Anda di halaman 1dari 21

Payback Period, Internal Rate of

Return, Profitability Index, dan


Purchasing Power Parity dalam
Pengambilan Keputusan
Kelompok 4 :
-Detri Adelia 2016.61.002690
-Okto Priyanturi 2016.61.002633
-Pirda Ramadani 2016.61.002690
Pengertian Payback Period dan Cara Menghitungnya

Payback Period adalah periode atau jumlah tahun


yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi
yang telah dikeluarkan. Payback Period dalam bahasa
Indonesia dapat disebut juga dengan Periode
Pengembalian Modal. Para Investor atau Pengusaha
sering menggunakan Payback Period (PP) atau Periode
Pengembalian Modal ini sebagai penentu dalam
mengambil keputusan Investasi yaitu keputusan yang
menentukan apakah akan menginvestasikan modalnya
ke suatu proyek atau tidak. Suatu proyek yang periode
pengembaliannya sangat lama tentunya kurang menarik
bagi sebagian besar investor.
Pengertian Payback Period menurut para Ahli
Pengertian Payback Period menurut Dian
Wijayanto (2012:247) adalah periode yang
diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran
investasi (initial cash investment). Berdasarkan
definisi dari Abdul Choliq dkk (2004), Payback
Period adalah jangka waktu kembalinya investasi
yang telah dikeluarkan, melalui keuntungan yang
diperoleh dari suatu proyek yang telah
direncanakan. Sedangkan menurut Bambang
Riyanto (2004) Payback period adalah suatu
periode yang diperlukan untuk dapat menutup
kembali pengeluaran investasi dengan
menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net
cash flows).
Cara Menghitung Payback Period
Payback Period atau Periode Pengembalian
Modal dapat dihitung dengan cara membagikan
nilai investasi (cost of invesment) dengan aliran
kas bersih yang masuk per tahun (annual net cash
flow).
Rumus Payback Period
Berikut ini adalah rumus Payback Period (PP) :
Payback Period = Nilai Investasi / Kas Masuk
Bersih
Catatan : Rumus ini mengasumsikan bahwa
besarnya kas masuk bersih adalah sama pada
setiap periode atau sama pada setiap tahunnya.
Contoh kasus perhitungan Payback Period
Manajemen PT. AAYY sedang mempertimbangkan pembelian
mesin produksi komponen elektronika. Dengan membeli Mesin
produksi yang berharga Rp. 250 juta ini, keuntungan atau
pendapatan bersih didapat dari penambahan mesin tersebut adalah
sebesar Rp. 70 juta pertahun. Berapakah Payback Period untuk
Mesin Produksi ini?
Penyelesaian
Diketahui :
Nilai Investasi = Rp. 250.000.000,-
Kas Masuk Bersih = Rp. 70.000.000,-
Payback Period = ?
Payback Period = Nilai Investasi / Kas Masuk Bersih
Payback Period = Rp. 250.000.000,-/ Rp. 70.000.000,-
Payback Period = 3,57
Jadi Periode pengembalian modal atau payback period untuk mesin
produksi tersebut adalah selama 3,57 tahun.
IRR adalah hasil yang diperoleh dari suatu proposal bisnis,
yakni diskonto atau discount rate yang akan menjadi present value
dari aliran kas masuk (cash inflow) sama dengan investasi awal.

Fungsi IRR dipakai dalam menentukan apakah


investasi dilaksanakan atau tidak. Oleh karenanya biasanya dipakai
acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari
Minimum Acceptable Rate of Return (MARR). MARR adalah laju
pengembalian minimum dari suatu investasi yang berani dilakukan
oleh investor.

untuk dapat menghitung IRR, terlebih dahulu kita harus


mengetahui rumus NPV atau Net Present Value. Sebab
perhitungan IRR membutuhkan nilai dari NPV. Mari kita
bahas singkat mengenai NPV.
Rumus NPV :
NPV adalah selisih antara pengeluaran dan
pemasukan yang memperoleh potongan harga
dengan menggunakan social opportunity cost
of capital sebagai discount factor. Atau juga
bisa disebut sebagai arus kas yang
diperkirakan pada masa mendatang yang
didiskontokan pada saat ini.
NPV sendiri merupakan keuntungan bersih
berdasarkan jumlah dari Present Value (PV).
Untuk cara menghitung NPV bisa dengan
memakai rumus di bawah ini.
NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + … + (Ct/(1+r)t)
– C0

