Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN

JIWA PADA KLIEN DENGAN


“RETARDASI MENTAL”
KELOMPOK 6 Kelas A1 - 2017
Nova Alvionita 131711133080
Neli Widia Astuti 131711133081
Rahmi Yunita 131711133086
Halfie Zaqiyah Gusti P. 131711133100
Achmad Yuskir Rizal Rosuli 131711133103
Nita Arum Sari 131711133120
Fabiola Tri Ruli O. 131711133138
Erni Purwaningsih 131711133142
Esterina Onijoma 131711133161
Dosen Pembimbing:
Khoridatul Bahiyah S.Kep., M.Kep., Ns., Sp.Kep.J
Definisi Retardasi Mental

 Menurut PPDGJ III, retardasi mental adalah suatu


keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak
lengkap, terutama ditandai oleh adanya hendaya
keterampilan selama masa perkembangan, sehingga
berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu
keterampilan kognitif, bahasa, motorik san sosial.
 American Association on Mental Retardation (AAMR)
mendefinisikan retardasi mental adalah suatu disabilitas
yang ditandai dengan suatu limitasi atau keterbatasan
yang bermakna makin baik dalam fungsi intelektual
maupun perilaku adaptif yang diekspresikan dalam
keterampilan konseptual, sosial, dan praktis, keadaan ini
terjadi sebelum usia 18 tahun.
Lanjutan
Ada 3 ciri penting dalam mendefinisikan retardasi mental yaitu:
 Penurunan intelegensi (subnormal)
 Definisit fungsi adaptasi sosial
 Berlangsung selama masa perkembangan (sebelum usia 18 tahun)
Etiologi

Penyebab retardasi mental dapat Ditinjau dari penyebab secara


terjadi mulai dari : langsung dapat digolongkan atas :
 Fase Prenatal  Penyebab Biologis
 Fase Perinatal  Psikososial
 Fase Postnatal
Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe klinis mempunyai
ciri-ciri:
 Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai berat
 Tampak sejak lahir atau usia dini
 Secara fisik tampak berkelainan atau anaeh
 Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal, maupun
postnatal
 Tidak berhubungan dengan kelas sosial
Penyebab retardasi mental tipe klinis b. Penyebab perinatal
atau biologis dapat dibagi dalam:
 Prematuritas
a. Penyebab prenatal
 Asfiksia
 Gangguan metabolisme
 Kernikterus
 Kelainan kromosom
 Hipoglikemia
 Infeksi maternal
 Komplikasi kehamilan

c. Penyebab postnatal
Asfiksia
• Infeksi (meningitis,
ensefalitis)
• Trauma fisik
• Kejang lama
• Intoksikasi (timah hitam,
merkuri)
Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokultural
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
 Biasanya merupakan retardasi mental ringan
 Diketahui pada usia sekolah
 Tidak terdapak kelainan fisik maupun laboratorium
 Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)
 Ada hubungan dnegan keadaan kelas sosial
Klasifikasi
 Retardasi mental ringan (IQ 50-70)
Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dididik
(educable). retardasi mental ringan ditemukan saat anak berada di sekolah dasar.

 Retardasi mental sedang (IQ 35-50)


Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dilatih
(trainable). Retardasi mental sedang biasanya ditemukan di usia prasekolah.
Lanjutan
 Retardasi mental berat (IQ 20-35)
Gambaran klinis dari retardasi mental berat hampir sama dengan retardasi
mental sedang, perbedaan utamanya yaitu biasanya pada retardasi mental berat
terdapat kerusakan motor yang bermakna atau defisit neurologis.

 Retardasi mental sangat berat (IQ <20)


 Sebagaian besar penderita retardasi mental berat memiliki penyebab yang
jelas untuk kondisinya. Umumnya anak sangat terbatas dalam hal mobilitas
dan hanya mampu pada bentuk komunikasi nonverbal yang sangat elementer.
RM IQ Usia Prasekolah (0-5 Usia Sekolah Usia Dewasa (>21 tahun)
tahun) (6-21 tahun)

Sangat berat <20 Retardasi jelas Beberapa perkembangan motorik Perkembangan motorikdan
dapat berespon namun terbatas bicara sangat terbatas

Berat 20-35 Perkembangan motorik Dapat berbicara atau Dapat berperan sebagian dalam
yang miskin berkomunikasi namun letihan pemeliharaan diri senidri
kejujuran tidak bermanfaat dibawah pengawasan ketat

