Anda di halaman 1dari 38

Process Costing

Oleh : Karina Odia Julialevi, SE., M.Si., Ak., CA


Sistem Biaya Proses - Konsep

A. Sistem Biaya Proses


Sistem biaya proses dapat didefinisi sebagai sistem akumulasi
biaya produksi berdasarkan departemen atau pusat biaya.
Sistem biaya ini efektif digunakan untuk perusahaan yang
proses produksinya berjalan secara kontinus atau
berkelanjutan, dan jenis produk yang dihasilkan sejenis atau
seragam.
Produk diproses secara berkelanjutan mengalir dari satu
departemen produksi ke departemen produksi berikutnya.
Setelah proses produksi selesai, pekerja akan mentransfer
produk jadi ke gudang penyimpanan produk jadi atau barang
jadi karena produk tersebut tidak diproduksi atas pesanan
pelanggan tertentu.
Semua unit produk di lini produksi yang sama akan memiliki
tingkat penyelesaian dan biaya produksi yang identik.
B. Tujuan Sistem Biaya Proses

 Sistem biaya proses bertujuan untuk menentukan atau


menghitung biya per unit produk yang dihasilkan dan
membebankan biaya produksi pada produk dalam proses di akhir
periode.
 Alokasi biaya dalam departemen hanya merupakan tahap antara;
tujuan utama adalah menghitung biaya unit total untuk
penentuan penghasilan (income).
 Selama perioda tertentu, sejumlah unit produk akan mulai
diproduksi akan tetapi tidak selesai pada akhir perioda tersebut.
 Sebagai akibat, setiap departemen harus menentukan seberapa
besar biaya total yang terjadi di departement tersebut harus
dibebankan pada unit produk yang masih dalam proses dan
seberapa besar yang harus dibebankan pada produk jadi.
 Sebagai contoh, asumsikan selama bulan Juli terdapat 3.000 unit
yang mulai diproses produksi di Departemen A. Selama bulan Juli
tersebut biaya yang terjadi adalah sebagai berikut: bahan baku
Rp4.000.000; tenaga kerja langsung Rp1.450.000; dan overhead
pabrik Rp740.000. Pada akhir bulan, 2.200 unit selesai diproses
dan ditransfer ke Departemen B.
C. Karakteristik Sistem Biaya
Proses
1. Biaya diakumulasi berdasarkan departemen atau pusat biaya
2. Setiap departemen di pabrik memiliki akun Produk Dalam Proses
3. Unit ekuivalen digunakan untuk menyatakan Produk Dalam Proses
dalam pengertian produk jadi pada akhir periode
4. Biaya per unit ditentukan oleh departemen atau pusat biaya setiap
periode
5. Unit yang selesai diproses di departemen tertentu akan ditransfer ke
departemen tahap pemrosesan berikutnya disertai dengan biaya
yang melekat pada unit produk tersebut
6. Biaya total dan biaya unit untuk setiap departemen secara periodik
dijumlahkan, dianalisis, dan dihitung dengan tujuan pemuatan
laporan biaya produksi setiap departemen
Karakteristik Usaha yang
Berproduksi Secara Massa
 Produk yang dihasilkan merupakan produk standar.
 Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.
 Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya
perintah produksi yang berisi rencana produksi produk
standar untuk jangka waktu tertentu.
Karakteristik Metode Harga
Pokok Proses

 Pengumpulan biaya produksi per departemen produksi per


periode akuntansi.
 Perhitungan HPP per satuan dengan cara membagi total
biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu
dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama
periode yang bersangkutan.
 Penggolongan biaya produksi langsung dan tak langsung
seringkali tidak diperlukan.
 Elemen yang digolongkan dalam BOP terdiri dari biaya
produksi selain biaya bahan baku dan biaya bahan penolong
dan biaya tenaga kerja (baik yang langsung maupun tidak
langsung). BOP dibebankan berdasarkan biaya yang
sesungguhnya terjadi.
D. Aliran Produk Dalam Sistem
Biaya Proses

