Anda di halaman 1dari 86

Teknologi dan Formulasi

Sediaan Farmasi

Bentuk sediaan obat adalah sediaan yang mengandung satu

atau lebih zat berkhasiat, umumnya dimasukkan dalam satu

pembawa yang diperlukan untuk formulasi, hingga didapat

suatu produk yang siap untuk diminum/dipakai oleh penderita

dengan aman.
Berdasarkan Konsistensi
I. Bentuk sediaan obat padat

Contoh : Serbuk = pulvis

Serbuk bagi = pulveres

Tablet = tabulae

Kapsul = capsulae
II. Bentuk sediaan obat setengah padat
Contoh : Salep = unguentum
Krim = cremor
Pasta = pastae
III. Bentuk sediaan obat cair
Contoh : Larutan = solutio
Suspensi = suspensio
Emulsi = emulsum
Bentuk Sediaan Padat

Kapsul = Capsulae
Kapsul adalah bentuk sediaan padat obat atau campuran obat yang terbungkus dengan
cangkang kapsul yang umumnya terbuat dari gelatin, metil selulosa atau bahan lain
yang cocok.

Keuntungan bentuk kapsul :


• Menutupi rasa dan bau obat yang kurang enak
• Mudah digunakan
• Menarik dlm penampilan
• Dapat diisi baik sebagai racikan atau industri
• Dapat diisi obat tunggal atau majemuk (polifarmasi)
• Lebih lemas sehingga lebih mudah ditelan dibandingkan
dengan tablet.
• Lebih ekonomis
• Mudah dalam penanganan dan mudah dibawa-bawa
Macam-macam kapsul :

1. Kapsul keras (hard capsule)


- Biasanya dapat diisi dengan bahan obat padat
- Cangkang kapsul ini menutupi rasa dan bau obat yang kurang enak.
- Kapsul lebih lemas daripada tablet
- Menurut besarnya kapsul diberi nomor urut dari besar ke kecil
--> 000 (1040 mg) ,
00 (650 mg),
0 (520 mg)
1 (325 mg),
2 (260 mg)
3 (195 mg)

000 00 0 1 2 3
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengisian kapsul, yaitu adanya bahan yang
dapat merusak cangkang kapsul :
1. Bahan yang bersifat higroskopis
Penanggulangan : gerus terlebih dahulu dalam mortir hangat
2. Tingtur atau ekstrak tanaman
Penanggulangan : uapkan di waterbath hingga 1/3 nya keringkan dengan laktosa
3. Phenol-phenol dan sediaan fenol dengan kadar >40% ( misal : kreosot, Ictyol)
Penanggulangannya : dibuat masa pil dengan penambahan amilum atau
diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak seperti oleum sesami
(minyak wijen) hingga kadarnya kurang dari 40%
2. Kapsul Lunak (Soft Capsules
• Umumnya berisi cairan, suspensi, minyak, atau larutan obat dalam minyak,
misal Vit A,D,E,K.
• Terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran seperti sferis (bulat), silinder
atau tabung
• Biasanya berisi 0,1 mL – 30 mL
Tablet