Sedang 35-50 Dapat berbocara atau Latihan dalam keterampilan Dapat bekerja sendiri tanpa
belajar berkomunikasi, sosial dan pekerjaan dapat dilatih namun perlu pengawasan
ditangani dengan bermanfaat, dapat pergi sendiri terutama jika dalam keadaan
pengawasan sedang ke tempat yang telah dikenal stres

Ringan 50-70 Dapat mengembangkan Dapat belajar keterampilan Bisasanya dapat mencapai
keterampilan sosial dan akademik sampai kelas 6 SD keterampilan sosial dan
komunikasi, retardasi kejujurannamun perlu bantuan
minimal terutama bila stres
Manifestasi Klinis
 Manifestasi klinis dari retardasi mental dapat bervariasi utamanya
berdasarkan tingkat retardasi mental. pada retardasi mental ringan gejalanya
biasnaya belum tampak hingga anak memasuki usia sekolah dasar, dimana
anak mengalami kesulitan dalam menulis, membaca, dan berhitung sehingga
hanya mampu bersekolah hingga kelas 4, 5, atau 6. Anak sulit berkonsentrasi
dan kurang dewasa dalam hal adaptasi sosial dan kemandirian.
 Orang dnegan retardasi mental berat hingga sangat berat biasanya didiagnosis
pada usia lebih dini, lebih sering dengan kondisi medis tertentu misalnya
kelainan dismorfik, dan memiliki gangguan mental dan perilaku. Sebaliknya,
orang dnegan retardasi mental ringan didiagnosis pada usia yang lebih tua,
jarang dengan kondisi medis tertentu dan biasanya tampak seperti orang
normal. Orang dengan retardasi metal sedang memiliki gambaran keduanya.
Diagnosis
Diagnosis retardasi mental ditetapkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
lainnya. Kriteria diagnosis retardasi mental (intellectual developmental disorder) menurut DSM-V TR adalah:
 Ditemukannya defisit dalam fungsin intelektual, seperti memberi alasan, pemecahan masalah,
perencanaan, berpikir abstrak, menilai, pembelajaran akademik, dan pembelajaran pengalaman, yang
dipastikan melalui pemeriksaan klinis dan tes intelegensia terstandar.
 Adanaya defisit dalam fungsi adaptif yang berakibat pada kegagalan dalam mencapai perkembangan dan
standar sosiokultural untuk kemandirian pribadi dan tanggung jawab sosial. Tanpa dukungan terus-
menerus, defisit adaptasi akan membatasi satu atau lebih fungsi dalam aktivitas hidup sehari-hari, seperti
komunikasi, partisipasi sosial, dan kemandirian dibeberapa tempat misalnya rumah, sekolah, kantor, dan
masyarakat.
 Omset dari defisit intelektual dan adaptasi timbul selama masa perkembangan.
 317 (F70) : Mild
 318.0 (F71) : Moderate
 318.1 (F72) : Severe
 318.2 (F73) : Profound
 315.8 (F88) : Global Development Delay
 319 (F79) : Unspecified Intelectual Disability
Pemeriksaan Penunjang 1. Kromosomal kariotipe
 Terdapat beberapa kelainan fisik yang
tidak khas
 Anamnesis ibu tercemar zat-zat
teratogen
 Terdapat beberapa kelainan kongenital
 Genetalia abnormal

2. EEG (Elektro Ensefalogram)


 Gejala kejang yang dicurigai
Kesulitan mengerti bahasa yang berat

3. CT (Cranial Computed Tomography)


atau MRI (Magnetic Resonance Imaging)
 Pembesaran kepala yang progresif
 Tuberous sklerosis
 Dicurigai kelainan otak yang luas
 Kejang lokal
 Dicurigai adanya tumor intrakranial
Lanjutan
4. Titer virus untuk infeksi kongenital 6. Laktat dan piruvat darah
 Kelianan pendengaran tipe  Asidosis metabolik
sensorineural
 Kejang mioklonik
 Neonatal hepatosplenomegali
 Petechie pada periode perinatal
Beberapa uji tumbuh kembang:
 Chorioretinitis
 Uji intelegensi standar (stanford
 Mikroptalmia binet, weschler, Bayley Acales of
 Klasifikasi intrakranial Infant Development)

