Anda di halaman 1dari 28

CASE BASED DISCUSSION

DERMATITIS ATOPIK

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN


KELAMIN
RSI SURABAYA JEMURSARI

Oleh :
Abd Aziz Hafid Amrullah, S.ked

Pembimbing :
dr. Meidyta Sinantryana W., Sp.KK

1
PENDAHULUAN
• Dermatitis atopik adalah penyakit inflamasi kulit kronis dan
residif yang gatal yang ditandai dengan eritema dengan batas
tidak tegas, edema, vesikel, dan madidans pada stadium akut
dan penebalan kulit (likenifikasi) pada stadium kronik dan
sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam
serum dan riwayat atopi keluarga dan gangguan atopi lainnya
seperti rhinitis alergika dan asma bronkial.

2
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
• Kata “atopi” pertama kali diperkenalkan oleh Coca (1923), yaitu
istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu
yang mempunyai kepekaan dalam keluarganya. Misalnya :
asma bronchial, rhinitis alergika, dermatitis atopi, dan
konjungtivitis alergika. (Djuanda, 2011)
• istilah dermatitis atopik lain yang digunakan, misalnya :
ekzema konstitusional, fleksural eczema, disseminated
neurodermatitis, prurigo basiler.

3
ETIOLOGI
Etiologi dermatitis atopik masih belum diketahui dan
patogenesisnya sangat komplek ,tetapi terdapat beberapa faktor
yang dianggap berperan sebagai faktor pencetus kelainan ini
misalnya faktor genetik, imunologik, lingkungan dan gaya hidup,
dan psikologi.

4
Patogenesis
Konsep dasar terjadinya dermatitis atopik adalah melalui reaksi imunologik, yang diperantai oleh sel-sel yang
berasal dari sumsum tulang. Pada individu yang normal terdapat keseimbangan sel T seperti Th1, Th2, Th17,
sedangkan pada penderita dermatitis atopik terjadi ketidakseimbangan sel T. Sitokin Th2 jumlahnya lebih
dominan dibandingkan Th1 yang menurun.Hal ini menyebabkan produksi darisitokinTh 2 seperti interleukin
IL-4, IL-5, dan IL-13 ditemukan lebih banyak diekspresikan oleh sel-sel sehingga terjadipeningkatan IgE dari
sel plasma dan penurunan kadar interferon-gamma.Dermatitis atopik akut berhubungan dengan produksi
sitokin tipe Th2, IL-4 dan IL-13, yang membantu immunoglobulin tipe isq berubah menjadi sintesa IgE, dan
menambah ekspresi molekul adhesi pada sel-sel endotel. Sebaliknya, IL-5 berperan dalam perkembangan
dan ketahanan eosinofil, dan mendominasi dermatitis atopik kronis1,11,13.Imunopatogenesis dermatitis
atopik dimulai dengan paparan imunogen atau alergen dari luar yang mencapai kulit. Pada paparan
pertama terjadi sensitisasi, dimana alergen akan ditangkap oleh antigen presenting cell untuk kemudian
disajikan kepada sel limfosit T untuk kemudian diproses dan disajikan kepada sel limfosit T dengan bantuan
molekul MHC kelas II. Hal ini menyebabkan sel T menjadi aktif dan mengenai alergen tersebut melalui T cell
reseptor. Setelah paparan, sel T akan berdeferensiasi menjadi subpopulasi sel Th2 karena mensekresi IL-4
dan sitokin ini merangsang aktivitas sel B untuk menjadi sel plasma dan memproduksi IgE. Setelah ada di
sirkulasi IgE segera berikatan dengan sel mast dan basofil.Pada paparan alergen berikutnya IgE telah
bersedia pada permukaan sel mast, sehingga terjadi ikatan antara alergen dengan IgE.Ikatan ini akan
menyebabkan degranulasi sel mast. Degranulasi sel mast akan mengeluarkan mediator baik yang telah
tersedia seperti histamine yang akan menyebabkan reaksi segera, ataupun mediator baru yang dibentuk
5
seperti leukotrien C4, prostaglandin D2dan lain sebagainya.
Gejala Klinis
• Kulit penderita DA. umumnya kering, pucat/redup, kadar lipid di
epidermis berkurang, dan kehilangan air lewat epidermis
meningkat. Jari tangan teraba dingin. Penderita DA. cenderung tipe
astenik, dengan inteligensia di atas rata-rata, sering merasa cemas,
egois, frustrasi, agresif, atau merasa tertekan.
• Gejala utama DA : pruritus, dapat hilang timbul sepanjang hari,
tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya penderita
akan menggaruk sehingga timbul bermacam-macam kelainan di
kulit berupa papul, likenifikasi, eritema, erosi, ekskoriasi, eksudasi,
dan krusta.