Tablet :
sediaan padat yang kompak, dibuat secara
kempa atau cetak berbentuk pipih dengan kedua
permukaan rata atau cembung dan
mengandung satu atau beberapa macam obat
dengan atau tanpa zat tambahan.
Tablet digunakan bisa untuk tujuan sistemik atau lokal
A. Tablet untuk obat luar :
 Tablet untuk dilarutkan dalam volume air tertentu
 Tablet untuk disisipkan melalui vagina
 Tablet Hipodermik --> dilarutkan dalam Aqua proinjection, tujuannya
sistemik
 Tablet Implantasi, steril dimasukkan ke dalam kulit
 Tablet bukal : disisip antara pipi dan gusi : bisa untuk pengobatan hormonal , co
sandopart tablet (oksitosin)
 Tablet sublingual : digunakan dengan memasukkan di bawah lidah, spt tablet
untuk sakit jantung, co : cedocard (isosorbid dinitrat)
B. Tablet untuk obat dalam :
Untuk efek sistemik : selain yang biasa ditelan, masuk ke sal cerna dapat
berupa :
 Tablet Effervescent --> dalam air akan membebaskan CO2 reaksi
 dari bicarbonat dengan asam citrat atau tatrat
 Dragee = tablet bersalut gula
 Tablet bersalut enterik
 Tablet sustained release
 Tablet multilayer
 Tablet lozenges, trochisi untuk efek lokal dimulut dan tenggorokan
Keuntungan :
• Praktis dan efisien, terutama untuk orang
dewasa
• Stabil dalam penyimpanan, penyaluran dan
pemakaian
• Dosis lebih tepat dan dapat dibuat
bervariasi
• Padat/kompak
• Pelepasan dapat diatur
Kelemahan :
• Rasa dan bau kurang enak tidak tertutupi,
co : kloramfenikol  dibuat kapsul
• Tidak dapat untuk anak-anak
EKSIPIEN FORMULASI TABLET
• Komposisi tablet umumnya terdiri dari bahan aktif
dan eksipien. Eksipien ditambahkan dengan
berbagai fungsi dan tujuan spesifik sebagai :
1. Pengisi
2. Pengikat
3. Penghancur (desintegran)
4. Pelincir (lubrikan)
5. Anti lengket (anti adhesive)
6. Pelicin (glidan)
7. Adjuvan (zat warna, flavors, penutup rasa,dsb)
Zat pengisi
 Untuk obat dengan dosis kecil, untuk dapat dicetak menjadi tablet
dengan ukuran sesuai perlu ditambah pengisi
 Bahan pengisi misalnya : laktosa, sukrosa, manitol, kaolin, amprotab dll
 Laktosa dapat mempertingi sifat hidrofil tablet dan dapat menyerap
ekstrak-ekstrak cair.
 Untuk pengisi tablet kunyah : gula/sukrosa
Zat Pengikat
 Ditambahkan untuk membentuk serbuk-serbuk dalam tablet
dapat membentuk masa yang kompak dan padat
 Bahan pengikat misalnya : mucilago pati 5-17%, sirup gula 50-
85%, larutan gelatin 5-20%, larutan glukosa 25-50%, larutan
tilosa 4000cps 4%
Zat Penghancur
• Ditambahkan untuk mempercepat waktu hancur tablet di
saluran cerna
• Mekanismenya dengan mengembang oleh cairan saluran cerna
sehingga tablet pecah, atau sebagai jalan masuknya cairan
saluran cerna ke dalam matrik tablet sehingga daya ikat
berkurang, dan tablet pecah atau adanya reaksi kimia antara
NaHCO3 dan asam sitrat atau asam tartrat CO2
• Desintegran yang sering digunakan adalah patikering dan
derivat selulosa, cmc, avisel, asam alginat, agar, pektin, bentonit
Zat Pelincir
Ditambahkan pada granulat tablet agar :
- granul dapat mengalir dengan baik ( lubrikan)
- mengurangi lengketnya campuran pada cetakan (anti adherent)
- mengurangi gesekan dengan dinding cetakan sehingga tablet
mudah dikeluarkan dari cetakan (glidant)
Biasa digunakan talc, Mg-stearat, dan asam stearat.
ZAT WARNA
• Ditambahkan untuk:
- membedakan kadar zat berkhasiat dari tablet yang mengandung zat
berkhasiat yang sama, co : CTM tabletnya selalu warna kuning, prednison 
hijau
- penampilannya menarik
• Cara penambahan :
- melarutkan dengan zat pengikat
- disemprotkan pada granul
Zat Pengaroma
• Ditambahkan untuk menutupi bau tidak enak
• Bisa diberikan untuk tablet hisap, tablet kunyah, efferfecen,
• Biasanya dilarutkan dalam pelarut organik seperti etanol dan disemprotkan
pada granul sebelum dicetak
• Contoh : minyak atsiri dan zat yang memberi rasa enak seperi vanili, minyak
permen
Metode Umum Pembuatan Tablet
• Berdasarkan Prinsip pembuatannya, dapat
dibedakan 3 metode pembuatan tablet, yaitu :
granulasi basah (wet granulation), granulasi
kering (dry granulation & Kempa langsung
(direct compress)
Metode Pembuatan Tablet
Kempa langsung
(laju alir baik)