 Mikrosefali  Uji perkembangangan seperti DDST II


 Pengukuran fungsi adaptif (Vineland
adaptive behaviour scales, Woodcock-
5. Serum asam urat Johnson Scales of independent
 Gout behaviour, School edition of the
adaptive behaviou scales)
 Sering mengamuk
Penatalaksanaan

 Farmakoterapi
 Latihan dan pendidikan
 Psikoterapi
Pencegahan
1. Pencegahan primer 2. Pencegahan sekunder
 Dapat dilakuakan dengan pendidikan  Meliputi diagnosa dan pengobatan
kesehatan pada masyarakat, dini peradangan otak, perdarahan
perbaikan keadaan sosio ekonomi, subdural, kraniostenosis (sutura
konseling genetik, dan tindakan tengkorak menutup terlalu cepat,
kedokteran seperti perawatan dapat dibuka dengan kraniotomi.
prenatal yang baik, pertolongan
persalinan yang baik, dan
pencegahan peradangan otak pada
anak-anak.

3. Pencegahan tersier
• Merupakan pendidikan pendrita atau latihan khusus sebaiknya disekolah luar
biasa. Dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah, hiperaktif atau
destruktif. Konseling kepada orang tua dilakuakn secara fleksibel dan
pragmatis dengan tujuan antara lain membantu merekadalam mengatasi
frustasi oleh karena mempunyai anak dengan retardasi mental.
Gambaran Kasus
 An. A, umur 11 tahun datang ke poli psikiatri pada tanggal 20 September 2019 bersama ibunya, Ny. S. Klien
merupakan anak tunggal. Klien tinggal bersama ibu dan ayahnya. Ibu klien bekerja sebagai pegawai pabrik
ikan tuna kaleng, ayahnya bekerja sebagai supir. Ibu klien mengeluh konsentrasi anaknya kurang fokus, saat
berdiri sering jatuh, dan keseimbangan kurang. Kata ibu klien, klien dulu pernah jatuh, kepala terbentur
dan punya riwayat sulit bernafas sebelumnya.
 Ibu pasien pernah membawa sang anak ke Poli psikiatri tanggal 15 Juli 2013. Menurut keterangan ibu
pasien, pasien dibawa ke Poli karena pasien sulit untuk menulis, konsentrasinya tidak bisa fokus. Jika
diminta menulis, pasien tidak bisa menyelesaikan tulisannya. Saat hamil, ibu klien pernah tidak selera
makan selama 4 bulan pertama masa kehamilan. Dan hanya mengkonsumi ikan tuna di tempat dia bekerja.
Subjek saat lahir berwarna kuning, bibilium ± 2 ml. Saat lahir air ketuban ibu pecah dari 7 jam sebelum
kelahiran.
 Subjek lahir normal, cukup bulan dan cukup berat badan. Ibu klien melahirkan saat usia 27 tahun. Klien
menerima ASI dari lahir sampai 3 bulan, dan susu formula dari lahir sampai 3 tahun. Diberi biskuit bayi usia
3 bulan. Perkembangan klien tidak terpenuhi sesuai usia, klien mengalami keterlambatan berjalan dan
bicaranya. Klien mulai berjalan usia 2 tahun, berbicara pada usia 2 tahun. Klien masuk sekolah kelas 1 usia
7 tahun, dengan rata-rata raport 7. Kelas 2 rata-rata 6, kelas 3 rata-rata 7, dan kelas 4 tidak naik kelas 3x.
Di kelas, klien jarang memperhatikan guru yang menerangkan. Klien memiliki kepribadian pemalu dan
pendiam. Saat diajak bicara, subjek cenderung menutup diri, dan malu-malu. Ucapan tidak jelas. Klien sulit
berteman dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Pengkajian
Nama Perawat: Ns. N
Tanggal pengkajian: 20 September 2019
Jam pengkajian: 10.30 WIB
I. Identitas
 Nama : An. A
 Umur : 11 tahun
 Agama : Islam
 Alamat : Malang
 Ayah : Tn. M
 Ibu : Ny. S
 Pekrjaan Ayah : sopir
 Pekerjaan Ibu : pegawai pabrik ikan tuna kaleng
 No.RM : 11124xxx
 Tanggal MRS : 20 September 2019
II. Keluhan utama
 konsentrasi An. A kurang fokus, saat berdiri sering jatuh,
keseimbangan kurang. Disampaikan oleh ibunya.
III. Riwayat kesehatan
 Riwayat penyakit sekarang
Ibu klien mengeluh konsentrasi anaknya kurang fokus, saat berdiri
sering jatuh, dan keseimbangan kurang.
 Riwayat penyakit dahulu