6
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Australia dan Negara industri lain,
prevalensi DA pada anak mencapai 10-20%, sedangkan 1-3 % terjadi
di negara agraris, misalnya Cina, Eropa Timur, Asia Tengah, prevalensi
DA jauh lebih rendah. Wanita lebih banyak menderita DA daripada
pria dengan rasio 1,3:1.
Resiko mewarisi DA lebih tinggi bila ibu yang menderita DA
dibandingkan dengan ayah. Tetapi, bila DA yang dialami berlanjut
hingga masa dewasa, ,maka resiko untuk mewariskan untuk anaknya
sama saja yaitukira-kira 50%. (Djuanda, 2011)
7
Dasar Diagnosis
• Diagnosis DA didasarkan kriteria yang
disusun oleh Hanifin dan Rajka.
• Diagnosis DA harus mempunyai tiga
kriteria mayor dan tiga kriteria minor.
• Pruritus
• Dermatitis di muka atau ekstensor pada
bayi dan anak
• Dermatitis di fleksura pada dewasa
• Dermatitis kronis atau residif
• Riwayat atopi pada penderita atau
keluarganya

8
Kirteria minor 16. Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak
1. Xerosis 17. Aksentuasi perifolikular
2. Infeksi kulit (khususnya oleh S.aureus dan virus herpes 18. Hipersensitif terhadap makanan
simpleks)
19. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor
3. Dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki
4. lktiosis/hipediniar palmads/keratosis pilaris lingkungan dan atau emosi
5. Pitiriasis alba 21. Tes kulit alergi tipe dadakan positif
6. Dermatitis di papila mame 22. Kadar IgE di dalam serum meningkat
7. White dermographism dan delayed blanch response
23. Awitan pada usia dini.
8. Keilitis
9. Lipatan infra orbital Dennie-Morgan
10. Konjungtivitis berulang
11. Keratokonus
12. Katarak subkapsular anterior
13. Orbita menjadi gelap
14. Muka pucat atau eritem
15. Gatal bila berkeringat 9
Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
2. Dermatografisme putih
Penggoresan pada penderita yang atopi akan bereaksi belainan. Garis merah
tidak disusul warna kemerahan, tetapi kepucatan selama 2 detik sampai 5 menit,
sedangkan edema tidak timbul. Keadaan ini disebut dermatografisme putih. (Davey,
2006)
3. Percobaan asetil kolin
Suntikan secara intra kutan solusio asetilkolin 1/5000 akan menyebabkan
hyperemia pada orang normal. Pada orang dengan dermatitis atopi akan timbul
vasokonstriksi terlihat kepucatan selama satu jam. (Davey, 2006)
4. Percobaan histamin
Jika histamin fosfat disuntikkan pada lesi penderita dermatitis atopi eritema
akan berkurang dibandingkan orang lain sebagai kontrol. Kalau obat tersebut
disuntikkan parenteral, tampak eritema bertambah pada kulit orang normal. (Wolff,
2008) 10
Diagnosis banding
Penyakit Gambaran klinis
Seboroik dermatitis Berminyak, squama, riwayat keluarga tidak ada

Psoriasis Plak pada daerah ekstensor, skalp, gluteus, pitted nail

Neurodermatitis Gatal, soliter, riwayat keluarga tidak ada


Contact dermatitis Riwayat kontak, ruam di tempat kontak, riwayat keluarga tidak ada

Skabies Papul, sela jari, positif ditemukan tungau


Sistemik Riwayat, pemeriksaan fisik. Pemeriksaan banyak sesuai dengan penyakit

Dermatofita Plak dengan sentral healing, KOH negatif


Immmunodefisiensi disorder Riwayat infeksi berulang

11
komplikasi
• Infeksi sekunder yang terjadi pada DA meliputi infeksi jamur, bakteri
dan virus akibat gangguan barier epidermis, kelembaban dan maserasi
serta faktor lingkungan yang mendukung.
• Dermatitis atopik yang mengalami perluasan dapat menjadi
eritroderma
• Atrofi kulit (striae atroficans) dapat terjadi akibat pemberian
kortikosteroid jangka panjang

