Anda di halaman 1dari 28

DEFINISI

 Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang


biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam
yang lebih dari satu minggu, gangguan pencernaan dan sampai
gangguan kesadaran.

 Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus


yang di sebabkan oleh salmonella typosa O,salmonella
paratypi H,salmonella paratypi A,salmonella paratypi B.
LANJUTAN..

Penyakit typus abdominalis adalah penyakit infeksi


akut dengan gejala demam lebih dari 1 minggu.
gangguan pencernaan yang terjadi adalah..
• Bibir kering.
• Lidah kotor.
• Selaput putih.
• Ada perut kembung nyeri tekan.
• Salmonella sendiri ialah suatu genus bakteri entrebakteria gram-negatif
berbentuk tongkat yang menyebabkan trifoid,paratifoid,dan penyakit
foodborne.

• Gejala demam typhoid atau typhus abdominalis adalah suhu tubuh


meningkat hingga 400C dengan frekuensi nadi relative lambat. Sering
adanya nyeri tekan pada perut.

Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang
biasanya lebih ringan dan menunjukan manifestasi klinis yang sama
dengan enteritis akut, oleh karena itu penyakit ini disebut juga penyakit
demam enterik.

Penyebabnya adalah kuman Salmonella Typhi atau Salmonella Paratyphi


A,B dan C, selain menyebabkan enterik kuman ini juga dapat
menyebabkan gastroenteritis (keracunanmakanan) dan septikemia (tidak
menyerang usus)
ETIOLOGI

Penyakit typhus abdominalis merupakan penyakit yang ditularkan melalui


makanan dan minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella
Typhosa, (food and water borne disease). Salmonella typhosa adalah
bakteri gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora
mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu : antigen 0
(somatik, terdiri dari zat komplek lipopolisakarida), antigen H (flagella)
dan antigen V1 (hyalin, protein membrane). Dalam serum penderita
terdapat anti(glutanin) terhadap ketiga macam antigen tersebut (Zulkhoni,
2011).
MANIFESTASI KLINIS

Masa Tunas demam typhoid berlangsung antara 10-14 hari.


Gejala yang timbul sangat bervariasi dari ringan hingga
berat, dari asimtomatik hingga kematian. Pada minggu
pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan :
demam, nyeri kepala, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah,
diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epitaksis.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh meningkat.
Demam meningkat perlahan dan puncaknya pada sore
hingga, malam hari (Widodo, 2006).
PATHWAY...
KOMPLIKASI

 Menurut Padila (2013), komlikasi pada penyakit typus abdominalis sebagai berikut :

 Komplikasi intestinal

 Perdarahan usus

 Perforasi usus

 Illius paralitik

 Komplikasi extra intestinal

 Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi, miokarditis, trombosis, tromboplebitis

 Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, syndroma n uremia hemolitik

 Komplikasi pada hepar dan kandung kemih : hepatitis, kolesititis

 Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis

 Komplikasi pada tulang : osteomiyelitis, osteoporosis, spondilitis, dan arthritis


PENATALAKSANAAN...

 Perawatan Penderita demam typhoid perlu dirawat di rumah sakit


untuk isolasi, observasi serta pengobatan. Penderita harus istirahat 5-
7 hari bebas panas. Tanda komplikasi demam tifoid yang lain
termasuk BAK dan BAB perlu mendapatkan perhatian.

 Diet pada tahap awal penderita diberi makanan bubur saring.


Selanjutnya diberi makanan yang lebih padat dan akhirnya nasi
biasa, sesuai dengan kemampuan dan kondisinya. Pemberian kadar
gizi dan mineral perlu dipertimbangkan agar dapat menunjang
kesembuhan penderita (Widoyono, 2011).
 Obat-Obatan

 Pemilihan obat antibiotik ini pertama pengobatan demam


tifoid pada anak di negara berkembang didasarkan pada
faktor efikasi, ketersediaan dan biaya. Berdasarkan ketiga
faktor tersebut, kloramfenikol masih menjadi obat pilihan
pertama pengobatan demam tifoid pada anak, terutama di
negara berkembang. Hal ini berbeda dengan dewasa,
dimana obat antibiotik lini pertamanya adalah golongan
fluorokuinolon, seperti ofloksasin, siprofloksasin,
levofloksasin atau gatifloksasin.
 Amoksisilin dan ampisilin mempunyai kemampuan sebagai obat

demam tifoid, walaupun menurut literatur, kemampuannya masih


dibawah kloramfenikol. Umumnya digunakan pada penderita demam
tifoid dengan lekopenia yang tidak mungkin diberikan kloramfenikol,
atau yang resisten terhadap kloramfenikol.

