aliran air dan perlindungan garis pantai, penahan
angin, hambatan vegetasi termasuk penghalang kebisingan dan
layar visual, dan peningkatan ekologis suatu daerah. Karena disiplin
ilmu lain juga menangani organisme hidup, istilah rekayasa
biologinyang dapat diterapkan secara lebih luasbuntuk memasukkan
teknik pertanian.

Program studi rekayasa hayati (Bio-engineering) pertama kali dibuat


di University of California, San Diego paada tahun 1966 dan menjadi
kurikulum rekayasa hayati (Bio-engineering) pertama di Amerika
Serikat. Baru kemudian menyusul program ini diluncurkan di MIT
dan Utah State University.
Banyak jurusan teknik pertanian lama di Universitas-Universitas
di dunia yang telah mengubah diri mereka sebagai menjadi rekayasa
pertanian dan biologi atau rekayasa pertanian dan biologi atau
rekayasa pertanian dan biosistem,
Rekayasa Hayati (Bio-engineering) dan revolusi industri 4.0
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah
mengubah dunia sebagaimana tevolusi generasi pertama telah
mengukir sejarah ketika tenaga biologis manusia dan hewab
digantikan tenaga mekanis. Salah satunya ditemukannya mesin
uap abad ke-18. Revolusi ini dicatat sejarah berhasil mendongkrak
kenaikan perekonomian secara spektakuler.

Selama dua abad setelah revolusi industri terjadi,


peningkatan rata-rata enam kali lipat pendapatan per
kapita negara-negara di dunia. Sedangkan revolusi industri
generasi kempat (4.0) ini ditandai hadirnya teknologi super
kompute, robot pintar, kendaraaan tanpa pengemudi,
tekayas genetik dan perkembangab neoroteknologi yang
memungkinkan manusia lebih mengoptimalkan fungsi
otaknya.
Kemajuan teknologi di bidang biologi tersebut, mempengaruhi cara
pandang ilmuan terhadap biologi. Perkembangan bioteknologi dan
Bio-engineering mendorong ilmuan melihat proses biologi secara
lebih rinci sebagai proses sistem hayati yang kompleks yang
menjalar di seluruh dunia. Perubahan cara pandang ini
mengakibatkan terjadinya pula proses pergeseran bidang ilmu yang
dipelajari di lingkup biologi.

Dimana, ilmu Teknik Pertanian atau Agricultural Engineering


dianggap berjasa melahirkan keberhasilan dalam pelaksanaan
rekayasa engineering, yang bergeser ke arah teknik sistem hayati
(Biosystem Engineering). Di bidang Teknik Sistem Hayati, proses
perekayasaan masuk skala lebih kecil dan kompleks, sesuai
kompleksitas sistem hayati dan habitat hidupnya.
Perkembangan teknologi bidang biologi ini
sangat tergantung pada perkembangan tiga
teknologi yaitu:
1. Teknologi informasi
2. Teknologi hayati
3. Teknologi nano

Perubahan yang nampak tersebut menunjukkan bahwa


sudah terjadi peralihan paradigma biologi di kalangan
profesional ke level teknologi bidang sistem hayati dengan
cakupan material benda hidup dan lingkungan.
Perubahan paradigma ini menuntut konsekuensi
pengembangan teknologi bersifatcmikro/nano untuk
menghasilkan pengetahuan teknis dan produk teknologi
mampu mengoptimalkan kinerja sistem industri berbasis
biologi, sekaligus menekan risiko kerusakan lingkungan
yang dapat mengancam keberlanjutan sistem bioindustri
pertanian.
Peranan Rekayasa Hayati (Bio-engineering) bagi keanekaragaman hayati
Indonesia
Rekayasa hayati memang sangat penting jika dikaitkan dengan kekayaan
hayati di negeri ini. Indonesia merupakan negara nomor dua terbesar didunia
setelah Brasil yang memiliki keanekaragaman hayati. Bukan itu saja, secara
spesifik dua negara berkembang ini saling bersaing dalam menunjukkan
kekayaan hayati yang dimilikinya, Brasil mempunyai jumlah keanekaragaman
mamalia terbesar di dunia. Bedanya, Brasil adalah negara yang mempunyai
daratan yang sangat luas yaitu hutan Amazonia.
Sedangkan Indonesia mempunyai jumlah pulau dan laut yang luas. Indonesia
merupakan negara, memang telah lama memperhitungkan pengembangan
potensi bioteknologi. Sedangkan beberapa negara dengan kawasan yang
kecil, seperti Israel, Jepang, Thailand dan Singapura sudah sangat jauh lebih
dahuku mengembangkan bidang ini. Saat ini di Singapura, misalnya, telah
memiliki pusat pengembangan rekayasa hayati yang dinamai Biopolis yaitu
untuk mengembangkan obat-obatan, sedangkan di Malaysia didirikan Bio
Valley yang berfokus pada pengembangan minyak sawit dan karet.

Selain itu, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman,


Australia, telah lama mengadakan riset terpadu di bidang bioteknologi,
bahkan mereka telah menjual produk-produk baru dengan hak paten dari
hasik biotek dan rekayasa genetika seperti antibiotik, obat-obatan, bahan
nnkosmetik bahkan bahan makanan serta tanaman transgenik
Terimakasih untuk
perhatiannya
Semoga hasil pembahasan
kami mampu menambah
wawasan kita semua

11