Contoh Kasus Perhitungan NPV (Net Present


Value)
Manjemen Perusahaan AAZZ ingin membeli
mesin produksi untuk meningkatkan jumlah produksi
produknya. Harga Mesin produksi yang baru tersebut
adalah sebesar Rp. 150 juta dengan suku bunga
pinjaman sebesar 12% per tahun. Arus Kas yang
masuk diestimasikan sekitar Rp. 50 juta per tahun
selama 5 tahun. Apakah rencana investasi pembelian
mesin produksi ini dapat dilanjutkan?
Penyelesaian :
Diketahui :
Ct = Rp. 50 juta
C0 = Rp. 150 juta
r = 12% (0,12)
Jawaban :
NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + (C3/(1+r)4)
+ (Ct/(1+r)t) – C0
NPV = ((50/1+0,12) + (50/1+0,12)2 + (50/1+0,12)3 +
(50/1+0,12)4 + (50/1+0,12)5) – 150
NPV = (44,64 + 39,86 + 35,59 + 31,78 + 28,37) – 150
NPV = 180,24 – 150
NPV = 30,24
Jadi nilai NPV-nya adalah sebesar Rp. 30,24 juta.
Profitability Index
Profitability Index, metode ini menghitung perbandingan antara nilai arus
kas bersih yang akan datang dengan nilai investasi yang sekarang.
Profitability Index harus lebih besar dari 1 baru dikatakan layak. Semakin
besar PI, investasi semakin layak.

Rumus PROFITABILITY INDEX (PI):

Nilai Aliran Kas Masuk


PROFITABILITY INDEX ( PI ) = ---------------------------
Nilai Investasi

Kelayakan investasi menurut standar analisa ini adlh :


Jika PI > 1 ; maka investasi tsb dpt dijalankan (tidak layak)
Jika PI < 1 ; investasi tsb tidak layak dijalankan (layak)
Kelebihan Profitability Index adalah :
- Memberikan percentage future cash flows dengan cash
initial
- Sudah mempertimbangkan cost of capital
- Sudah mempertimbangkan time value of money
- Mempertimbankan semua cash flow

Kekurangan Profitability Index adalah :


- Tidak memberikan informasi mengenai return suatu
project.
- Dibutuhkan cost of capital untuk menghitung
Profitability Index.
- Tidak memberikan informasi mengenai project risk.
- Susah dimengerti untuk dijadikan indicator apakah suatu
project memberikan value kepada perusahaan.
Contoh kasus :

Suatu investasi ditanam pada tahun


2009 sebesar Rp 10.000.000,00. Cost of
Capital 12% (Tingkat Bunga di Bank).
Inflasi 10%. Diharapkan balik modal
setelah tahun ke-4. Cash Flow yang
diperoleh untuk 6 tahun ke depan adalah
sebagai berikut :
Payback Period; modal sudah kembali pada tahun ke lima. Cara untuk
menghitung waktu yang lebih rinci :

Bandingkan kekurangan tahun ke-4 dengan cash flow tahun ke-5


= (Rp 10 juta – Rp 8 juta) : (Rp 11,2 juta – Rp8.000.000) x Rp 12 bulan
= 7,5 hari
Berarti balik modal 4 tahun 7 bulan 15 hari
Purchasing Power parity

Purchasing power parity adalah hubungan


antara harga barang dan jasa dengan nilai tukar
mata uang asing (Ir. Burhanuddin
Abdullah,terjemahan Lindert and
Kindleberger,1995: 356). Purchasing power
Parity merupakan suatu model yang
menerangkan bagaimana tingkat Pertukaran
saat ini cenderung untuk menyesuaikan
terhadap perbedaan tingkat inflasi.
Absolute Purchasing Power Parity

