Anda di halaman 1dari 24

Teknik pengumpulan data dan

mengembangkan alat pengumpul


data yang sesuai dengan
permasalahan dan atau tujuan.

Nama Kelompok :
Rosita Widiary (15050394010)
Marlik Arlistyani (15050394017)
Alat / Instrumen pengumpulan data
Menyusun instrumen merupakan langkah penting
dalam pola prosedur penelitian. Instrumen berfungsi
sebagai alat bantu dalam mengumpulkan data yang
diperlukan. Bentuk instrumen berkaitan dengan metode
pengumpulan data, misal metode wawancara yang
instrumennya pedoman wawancara. Metode angket atau
kuesioner, instrumennya berupa angket atau kuesioner.
Metode tes, instrumennya adalah soal tes, tetapi metode
observasi, instrumennya bernama chek-list.
Menyusun instrumen pada dasarnya adalah menyusun
alat evaluasi, karena mengevaluasi adalah memperoleh
data tentang sesuatu yang diteliti, dan hasil yang diperoleh
dapat diukur dengan menggunakan standar yang telah
ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Dalam hal ini
terdapat dua macam alat evaluasi yang dapat
dikembangkan menjadi instrumen penelitian, yaitu tes dan
non-tes.
Bentuk Instrumen Tes
Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar
kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk
mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan
kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen
berupa tes ini berisi soal-soal tes yang terdiri atas butir-
butir soal. Setiap butir soal mewakili satu jenis variabel
yang diukur.
Untuk manusia, instrumen yang berupa tes ini dapat
digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan
pencapaian atau prestasi. Untuk mengukur kemampuan
dasar antara lain: tes untuk mengukur inteligensi (IQ), tes
minat, tes bakat khusus, dan sebagainya.
Khusus untuk tes prestasi belajar yang biasa
digunakan di sekolah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Tes buatan guru yang disusun oleh guru dengan
prosedur tertentu, tetapi belum mengalami uji coba
berkali-kali sehingga tidak diketahui ciri-ciri dan
kebaikannya.
2) Tes terstandar (standardized test) yaitu tes yang biasanya
sudah tersedia di lembaga testing, yang sudah terjamin
kemampuannya. Tes terstandar adalah tes yang sudah
mengalami uji coba berkali-kali, direvisi berkali-kali
sehingga sudah dikatakan cukup baik. Didalam tes yang
terstandar sudah dicantumkan:petunjuk pelaksanaan,
waktu yang dibutuhkan, bahan yang tercakup, dan hal-hal
lain, misalnya validitas dan realibitas.
Bentuk Instrumen Angket atau
Kuesioner
Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan
kuesioner sebagai metode yang dipilih untuk
mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang
mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen
pengumpul data. Memang kuesioner baik, asal cara dan
pengadaannya mengikuti persyaratan yang telah
digariskan dalam penelitian.
Sebelum kuesioner disusun, maka harus dilalui prosedur:
 Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.
 Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran
kuesioner.
 Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang
lebih spesifik dan tunggal.
 Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus
untuk menentukan teknik analisisnya
Bentuk Instrumen Interview

Di samping memerlukan waktu yang cukup lama


untuk mengumpulan data, dengan metode interview
peneliti harus memikirkan tentang pelaksanaannya.
Memberikan angket kepada responden dan menghendaki
jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan
mengorek jawaban responden dengan bertatap muka.
Sikap pada waktu datang, sikap duduk, kecerahan
wajah, tutur kata, keramahan, kesabaran serta keseluruhan
penampilan, akan sangat berpengaruh terhadap isi jawaban
responden yang diterima oleh peneliti. Oleh sebab itu,
maka perlu adanya latihan yang intensif bagi calon
interview (penginterview).
 Agar tidak ada pokok-pokok yang tertinggal
 Agar pencatatnya lebih cepat
Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara:
Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman
wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan
ditanyakan. Tentu saja kreativitas pewawancara sangat
diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman
ini lebih banyak tergantung dari pewawancara.
Pewawancaralah sebagai pengemudi jawaban responden.
Jenis interview ini cocok untuk penelitian kasus.
Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman
wawancara yang disusun secara terperinci sehingga
menyerupai check-list. Pewawancara tinggal membubuhkan
tanda v (check) pada nomor yang sesuai.
Pedoman wawancara yang banyak digunakan adalah
bentuk “semi structured”. Dalam hal ini maka mula-mula
interviewer menanyakan sederetan pertanyaan yang sudah
terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam
mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian
jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel,
dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.
Bentuk Instrumen Latihan (Training)
untuk Pewawancara