12
Penatalaksanaan
PENGOBATAN TOPIKAL PENGOBATAN SISTEMIK
• Pelembab: Petrolatum, Aquaphor, atau • Kortikosteroid. Kortikosteroid sistemik hanya digunakan
agen yang lebih baru seperti Atopiclair untuk mengendalikan eksaserbasi akut, dalam jangka
• kortikosteroid topikal adalah yang paling pendek, dan dosis rendah,
sering digunakan sebagai anti-inflamasi lesi • Antihistamin digunakan untuk membantu mengurangi rasa
kulit Hidrokortison, triamsinolon, atau gatal
betametason • Anti-infeksi. Pada DA. ditemukan peningkatan koloni S.
• Imunomodulator topikal: Takrolimus (FK- aureus. Untuk yang belum resisten dapat diberikan
506), suatu penghambat calcineurin, dapat eritromisin, asitromisin atau, klaritromisin
diberikan dalam bentuk salap 0,03% untuk
anak usia 2-15 tahun; untuk dewasa 0,03%
dan 0,1%. Takrolimus menghambat aktivasi Penatalaksanaan non Farmakologis
sel yang terlibat dalam DA. yaitu: sel
Langerhans, sel T, sel mas, dan keratinosit
– Menghindari bahan iritan
– Mengeliminasi alergen yang telah terbukti

13
Prognosis
– Sulit meramalkan prognosis DA pada seseorang. Prognosis lebih buruk bila kedua orang
tuanya menderita DA. Ada kecenderungan perbaikan spontan pada masa anak, dan sering
ada yang kambuh pada masa remaja. Sebagian kasus menetap pada usia di atas 30 tahun.
Penyembuhan spontan DA. yang diderita sejak bayi pernah dilaporkan terjadi setelah umur
5 tahun sebesar 40-60%, terutama kalau penyakitnya ringan

14
STUDI KASUS

15
Identitas Pasien
• Nama : Tn. F
• Umur : 43 tahun
• Alamat : Surabaya
• Agama : Islam
• Pekerjaan : Swasta
• Tanggal Pemeriksaan : 11 Maret 2019

16
Anamnesis
Anamnesis
Anamnesis pasien di Poli Kulit dan Kelamin RS Islam Jemursari Surabaya
Keluhan Utama
Bercak merah-merah gatal yang tidak membaik sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RS Islam Jemursari Surabaya pada tanggal
11 Maret 2019, pasien mengatakan kontrol dengan keluhan yang sama satu bulan yang
lalu.
Pasien mengeluhkan bercak kemerahan di kedua tangan dan lipatan paha sebelah
kanan, dengan rasa gatal, perih (jika digaruk) namun tidak panas. Pasien mengeluhkan
awalnya 1 minggu yang lalu timbul kemerahan di kedua tangan dan lipatan paha, lalu
pasien menggaruknya sehingga meninggalkan bekas luka.

17
Pasien mengatakan keluhan ini muncul saat pasien pulang kerja saat malam
hari. Pasien mengatakan langsung muncul kemerahan dan gatal pada lengannya.
Pasien mengatakan sering mengalami hal seperti ini, namun setelah diberi salep
langsung sembuh. Pasien mengatakan belum mengetahui alerginya secara pasti
karena belum melakukan pemeriksaan alergi, namun pasien mengaku jika gatal-
gatal dan merah seperti keluhan pasien saat ini timbul saat cuaca dingin, selain itu
keluhan seperti ini juga bertambah gatal apabila pasien berkeringat. Pasien
mengatakan beberapa kali gatal-gatal bila mengonsumsi makanan laut. Pasien
mengatakan keluhan yang dirasakan seperti ini terjadi sejak beberapa tahun lalu
namun tidak mengetahui pasti waktunya.

Pasien juga mengaku jika memiliki riwayat penyakit Diabetes Melitus,


Hipertensi dan sampai sekarang masih rutin kontrol. Tidak ada keluhan mual,
muntah, pusing, batuk, nyeri menelan. Nafsu makan masih tetap baik. BAK lancar,
tidak ada nyeri/panas, warna urin kuning bening, tidak ada buih ataupun darah.
Tidak ada nyeri pinggang. BAB lancar, tidak lembek maupun cair tanpa lendir dan
darah.