Granulasi basah
(dosis besar, laju alir buruk,
tidak tahan panas dan lembab)

Granulasi kering (slugging)


(dosis besar, laju alir buruk,
tahan panas dan lembab)
Proses Granulasi
• Alasan serbuk obat digranulasi adalah :
1. Tidak punya daya ikat
2. Tidak punya daya alir
• Granulasi adalah suatu proses peningkatan
ukuran partikel obat agar dapat terikat
bersama membentuk agregat yang
permanen yang mempunyai daya alir seperti
pasir
Tujuan Proses Granulasi
1. Meningkatkan daya alir (serbuk telah
digumpalkan dan struktur partikel telah
dimodifikasi)
2. Menjaga homogenitas campuran massa
cetak selama kompresi agar dosis zat aktif
tablet sama.
3. Menjamin agar aliran campuran dalam
lubang cetak selalu seragam & konstan,
LarutanPengikat
Bahan Aktif dan Fasa
dalam

Mesh
6-12
Pencampuran
Penggumpalan Pelet
Fase Luar

Mesh
14-20
Pencampuran

Granul kering Pengeringan


Bahan Aktif dan Fasa
dalam

Pencampuran
Slugging Granul
ating
Fase Luar

Mesh
14-20
Granul kering
Pencampuran
Eksipien untuk Granulasi Basah
1. Pengisi : Larut air & tidak larut air
Tidak larut air : kalsium fosfat dihidrat,
dikalsium fosfat dibasic, trikalsium fosfat,
pati, kalsium karbonat, selulosa mikrokristal,
pati yang dimodifikasi.
Larut air : laktosa, sukrosa, dekstrosa,
manitol, sorbitol.
2. Pengikat : gelatin 10%, glukosa 50%, metil selulosa
2%, sorbitol 10% dalam air, gom arab 10%,
musilago amili 10%, PVP 10% dalam alkohol, PVP
1% dalam air.
3. Lubrikan : Mg stearat 0,5-2%, asam stearat 1-3%,
Na-benzoat 2-5%, Ca- stearat 0,5-2%, Zn stearat
0,5-2%, PEG 4000 & PEG 6000 2-5%, Talk 5-10%, Na
lauril sulfat 1-3%.
4. Desintegran : amilum 5-20%, starch 1500 5-
15%, asam alginat 5-10%, metil selulosa 5-
10%, avicel pH 101, pH 102 5-10%, explotab
2-8%. Penghancur super (super disintegrant):
Primojel, Crosscarmelosse
5. Glidan : pati 1-10%, talk 1-5%, Mg-stearat 0,2-
2%.
Mesin Kempa Tablet
Evaluasi Sediaan Tablet
• Tingkat Granul : Distribusi ukuran partikel,
bobot jenis sejati (true density), bobot
nyata(ruah, curah, longgar), bobot mampat,
kompresibilitas, indeks Carr, Bilangan
Haussner, Laju alir, kelembaban
• Tingkat Tablet : Keregasan (friabilitas) tablet,
kekerasan (hardness) tablet, waktu hancur
(disintegration), keseragaman ukuran,
keseragaman bobot, keseragaman sediaan
Tingkat Granul : A.Granulometri
A. GRANULOMETRI
• Adalah analisis ukuran &
distribusi ukuran granul.
• Pengayak dari berbagai
ukuran disusun bertingkat
satu sama lain, paling halus di
bawah.
• Susunan pengayak
ditempatkan di atas mesin
Vibrator.
UKURAN AYAKAN