 Obat Trimetoprim-Sulfametoksazol dianggap sama efektifnya dengan


kloramfenikol dalam mengobati demam tifoid. Bersama-sama dengan
amoksisilin, TMP-SMX digunakan pada kasus-kasus demam tifoid
yang resisten terhadap kloramfenikol.
• Pemberian obat sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson atau
sefotaksim diindikasikan pada kasus-kasus yang resisten terhadap obat
kloramfenikol dan obat antibiotik untuk demam tifoid lainnya. Strain
yang resisten umumnya rentan terhadap obat sefalosporin generasi ini.
Obat seftriakson dianggap masih sensitif dan membawa hasil yang baik
bila digunakan sebagai terapi alternatif, bersama-sama dengan
azitromisin dan sefiksim. Pemberian seftriakson sebaiknya diberikan
selama 14 hari, karena bila diberikan selama 7 hari, kemungkinan
relapsnya bertambah dalam 4 minggu setelah terapi seftriakson dihentikan
• Untuk pengobatan karier demam tifoid, pemberian ampisilin
atau amoksisilin dengan dosis 40 mg/kg BB/hari dalam 3
dosis peroral dikombinasi probenesid 30 mg/kg BB/hari
dalam 3 dosis peroral atau trimetropimsulfametoksazol
selama 4-6 minggu memberikan angka kesembuhan 80%.
Kloramfenikol tidak efektif digunakan sebagai terapi karier
demam tifoid. Selain amoksisilin/ampisilin, untuk
pengobatan karier demam tifoid, beberapa obat dapat
dipergunakan, seperti kotrimoksazol, siprofloksasin dan
norfloksasin, walaupun dua obat terakhir tidak sebaiknya
digunakan pada penderita demam tifoid anak.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan hematologi
 Pemeriksaan widal
 Pemeriksaan serologi terhadap spesimen darah
 Pemeriksaan PCR
 Pemeriksaan serologi dari spesimen urin
 Pemeriksaan antibodi IgA dari spesimen saliva
PENCEGAHAAN
Menurut Widoyono (2011), strategi pencegahan demam tifoid mecakup hal-hal berikut :

 1. Penyediaan sumber air minum yang baik

 2. Penyediaan jamban yang sehat

 3. Sosialisasi budaya cuci tangan

 4. Sosialisasi budaya merebus air sampai mendidih sebelum diminum

 5. Pemberantasan lalat

 6. Pengawasan kepada para penjual makanan dan minuman

 7. Sosialisasi pemberian ASI pada ibu menyusui

 8. Sosialisasi mengenai vaksin. Adapun jenis vaksin yang tersedia adalah :

 a. Vaksin parenteral utuh

 b. Vaksin oral Ty21a

 c. Vaksin parenteral polisakarida


PENGKAJIAN
• a. Pengumpulan data
• 1) Identitas klien
• Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status
perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik.
• 2) Keluhan utama
• Keluhan utama typhus abdominalis adalah panas atau demam yang tidak turun-turun, nyeri
perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare serta penurunan kesadaran.
• 3) Riwayat penyakit sekarang
• Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke dalam tubuh.
• 4) Riwayat penyakit dahulu
• Apakah sebelumnya pernah sakit typhus abdominalis.
• 5) Riwayat penyakit keluarga
• Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.
• 6) Riwayat psikososial dan spiritual
Dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest total dan tidak boleh melakukan aktivitas karena penyakit
yang dideritanya saat ini.

8) Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum

Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 – 410 C, muka kemerahan.

b. Tingkat kesadaran

Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).

c. Sistem respirasi

Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis.

d. Sistem kardiovaskuler

Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin rendah.

e. Sistem integumen

Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam.

f. Sistem gastrointestinal

Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas), mual, muntah, anoreksia, dan konstipasi, nyeri
perut, perut terasa tidak enak, peristaltik usus meningkat.
8) Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum

Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 – 410 C, muka


kemerahan.

b. Tingkat kesadaran

Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).

c. Sistem respirasi

Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti
bronchitis.

d. Sistem kardiovaskuler

Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin rendah.

e. Sistem integumen

Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam.
f. Sistem gastrointestinal
Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas), mual, muntah,
anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa tidak enak, peristaltik usus
meningkat.
g. Sistem muskuloskeletal
Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.
h. Sistem abdomen
Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta
nyeri tekan pada abdomen. Pada perkusi didapatkan perut kembung serta pada
auskultasi peristaltik usus meningkat.
9) Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan darah tepi
Didapatkan adanya anemi oleh karena intake makanan yang terbatas, terjadi
gangguan absorbsi, hambatan pembentukan darah dalam sumsum dan
penghancuran sel darah merah dalam peredaran darah. Leukopenia dengan
jumlah lekosit antara 3000 – 4000 /mm3 ditemukan pada fase demam
DIAGNOSA..

 Ketidakseimbangn nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan ketidakmampuan mengarbsorbsi nutrien

 Defisien volume cairan berhubungan dengan asupan cairan


kurang

 Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

 Defisien pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

 Hipertermia berhubungan dengan penyakit

 Ansietas berhubungan dengan stressor


Intervensi..
n Diagnosa noc nic
o
1 Ketidakseimbangn Status Nutrisi Manajemen Nutrisi

Setelah dilakukan tindakan 1.1Monitor kalori dan asupan


nutrisi : kurang dari keperawatan diharapkan makanan
kebutuhan tubuh asupan nutrisi dapat terpenuhi
dengan skala : 1.2Identifikasi (adanya) alergi
berhubungan dengan 1= sangat menyimpang dari atau intoleransi mkanan yang
ketidakmampuan rentang normal dimiliki pasien
2= banyak menyimpang dari
mengarbsorbsi nutrien rentg normal 1.3Beri obat-obatan sebelum
3= cukup menyimpang dari makan (mis: penghilang rasa
rentang normal sakit, antiemetik), jika diperlukan
4= sedikit menyimpang dari
rentang normal 1.4Anjurkan pasien terkait
5= tidak menyimpang dari dengan kebutuhan diet untuk
rentang normal kondisi sakit
1.5Tentukan jumlah kalori dan
Dengan kriteria hasil :
jenis nutrisi yang dibutuhkan
asupan gizi
1.6Bantu pasien untuk
12345 mengakses program-program gizi
- asupan makanan komunitas
energi
12345
- hidrasi
12345
- rasio berat
badan/tinggi badan
12345
IMPLEMENTASI..
n diagnosa Implementasi praf
o
1 1.1 Memonitor kalori dan asupan
Ketidakseimbangn
nutrisi : kurang makanan
dari kebutuhan 1.2 Mengidentifikasi (adanya) alergi atau
tubuh intoleransi mkanan yang dimiliki pasien
berhubungan 1.3 Memberi obat-obatan sebelum makan
dengan (mis: penghilang rasa sakit, antiemetik),
ketidakmampuan jika diperlukan
mengarbsorbsi 1.4 Menganjurkan pasien terkait dengan
nutrien kebutuhan diet untuk kondisi sakit
1.5 Menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrisi yang dibutuhkan
1.6 Membantu pasien untuk mengakses
program-program gizi komunitas
EVALUASI
 Masalah kekurangan nutrisi dapat teratasi
 Masalah nyeri akut dapat teratasi
 Masalah hipertermi dapat teratasi
 Masalah ansietas dapat teratasi
EVALUASI
• Ketidakseimbangn nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mengarbsorbsi nutrien:diharapkan pasien mampu mengatasi nutrisi pada
dirinya

• Defisien volume cairan berhubungan dengan asupan cairan kurang:diharpkan pasien


mengatasi hidrasi pada kebutuhan minumnya tersebut.

• Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik:diharapkan pasien mampu mengontrol rasa
nyerinya

• Defisien pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi:diharapakan pasien mampu


mengetahui apa yang terjadi pada keadaan tubuhnya

• Hipertermia berhubungan dengan penyakit:diharpakan pasien mampu mengontrol suhu


tubuhnya

• Ansietas berhubungan dengan stressor:diharpkan pasien mampu mengontrol rasa cemas yang
ada