Kata ibu klien, klien dulu pernah jatuh, kepala terbentur dan
punya riwayat sulit bernafas sebelumnya. Ibu pasien pernah
membawa sang anak ke Poli psikiatri tanggal 15 Juli 2013.
Menurut keterangan ibu pasien, pasien dibawa ke Poli karena
pasien sulit untuk menulis, konsentrasinya tidak bisa fokus. Jika
diminta menulis, pasien tidak bisa menyelesaikan tulisannya.
 Riwayat perkembangan
Saat hamil, ibu klien pernah tidak selera makan selama 4 bulan pertama masa
kehamilan. Dan hanya mengkonsumi ikan tuna di tempat dia bekerja. Subjek
saat lahir berwarna kuning, bibilium ± 2 ml. Saat lahir air ketuban ibu pecah dari
7 jam sebelum kelahiran. Subjek lahir normal, cukup bulan dan cukup berat
badan. Ibu klien melahirkan saat usia 27 tahun. Klien menerima ASI dari lahir
sampai 3 bulan, dan susu formula dari lahir sampai 3 tahun. Diberi biskuit bayi
usia 3 bulan. Perkembangan klien tidak terpenuhi sesuai usia, klien mengalami
keterlambatan berjalan dan bicaranya. Klien mulai berjalan usia 2 tahun,
berbicara pada usia 2 tahun. Klien masuk sekolah kelas 1 usia 7 tahun, dengan
rata-rata raport 7. Kelas 2 rata-rata 6, kelas 3 rata-rata 7, dan kelas 4 tidak naik
kelas 3x.
IV. Pengkajian Kebutuhan Dasar Manusia
 Aktivitas Latihan : Klien memiliki kepribadian pemalu dan pendiam
 Tidur dan istirahat : An. A mengatakan tidak ada masalah sulit tidur
 Nutrisi : An.A makan 2x sehari dengan nutrisi yang cukup dan porsi yang
diberikan selalu dihabiskan klien
 Eliminasi Urin : Sebelum dibawa ke Poli Anak A bisa BAK 5x sehari dengan
warna kuning bening
 Eliminasi Bowel : BAB An. A normal
 Sensori dan persepsi : Setelah dilakukan pengkajian ternyata klien
mengalami retardasi mental yang ditandai dengan konsentrasi anaknya
kurang fokus, saat berdiri sering jatuh, dan keseimbangan kurang,
keterlambatan berjalan dan bicaranya, sulit berteman dan beradaptasi
dengan lingkungan sekitarnya.
V. Psiko-Sosio-Budaya-Spiritual
 Psikologis : Saat diajak bicara, subjek cenderung menutup diri, dan
malu-malu
 Sosial : Di kelas, klien jarang memperhatikan guru yang menerangkan.
Klien memiliki kepribadian pemalu dan pendiam. Saat diajak bicara,
subjek cenderung menutup diri, dan malu-malu. Ucapan tidak jelas.
Klien sulit berteman dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
 Budaya : dalam kesehariannya klien berbahasa Jawa
 Spriritual : An.A beragama islam
VI. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum
S : 360c
N : 110/80 mmHg
RR : 20x per menit
 Kepala : Kulit kepala klien bersih, tidak ada lesi,benjolan. Rambut hitam. Wajah klien datar.
Mata ananemis dan bibir lembab.
 Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran tonsil dan tidak ada
masalah pada tenggorokan.
 Dada : Tidak terkaji
 Abdomen : Peristaltic normal 5-35x/menit
 Genetalia : Genetalia anak A normal, tidak ada lesi dan tidak ada cairan yang keluar dari vagina
 Rectum : Rectum normal, tidak ada luka
 Ekstremitas : Saat An.A berdiri sering jatuh, dan keseimbangan kurang
DATA MASALAH
DS:
- Ibu klien mengatakan bahwa klien mengalami keterlambatan berjalan dan
bicara
Gangguan Pertumbuhan dan
- Ibu klien mengatakan klien sulit berkonsentrasi
Perkembangan
DO:
- Klien terlihat sulit menyelesaikan suatu aktivitas (menulis)
- Prestasi klien tidak baik
DS:
- Ibu klien mengatakan konsentrasi klien kurang fokus sehingga sering jatuh,
dan keseimbangan klien berkurang Resiko cedera
DO:
- Klien terlihat hampir terjatuh beberapa kali saat berdiri
DS:
- Ibu klien mengatakan anaknya sulit beradaptasi dengan lingkungannya
DO: Gangguan interaksi sosial
- Klien terlihat cenderung menutup diri dan malu-malu
- Bicara klien tidak jelas
Diagnosa Keperawatan

 Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d. kelainan fungsi kognitif


 Risiko cedera b.d. perilaku agresif ketidakseimbangan mobilitas fisik
 Gangguan interaksi social b.d. kesulitan bicara/ kesulitan adaptasi sosial
No. Diagnosis SLKI SIKI
Keperawatan
1. Gangguan tumbuh Setelah dilakukan intervensi keperawatan 1. Perawatan perkembangan (I.10339)
kembang b.d. selama 3x24 jam, gangguan tumbuh kembang  Identifikasi pencapaian tugas perkembangan
kelainan fungsi membaik dengan kriteria hasil : anak
kognitif (D.0106) 1. Status perkembangan (L.10101)  Motivasi anak berinteraksi dengan anak lain
 Keterampilan / perilaku sesuai usia  Sediakan aktivitas yang memotivasi anak
meningkat (5) berinteraksi dengan anak lainnya
 Respon sosial meningkat (5)  Dukung anak mengekspresikan diri melalui
penghargaan positif dan umpan balik atas
usahanya
 Jelaskan prang tua atau pengasuh tentang
milestone perkembangan anak dan perilaku
anak
2. Promosi perkembangan anak (I.10340)
 Identifikasi kebutuhan khusus anak dan
kemampuan adaptasi anak
 Dukung anak berinteraksi dengan anak lain
No. Diagnosis SLKI SIKI
Keperawatan
2. Risiko cedera Setelah dilakukan intervensi 1. Manajemen keselamatan
keperawatan selama 1x24 jam, lingkungan (I.14513)
b.d. perilaku risiko cedera menurun dengan • Hilangkan bahaya lingkungan
agresif kriteria hasil : • Sediakan alat bantu keamanan
1. Tingkat cedera (L.14136) lingkungan
ketidakseimba • Kejadian cedera menurun (0) • Lakukan program skrinning
ngan mobilitas • Gangguan kognitif menurun bahaya lingkungan
(0) • Ajarkan individu dan
fisik (D. 0136) 2. Keseimbangan (L.05039) kelompok resiko tinggi bahaya
• Keseimbangan saat berdiri lingkungan
meningkat (5)
• Pusinng menurun (5)
No. Diagnosis SLKI SIKI
Keperawatan
3. Gangguan Setelah dilakukan intervensi 1. Modifikasi perilaku keterampilan
keperawatan selama 3x24 jam, sosial (I.13484)
interaksi social interaksi sosial meningkat dengan • Identifikasi penyebab kurangnya
b.d. kesulitan kriteria hasil : keterampilan sosial
1. Interaksi sosial (L.13115) • Motivasi untuk berlatih
bicara/ kesulitan • Responsif pada orang lain keterampilan sosial
adaptasi sosial meningkat (5) • Latih keterampilan sosial secara
• Ekspresi wajah responsif meningkat bertahap
(D.0118) (5) •
• Perilaku sesuai usia meningkat (5) 2. Promosi sosialisasi (I.13498)
• Identifikasi hambatan melakukan
interaksi dengan rang lain
• Motivasi berinteraksi di luar
lingkungan
• Anjurkan berinteraki sosial dengan
orang lain secara bertahap
Evaluasi Keperawatan
NO Diagnosa Evaluasi
1. Gangguan tumbuh kembang S: Ibu Klien mengatakan bahwa anaknya sudah bisa menyebutkan huruf-
b.d. kelainan fungsi kognitif huruf
(D.0106) O: An.A sudah mulai mau menulis sebagian huruf
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
2. Risiko cedera b.d. perilaku S: Ibu Klien mengatakan anaknya sudah jarang jatuh
agresif ketidakseimbangan O: An.A sudah bisa jalan dengan seimbang
mobilitas fisik (D. 0136) A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
3. Gangguan interaksi sosial b.d. S: Ibu Klien mengatakan bahwa anaknya sudah bisa mulai berkomunikasi
kesulitan bicara/ kesulitan dengan orang lain
adaptasi sosial (D.0118) O: An.A tersenyum ketika disapa
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
TERIMAKASIH