No. Ayakan() Ukuran Partikel ()


8 2,38 mm
10 2,00 mm
16 1,19 mm
18 1,00 mm
20 850 m
30 600 m
40 425 m
50 300 m
60 250 m
70 212 m
80 180 m
100 150 m
120 125 m
200 75 m
B. Penetapan Bobot Jenis
1. Bobot Jenis Sejati
Ditentukan dengan piknometer
menggunakan cairan inert (Parafin liquid)
atau gas helium
2. Bobot Jenis Nyata ( Kerapatan
Curah/bulk density)
Bobot jenis nyata
ditetapkan dengan
menggunakan gelas ukur
100 mL. 25 g granul
dimasukkan ke dalam gelas
ukur dan diukur volumenya
(Vo)
BJ nyata = Bobot/Vo
3. Bobot Jenis Mampat (kerapatan mampat)
Bobot jenis mampat ditetapkan dengan
metode ketukan. 25 g granul dimasukkan
perlahan-lahan ke dalam gelas ukur 100 mL,
kemudian berturut-turut diukur volumenya
pada 10 ketukan (V10), 50 ketukan (V50), &
500 ketukan (V500). Pengetukan dihentikan
ketika volume tidak berubah.
• Bobot jenis mampat dihitung menggunakan
persamaan :

BJ mampat = Bobot/V mampat


3. Kompresibilitas
• Merupakan persentase selisih volume granul
tanpa dimampatkan terhadap volume setelah
pemampatan.
• Cara : 25 g granul dimasukkan ke dalam gelas
ukur 100 mL dan volumenya dicatat
(V0/kerapatan nyata), kemudian dilakukan
pengetukan dengan alat.
• Volume setelah dimampatkan (Vo/kerapatan
mampat)
%T = (V1 – Vo)/V1x 100%
• Indexks Carr

• %T harus < 20%, jika lebih besar maka sulit


dikempa
Index Carr
Perbandingan Haussner
• Angka yang menyatakan BJ setelah
pemampatan dan sebelum pemampatan
• Memberikan gambaran tentang pengurangan
volume granul setelah pemampatan partikel
secara optimal.
• Perbandingan Haussner =Dapt/Davt≈1
• Jika makin mendekati nilai 1, maka berarti
volume granul hanya sedikit menurun
sewaktu pemampatan (perbandingan
minimal) dan massa granul mudah dikempa
dan tidak voluminus.
• Jika sifat aliran granul tidak baik maka
perbandingan Haussner besar
<1,1 = mudah mengalir
1,1-1,35 = cukup
>1,35 = sulit mengalir
4. Kecepatan Aliran
1. Metode Corong
• Sejumlah 100 g granul
dimasukkan ke dalam corong
yang terdapat pada alat.
• Wadah penampung granul
disiapkan pada bagian bawah
corong.
• Saat pengukuran dilakukan,
tutup corong dalam keadaan
terbuka,
Sehingga granul mulai meluncur melewati corong.
• Waktu yang diperlukan granul untuk mengalir melalui
corong dicatat.
• Kecepatan aliran dihitung dengan membagi bobot
granul (100 g) dengan waktu yang dibutuhkan granul
untuk melewati corong (g/detik). Aliran granul baik
bila >4g /detik
2. Metode Sudut Istirahat
Sudut istirahat adalah sudut
antara lereng dan dasar
granul.
5. Kandungan Lembab
• Alat : moisture balance
• Prinsip : alat untuk menentukan %
massa yang hilang (air, komponen yang
mudah menguap) selama pemanasan
pada suhu tertentu (70oC). Granul
sebanyak 5 g (min 2g) dimasukkan ke
dalam piring (aluminium foil), diratakan
lalu dimasukkan ke dalam alat moisture
balance yang telah ditara sebelumnya.
Granul dipanaskan pada suhu 70oC,
tunggu hingga % kadar air pada alat
menunjukkan angka yang tetap. Syarat
kadar air granul 1-3%.
6. Kadar Zat Aktif dalam Granul
• Zat aktif dalam granul ditentukan sesuai
dengan metode yang tercantum pada masing-
masing monografi zat di farmakope.