1.Aliran produk sekuensial


2.Aliran produk paralel
3.Aliran produk selektif
 Sebagaimana telah dijelaskan dalam bahasan
sebelumnya, dalam sistem biaya proses, unit produk
(secara fisik) dan biaya yang melekat pada unit tersebut
akan mengalir dari satu departemen ke departemen
lain.
 Aliran ini tidak selalu berjalan secara sekuensial dalam
pengertian dari Departemen 1 kemudian mengalir ke
Departmen 2 dan seterusnya sampai dengan departemen
terakhir.
Aliran Produk Sekuensial
Dalam bentuk ini bahan baku dimasukkan ke departemen
pertama dan setelah selesai diproses di departemen
tersebut maka produk dan biaya produksi akan mengalir ke
departemen berikutnya secara sekuensial atau urut.
Di masing – masing departemen mungkin saja terdapat
tambahan bahan baku maupun tidak.
Aliran Produk Paralel

 Bahan baku awal diproses di lebih dari satu departemen.


 Setelah selesai maka produk selesai dari tiap
departemen digabungkan menjadi satu di departemen
berikutnya.
Aliran Produk Selektif

 Pada bentuk aliran ini, dari bahan baku yang sama yang
diproses di satu departemen akan menghasilkan
beberapa jenis produk yang selanjutnya akan diproses di
departemen yang berbeda-beda.
E. Perbedaan Sistem Biaya Proses
(Process Costing) dengan Sistem Biaya
Pekerjaan – Order (Job Order Costing)
Pada sub-kegiatan belajar di atas kita telah mendiskusikan mengenai
sistem biaya proses, aliran biaya dalam sistem ini, serta karakteristik
yang dimilikinya. secara ringkas dapat dikatakan bahwa sistem biaya
proses adalah sistem biaya yang mengakumulasi biaya produksi
berdasarkan departemen dan proses produksi berjalan secara kontinue
tanpa harus menunggu adanya order dari pelanggan.
Item perbedaan :
1. Tujuan
2. Fasilitas produksi
3. Variasi produk
4. Akumulasi biaya
5. Perhitungan biaya per – unit
6. Dokumen pencatatan
Item Sistem Biaya Pekerjaan Sistem Biaya Proses
Perbedaan - Order
Tujuan Penentuan biaya produksi Penentuan biaya produksi
setiap pekerjaan – order per unit dan biaya yang
harus dibebankan/diasignasi
(assigned) ke produk dalam
proses pada akhir perioda

Fasilitas Produksi Fleksibel Permanen


Variasi Produk Variasi produk tinggi atau Variasi produk rendah atau
heterogen homogen
Akumulasi Biaya Biaya diakumulasi Biaya diakumulasi
berdasarkan pekerjaan - order berdasarkan tahap proses
produksi atau departemen

Perhitungan Biaya Biaya per unit dihitung dengan Biaya per unit dihitung
Per Unit membagi biaya pekerjaan dengan membagi biaya
dengan jumlah unit yang proses perioda tertentu
dihasilkan dari pekerjaan dengan jumlah unit yang
tersebut dihasilkan di perioda
tersebut
Dokumen Kartu biaya pekerjaan Akun produk dalam proses
Pencatatan
F. Unit Ekuivalen
Perhitungan biaya unit untuk proses produksi yang dilakukan
selama perioda tertentu merupakan tahap penting dalam
pembuatan laporan biaya produksi.
Biaya unit dibutuhkan untuk menghitung biaya produksi yang
ditransfer ke departemen lain dan menentukan nilai produk
dalam proses.
Jika tidak terdapat produk dalam proses pada akhir periode
maka perhitungan biaya unit dalam sistem biaya proses
merupakan hal yang sederhana: hanya membagi biaya total
yang terjadi selama periode tersebut dengan jumlah unit yang
diproduksi.
Akan tetapi, setiap departemen umumnya memiliki produk
dalam proses pada akhir perioda.
Perhitungan produk dalam proses yang masih ada pada akhir
periode merupakan masalah penting dan sulit dalam sistem
biaya produksi.
Rumus Unit Ekuivalen
Akuntansi Sistem Biaya
Produksi dan Laporan
Biaya Produksi – Tanpa
PDP Awal dan
Penambahan Bahan Baku
A. Akuntansi Sistem Biaya
Produksi