18
Riwayat Pengobatan
Riwayat Penyakit Dahulu Obat dari Poli Penyakit Kulit dan
• Riwayat sakit seperti ini sejak Kelamin RSI Jemursari terakhir
beberapa tahun terakhir kontrol 5 macam, 3 obat minum
• HT + yaitu Loratadin, Interhistin dan
Fluconazol serta 2 salep
• DM +
Miconazol Cream dan Clobetasol
• Batuk-batuk lama disangkal Cream

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Kebiasaan


• Riwayat keluhan keluarga sakit Kopi (+), olahraga (-)
seperti ini disangkal
Riwayat Alergi makanan/obat
• Orangtua pasien sering bersin-
Alergi obat diangkal
bersin jika pagi hari
Alergi makanan disangkal
19
Pemeriksaan Fisik
• Tanda-tanda Vital
• Keadaan umum : Baik
• Kesadaran : Compos mentis
• Tekanan darah : 140/80
• Nadi : 100
• Suhu : dbn
• RR : 22x

20
Status Generalis
• Kepala/Leher : anemis (-)/(-), ikterus (-)/(-), cyanosis (-)/(-), dyspneu (-),
lagoftalmus (-)/(-), madarosis (-)
• Telinga : dbn
• Hidung : saddle nose (-), deviasi septum nasi (-)
• Thorax : Ves/ves, Ronkhi (-)/(-), Wheezing (-)/(-), S1 dan S2 tunggal, gallop
(-), murmur (-)
• Abdomen : soepel, bising usus (+) normal, hepatomegali (-), splenomegali (-)
regio inguinal dextra papul-plak eritema multipel milier hingga lentikuler
diskret, batas tegas sebagian menimbul, kering, dengan sebagian eksoriasi (+)
• Ekstremitas : akral HKM (+) regio antebrachii dextra et sinistra papul-plak
eritema multipel milier hingga lentikuler diskret, batas tegas sebagian
menimbul, kering, dengan sebagian eksoriasi (+)

21
Status Dermatologi
• Regio antebrachii dextra et sinistra, inguinal dextra papul-plak
eritema multipel milier hingga lentikuler diskret kering
berbatas tegas sebagian menimbul dengan sebagian eksoriasi

22
23
DIAGNOSIS BANDING
• Neurodermatitis
• Liken Simplek Kronis

DIAGNOSIS KERJA
• Dermatitis atopik dengan infeksi sekunder

24
TATALAKSANA
• Loratadin tablet 2 x 10 mg/hari (bila gatal)
• Krim Clobetasol propionate 0,05% 2x sehari
• Krim Asam fusidat 2% 2x sehari
• Krim Asam salisilat 2% 2x sehari
• Krim Urea 10 % untuk pelembap 2x sehari

PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Sanam : ad bonam

25
EDUKASI
Aspek klinis
• Menghindari bahan iritan yang memicu dan memperberat kondisi seperti sabun, deterjen, bahan
kimiawi, rokok, pakaian kasar, suhu yang ekstrem dan lembab.
• Pemakaian sabun hendaknya yang berdaya larut minimal terhadap lemak dan dengan PH netral.
Hindari sabun atau pembersih kulit yang mengandung antiseptic atau antibakteri yang digunakan
rutin karena mempermudah resistensi,
• Pakaian baru hendaknya dicuci terlebih dahulu sebelum dipakai dengan deterjen untuk menghindari
formaldehid atau bahan kimia
• Usahakan tidak memakai pakaian yang bersifat iritan seperti wol atau sintetik yang menyebabkan
gatal, lebih baik menggunakan katun.
• Pemakaian tabir surya juga perlu untuk mencegah paparan sinar matahari yang berlebihan
• Alergen yang telah terbukti sebagai pemicu kekambuhan harus dihindari, seperti makanan (susu,
kacang, telur, ikan laut, kerang laut dan gandum), debu rumah, bulu binatang, serbuk sari, tanaman
dan sebagainya

26
• Hal lain yang seyogyanya diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah
Allah menciptakan suatu penyakit kecuali Dia juga menciptakan
penawarnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah :

• “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan


penawarnya.” (HR Bukhari).
• Imam Muslim ‘merekam’ sebuah hadits dari Jabir bin
‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW, bahwasannya beliau
bersabda,

• “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit,
penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla.”

27
JAZZAKUMULLOH
KHOIRON KATSIR

28