• Spektrofotometri Uv-vis atau HPLC, dll


• Bagian Atas, bawah, tengah granul dalam
mixer
Tingkat Tablet : 1.Organoleptik
1. Organoleptik : rupa, bau, rasa
Tablet diamati secara visual, apakah terjadi
ketidakhomogenan zat warna atau tidak,
bentuk tablet, permukaan cacat atau tidak
dan harus bebas dari noda atau bintik-bintik.
2. Sifat Fisika-Kimia
a. Keseragaman Ukuran : perbandingan
diameter dan tebal
• Diambil secara acak 20 tablet, lalu diukur
diameter dan tebalnya menggunakan jangka
sorong. Menurut FI III diameter tablet tidak
lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3
tebal tablet.
Formula

No A

d t
Hasil Uji Keseragaman
(cm) (cm) Ukuran Tablet Asam
Mefenamat
1 1,2 0,5 Ket : d = diameter
t = tebal
2 1,2 0,5

3 1,2 0,465

4 1,2 0,5

5 1,2 0,5

6 1,2 0,5

7 1,2 0,5

8 1,2 0,5

9 1,2 0,5

10 1,2 0,5

Rata-rata  SD 1,2 0,49

0,00 0,007
b. Kekerasan
• Dilakukan menggunakan hardness tester terhadap
20 tablet yang diambil secara acak. Kekerasan
diukur berdasarkan luas permukaan tablet dengan
menggunakan beban yang dinyatakan dalam kg.
Satuan kekerasan adalah kg/cm2. Ditentukan
kekerasan rata-rata dan standar deviasinya. Syarat :
tablet besar :7-10 kg/cm2; tablet kecil :4-6 kg/cm2

x

No. F1
(kg/cm2)
1. 6
2. 7
3. 8
4. 3
5. 7
6. 4
7. 7
8. 6,5
9. 7
10. 7
11. 6
12. 7
13. 7
14. 5,2
15. 6,5
16. 7
17. 5
18. 6,5
19. 7
20. 7
6,331,19
c. Friabilitas
• Dilakukan dengan menggunakan alat
friabilator terhadap 20 tablet yang diambil
secara acak.
• Parameter yang diuji adalah kerapuhan
tablet terhadap gesekan atau bantingan
selama waktu tertentu.
• Friabilitas dipengaruhi oleh sudut tablet yang
kasar, kurang daya ikat serbuk, terlalu banyak
serbuk halus, pemakaian bahan yang tidak
tepat, massa cetak terlalu kering.
• Tablet uji : 20 tablet
• Tablet yang diambil secara acak dibersihkan
satu-satu dengan sikat halus, lalu ditimbang
(a). Masukkan semua tablet ke dalam alat, lalu
putar sebanyak 100 putaran. Lalu tablet
dibersihkan lagi dan ditimbang (b). Tablet yang
baik memiliki friabilitas kurang dari 1%
• f = a – b X 100%
a
• f = friabilitas
• a = bobot tablet sebelum uji
• b = bobot tablet setelah uji
4. Uji Keseragaman Bobot
• Diambil 20 tablet secara acak lalu ditimbang masing-
masing tablet.
• Hitung bobot rata-rata dan penyimpangan terhadap
bobot rata-rata. Tidak boleh ada 2 tablet yang
masing-masing menyimpang dari bobot rata-rata
lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A
dan tidak boleh ada satu pun tablet yang
menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga
pada kolom B.
Penyimpangan bobot rata-rata (%)
Bobot rata -rata
A B