Absolute Purchasing Power Parity menyatakan


hubungan diantara harga barang-barang dan jasa dengan
nilai tukar mata uang asing dengan persamaan sebagai
berikut:
E=P
Pf
E adalah nilai tukar mata uang (mata uang domestik per
satuan mata uang asing), P adalah indeks harga domestik
dan Pf adalah indeks harga di luar negeri. Untuk
mendapatkan indeks harga, harus ditentukan terlebih dahulu
harga dari barang-barang dan jasa yang akan dimonitor.
Kemudian harga dari aneka barang dan jasa ini ditentukan
bobotnya.Indeks harga tersebut adalah rata-rata tertimbang
dari harga barang-baran dan jasa yang diteliti.
Persamaan diatas menunjukkan bahwa
nilai tukar atau uang di antara dua Negara
adalah sama dengan perbandingan indeks
harga di antara kedua Negara tersebut
Persamaan tersebut dapad dilukiskan
sebagai berikut:
P = EPf
Persamaan ini disebut dengan Law of
One Price dan menunjukkan Bahwa
barang-barang dijual dengan harga yang
sama di seluruh dunia.
Relative Purchasing Power Parity
Selain Absolute Purchasing Power Parity, terdapat tinjauan lainnya
mengenai Purhasing Power Parity, yaitu Relative purchasing Power Parity,
dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

Ê = P-Pf
dimana tanda topi (^) di atas variabel tersebut menunjukkan persentase
perubahan. Jadi persamaan diatas menyatakan bahwapersentase perubahan
nilai tukar mata uang adalah sama dengan persentase perubahan tingkat
harga domestik dikurangi dengan persentas perubahan tingkat harga di luar
negeri.
Pada umumnya persentase perubahan pada tingkat harga tersebut
dinyatakan sebagai tingkat inflasi. Maka untuk menyatakan Relative
Purchasing Power Parity dengan cara lain adalah bahwa persentase
perbedaan pada nilai tukar mata uang sama dengan perbedaan inflasi di
dalam negeri dengan di luar negeri.
Interest Rate Parity

Interest Rate Parity merupakan teori yang


mengemukakan bahwa ada hubungan antara laju
depresiasi mata uang suatu Negara terhadap mata uang
negara lain dengan penentuan tingkat suku bunga.
Interest Rate Parity timbul dari aktivitas arbitrage untuk
mencari profit (keuntungan) khususnya covered interest
rate. Sebagai contohnya adalah sebagai berikut;
I$ : tingkat bunga di Amerika Serikat
I£ : tingkat bunga di Inggris
F : Forward Exchange Rate (Dollar per pound)
E : Spot ExchangeR ate (Dollar per Pound)
Dalam hal ini tingkat bunga dan forward rate memiliki
waktu jatuh tempo yang sama.Seorang investor di Amerika
Serikat dapat memperoleh 1 +l$ di dalam negeri dengan
menginvestasikan dollar untuk satu periode. Investor
tersebut dapat juga menginvestasikan uangnya di Inggris
dengan menukar mata uangnya dengan pound. Sehingga
dengan demikian setelah satu periode investor tersebut
dapat memperoleh (1+I, ) / E pound. pound yang diperoleh
tersebut kemudian akan dikonversikan lagi dalam Dollar.
Namun karena nilai tukar mata uang di masa yang akan
datang tidak diketahui secara pasti, investor dapat
mengatasi dengan cara melakukan forward contract untuk
menjual (l+Ir) /E pound tersebut di masa yang akan
datang pada nilai dollar tertentu.
Menghitung kurs berdasarkan teori PPP
Menurut Interpertasi absolut PPP, perbandingan nilai
satu mata uang denganmata uang lain (kurs)
ditentukan oleh tingkat harga di masing-masing
negara.Contoh : harga 1 kg gandum di AS adalah $1
dan di Indonesia sebesar Rp1.000 , maka kurs antara
dolar dan rupiah adalah $1 = Rp 1.000.

PP=(Rp 1000/kg)/($ 1/kg)=1000


Jika terjadi perubahan harga yang berbeda di kedua
negara, maka kurstersebut haruslah mengalami
perubahan pula. Misalnya, kalau harga-harga
diIndonesia naik 3x lipat dan di AS hanya naik 2x
lipat, maka kurs Ppnya akanmenjadi:
Kurs PP yang didasarkan pada perubahan
harga inilah yang sering disebut kurs PPdalam arti
relatif.
Namun demikian, perhitungan diatas kurang
mencerminkan kenyataan kurs yang terjadi di
negara-negara berkembang. Dengan dasar teori
PP, kurs di negaraberkembang akan selalu rendah,
sebab biasanya harga barang-barang yang
tidaktermasuk dalam perdagangan luar negeri
(tukang cukur atau jasa dokter) terlalurendah bila
dibandingkan dengan harga jasa tersebut di
negara maju. Biasanyanegara berkembang
mengalami defisit neraca pembayaran (terdapat
kelebihanpermintaan valas) sehingga kurs naik.