Walaupun teknik yang diambil interview terstruktur,


akan tetapi tetap perlu melatih pewawancara apabila kita
mengkehendaki data yang objektif dan reliabel. Latihan
untuk pewawancara pada umunya melalui 2 tahap.
Tahap Pertama :
Calon pewancara mempelajari pedoman wawancara dan
hal-hal yang berhubungan dengan kondisi wawancara,
misalnya transportasi, pengamanan data, variabel yang
diungkap, dan sebagainya. Pada kesempatan ini perlu
dipertimbangkan apakah harapan peneliti sebaiknya
dikemukakan atau tidak, karena ada kalanya justru
membuat pewawancara mempunyai kecenderungan
mengarahkan data kepada harapan tersebut.
Tahap kedua :
Calon pewawancara dilatih bagaimana menjadi
pewawancara yang baik = bagaimana datang, membuka
percakapan, mengemukakan maksud, mengajukan
pertanyaan, memberikan respon, sampai ke menutup
pembicaraan. Dalam keadaan yang memungkinkan dapat
digunakan video tape recorder untuk membantu
pelaksanaan.
Bentuk Instrumen Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang


paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau
blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang
disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku
yang digambarkan akan terjadi.
 Dari peneliti berpengalaman diperoleh suatu petunjuk
bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar
mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian
mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat.
Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi,
bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa
kali muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat,
kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki.
Bentuk Instrumen Dokumentasi
 Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal
atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat
kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan
sebagainya. Metode ini gaka tidak begitu sulit, dalam arti
apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum
berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati
bukan benda hidup tetapi benda mati.
Validitas dan Reliabilitas
Pengertian Validitas
Menurut Azwar (1986) Validitas berasal dari kata validity
yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan
suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan
mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut
menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang
sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.
Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan
menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan
pengukuran.
Terkandung di sini pengertian bahwa ketepatan validitas
pada suatu alat ukur tergantung pada kemampuan alat ukur
tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan
tepat.
Jenis-jenis Validitas
1) Concurrent Validity
2) Construct Validity
3) Face Validity
4) Factorial Validity
5) Empirical Validity
6) Intrinsic Validity
7) Predictive Validity
8) Content Validity
9) Curricular Validity
Pengertian Reliabilitas
Walizer (1987) menyebutkan pengertian Reliability
(Reliabilitas) adalah keajegan pengukuran.
Reliabilitas, atau keandalan, adalah konsistensi dari
serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur. Hal
tersebut bisa berupa pengukuran dari alat ukur yang sama
(tes dengan tes ulang) akan memberikan hasil yang sama,
atau untuk pengukuran yang lebih subjektif, apakah dua
orang penilai memberikan skor yang mirip (reliabilitas
antar penilai). Reliabilitas tidak sama dengan validitas.
Artinya pengukuran yang dapat diandalkan akan mengukur
secara konsisten, tapi belum tentu mengukur apa yang
seharusnya diukur.
Jenis-jenis Reliabilitas
1) Relibilitas stabilitas
2) Reliabilitas ekivalen
Metode pengujian reliabilitas
1) Teknik Paralel (Paralel Form atau Alternate Form)
2) Teknik Ulang (Test Re-test)
3) Teknik Belah Dua (Split Halve Method)
TERIMA KASIH