25 mg atau kurang 15 30

26 mg sampai 150 mg 10 20

151 mg sampai 300 7,5 15


mg

Lebih dari 300 mg 5 10


5. Uji Keseragaman Sediaan
• Keseragaman sediaan : keragaman bobot dan
keseragaman kandungan
• Keseragaman kandungan dilakukan untuk
tablet yang kandungan zat aktifnya : < 25 mg
(FI V). Uji ini dilakukan untuk mengetahui
homogenitas zat aktif dalam tablet.
• Uji keseragaman kandungan : diambil 30 tablet
secara acak, lalu ditentukan kadar terhadap 10 tablet
satu-persatu sesuai dengan monografi. Jika ada 1
tablet yang diluar batas 85-115%, tentukan 20 tablet
sisanya. Dianggap memenuhi syarat jika hanya satu
tablet dari 30 tablet yang memberikan hasil diluar
85-115%.
• Uji Keragaman Bobot
Zat aktif ≥ 25 mg/tablet
Zat aktif ≥ 25% dari bobot tablet
30 tablet  10 tablet  kadar zat aktif rata-
rata dibandingkan terhadap bobot tablet
masing-masing.
Lihat FI V supaya lebih jelas!
6. Uji Waktu Hancur
• Prosedur : jumlah tablet yang diuji 5
butir. Gerakan naik turun keranjang
30 kali.
• Media : (a)suhu air 36-38oC untuk
tablet non enterik. (b) untuk tablet
salut enterik media 250 mL HCl 0,06
N, dilanjutkan dengan larutan dapar
fosfat pH 6,8 suhu 36-38oC. Tablet
ditempatkan dalam keranjang
kemudian digerakkan naik turun
hingga tablet hancur. Catat waktu
yang dibutuhkan untuk hancurnya
tablet.
Syarat waktu hancur
• tablet tidak bersalut tidak lebih dari 15 menit.
• tablet salut film atau salut gula tidak lebih dari
60 menit.
• tablet salut enterik tidak boleh hancur selama
1 jam dalam medium asam.
7. Uji Disolusi : lihat masing-
masing monografi di FI IV dan
persyaratan uji disolusi.
Alat : Tipe 1 (keranjang) atau 2
(dayung)
Suhu : 37°±0,5° C
Medium : air atau dapar
Kecepatan putaran ( ....rpm)
Syarat : dalam waktu ....menit
harus larut sebanyak ......%
atau disebut Q.
Uji disolusi tablet parasetamol menurut FI ed IV

Alat : Tipe 2 (dayung)


Medium : 900 ml dapar fosfat pH 5,8
Kecepatan putaran : 50 rpm
Suhu : 37°±0,5° C
Persyaratan : dalam waktu 30 menit tidak kurang dari 80% parasetamol terlarut
Sediaan Cair
• Larutan (sirup)
• Suspensi
• Emulsi
• Larutan -> Sediaan cair yang mengandung campuran 2 atau lebih
komponen yang membentuk fasa tunggal homogen.
Keuntungan
1. Lebih mudah ditelan
2. Lebih mudah diabsorpsi
3. Obat terdistribusi dalam seluruh sediaan
Kekurangan:
1. Kurang menyenangkan dalam transportasi
2. Stabilitasnya lebih buruk dari sediaan padat
3. Rasa obat yang tidak menyenangkan akan lebih terasa
dibanding tablet.
• Sistem heterogen yang terdiri dari 2 fasa,
dimana fasa kontinu atau fasa luar biasanya
berbentuk cair, sedangkan fasa terdispersi
atau fasa dalam berbentuk padat
• Sediaanya harus kental agar zat padat tidak
mudah mengendap (tersedimentasi)
Penggunaan suspensi dalam farmasi