Akuntansi sistem biaya produksi terkait dengan


pembebanan biaya produksi (bahan baku, TKL, dan
Overhead pabrik) pada akun Produk dalam Proses
departemen yang tepat.
B. Penjurnalan Elemen –
Elemen Biaya Produksi
A. Bahan Baku
B. Tenaga Kerja Langsung
C. Overhead Pabrik
C. Laporan Biaya Produksi

Laporan biaya produksi berisi informasi sebagai berikut :


1. Jumlah unit produk dalam proses awal
2. Jumlah unit selesai dan ditransfer ke departemen
berikutnya atau ke gudang produk jadi
3. Jumlah unit produk dalam proses akhir beserta
estimasi tingkat penyesaiaannya
D. Laporan Biaya Produksi
Satu Departemen
Langkah 1 : Kuantitas
Langkah 2 : Unit ekuivalen
Langkah 3 : Biaya dipertanggungjawabkan
Langkah 4 : Biaya pertanggungjawaban
E. Laporan Biaya Produksi Dua
Departemen

Jurnal yang dibuat departemen A :


1. Mencatat penggunaan bahan baku
2. Mencatat penggunakan TKL
3. Mencatat penggunaan overhead pabrik
4. Mencatat transfer ke Departemen B
Jurnal yang dibuat departemen B :
1. Mencatat penggunaan TKL
2. Mencatat penggunaan overhead pabrik
3. Mencatat transfer ke produk jadi
Laporan Biaya Produksi –
Penambahan Bahan Baku
Setelah Departemen Pertama
Bahan baku yang ditambahkan setelah departemen
pertama dapat memiliki pengaruh :
1. Tidak ada penambahan jumlah unit yang diproduksi,
tetapi terdapat penambahan biaya produksi.
2. Peningkatan jumlah unit yang diproduksi, tetapi tidak
ada penambahan biaya produksi.
3. Peningkatan jumlah unit yang diproduksi disertai
dengan penambahan biaya produksi
Modifikasi pada prosedur penyusunan laporan biaya
produksi :
Langkah 1 : Kuantitas
Langkah 2 : Unit ekuivalen
Langkah 3 : Biaya dipertanggungjawabkan
Langkah 4 : Biaya pertanggungjawaban
Laporan Biaya Produksi -
Produk Dalam Proses Awal
Kontinuitas proses produksi akan menyebabkan departemen memiliki
unit – unit dengan beragam tingkat penyelesaian, yaitu :
1. Unit masuk ke proses dan selesai selama periode waktu sekarang
2. Unit telah diproses di periode sebelumnya dan selesai pada
periode waktu sekarang
3. Unit masuk ke proses dan belum selesai pada periode waktu
sekarang
Persediaan Produk Dalam
Proses Awal

 Dalam suatu departemen produksi, produk yang belum


selesai diproses pada akhir periode akan menjadi
persediaan produk dalam proses pada awal periode
berikutnya.
 Produk dalam proses awal periode ini akan membawa harga
pokok persatuan yang berasal dari periode sebelumnya,
yang kemungkinan akan berbeda dengan harga pokok per
satuan yang dikeluarkan oleh departemen produksi yang
bersangkutan dalam periode sekarang.
 Dengan demikian jika dalam periode sekarang dihasilkan
produk selesai yang ditransfer ke gudang atau ke
departemen berikutnya , harga pokok yang melekat pada
persediaan produk dalam proses awal akan menimbulkan
masalah dalam penentuan harga pokok produk selesai
tersebut.
Metode yang digunakan :
1. Metode rata – rata tertimbang
2. Metode masuk pertama keluar pertama
Perbedaan utama adalah pemisahan antara produk dalam
proses awal dengan produk yang diproses di periode
sekarang, Metode Rata – rata tertimbang tidak dilakukan
pemisahan, sedangkan metode MPKP dilakukan
pemisahaan.
Metode Rata – Rata
Tertimbang

 Dalam metode ini, jumlah harga pokok produk dalam


proses awal ditambahkan dengan biaya produksiyang
dikeluarkan periode sekarang dibagi dengan unit
ekuivalensi produk untuk menghasilkan harga pokok
rata-rata tertimbang.
 Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen
setelah departemen pertama merupakan harga pokok
kumulatif,yaitu merupakan penjumlahan harga pokok
dari departemen satu ditambahkan dengan depar temen
berikutnya yang bersangkutan.
Metode Masuk Pertama Keluar
Pertama