• Seperti halnya sirup, suspensi dapat diberikan pada anak-anak


untuk zat sukar larut
• Suspensi kering (dry sirup)  untuk zat yang mudah terurai, co:
suspensi kering amoksisilin, suspensi kering tiamfenikol
• Suspensi dengan partikel halus meningkatkan luas permukaan 
menjerap toksin atau asam lambung, co: kaolin, antasida (alukol,
magnesium hidroksida, dll)
• Suspensi obat luar, co : lotio Kalamin
Bahan Pensuspensi (suspending agent)
• Bahan pensuspensi memodifikasi kekentalan sediaan  mengurangi
laju sedimentasi (penstabil)
1. Gom arab
2. Tragakan
3. Natrium alginat
4. Turunan selulosa (metil selulosa, CMC)
5. Silikat terhidrasi (bentonit, veegum),

Jenis suspensi
1. Supensi flokulasi : ciri-cirinya cairan atas jernis, mudah
mengendap, namun mudah didispersikan kembali
2. Suspensi deflokulasi : ciri-cirinya partikel tersebar diseluruh cairan,
lebih kental, tidak mudah mengendap, namun dapat membentuk
caking (srtuktur seperti kue/agar-agar).
Contoh formula suspensi dan
fungsinya
Formula Fungsi
Kloramfenikol palmitat setara 125 Zat Aktif
mg/5mL
Tween 80 1% Pembasah (wetting agent)
Sunset yellow 0,125 mg Pewarna
Orange essence 10μL Pewangi(flavoring agent)
Tragacanth 1% Suspending agent
Natrium benzoat 0,1% Pengawet
Sukrosa 30% Pemanis
Air hingga 60 mL Pelarut
Suspensi kering (dry suspension)
• Untuk zat mudah terurai/terhidrolisis
• Penambahan pelarut air saat akan digunakan
• Co: amoksisilin, ampisilin, eritromisin,
sefadroksil, sefaleksin.
PENGERTIAN
• Emulsi : Sedian dengan sistem heterogen
terdiri dari 2 cairan yang tidak bercampur
(minyak dan air), yang satu terdispersi di
dalam yang lain dalam bentuk tetesan-tetesan
kecil dengan diameter >0,1 µm
Emulgator
• Mekanisme kerja emulgator
Pada prinsipnya  mencegah/memperlambat koalesensi
1. Menurunkan tegangan antar muka minyak & air, stabilisasi
termodinamika
2. Pembentukan lapisan film antar permukaan membentuk
halangan mekanik mencegah koalesensi
3. Pembentukan lapisan rangkap elektrik membentuk
halangan elektrik mencegah partikel berdekatan
4. Adsorpsi permukaan tetesan
Macam-macam Emulgator
• Bahan-bahan karbohidrat : Gom Arab, Tragakan, Agar,
Pektin.
• Bahan-bahan protein : Kuning telur, gelatin, kasein
• Partikel padat halus: bentonit, Magnesium hidroksida,
alukol, aerosil
• Surfaktan
Menurunkan tegangan antar muka cair-cair.
Mengandung gugus hidrofilik dan lipofilik.
Stabilitas Emulsi
Kerusakan emulsi
1. Creaming : agregat tetesan cenderung lebih besar untuk
naik ke permukaan atau turun ke dasar.
Creaming ke atas  kerapatan fase terdispersi lebih kecil
daripada fase luar
Creaming ke bawah  kerapatan fase terdispersi lebih
besar dari fase luar
2. Breaking : Agregat tetesan dalam emulsi bergabung
membentuk pemisahan fase menjadi suatu lapisan
3. Inversi fase
Perubahan tipe emulsi secara tiba-tiba dari tipe A/M ke
M/A atau sebaliknya.
Sediaan Setengah Padat
1. Unguentum/salep
2. Cream
3. Pasta
4. Jelly/Gel
Unguentum/Salep

 Sediaan setengah padat dengan basis


berlemak dan sukar dicuci
 Basisnya : Vaselin, Adeps lanae, Parafin, Cera
alba
Pembagian dan sifat dasar (basis) salep
Gol. Gol. Absorpsi Dasar Emulsi Emulsi W/O Larut dalam air
Hidrokarbon W/O
Contoh: Contoh: Cold cream Salep Hyd. Salep PEG
vaselin lanolin
Emolien Emolien Emolien Mudah dicuci Anhydrous
Occlusive Occlusive Occlusive Non Oclusive Non oclusive
Sukar dicuci Menyerap air Mengandung Dapat Larut dalam air
Hydropobic Anhydrous air diencerkan Bebas lemak
Berminyak Berminyak Menyerap air dengan air Tidak berminyak
Berminyak Tidak berminyak
Krim

 sediaan emulsi (campuran minyak dan air) setengah padat


digunakan untuk pembawa obat atau sebagai kosmetika.
 mudah dicuci dengan air
Co: Krim Hidrokortison asetat, Benoson Cream
Pastae = pasta

Sediaan setengah padat yang mengandung


banyak bahan
padat (lebih dari 50 %), keras tidak
meleleh pada suhu tubuh, merupakan
penutup/pelindung bagian kulit.
Sudah jarang diberikan, kecuali untuk
pembersih gigi.
Jelly=Gel
Sediaan setengah padat yang halus, umumnya
transparan dengan pembawa polimer yang
mengembang di dalam air.

Periodontal Gel
Contoh soal
Seorang Apoteker yang bekerja di Indusri farmasi akan
memformulasikan tablet oral desintegrasi tablet (ODT)
Ondansetron. Bahan tambahan yang digunakan yaitu laktosa,
manitol, amylum, Primojel dan PVP K30. Bahan tambahan
yang berfungsi untuk sebagai penghancur ...
a. Manitol
b. Laktosa
c. Amylum
d. Primojel
e. PVP K30
Contoh soal

Seorang Apoteker melakukan pembuatan vitamin C dengan karakteristik


bahan berbentuk kristal dengan habit prisma dan memiliki index
kompresibilitas <10 (kategori baik). Jika akan dibuat sediaan tablet,
metode apa yang paling cocok?
a. Granulasi basah
b. Granulasi kering
c. Kempa langsung
d. Semi granulasi
e. Kombinasi
Contoh soal

Seorang Apoteker memformulasikan pembuatan tablet


parasetamol 500 mg dengan metode granulasi basah. Zat
tambahan yang digunakan diantaranya musilago amili,
amilum kering, talk, dan magnesium stearat.
Apakah tujuan penambahan musilago amili tersebut?
A. Menambah daya ikat
B. Menambah bobot
C. Mempercepat perlengketan
D. Mempercepat waktu hancur
E. Memudahkan aliran granul
Contoh soal

Seorang apoteker melakukan evaluasi awal granul untuk pembuatan


tablet Asetosal. Pada pengujian kerapatan mampat dan kerapatan
curah granul ditimbang sebanyak 100 g granul dan dimasukkan ke
dalam gelas ukur 250 mL dan diperoleh volume granul 70 cc,
kemudian diketukkan hingga diperoleh volume 60cc dan volume
granul tidak berubah lagi. Berapakah kerapatan curah granul
tersebut?
A. 1,0 g/cc C. 1,33 g/cc E. 1,43 g/cc
B. 0,70 g/cc D. 1,67 g/cc
Contoh soal

Seorang apoteker di Industri Farmasi akan membuat suatu


sediaan suspensi Ibuprofen 200 mg/5 mL. Ibuprofen tidak
larut dalam air (kurang dari 6,1 mg/ml) dan memiliki sudut
kontak yang sangat besar.
Zat apa yang harus ditambahkan sehingga ibuprofen
menjadi mudah terbasahi dan mudah didispersikan?
A. Surfaktan
B. Pengawet
C. Pengisotonis
D. Suspending agent
E. Lubrikan

Beri Nilai