 Dalam metode ini, menganggap biaya produksi periode


sekarang pertama kali digunakan untuk menyelesaikan
produk yang pada awal periode masih dalam proses, baru
kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang
dimasukkan dalam proses periode sekarang.
 Oleh karena itu dalam perhitungan unit ekuivalensi tingkat
penyelesaian persediaan produk dalam proses awal harus
diperhitungkan.
 Dalam departemen setelah departemen I, produk telah
membawa harga pokok dari periodesebelumnya digunakan
pertama kali untuk menentukan harga pokok produk yang
ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.
Tambahan Bahan Baku Setelah
Departemen Produksi 1
Tambahan bahan baku ini mempunyai 2 kemungkinan :
 Tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan
Tambahan ini tidak terpengaruh terhadap perhitungan
unit ekuivalensi produk yang dihasilkan, sehingga tidak
mempengaruhi perhitungan HPP per satuan yang diterima
dari departemen produksi sebelumnya.
 Menambah jumlah produk yang dihasilkan
Hal ini akan berakibat diadakannya penyesuaian HPP
per satuan yang diterima dari departemen produksi
sebelumnya.
Perlakuan Atas Penyusutan, Produk
Cacat, Produk Rusak, Bahan Sisa, dan
Bahan Sisa Buangan
A. Penyusutan Produk Dalam Proses
Perlakuan akuntansi atas penyusutan produk dalam proses
ini dapat dibedakan menjadi dua,yaitu penyusutan
tersebut adalah normal maka biaya penyusutan ini akan
tetap di bebankan pada produk dalam proses dan jika
penyusutan ini dikategorikan abnormal maka akan
dibebankan pada rugi dari penyusutan produk dalam
proses yang merupakan bagian dari biaya periode bukan
biaya produksi.
B.Produk Rusak,Produk Cacat,Bahan Sisa dan Bahan Sisa
Buangan.
1. Produk Rusak
2. Produk Cacat
3. Bahan Sisa
4. Bahan Sisa Buangan
C.Akuntansi Produk Rusak
Departemen Pertama
Penanganan produk rusak di departemen pertama dapat
menggunakan salah satu metode berikut :
1. Teori pengabaian
2. Produk rusak sebagai bagian terpisah elemen biaya
produksi
Departemen Kedua
Metode yang dapat digunakanuntuk menangani produk
rusak di departemen setelah departemen pertama adalah
sebagai berikut :
1.Teori pengabaian
2.Produk rusak sebagai bagian terpisah elemen biaya
produksi
D.Akuntansi Prooduk Cacat
Perbedaan antara produk rusak dan produk cacat adalah pada
produk cacat masih mungkin dilakukan perbaikan pada produk
tersebut sehingga masih ada harapan produk tersebut akan menjadi
produk normal.
Terdiri dari :
1.Produk cacat normal
2.Produk cacat abnormal
E.Akuntansi Bahan Sisa
Bahan sisa merupakan bahan yang digunakan dalam
produksi yang tidak dapat digunakan lagi untuk tujuan
semula,tetapi mmasih dapat digunakan untuk tujuan lain
atau dijual ke pihak lain.
Bahan sisa dapat ditangani dengan dua metode berikut:
1.Jika bahan sisa dipertimbangkan ketika penetapan tarif
overhead pabrik dibebankan,penjualan bahan sisa akan
mengurangi akun overhead pabrik kendali.
2.Jika bahan sisa tidak dipertimbangkan dalam penetapan
tarif overhead pabrik dibebankan maka hasil penjualan
akan dikredit pada akun produk dalam proses
departemen bersangkutan.
F. Akuntansi Bahan Sisa Buangan
Bahan sisa buangan adalah bahan sisa yang berasal dari
proses produksi dan tidak dapat digunakan lagi maupun
dijual.
Pada umumnya,biaya yang dikeluarkan untuk membuang
bahan sisa buangan akan dibebankan pada akun overhead
pabrik.